NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belati di Dalam Selimut

Fajar menyingsing di atas pegunungan dengan warna merah tembaga yang suram, seolah langit pun enggan menyaksikan apa yang akan terungkap di balik dinding beton mansion Moretti. Di dalam ruang kerja utama yang kedap suara, Maximilian duduk di kursi kebesarannya. Perban yang melilit perutnya terasa gatal dan panas, sebuah pengingat fisik akan pengkhianatan yang hampir merenggut nyawanya di dermaga tujuh. Di sampingnya, Rebecca berdiri tegak. Kalung safir pemberian Max berkilat di bawah lampu gantung kristal, namun kilat di matanya jauh lebih tajam dan dingin dibandingkan batu permata mana pun.

Pintu jati ruangan itu diketuk dengan ritme tiga kali yang kaku. Vargo masuk dengan langkah militer yang berat. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak lebih gelap, rahangnya mengeras hingga otot-piringnya menonjol. Ia meletakkan sebuah map kulit cokelat tua yang tebal dan sebuah tablet digital di atas meja jati Maximilian yang luas.

"Tuan, Nona," Vargo memberikan penghormatan singkat namun dalam. "Pembersihan di pelabuhan telah selesai sepenuhnya. Sepuluh orang Valenti tewas, sisanya dalam pengawasan. Namun, pencarian 'tikus' di dalam rumah kita sendiri baru saja membuahkan hasil yang memuakkan. Pengkhianatnya bukan dari barisan luar."

Maximilian menyipitkan mata, tangannya yang besar meremas sandaran kursi mahoninya hingga kayunya berderit. "Katakan, Vargo. Siapa yang membukakan pintu untuk anjing-anjing Valenti?"

Vargo menekan layar tablet, menampilkan rekaman kamera tersembunyi yang sangat jernih. "Teo. Asisten senior staf rumah tangga. Dia telah bekerja di sini selama lima tahun, memiliki akses ke kode keamanan cadangan. Dialah yang mematikan sistem pertahanan sektor barat saat penyerangan mansion dan memberikan koordinat GPS presisi saat Anda berada di dermaga tujuh."

Rebecca merasakan aliran es menjalar di sumsum tulang belakangnya. Teo adalah pria tua yang selalu membawakannya teh chamomile setiap sore, pria yang tampak tulus saat menanyakan kenyamanannya di rumah ini. Pengkhianatan itu bukan sekadar pelanggaran protokol; itu adalah belati yang ditusukkan tepat di jantung kepercayaannya.

"Lima tahun ..." desis Maximilian, suaranya rendah dan penuh getaran bahaya yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. "Bawa dia ke ruang bawah tanah. Aku akan memastikan dia memohon untuk mati sebelum matahari mencapai puncaknya."

Maximilian mulai bangkit, namun ia mengerang kecil saat luka di perutnya menarik jahitan yang belum kering. Wajahnya memucat sesaat, keringat dingin muncul di dahinya.

"Tidak, Om Max."

Suara Rebecca memutus otoritas Maximilian dengan ketenangan yang mengejutkan. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Maximilian dengan tubuhnya yang ramping namun kokoh. Tangannya menyentuh lengan Max, bukan untuk membelai, melainkan untuk menahan.

"Om masih terluka. Jahitan itu bisa robek dan infeksi jika Om memaksakan diri turun ke bawah tanah sekarang," ucap Rebecca dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan. "Vargo menceritakan bagaimana Om melindungiku selama ini. Om terluka karena mencoba menjadi perisai bagi gadis yang tidak berdaya. Tapi gadis itu sudah tidak ada."

Rebecca menatap Maximilian tepat di mata, mencari pengakuan atas transformasinya. "Biarkan aku yang menyelesaikannya. Aku tidak ingin terus-menerus berlindung di bawah ketiakmu sementara kau mempertaruhkan nyawa untuk musuh-musuhku. Aku ingin menjadi tangan kananmu, Max. Aku ingin mereka tahu bahwa menyentuhmu berarti mengundang kemurkaanku juga."

