AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 29: it starting to be answered [3]
ELORA mengerjap beberapa kali ketika melihatku keluar dari kamar mandi dengan kimono putih yang memperlihatkan bagian dada dan handuk kecil yang melingkar di leher. Wajah dan rambutku masih terdapat sisa-sisa air yang belum mengering–membuatku sekali lagi mengusap rambut dengan handuk sebelum menyampirnya di sandaran kursi. Setelah itu, aku menuang anggur ke dalam gelas dan meneguknya sampai habis dalam sekali teguk.
“Kenapa belum tidur?” Aku bertanya setelah meletakkan gelas di meja kecil yang berada di samping tempat tidur. “Ini sudah larut malam. Anak kecil sepertimu harus sudah masuk ke dunia mimpi.”
“Tetapi, El belum mengantuk.”
“Setidaknya pura-pura tidur saja.”
“El tidak bisa.”
Pikiranku kembali mengingat segelas susu hangat yang hendak kuberi alkohol di dalamnya saat dia sedang tak bisa tidur seperti ini. Namun, saat tengah berpikir keras, suaranya yang memanggil membuatku menoleh. “Ada apa?”
“El mau celita.”
Kalimat yang dia ucap secara tidak langsung menyuruhku agar mendengar cerita yang dia lakukan hari ini. Maka dari itu, aku berjalan mendekat ke sisi tempat tidur dan beringsut masuk ke dalam selimut; bersandar di sandaran tempat tidur, memandangnya dan berkata, “Aku akan mendengarnya.”
Dia tersenyum lebar sebelum mengubah posisi duduk menjadi menghadapku. “El sangat senang kalena kemalin Hamon menemani El main belsama Ibu asuh dan pala pelayan.”
“Itu bagus.”
“Hali ini pun, Hamon menemani El beljalan-jalan di taman yang sangat luas sambil menaiki kuda. Ada banyak pohon dengan daun yang belwalna-walni. Lalu, saat angin belhembus, daun-daun yang cantik itu jatuh, dan–”
Aku memejamkan mata mendengar kata demi kata yang dia ucap. Meski tidak biasa, telingaku tetap bertahan untuk sebuah cerita remeh yang terkesan penting. Lalu, semakin lama, suara Elora yang sedang berceloteh mulai terdengar samar-samar dan hilang timbul.
***
Aku terbangun saat merasakan sentuhan tangan mungil yang membelai rambutku. Pergerakan kecil di kasur kemudian membuatku tetap memejamkan mata dan pura-pura tidur. Namun, suara pelan Elora masuk ke dalam indra pendengaranku dengan intonasi yang menghangatkan jiwa dan ragaku.
“Sakit, sakit, pelgilah jauh.” Kemudian, aku merasakan pergerakan kecil lagi lalu disusul dengan tangan mungil yang menggenggam tanganku. “El akan melindungi Papa.”
Aku membuka mata yang sedikit terpejam, mengintipnya melakukan sesuatu yang membuat bagian dalam dadaku bergetar. Rasanya seperti disengat oleh sesuatu dan itu memancing emosi yang telah lama terbenam dalam kegelapan mencuat. Aku menjadi sedikit emosional saat dia mengatakan ingin melindungiku dengan tubuhnya yang kecil dan rapuh itu. Dibanding melindungiku, lebih baik dia melindungi dirinya sendiri. Ketika melihat pergerakannya yang seperti ingin berbalik ke hadapanku, aku dengan cepat memejamkan mata dan pura-pura tertidur kembali.
Dia berbaring sambil merentangkan tangan ke perutku; menepuk-nepuknya pelan. Wajahnya kemudian dia benamkan ke dalam sisi kiri tubuhku dan mendusel-duselnya; menghirup aroma tubuhku yang memberikan rasa nyaman pada anak itu. Selama beberapa saat dia seperti itu sebelum tangan mungil yang menepukku berhenti dan disusul oleh suara napas yang teratur.
Aku yang sejak tadi mengintip kemudian mengubah posisi menjadi bersandar di sandaran tempat tidur. Bergerak pelan dan hati-hati agar dia tak terbangun; aku memosisikan tubuh dengan nyaman sebelum membawa dia ke dalam pelukan, menciumnya beberapa kali dan membelainya. Dengan nada yang sangat pelan, nyaris berbisik, aku berkata,
“Terima kasih karena telah hadir di hidupku.”
***
Aku terbangun dengan napas yang tidak beraturan seperti habis berlari. Tubuhku berkeringat dan dadaku berdebar. Belum sempat mengatur napas, sakit kepala sialan itu kembali menyerang. Aku bergerak pelan menjauhi Elora; menggeser tubuh ke samping–sebisa mungkin tidak membuatnya terbangun. Namun, ketika pandanganku kemudian menangkap penuh wajahnya yang sedang pulas, secara ajaib, sakit kepala sialan itu hilang bagai ditiup angin.
