NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Nasib Persahabatannya

“Terus kenapa lo jauhin dia, Nas?”

Pandanganku dari jendela berpindah ke wajah Magi. Tampaknya dia benar-benar penasaran kenapa aku menjauhi sahabatnya yang juga merupakan sahabatku. Kami berada di café langganan untuk membicarakan masalah ini berdua saja.

“Karena dia ga suka sama gue?” jawabku ragu. Tapi dalam hatiku pasti. Aku tahu betul itu.

“Lo cuma harus kasih dia waktu. Dia tuh masih trauma sama mantannya, makanya mungkin dia memperlakukan lo seperti ini. Kalau dia nggak suka sama lo dia nggak mungkin kan ngaku pas lo nanya waktu itu?”

Aku hanya merespon Magi dengan diam. Capek rasanya harus jawab kepada Magi tentang semua yang kusimpan akhir-akhir ini.

Magi, kamu tak akan pernah mengerti. Atau, kamu akan mengerti jika aku harus bilang semua yang kupikirkan tentang apa itu cinta versiku? Itu akan memakan waktu sebulan penuh termasuk setiap malamnya.

Magi hanya menghela nafas, ia bersandar pada kursinya dan memandangku penuh penghakiman.

“Gini yah, gue mau nanya sama lo, Ma. Lo sendiri suka nggak sama Iman? Jujur yah jawabnya! Cepet!”

Suka sama Iman? Ini pertanyaan tersulit di tahun ini.

“Magi, lo pernah jatuh cinta nggak sih? Atau setidaknya, lo pernah gak dikejar sama orang lain yang lo harap dia akan jadi kekasih hati lo?”

“Ya pernah lah!”

“Itu dia.” Aku mendekati wajahku padanya. “Lo akan tahu persis jika seseorang suka sama lo. Ada intuisi yang kuat jika seseorang benar-benar menaruh harap sama lo. Ngomongin Iman, dia nggak begitu sama gue.”

“Yang gue tanya, lo suka nggak sama…”

“Lo harusnya tau gue dong.”

“Sumpah ya, Najma. Gue lama-lama resign deh dari persahabatan kita bertiga. Tahu bakalan gini, gue harusnya antisipasi untuk Iman ga naksir sama lo. Sumpah, gue kangen banget di saat kita nggak usah mikirin bahwa di antara kita bisa punya gap yang melebar cuma karena urusan perasaan!”

Magi pun pergi dengan meninggalkan matcha blended iced nya.

Itu adalah pertanda dia benar-benar jengkel padaku.

**

Sudah satu minggu Magi tidak menghubungiku. Setiap kucoba telepon pun ia tak pernah mengangkatnya. Aku juga tak berani menghubungi Iman karena aku begitu jahat padanya. Kini dua sahabatku menghilang sudah, aku putus asa.

Magi tak pernah begini kepadaku. Ia tak pernah sekalipun marah kepadaku secara serius. Jika aku berbuat salah padanya atau Iman, ia akan mencariku untuk memarahiku langsung dan berbaikan saat itu juga. Magi begitu mengedapankan persahabatan kami bertiga. Jika aku mengajaknya kumpul bersama, ia memilih bertemu kami bertiga daripada waktu belajarnya di jam belajar yang sangat teratur terjadi setiap malam dua jam sebelum ia tidur. Kegemarannya membaca buku dan obsesinya menjadi dosen idaman memang sangat menginspirasi siapapun.

Aku memang punya banyak teman, tapi yang paling sehati dan mengerti tentangku hanyalah Magi seorang. Ia seakan memiliki waktu khusus untukku terutama jika aku sedang dalam masa kritis sehingga aku tak kuat menghadapinya sendiri.

Najma ketika acara wisuda.

Seharusnya aku senang dan begitu gembira karena perjuangan selama empat tahun terbayar sudah. Aku kini resmi sarjana dan berhasil menuai kebanggaan untuk orangtua dan keluargaku lainnya. Tapi tidak, ada mata sembab di wajahku yang tidak bisa ditutupi oleh riasan wajah sebagus apapun. Untungnya, tidak ada yang menyadarinya, kecuali Magi.

Magi datang ke acara wisudaku walau jarak jauhnya memakan waktu tiga jam dari Jakarta. Aku sangat menghargainya dan begitu bersyukur memilikinya sebagai sahabat terbaikku. Iman waktu itu tidak bisa datang karena masih kerja lapangan di Kalimantan. Aku dan Magi menghabiskan malam panjang berdua saja di café dekat kosanku berada. Sementara seluruh keluargaku sudah kembali ke Jakarta, Magi tetap tinggal semalam denganku di kota ini.

“Jadi lo udah beneran nggak akan ketemu dia lagi?”

“Nggak.”

“Tadi dia nggak datang?”

“Nggak.”

“Dia wisuda kapan?”

“Mungkin awal tahun depan.”

Magi dan aku terdiam untuk beberapa menit ke depan. Aku hanya menatap kosong pemandangan café di sekitarku. Café yang cukup sepi karena memang sudah malam dan hari ini bukan di akhir pekan.

“Magi, dia udah mengisi hari-hari gue kurang lebih 8 bulan ini. Cukup singkat, kan? Tapi kenapa banyak banget kenangan super yang satupun nggak bisa gue lupain sama dia? Super senang, ada. Super sedih, banyak. Gue yakin gue nggak akan pernah mengalami cinta jenis seperti ini lagi.”

“Sabar. Kan kalian baru pisah. Nanti juga lupa.” Magi mengelus rambutku.

“Salah gue dimana? Kenapa bisa begitu sulit untuk bisa sama dia?”

“Tandanya dia bukan buat lo.” Lirih Magi lalu tersenyum menghiburku.

“Kenapa? Terus kenapa gue ketemu sama dia?”

“Mungkin supaya lo belajar bahwa nggak semua hal bisa kita dapatkan di dunia ini.”

Aku menghapus air mataku yang begitu ringan menetes tanpa henti.

“Mencintai orang yang tepat di waktu yang salah, lo percaya nggak sih dengan kalimat itu?”

“Nggak. Karena kalau tepat waktunya nggak pernah salah.”

“Gue nggak yakin gue bisa jatuh cinta lagi, Gi.”

“Pasti lo jatuh cinta lagi, tapi nanti. Orang yang akan membuat lo jatuh cinta adalah orang baik yang nggak akan pernah menyakiti lo, sayang sama lo, dan nggak akan membuat lo seperti pilihan, melainkan prioritas buat dia.”

Aku semakin tersedu dan memeluk Magi hingga tumpah seluruh air mataku. Bunyi tangisanku mengeras dan itu cukup untuk membuat penjaga café memeriksa keadaan kami berdua yang sedang duduk di sofa pojok di ruang terbuka. Magi hanya menenangkanku dan mengelus rambutku berulang kali. Sungguh bersyukur aku punya Magi saat ini.

Kembali ke waktu kini.

Aku tak ingin kehilangan Magi sekarang. Aku akan selalu membutuhkannya. Aku begitu rindu padanya. Pada persahabatan kami bertiga, ataupun pada saat dimana hanya aku dan Magi yang saling mengandalkan. Kubuka kode ponselku dan kulihat album foto bersama Magi dan Iman. Aku tersenyum tipis membayangkan setiap momen yang terekam dalam foto-foto tersebut.

Namun, aku terhenti di satu foto di mana kami bertiga sedang bermain di taman safari. Aku yang sedang berjalan memotret kami bertiga dengan cepatnya sehingga wajah Magi agak goyang dan tidak kelihatan jelas ekpresi wajahnya. Seketika aku memperhatikan mimik wajah Magi. Ia menatap Iman dengan mata yang berbeda.