Maximilian terdiam. Ia menatap Rebecca dengan intensitas yang sanggup membakar. Ia melihat sisa-sisa kepolosan Rebecca Sinclair telah terbakar habis malam itu, digantikan oleh api baja milik seorang Moretti. Ada rasa bangga yang luar biasa di dadanya, bercampur dengan rasa pedih karena ia telah menyeret gadis semurni Rebecca ke dalam kegelapan ini.

"Vargo," panggil Maximilian tanpa melepaskan pandangannya dari Rebecca. "Dampingi dia. Jangan biarkan seujung kuku pun dari dirinya terluka. Tapi ... biarkan dia melakukan apa yang menurutnya pantas dilakukan."

Ruang isolasi bawah tanah itu lembap, berbau semen basah dan ketakutan yang pekat. Teo terikat di kursi besi yang dipaku ke lantai, kepalanya tertunduk lesu. Saat pintu besi berat itu berderit terbuka, Teo mendongak dengan harapan akan melihat Maximilian yang murka—setidaknya ia tahu apa yang diharapkan dari sang Alpha. Namun, saat ia melihat Rebecca masuk dengan gaun hitam elegan dan tatapan sedingin es, tubuhnya gemetar hebat.

Rebecca berjalan perlahan mengitari kursi Teo. Sepatunya yang berhak tinggi menimbulkan suara klik yang berirama, seolah menghitung sisa waktu hidup pria tua itu. Ia tidak membawa senjata api; di tangannya hanya ada map bukti pengkhianatan dan sebuah belati kecil dengan ukiran jangkar perak Moretti di gagangnya.

"Lima tahun, Teo," suara Rebecca terdengar tenang, hampir seperti bisikan, namun bergema di ruangan yang sunyi itu. "Setiap sore kau menyajikan teh untukku. Kau melihat bagaimana aku mencoba beradaptasi di sini. Apakah kau tertawa di dalam hati saat melihatku, mengetahui bahwa kau sudah menjual lokasiku kepada Valenti?"

"Nona ... kumohon ... mereka mengancam cucuku ..." Teo merintih, air mata dan ingus membasahi wajahnya yang keriput.

"Jangan gunakan keluargamu sebagai tameng atas keserakanmu," Rebecca melemparkan map itu ke wajah Teo. Lembaran kertas itu berserakan di lantai, menampilkan transaksi bank ke rekening rahasia atas nama Teo sejak enam bulan lalu. "Kau sudah menerima bayaran jauh sebelum mereka memiliki alasan untuk mengancammu. Kau menjual Max demi beberapa batang emas."

Rebecca berhenti tepat di depan Teo. Ia mengangkat belati itu, membiarkan cahayanya terpantul di mata Teo yang ketakutan.

"Om Max ingin kau mati perlahan dengan cara yang paling brutal," lanjut Rebecca, menempelkan ujung belati yang sangat tajam itu di bawah rahang Teo, memaksa pria itu untuk mendongak. "Tapi aku punya rencana yang lebih baik. Aku ingin kau menjadi monumen hidup atas pengkhianatanmu."

Rebecca menoleh ke arah Vargo yang berdiri tegak di bayang-bayang sudut ruangan. "Vargo, cabut lidahnya agar dia tidak bisa membocorkan rahasia Moretti lagi. Patahkan jemarinya hingga dia tidak bisa menulis sepatah kata pun. Lalu, buang dia di depan gerbang mansion Enzo Valenti dengan tanda pengkhianat di dahinya."

"Nona! Ampun!" jerit Teo histeris.

Rebecca menatap Teo tanpa sedikit pun emosi di wajahnya. "Kau tidak memberikan ampun pada Max saat kau membocorkan koordinatnya di pelabuhan. Sekarang, rasakan bagaimana rasanya dibuang oleh tuan yang kau khianati, dan tidak berguna bagi tuan yang kau puja."

Rebecca berbalik dan melangkah keluar saat Vargo mulai mendekati kursi Teo dengan peralatan bedah taktis. Begitu pintu besi tertutup, suara jeritan Teo yang tertahan mulai terdengar, namun Rebecca terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.

