NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Penguasaan Jaring

Tiga hari telah berlalu sejak aku mendapatkan kekuatan Spider Fruit. Hari-hari itu kuhabiskan untuk berlatih tanpa henti, menguji batas kemampuanku.

Pagi ini, aku berdiri di tebing tinggi yang menghadap ke laut. Angin laut menerpa wajahku, membawa aroma garam dan kebebasan. Di bawahku, ombak menghantam batu karang dengan keras.

"Oke, Kenji," aku berbicara pada diriku sendiri. "Saatnya menguji sesuatu yang lebih ekstrem."

Aku melompat dari tebing.

Udara melesat melewati tubuhku saat aku jatuh bebas. Jantungku berdebar kencang, tapi bukan karena takut—ini adalah adrenalin murni. Pada detik terakhir sebelum menghantam air, aku menembakkan jaring ke sisi tebing.

THWIP!

Jaring menempel kuat. Aku mengayunkan tubuhku, mengubah arah jatuh menjadi ayunan horizontal. Tubuhku melayang menyusuri tebing, hanya beberapa meter di atas permukaan air.

"YEAHHH!" teriakku kegirangan.

Aku melepaskan jaring pertama dan langsung menembakkan yang kedua ke titik lebih tinggi. Dengan gerakan yang sudah mulai natural, aku berayun naik, meluncur di udara seperti pendulum raksasa.

Ini adalah kebebasan yang tidak pernah kurasakan dalam hidupku yang lama. Terbang—atau setidaknya berayun—melintasi udara dengan kecepatan tinggi, merasakan gravitasi sebagai teman bukan musuh.

Aku mendarat dengan sempurna di puncak tebing yang berbeda, berguling sekali dan langsung berdiri.

"Kontrol sudah semakin baik," gumamku sambil memeriksa tanganku. Jaring yang keluar dari pergelangan tanganku sudah bisa kuvariasikan—tipis untuk kecepatan, tebal untuk kekuatan, atau bahkan berlapis untuk struktur kompleks.

Tapi yang paling menarik adalah sesuatu yang kubaru sadari kemarin. Aku tidak hanya bisa membuat jaring biasa—aku bisa membuat konstruksi jaring yang kompleks.

Aku mengangkat kedua tanganku dan mulai menembakkan jaring dengan pola tertentu. Jaring-jaring itu saling menyilang, membentuk struktur tiga dimensi di udara. Dalam hitungan detik, aku menciptakan jaring berbentuk kubah sebesar ruangan kecil.

"Lebih besar," aku menggumam, berkonsentrasi.

Aku menambah lebih banyak jaring, memperluas struktur. Kubah itu tumbuh menjadi lebih besar, lebih kompleks. Jaring-jaring saling terkait dengan pola geometris yang indah, kuat namun fleksibel.

Dalam lima menit, aku telah menciptakan jaring kubah raksasa dengan diameter hampir 20 meter. Strukturnya kokoh, bahkan saat angin kencang menerpa.

"Ini bisa jadi pertahanan yang bagus," kataku sambil memeriksa karyaku. "Atau perangkap."

Aku masuk ke dalam kubah jaring. Di dalam sini, aku bisa merasakan setiap getaran. Ketika seekor burung kecil mendarat di bagian atas kubah, aku langsung merasakannya—seperti perpanjangan dari indra sentuhku.

"Sensor..." Mataku menyala dengan pemahaman baru. "Jaringku berfungsi sebagai sensor!"

Ini membuka kemungkinan baru. Aku bisa membuat jaringan jaring di area luas dan merasakan semua yang menyentuhnya. Ini seperti memiliki mata di mana-mana.

Aku keluar dari kubah dan memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lebih praktis. Aku berjalan ke hutan, mencari tempat latihan yang lebih menantang.

Di tengah hutan, aku menemukan area terbuka dengan beberapa pohon besar. Sempurna.

"Mari kita coba combat application," kataku sambil mengambil posisi.

Aku membayangkan musuh datang dari berbagai arah. Bagaimana aku akan bereaksi?

Pertama, jaring pengikat. Aku menembakkan jaring ke batang pohon di sebelahku, lalu menariknya keras. Jaring mengencang dan—

SRAK!

Batang pohon terpotong bersih!

"Whoa!" Aku melompat mundur saat pohon itu tumbang dengan keras. "Jaring bisa memotong!"

Jaring yang ditarik dengan kencang ternyata punya daya potong yang mengerikan. Ini senjata yang mematikan.

Selanjutnya, aku mencoba jaring peluru. Aku menembakkan jaring kecil dengan kecepatan tinggi. THWIP THWIP THWIP! Jaring-jaring kecil melesat seperti peluru, menancap di pohon dengan kekuatan yang mengesankan. Beberapa bahkan menembus kulitnya.

"Projectile attacks, check," aku tersenyum puas.

Lalu pertahanan. Aku dengan cepat membuat tameng jaring berlapis di depanku. Untuk mengujinya, aku melempar batu dengan kekuatan penuh ke tameng. Batu itu tertangkap oleh jaring, kecepatannya meredam dengan sempurna tanpa merusak struktur jaring.

"Absorpsi sempurna," aku mengangguk.

Tapi yang paling aku ingin kuasai adalah mobilitas. Di dunia One Piece, pertarungan itu cepat dan dinamis. Aku perlu bisa bergerak dengan kecepatan tinggi dalam pertarungan.

Aku mulai berlatih web-swinging yang lebih kompleks. Menembak, berayun, lepas, tembak lagi—semuanya harus menjadi gerakan yang mulus tanpa henti berpikir.

Jam demi jam aku berlatih. Berayun di antara pohon, melompat dari cabang ke cabang, menggunakan jaring untuk mengubah arah di udara. Tubuhku mulai mengingat gerakannya, mengubahnya dari teknik menjadi instink.