Aku pun bergegas lari keluar rumah dan mengambil skuter yang berwarna kuning cerah untuk pergi ke rumah Magi, bertanya sesuatu kepadanya sambil menyayangkan kenapa aku baru menelaah foto itu sekarang.

**

Karena kemacetan ibukota yang luar biasa aku pun akhirnya tiba dengan waktu satu setengah jam, kuparkir motorku di depan pagar rumah Magi yang mungil dan kutekan bel rumah Magi berkali-kali. Lima menit kemudian pintu terbuka dan Magi keluar sambil mengecek keberadaan orang di luar rumahnya. Mengetahui itu aku, air muka wajahnya langsung berubah.

“Najma, ngapain?”

Aku diam menunggu Magi keluar pagar. Tapi tampaknya ia hanya membuka setengah pagar dan berdiri di sana.

“Magi, lo masih marah sama gue? Ini kan udah seminggu. Harusnya tiga hari aja juga udahan, bukan?”

“Terus kenapa?” lirihnya kesal.

Aku menatap wajahnya, diam sejenak membaca wajahnya. Magi begitu kesal padaku hingga ingin menangis. Tapi aku tahu ia menahannya dengan sangat.

“Magi.”

“Apa sih?”

“Kenapa lo nggak ngasih tahu kalau lo suka sama Iman? Kenapa lo ngerahasiain ini dari gue?”

Magi langsung melirik ke arahku dengan mata berkaca-kaca. Ia sedikit kaget dengan pertanyaanku, namun lebih banyak kesalnya.

Magi menarik nafasnya dalam, “gue cuma pengen kita tetap bertiga kayak biasanya. Gue nggak mau kita bertiga putus pertemanan karena masalah asmara. Kalau lo tahu pasti lo nyomblangin gue sama Iman. Kalau Iman suka sama gue balik dan kita pacaran, pasti suatu hari kita putus juga, lalu pisah dan semuanya nggak akan sama lagi. Dan kalau Iman nggak suka sama gue, pasti dia nggak akan mau ngumpul bareng kita lagi karena nggak enak sama gue. Tapi kenyataannya, dia malah suka sama lo, pasti lo bisa ngebayangin kan jadi gue?”

“Magi,”

“Ketika gue tahu Iman suka sama lo dari orangnya langsung, gue berusaha sekuat tenaga untuk terlihat happy di depan dia. Karena bagaimanapun gue pengen dia happy, Nas,” Magi terisak dan membersihkan hidungnya, “Gue sayang sama lo juga sama Iman, jadi gue pikir jika kalian saling suka mungkin kita akan tetap bisa bertiga seperti biasanya. Gue ikhlasin dan ikut senang serta membuang jauh-jauh pikiran cemburu dan lainnya karena gue juga pengen lo bahagia, Nas. Gue pengen lo sama orang yang baik dan tulus sama lo. Tapi ternyata lo tolak dia gitu aja karena lo pikir dia nggak suka sama lo? Lo kali yang nggak suka sama dia tapi ngerasa nyaman karena ada cowok yang merhatiin lo makanya lo gantungin? Iya, kan?”

Aku hanya menangis melihat Magi. Ingin sekali aku memeluknya tapi aku tahu Magi tidak ingin kudekati.

“Kayaknya kita nggak akan pernah bisa seperti dulu, ya? Gue bener, nggak?”

“Magi,” aku terisak dan melangkah ke arahnya.

“Nas, kayaknya gue harus masuk deh.” Magi langsung berbalik berjalan cepat lalu menutup pintu rumahnya. Sedangkan aku? Hanya bisa menutup wajahku dengan kedua tangan dan menangis terisak seperti waktu Aga meninggalkanku. Aku langsung menyalakan motorku dan memakai helmku sambil terus menghapus air mata yang tak kunjung berhenti. Tak pernah kubayangkan akan kehilangan Magi dan Iman seperti ini.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!