Di lorong yang remang, ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang dingin. Napasnya teratur, namun jantungnya berpacu seperti genderang perang. Ia menatap tangannya yang bersih. Ia tahu, setelah detik ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupannya yang lama.

Di ujung lorong, Maximilian berdiri menunggunya, bertumpu pada tongkat kayu mahoni. Ia melihat Rebecca keluar dengan aura yang jauh lebih kuat, lebih gelap, dan penuh wibawa.

"Kau melakukannya dengan baik, Tesoro," ucap Maximilian, merentangkan satu tangannya.

Rebecca masuk ke dalam pelukan Max, menghirup aroma maskulin pria itu yang menenangkannya. "Aku tidak ingin menjadi lemah lagi, Om. Aku ingin mereka takut padaku sebanyak mereka takut padamu."

"Mereka akan takut," bisik Maximilian, mencium puncak kepala Rebecca. "Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar namaku. Kau adalah kekuatanku. Besok, kita akan mulai menghancurkan jalur logistik Valenti. Kita akan membalas dendam untuk setiap tetes darah yang keluar dari tubuhku ... dan untuk setiap air mata yang kau keluarkan karena mereka."

Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, Rebecca duduk di sebelah Maximilian di ruang kerja. Mereka tidak lagi berbagi cerita tentang masa lalu, melainkan menyusun strategi perang. Rebecca menandai peta koordinat musuh dengan tinta merah, tangannya stabil, dan hatinya sekeras batu permata di lehernya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan sang ratu mafia telah bangun dari tidurnya.

1
Mita Paramita
Rebecca makin jauh sama max gak seperti dulu 🤨 mesti salin jujur tetep bertahan
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠, 𝐛𝐢𝐚𝐫 𝐦𝐫𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢, 𝐥𝐠𝐢𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐧 𝐯𝐚𝐫𝐠𝐨 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐛𝐥𝐦𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐬𝐝𝐡 𝐭𝐚𝐮


𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐤𝐨𝐤 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐛𝐚𝐛 𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐮𝟐𝐫 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐚𝐱 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐯𝐚𝐫𝐠𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐤𝐥𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥


𝐩𝐚𝐬 𝐦𝐚𝐮 𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐧 𝐯𝐚𝐫𝐠𝐨 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐞𝐭𝐢𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 🥺🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐞𝐡 𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐣𝐚
𝐰𝐚𝐥𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐡 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐢𝐧 𝐚𝐪


𝐤𝐫𝐧 𝐀𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐛𝐥𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐥𝐭𝐚𝐡 🤣🤣🤣
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢𝐜𝐮𝐥𝐢𝐤 𝐥𝐠? 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 😭😭🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐤𝐲𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚


𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝟗𝟖 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐝𝐠𝐧 𝐡𝐞𝐥𝐢 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐢 𝐜𝐚𝐩𝐨𝟐 𝐭𝐮𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐝𝐥𝐦 𝐤𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐤𝐞 𝐭𝐦𝐩𝐭 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢 𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐩 𝐣𝐠 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐫𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐥𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐤𝐞𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐥𝐞𝐝𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐜𝐚𝐫𝐥𝐞𝐭 𝐫𝐨𝐬𝐞́ 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐰𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐤𝐚𝐤𝐤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐨𝐡 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐮𝐢𝐧 𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝟗𝟖 𝐤𝐦𝐫𝐧, 𝐦𝐬𝐡 𝐝𝐢𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐲𝐚???

𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐥𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐉𝐨𝐤𝐞𝐫, 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐣𝐝 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐫𝐧 𝐤𝐞𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐤 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚🥺🥺😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐬𝐠𝐭 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢...


𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐚𝐪 𝐛𝐬 𝐣𝐝 𝐤𝐲𝐤 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐚𝐪 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝟏 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚🤪🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 🤪🤪🤪 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐢𝐧𝐝𝐨 𝐲𝐠 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐦𝐡😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐦𝐮, 𝐭𝐝𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐲 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐚𝐱𝐱𝐱😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐫𝐮𝐭?
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐰𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐠𝐰𝐞𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!