“Engh–”
Tanpa sadar, aku menahan napas dan membeku di tempat. Saat melirik, Elora membalik tubuhnya menjadi terlentang. Aku akhirnya mengembuskan napas dan beringsut turun setelah yakin gerakanku tidak akan membuatnya bangun. Pelan-pelan aku menaikkan selimutnya hingga menutup ke bagian dada. Derup napas yang masuk ke dalam indra pendengaranku itu terdengar tertaur dan memberiku ketenangan yang jarang kudapatkan, seolah mendengar nyanyian pengantar tidur.
Selama ini, hidupku terasa berjalan seperti alur yang begitu-begitu saja. Bekerja, membunuh, dan mengadu domba dua negara agar saling berperang; semuanya berjalan dengan semestinya dan tak pernah keluar jalur. Namun, sejak Elora datang, istana mulai berisik oleh tawa, tangis, teriakan, dan jejak-jejak kaki kecilnya di sepanjang koridor istana. Telah terjadi perubahan besar yang tak bisa kuabaikan, seperti direkrutnya pelayan perempuan dan makanan manis yang sering ada di meja makan. Atmosfer istana berubah banyak dari sebelumnya–dan itu terasa jauh lebih hidup–sebuah kehidupan baru yang kupilih sendiri.
Aku kemudian mendekatkan wajah ke telinganya dan membisik, “Jangan mati. Sekalipun itu di tanganku. Jika suatu saat aku membunuhmu di masa depan, hiduplah dan temui aku lagi seperti di kehidupan ini karena aku membutuhkanmu seperti udara. Tanpamu aku tak bisa hidup dan menjadi manusia seutuhnya. Mimpi indah putri kecilku.”
Setelah mengatakannya, aku melangkah keluar dengan pelan. Dua orang pengawal memberi hormat ketika aku muncul dari balik pintu. Langkahku membawaku ke ruangan pribadi yang sudah lama tak kudatangi. Ruangan yang hanya kukunjungi saat sedang banyak pikiran atau membutuhkan waktu untuk sendiri. Hanya ada tiga orang yang mengetahui ruangan ini, Hamon, Duke of Astello, dan kepala pelayan–sehingga ruangan ini lebih mirip dengan ruangan rapat rahasia.
Ditemani minuman alkohol yang selalu tersedian di meja, aku menikmati malam panjang setelah banyak kejadian aneh yang terjadi di hidupku. Di tengah ketenangan ini, suara langkah kaki kemudian terdengar.
“Anda sedang memikirkan apa, Yang Mulia?”
Tanpa menoleh, aku mengetahui pemilik suara berat itu adalah Hamon. Tanpa merespons, aku hanya memandang ke depan; meneguk sedikit demi sedikit alkohol dengan kadar tinggi dan menikmati kesunyian ini.
“Apakah ini tentang Putri?” Walaupun aku tidak menjawab, pria itu sudah mengetahuinya. “Kalau begitu, Anda bisa membaginya pada saya.”
“Ini bukan sesuatu yang bisa kubagi dengan mudah.”
“Apa Anda sedang membicarakan kekhawatiran Anda sebagai seorang Ayah?”
Aku terkekeh. “Bisa dikatakan seperti itu.” Lalu, aku menoleh dengan gelas di tangan; menatapnya datar yang masih terlihat belum pulih seratus persen. “Ngomong-ngomong, karena kau telah melakukan sumpah ksatria pada putriku, maka kau harus melindungi anak itu apapun yang terjadi.”
Dia menundukkan kepala sembari meletakkan tangan di dada kiri. “Saya akan menjaga Putri meski mengorbankan nyawa saya.” Kemudian, dia mengangkat wajah dan menatapku kembali. “Namun, Anda tetaplah menjadi prioritas utama saya.” “Aku bisa menjadi diri sendiri.”
“Tetapi–”
“Elora adalah prioritas utama. Lindunhgi dia dari dari siapapun yang berniat jahat, termasuk aku.”
Ekspresinya langsung berubah dalam sepersekian detik. Dari raut wajah itu, terlihat jelas ada banyak perkataan yang ingin dia ucapkan, tetapi aku langsung memotongnya sebelum dia sempat membuka mulut.
“Bersumpahlah.”
Dia menghela napas sebelum bersumpah; sedangkan aku kembali menatap pemandangan yang hanya disinari cahaya remang-remang dari lampu taman dari kaca jendela yang dibiarkan terbuka.
“Yang Mulia, bolehkah saya mengetahui alasannya?”
“Kau sudah mengetahuinya dengan baik, Hamon. Apa lagi yang perlu kujelaskan?”
“Saya hanya ingin memastikan. Apakah Anda takut mengulang kejadian di kehidupan kedua Putri?”
“Ya,” jawabku setelah cukup lama terdiam. Sekarang, untuk pertama kali, aku mulai merasa takut ditinggalkan sendirian–karena aku tidak tahu apakah anak itu masih bisa menemuiku lagi setelah tangan ini membunuhnya untuk yang ketiga kali–saat kegelapan suatu saat menguasaiku.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak