NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Surat terakhir dibalik aset

Pada siang harinya di ruang tengah mansion. Jihan tampak kehilangan semangat hidupnya. Tubuhnya melesot di atas sofa beludru, ia menenggelamkan wajahnya di antara bantal-bantal empuk, membiarkan rambutnya berantakan.

Seharusnya, hari ini ia pergi untuk mengawasi butik Vanze Lameor dan kafe Lunaverre Patisserie miliknya. Dua tempat mewah itu adalah hadiah dari Alvaren dua tahun lalu sebagai kado ulang tahun sekaligus perayaan kelulusan sarjananya. Alvaren tahu betul Jihan sangat modis dan menyukai dunia fashion, serta seorang pencinta kuliner manis. Namun hari ini, Jihan merasa tidak memiliki energi bahkan untuk sekadar berdiri.

Jinan muncul dari arah lorong sambil menggendong Mochi. Ia membelai bulu lebat kucing putih itu dengan gerakan santai, namun matanya tidak bisa berbohong ia sebenarnya ikut sedih melihat kembarannya hancur seperti itu.

“Hei, Mochi. Lihat itu. Princess kita sedang berubah bentuk menjadi bantal manusia.”

Mochi menyahut dengan suara halus, “Meowww... purrr... purrr...”

Jinan mendekat lalu berhenti tepat di ujung sofa. Ia menatap Jihan yang wajahnya tersembunyi di balik bantal.

"Hey, Jihan! Apa yang kau lakukan? Meratapi nasib atau sedang mencoba menyatu dengan sofa?" celetuk Jinan pura-pura tidak tahu.

"Bukannya kau ada jadwal memeriksa koleksi baru di Vanze Lameor? Para stafmu bisa berpesta pora kalau bos mereka berubah jadi gumpalan bantal seperti ini."

Jihan tidak bergerak, suaranya terdengar teredam bantal. "Pergi sana, Jinan. Aku sedang tidak ingin bicara."

"Oh, aku tahu..." Jinan mendekat, senyum jahil tersungging di bibirnya. "Kau sedang bingung mana yang lebih kau khawatirkan, kan? Kak Alvaren atau si Zeiran pangeran mu itu?"

Jihan tersentak. Ia langsung mengangkat wajahnya dengan mata yang sedikit merah. "Jinan! Jaga mulutmu!" Ia melayangkan pukulan ke arah Jinan, namun Jinan dengan lincah menghindar. Jihan menghela napas panjang dan kembali menenggelamkan wajahnya. kemudian meletakkan Mochi di atas punggung Jihan.

"Nih, urus kucingmu. Dia sepertinya lebih stres melihatmu daripada melihat anjing tetangga."

Mochi menepuk-nepuk punggung Jihan dengan kaki depannya, seperti memijat.

Jinan tertawa kecil melihatnya, “Lihat? Bahkan Mochi berusaha menenangkanmu.”

Jihan akhirnya bangun dengan wajah lesu. Ia memindahkan Mochi ke pangkuannya, lalu membenamkan wajah di bulu lebat kucing itu. “Mochi… aku hanya ingin tidur sepanjang hari…”

Jinan duduk di sandaran sofa, menatap Jihan lama. “Tidak! Kau tidak boleh terjebak di rumah dan menjadi vampir galau!”

"Aku tidak vampir…" gumam Jihan sambil mengerutkan dahi.

"Kalau tidak keluar, kulitmu akan makin pucat. Fansku nanti bilang kita saudara vampir," sahut Jinan.

Jihan hanya menatapnya datar. “Aku tidak mau ke mana pun. Aku… tidak punya energi.”

"Ayo, Jihan. Kita makan croissant, minum coklat panas atau makanan pedas lalu belanja, kau pasti lupa sedih," paksa Jinan sambil menarik tangan Jihan.

"Tidak mau! Aku tidak ingin ke mana-mana!" tolak Jihan berulang kali. Lagipula, aku tidak ingin diserang oleh ribuan fansmu yang histeris itu."

Jinan mendesis dramatis. “Ayolah, itu beberapa tahun lalu. Sekarang mereka jauh lebih ramah. Aku akan pakai masker dan kacamata! Tidak akan ada yang tahu kalau ini superstar." Jinan terus memaksa, mencoba menarik Jihan berdiri.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu bergema dari depan. Tok tok tok.