Spider Sense ku juga semakin sensitif. Aku bisa merasakan bahaya dari jarak yang lebih jauh. Ketika seekor ular berbisa mencoba menyerangku dari balik semak, aku sudah merasakannya 3 detik sebelum ular itu muncul. Tanpa melihat, aku menembakkan jaring dan mengikat ular itu sebelum bisa mendekat.

Menjelang sore, aku memutuskan untuk mencoba sesuatu yang ambisius. Aku berdiri di tengah area terbuka dan mulai menembakkan jaring ke segala arah.

Jaring melesat ke pohon, ke tanah, ke batu, ke cabang. Aku tidak berhenti, terus menembakkan jaring dengan pola yang sudah kurencanakan dalam pikiranku.

Dalam sepuluh menit, aku telah menciptakan jaringan jaring yang menutupi area seluas hampir 50 meter persegi. Jaring-jaring itu saling terhubung, membentuk web tiga dimensi yang kompleks—ada yang horizontal sebagai platform, ada yang vertikal sebagai dinding, ada yang diagonal sebagai jalur pergerakan.

Aku berdiri di tengah karyaku dan tersenyum lebar. "Ini... ini adalah domainku."

Aku melompat ke dalam jaringan jaring. Bergerak di dalam struktur yang kuciptakan sendiri terasa sangat natural. Aku berlari di jaring horizontal, meluncur di jaring diagonal, bahkan berjalan di jaring vertikal dengan mudah.

Yang lebih menakjubkan, aku bisa merasakan setiap getaran di seluruh domain. Ketika seekor tupai melompat ke jaring di sisi kiri, aku langsung tahu lokasinya meskipun tidak melihat. Ketika daun jatuh dan menyentuh jaring di atas, aku merasakannya.

"Ini..." aku bergumam kagum. "Ini adalah Spider Domain."

Dengan domain ini, aku memiliki kontrol penuh terhadap area yang kukuasai. Musuh yang masuk ke dalamnya akan langsung terdeteksi. Aku bisa menyerang dari segala arah, menggunakan jaring sebagai jalur pergerakan, perangkap, dan senjata sekaligus.

Tapi membuat domain sebesar ini menguras konsentrasi. Aku bisa merasakan kelelahan mental meskipun tubuhku masih kuat. Sepertinya ada limit untuk seberapa besar domain yang bisa kubuat dan kupertahankan.

Aku membubarkan sebagian domain, hanya menyisakan struktur inti. Jaringnya perlahan memudar dan menghilang—rupanya jaring yang kubuat tidak permanen, mereka akan hilang setelah beberapa waktu atau jika aku menghendakinya.

Saat aku duduk untuk beristirahat, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari arah desa.

"TOLONG! BAJAK LAUT!"

Spider Sense ku langsung berdering keras. Bahaya!

Aku langsung melompat dan berayun dengan jaring menuju sumber suara. Dalam hitungan detik, aku sudah sampai di pinggir desa.

Pemandangan yang kulihat membuat darahku mendidih.

Sebuah kapal bajak laut berlabuh di pantai. Bendera hitam dengan lambang tengkorak berkibar di tiangnya. Sekitar 20 orang bajak laut sedang mengacak-acak desa, merampas makanan dan barang berharga. Beberapa penduduk desa sudah terluka, berteriak ketakutan.

"Serahkan semua makanan kalian!" teriak seorang bajak laut bertubuh besar dengan bekas luka di wajahnya. Sepertinya dia kaptennya. "Dan semua perhiasan! Cepat atau kalian akan mati!"

Seorang wanita tua mencoba melindungi cucunya, tapi seorang bajak laut mendorongnya hingga jatuh.

"NENEK!" teriak anak kecil itu.

"Diam kau!" bajak laut itu mengangkat tangannya, siap memukul anak itu.

THWIP!

Sebelum pukulan itu mendarat, jaring melesat dari tanganku dan mengikat tangan bajak laut itu. Aku menariknya keras, membuat bajak laut itu terpental ke belakang dan menghantam temannya.

Semua mata langsung tertuju padaku.

Aku mendarat di tengah jalan desa, berdiri di antara para bajak laut dan penduduk desa. Jaring masih terhubung dari pergelangan tanganku, bergerak-gerak seperti makhluk hidup.

"Pulau ini..." aku berkata dengan suara dingin. "Bukan tempat untuk sampah seperti kalian."

Kapten bajak laut menatapku dengan mata menyipit. "Bocah siapa kau? Berani menghalangi kami?"

"Namaku Kenji," jawabku sambil mengambil posisi siaga. "Dan aku akan memastikan kalian tidak menyakiti siapapun lagi."

Kapten itu tertawa keras. "Hahaha! Dengar itu anak buah! Bocah ini ingin jadi pahlawan! Tunjukkan padanya apa yang terjadi pada orang yang menghalangi Bajak Laut Kuro!"

Sepuluh bajak laut langsung menyerangku dengan pedang dan pisau mereka.

Spider Sense ku berdering. Aku bisa melihat jalur serangan mereka seolah-olah bergerak dalam gerakan lambat.

"Terlalu lambat," gumamku.

Aku melompat tinggi, menembakkan jaring ke atap rumah, dan berayun melewati mereka. Saat melayang di udara, aku menembakkan jaring ke kaki mereka semua.

THWIP THWIP THWIP THWIP!

Semua bajak laut itu terikat jaringku. Aku menarik keras, membuat mereka semua jatuh bersamaan dengan wajah mencium tanah.

"GUAH!"

Aku mendarat dengan sempurna, berdiri di tengah bajak laut yang terjatuh.

"Sepuluh orang selesai," kataku sambil menatap sisanya. "Siapa berikutnya?"

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!