persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Tentang Geng Belakang Sekolah dan Definisi Kebebasan yang Baru
Senin pagi ini, sekolah terasa seperti sebuah buku yang halamannya sudah saya lipat di pojoknya. Ada tanda bahwa saya tidak ingin kembali ke bab-bab sebelumnya. Saya berjalan melewati koridor dengan tas yang tersampir di satu bahu, tidak lagi menoleh ke arah bangku depan tempat Kayla biasanya memarkir senyumnya untuk Arkan.
Saya memutuskan untuk tidak langsung masuk kelas. Kaki saya membawa saya ke wilayah yang selama ini saya hindari: area belakang sekolah, dekat gudang olahraga yang baunya perpaduan antara karet bola bocor dan keringat lama. Di sana, ada sebuah bangku semen panjang yang diduduki oleh beberapa siswa yang sering dijuluki "anak-anak pinggiran".
"Eh, ada si Filsuf Bumi. Tumben main ke sini? Kursi empuk di depan sudah dimakan rayap?"
Itu suara Bangka, anak kelas sebelah yang badannya tinggi besar dan selalu punya puntung rokok yang tidak dinyalakan di telinganya—katanya cuma buat gaya-gayaan biar kelihatan sangar. Di sampingnya ada dua orang lagi yang sedang asyik main kartu domino.
"Kursinya masih ada, Bangka. Cuma orang yang duduk di sebelahnya terlalu wangi buat hidung saya yang biasa bau aspal ini," jawab saya sambil duduk di ujung bangku.
Bangka tertawa meledak. Tawanya jujur, tidak dibuat-buat seperti tawa Arkan saat presentasi mading. "Gue denger lo lagi 'perang dingin' sama si Ratu Mading itu ya? Gara-gara si anak Jakarta yang motornya kayak belalang tempur itu?"
"Bukan perang, Bangka. Cuma beda frekuensi saja. Saya frekuensi radio am, dia frekuensi spotify premium," kata saya sambil menyandarkan punggung ke tembok yang penuh coretan piloks.
"Sini lo, gabung sama kita. Di sini gak ada mading-madingan. Adanya cuma ghibah soal guru yang paling pelit kasih nilai sama rencana bolos jam terakhir kalau cuaca lagi mendung begini," Bangka menepuk bahu saya keras-keras.
Bergabung dengan mereka rasanya aneh, tapi sekaligus melegakan. Selama dua jam pelajaran pertama—kebetulan guru Fisika sedang ada rapat—saya tidak di kelas. Saya duduk di belakang sekolah, mendengarkan cerita-cerita mereka yang jauh dari kata ideal. Mereka tidak bicara soal masa depan yang gemilang atau universitas ternama. Mereka bicara soal bagaimana cara membetulkan knalpot yang pecah atau cara mendekati cewek tanpa harus punya motor bagus.
Tiba-tiba, Senja muncul dari balik tembok gudang. Dia membawa dua kotak susu cokelat. Dia tampak kaget melihat saya duduk di antara Bangka dan teman-temannya yang tampangnya seperti preman insyaf.
"Bumi? Kamu... kamu tidak masuk kelas?" tanya Senja pelan.
"Lagi belajar di alam terbuka, Senja. Belajar ilmu sosial tingkat lanjut," jawab saya sambil menerima susu cokelat yang dia sodorkan.
Bangka bersiul kecil. "Ciyee, Bumi. Ternyata lo punya 'mata air' sendiri ya di tengah gurun begini. Pantesan si Kayla lo cuekin."
Senja menunduk, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Saya cuma mau antar ini, tadi lihat motor Bumi di parkiran tapi orangnya tidak ada di kelas."
"Terima kasih, Senja. Sini duduk sebentar, Bangka tidak gigit kok. Dia cuma hobi gonggong saja," kata saya.
Senja ragu-ragu, tapi akhirnya duduk di samping saya. Untuk pertama kalinya, saya merasa punya "geng". Bukan geng yang ditakuti, tapi geng orang-orang yang tidak mau dipaksa menjadi sesuatu yang bukan diri mereka.
Namun, kedamaian itu pecah saat Kayla dan Arkan muncul di area belakang sekolah. Sepertinya mereka sedang mencari saya karena ada tugas kelompok yang harus segera dikumpulkan. Wajah Kayla tampak sangat tidak percaya melihat saya duduk santai dengan anak-anak yang biasanya dia sebut sebagai "troublemaker".
"Bumi! Jadi kamu di sini? Kita cariin ke seluruh sekolah, ternyata kamu malah nongkrong sama mereka?" suara Kayla melengking, penuh nada penghakiman.
"Mereka punya nama, Kay. Dan mereka teman saya," jawab saya tetap duduk, tidak beranjak sedikit pun.
Arkan melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana kainnya yang licin. "Bumi, kita harus profesional. Tugas analisis novel itu harus dikumpul jam sepuluh. Kamu mau nilai kita semua hancur cuma gara-gara kamu lagi mau jadi pemberontak?"
"Nilai kamu tidak akan hancur, Kan. Tugas saya sudah selesai semalam, ada di atas meja saya. Silakan ambil, kasih nama kamu yang paling besar di sana kalau perlu," kata saya tajam.
Kayla menatap Senja dengan sinis. "Ooh, jadi ini pengaruhnya Senja ya? Bikin kamu jadi malas dan suka bolos begini? Senja, kamu kalau mau merusak diri sendiri silakan, tapi jangan ajak-ajak Bumi!"
Senja gemetar. Dia hendak berdiri, tapi saya menahan tangannya. Saya berdiri, menatap Kayla dengan tatapan yang paling dingin yang pernah saya miliki.
"Jangan pernah bawa-bawa Senja dalam urusan kita, Kay. Senja tidak merusak saya. Dia justru satu-satunya orang yang bikin saya betah di sekolah ini saat kamu terlalu sibuk jadi pajangan di samping Arkan," kata saya.
Kayla terdiam. Matanya berkaca-kaca. Arkan mencoba menarik tangan Kayla. "Ayo Kay, percuma bicara sama orang yang sudah kehilangan arah. Kita kumpulin saja tugasnya."
Mereka berbalik pergi. Di punggung mereka, saya melihat sebuah tembok besar yang sudah benar-benar tertutup rapat.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa terkadang kita perlu pergi ke tempat yang dianggap salah oleh orang lain hanya untuk menemukan kebenaran tentang siapa teman kita yang sesungguhnya. Di belakang sekolah yang berdebu ini, saya menemukan kebebasan yang tidak pernah diberikan oleh bangku depan kelas.
saya yang menghabiskan susu cokelat bersama Senja dan Bangka, menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan berpura-pura menjadi orang suci di depan orang yang hanya peduli pada citra.