Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mobil berhenti tepat di samping sebuah jet pribadi yang megah dengan logo Wijaya Group di ekornya.
Rengganis turun dengan perasaan takjub; ia tidak menyangka akan disambut dengan karpet merah dan barisan kru darat yang membungkuk hormat. Namun, kemewahan itu seketika sirna saat sebuah suara melengking memecah keheningan landasan pacu.
"Permadi!!"
Sesosok wanita dengan gaun desainer yang tampak berantakan berlari menerobos penjagaan keamanan.
Laras berlari dengan wajahnya yang sembab, matanya merah karena tangis yang tampaknya sudah pecah sejak lama. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Laras langsung menghambur dan memeluk tubuh Permadi dengan erat.
Rengganis terpaku di tempatnya. Jantungnya berdenyut nyeri, namun ia berusaha tetap tenang sebagai seorang wanita dewasa.
"Jangan tinggalkan aku, Permadi! Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi," isak Laras di dada Permadi.
Ternyata, obsesinya telah membuat wanita itu nekat mengikuti Permadi hingga ke landasan privat ini.
Permadi membeku. Tubuhnya kaku, matanya menatap Rengganis dengan tatapan bersalah yang mendalam.
Ia tidak ingin momen bahagia ini hancur begitu saja.
Rengganis menarik napas panjang. Ia menatap Permadi dengan tenang, meski hatinya terasa seperti diremas.
"Selesaikan persoalanmu, Mas. Aku tunggu di dalam," ucapnya singkat dengan suara yang tetap berwibawa.
Tanpa menunggu jawaban, Rengganis melangkah menaiki tangga pesawat, meninggalkan suaminya yang masih dipeluk paksa oleh masa lalunya.
Di landasan, Permadi segera melepaskan tangan Laras dengan kasar namun terkendali.
"Laras, cukup! Apa yang kamu lakukan di sini?!"
Laras justru luruh ke bawah. Ia duduk bersimpuh di hadapan Permadi, memegang ujung celana pria itu.
"Aku mencintaimu, Permadi. Wanita itu tidak pantas untukmu! Dia terlalu tua dan tidak akan bisa mengimbangimu..."
"Jaga bicaramu!" bentak Permadi dengan suara rendah yang mengancam.
"Dia istriku, dan dia adalah segalanya bagiku. Pergilah, Laras, sebelum aku benar-benar menghancurkan kariermu karena gangguan ini."
Dari balik kaca jendela pesawat yang gelap, Rengganis duduk diam.
Ia melihat Laras yang bersimpuh memohon, dan ia melihat ketegasan Permadi yang berdiri kokoh layaknya tembok karang.
Ada rasa sesak yang menyerang, namun ada juga rasa percaya yang mulai tumbuh.
Rengganis memejamkan mata, mengepalkan tangannya di atas pangkuan.
Ia sadar, memiliki suami seperti Permadi berarti ia harus siap menghadapi badai-badai seperti ini.
"Ya Tuhan, apakah aku siap dengan semua ini." gumam Rengganis.
Pintu pesawat tertutup rapat, meredam suara mesin yang mulai menderu.
Permadi melangkah masuk dengan napas yang masih memburu.
Ia segera menghampiri Rengganis yang duduk terdiam di kursi leather mewah, menatap kosong ke luar jendela.
Di luar sana, melalui kaca tebal, masih terlihat Laras yang ditarik mundur oleh petugas keamanan.
Wanita itu berteriak histeris, mulutnya komat-kamit memanggil nama Permadi, namun suaranya sudah tidak bisa menembus kabin pesawat yang kedap suara.
Pemandangan itu tampak seperti film bisu yang menyedihkan.
Permadi duduk di kursi tepat di depan Rengganis. Ia mencoba meraih tangan istrinya, namun Rengganis tetap diam, tidak menolak tapi juga tidak membalas genggaman itu.
"Ganis, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu dia akan senekat itu sampai ke landasan."
Rengganis masih tidak bergeming. Matanya masih mengikuti sosok Laras yang semakin mengecil seiring pesawat yang mulai bergerak perlahan menuju landasan pacu.
Ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka, jauh berbeda dengan tawa canda yang mereka lalui di kamar tadi siang.
"Dia sangat mencintaimu, Mas. Wanita itu sampai harus bersimpuh seperti itu di depan umum. Itu bukan hal yang mudah dilakukan seorang wanita."
"Itu bukan cinta, Ganis. Itu obsesi yang sakit," bantah Permadi tegas.
Ia beranjak dari kursinya dan berlutut di hadapan Rengganis, memaksa istrinya untuk menatap matanya.
"Lihat aku. Aku tidak memberikan harapan apa pun padanya. Bagiku, dia sudah mati sejak lama."