Suara itu membuat Jihan dan Jinan seketika berhenti berdebat. Mereka saling bertatapan dengan kening berkerut.

Mochi pun berhenti menguap dan ikut menatap ke arah pintu.

“Kau… menunggu seseorang?” tanya Jinan pelan.

Jihan menggeleng pelan, wajahnya tampak bingung. “Tidak… siapa itu?”

Langkah mereka berdua berjalan melewati koridor mewah menuju ruang tamu utama. Saat pintu besar itu dibuka, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, membawa tas kerja kulit yang tampak berat. Di belakangnya berdiri dua orang asisten dengan wajah tanpa ekspresi.

"Selamat siang, Lakshana Hurijihan Alvarezh. Tuan Laksamana Jinan Alvarezh," sapa pria itu secara formal. "Saya pengacara pribadi Jenderal Alvaren. Saya di sini untuk menyelesaikan prosedur penyerahan setengah sisa warisan dan aset mutlak yang diinstruksikan oleh Tuan Alvaren"

Jihan dan Jinan menegang. Mereka teringat semalam Alvaren memang memberikan berkas, tapi mereka tidak menanggapinya dengan serius karena menganggap Alvaren hanya terlalu khawatir.

"Tunggu dulu," Jihan menyela, suaranya bergetar. "Semalam Kakak sudah memberi kami berkas. Kenapa harus sekarang? Kenapa terburu-buru seperti ini? Ini bukan milik kami, ini masih milik Kak Alvaren!"

"Mohon maaf, Nona Jihan," pengacara itu membuka sebuah dokumen dengan stempel timbul yang sangat formal. "Instruksi Tuan Alvaren sangat mutlak. Mulai jam dua belas siang ini, seluruh aset properti, termasuk mansion, villa, saham cadangan, obligasi luar negeri, cadangan rekening filantropi… sepenuhnya berpindah tangan atas nama kalian berdua. Beliau menegaskan bahwa kalian tidak punya pilihan untuk menolak."

Jihan merasakan dunianya berputar. langkahnya mundur setengah. Ia menggeleng lirih namun tegas. “Tidak. Itu bukan milikku… Kak Alvaren pasti dia hanya ingin melindungi kami. Bukan memberikan semua ini. Aku tidak akan menandatangani apa pun”

Pengacara itu menghela napas seolah sudah memprediksi penolakan itu. “Ini bukan lagi sebuah tawaran nona. Ini amanat mutlak yang tidak dapat dibatalkan oleh siapapun setelah beliau menandatanganinya. Jika Nona Jihan dan Tuan Jinan menolak… aset itu akan jatuh ke tangan pemerintah pusat.”

Jinan langsung berubah ekspresi menjadi tajam dan gelisah. Ia mencondongkan tubuh dengan nada meninggi sedikit, “Tangan pemerintah pusat? Maksud Anda… paman Daniel dan yang lain itu?! Kak Alvaren sudah tahu sesuatu… sampai dia melakukan ini.”

Pengacara itu terdiam, jelas tidak berani menjawab. Ia hanya menyerahkan sebuah map kulit hitam yang sangat tebal.

Jihan menoleh pada pengacara tersebut, berbicara lebih tegas, lembut namun tajam. “Baik. Kami akan menerima dokumen ini… untuk sekarang. Tapi bukan sebagai warisan kekayaan. Hanya sebagai… pesan terakhir dari kakak kami.”

Pengacara itu menunduk hormat. “Saya akan kembali besok untuk menandatangani finalisasi legalnya. Tolong… baca isi dokumen tersebut sebelum itu.” Ia menatap keduanya sejenak dengan tatapan belas kasihan terselubung. “Dan… berhati-hatilah.”

Pengacara itu pergi, meninggalkan mereka berdua berdiri diam di ambang pintu. Pintu pun tertutup.

"Ada yang tidak beres..." gumam Jihan pelan, matanya menatap dokumen di tangan pengacara itu seolah itu adalah surat kematian. "Jinan... Kak Alvaren sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dari kita."

Jinan terdiam, ia tidak lagi menjahili Jihan. Ia menatap ke arah gerbang mansion, kemewahan yang baru saja diberikan secara resmi kepada mereka terasa seperti beban yang sangat berat dan menyakitkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!