Rengganis mengalihkan pandangannya dari jendela ke mata Permadi yang memancarkan kegelisahan sekaligus ketulusan.
"Aku hanya berpikir, Mas. Apakah perbedaan usia kita ini memang semudah itu menjadi celah bagi orang lain untuk menghina kita? Laras tadi mengatakannya, kan? Dia bilang aku tidak pantas karena aku terlalu tua."
Permadi menggelengkan kepala dengan kuat. Ia memegang kedua pipi Rengganis.
"Jangan dengarkan kata-kata sampah itu. Kamu dengar apa yang aku katakan padanya tadi? Kamu adalah segalanya bagiku. Aku tidak butuh wanita yang hanya punya umur muda, aku butuh kamu."
Pesawat mulai melakukan take-off, memberikan sensasi tekanan yang membuat mereka terdiam sejenak.
Saat pesawat sudah stabil di ketinggian, Permadi tidak kembali ke kursinya.
Ia tetap di posisi semula, menatap istrinya dengan lekat.
"Jangan biarkan dia menang dengan merusak suasana bulan madu kita, Sayang. Tolong," pinta Permadi pelan.
Rengganis menatap suaminya cukup lama, lalu perlahan ia menghela napas panjang.
Ia mengulurkan tangannya, mengelus rambut Permadi yang sedikit berantakan karena kejadian tadi.
"Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, Mas. Kejadian tadi cukup mengejutkan bagiku."
Permadi tersenyum lega, meski tipis. Ia mengecup telapak tangan Rengganis.
"Aku akan melakukan apa pun agar kamu lupa kejadian tadi. Termasuk menjadi pelayan pribadimu selama penerbangan ini."
Permadi menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sarat akan beban masa lalu.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi pesawat yang empuk, matanya menatap langit malam yang membentang di luar jendela, namun pikirannya melesat kembali ke sepuluh tahun yang lalu.
"Kamu tahu, Ganis. Melihat dia bersimpuh tadi tidak membuatku kasihan. Itu justru mengingatkanku pada betapa rendahnya aku di matanya dulu."
Rengganis tetap diam, memberikan ruang bagi suaminya untuk bercerita.
Ini adalah pertama kalinya Permadi membuka kotak pandora tentang Laras secara mendalam.
"Waktu itu aku masih kuliah, masih idealis, dan belum memegang jabatan apa pun. Laras adalah segalanya bagiku saat itu. Tapi di depan banyak orang, di tengah acara kampus, dia menolakku mentah-mentah," kenang Permadi dengan senyum pahit.
"Dia meninggalkanku dan memilih pergi dengan lelaki yang jauh lebih tua dan kaya. Dia bilang, cinta tidak bisa memberinya tas mewah atau liburan ke Eropa. Dia mempermalukanku, Ganis. Dia membuangku seperti sampah karena dia pikir aku tidak punya masa depan."
Permadi mengepalkan tangannya di atas pahanya .
"Dia belum tahu jika Papa akan menyerahkan seluruh kendali Wijaya Group kepadaku. Dia hanya melihat aku sebagai mahasiswa biasa yang tidak punya apa-apa."
Rengganis menatap profil samping suaminya. Ia bisa merasakan sisa rasa sakit dan penghinaan yang pernah dirasakan Permadi muda.
Ternyata, di balik kesuksesan dan keangkuhan Permadi sekarang, ada luka dalam yang dibentuk oleh penolakan yang kejam.
"Jadi, saat sekarang dia datang dan bersimpuh memohon maaf karena melihat aku yang sekarang itu sangat menjijikkan bagiku," lanjut Permadi.
Ia menoleh ke arah Rengganis, tatapannya melembut.
"Itulah kenapa aku bilang, usia bukan masalah bagiku. Aku pernah mencintai wanita yang seumuran, dan dia mengkhianatiku demi harta. Tapi bersamamu, aku menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kematangan dan ketulusan."
Rengganis mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Permadi yang masih mengepal.
"Aku tidak tahu kamu pernah melewati masa sesulit itu, Mas."
"Masa itu sudah lewat. Dan aku tidak akan membiarkan wanita dari masa lalu itu merusak masa depanku. Masa depanku itu kamu, Dokter Rengganis. Bukan dia yang baru sadar setelah melihat hartaku."
Permadi menarik napas dalam, mencoba mengusir sisa-sisa amarah di dadanya.
Ia tidak ingin bulan madu ini diawali dengan kesedihan.
"Lupakan dia, oke? Anggap saja tadi itu cuma gangguan sinyal," ucap Permadi kembali dengan nada nakalnya, mencoba mencairkan suasana.
"Sekarang, fokus ke Labuan Bajo. Aku sudah pesan kapal pinisi paling mewah untuk kita besok."