Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Penerbangan dari Singapura menuju Jakarta kali ini terasa jauh lebih singkat dibandingkan perjalanan penuh luka beberapa bulan lalu. Saat roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, Ares menatap keluar jendela dengan perasaan yang tak menentu. Ada rasa lega yang luar biasa karena ia pulang dengan kesembuhan atas kelumpuhannya, namun ada lubang kecil di hatinya yang ditinggalkan oleh kepergian Chloe ke London.
Andrew, yang duduk di sampingnya, menyadari kegalauan adiknya. Ia menepuk lutut Ares pelan. "Fokus pada apa yang ada di depan lo sekarang, Res. Keluarga sudah menunggu lo balik."
Begitu mobil yang membawa mereka memasuki gerbang kediaman besar keluarga Wijaksana, suasana meriah sudah terasa. Halaman rumah yang luas itu dihiasi lampu-lampu taman yang cantik. Di teras depan, Papi Adrian, Mommy Revana, dan Alesya beserta Rayyan dan Kiara sudah berdiri berjajar.
Begitu pintu mobil terbuka, Andrew turun lebih dulu, disusul oleh Ares yang dengan perlahan namun pasti, melangkahkan kakinya keluar tanpa bantuan kursi roda. Ia hanya bertumpu pada satu tongkat penyangga yang elegan.
"Ares! Andrew!" teriak Alesya yang tidak bisa lagi membendung emosinya. Ia berlari memeluk kedua adiknya secara bergantian.
"Res, lo hebat! Lo beneran bisa berjalan!" ucap Alesya sambil terisak di bahu Ares.
Ares terkekeh, meski matanya juga memanas. "Gue kan sudah janji bakal jalan lagi, Kak Sya."
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga yang luas, suasana terasa begitu hidup. Rayyan, suami Alesya, juga menyambut mereka dengan pelukan persaudaraan yang hangat. Sementara itu, si kecil Kiara, putri mereka yang baru berusia empat tahun, berlari menghampiri Ares dengan membawa sebuah gambar coretan tangan.
"Om Ares! Lihat, Kiara gambar Om Ares pakai baju superhero!" seru bocah kecil itu sambil menarik-narik celana Ares.
Ares berlutut dengan perlahan untuk menyamai tinggi keponakannya. "Wah, keren banget! Om jadi superhero ya? Makasih ya, sayang."
Papi Adrian mendekat, merangkul pundak Andrew dan Ares sekaligus. "Akhirnya... rumah ini terasa seperti rumah lagi. Papi bangga sama kalian berdua. Terutama kamu, Andrew, terima kasih sudah menjaga adikmu dengan nyawamu sendiri."
Andrew mengangguk kecil. "Ini sudah tugas Andrew, Pi."
Mereka kemudian berpindah ke meja makan panjang yang dipenuhi hidangan favorit keluarga. Aroma rendang, ayam goreng, dan sambal terasi kesukaan Ares memenuhi ruangan.
"Ayo, semuanya duduk. Mommy sudah masak semua yang kalian kangenin selama di Singapura," ujar Revana dengan wajah yang berseri-seri. Ia duduk di antara Adrian dan Ares, terus-menerus memastikan piring Ares penuh.
"Jadi, Res," Rayyan membuka pembicaraan sambil menyuap makanannya, "Gue dengar dari Andrew ada gadis luar biasa yang bikin lo semangat latihan tiap hari di sana?"
Ares sempat tertegun, senyumnya sedikit meredup teringat Chloe. "Iya, namanya Chloe. Dia... dia juga pejuang yang hebat. Sayangnya dia harus balik ke London buat operasi lanjutan."
Alesya melirik adiknya dengan tatapan menggoda namun lembut. "Yah, muka sedihnya keluar. Tenang aja, Res. Kalau jodoh, London-Jakarta itu cuma beda paspor doang. Yang penting sekarang lo sehat dulu."
"Bener kata Kak Alesya," sambung Revana sambil mengusap tangan Ares. "Mommy sangat berterima kasih sama Chloe. Kalau ada waktu, nanti kita kirimkan sesuatu yang spesial ke London sebagai tanda terima kasih dari keluarga kita."
Ares mengangguk. "Tadi dia kirim pesan singkat, katanya sudah sampai di London dengan selamat. Julian, partner menarinya, sudah langsung bawa dia ke rumah sakit di sana."
Papi Adrian berdeham, mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu melankolis. "Nah, sekarang kita bicara hal lain yang tak kalah penting. Ares, produser film kemarin hubungi Papi. Mereka masih mau nunggu kamu pulih total buat mulai syuting tahun depan. Mereka bilang peran itu nggak cocok buat orang lain selain kamu."
Mata Ares berbinar. "Serius, Pi? Mereka nggak cari pengganti?"
"Nggak," sahut Andrew mantap. "Gue yang kasih jaminan ke mereka kalau aktor utama mereka bakal kembali lebih kuat dari sebelumnya."
mendengar hal itu membuat Area semakin semangat dan antusias untuk melanjutkan karirnya yang sempat tertunda.
Di tengah tawa dan obrolan itu, Andrew sesekali melirik Alesya. Mereka berbagi rahasia dalam tatapan mata, sebuah pemahaman tentang keberadaan Mama Nadya yang kini berada di fasilitas kesehatan jiwa. Alesya mengangguk kecil, memberikan kode bahwa ia sudah menjenguknya dan semuanya "aman".
Andrew merasa lega. Di meja makan ini, tidak ada lagi kebencian. Tidak ada lagi dendam. Hanya ada sebuah keluarga yang pernah retak namun berhasil menyatu kembali dengan perekat yang lebih kuat.
Ares menatap satu per satu anggota keluarganya. Rasa sedih karena berpisah dengan Chloe memang masih ada, tapi melihat dukungan yang begitu besar dari orang-orang di ruangan ini, ia tahu bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan pernah sendirian.
"Makasih ya, semuanya," ucap Ares tiba-tiba, membuat suasana meja makan mendadak hening. "Makasih karena sudah sabar nunggu Ares balik. Ares janji, mulai hari ini, nggak akan ada lagi yang bisa bikin keluarga kita hancur."
Mommy Revana memeluk Ares dari samping, Papi Adrian tersenyum bangga, dan Andrew merasa tanggung jawabnya telah tuntas. Malam itu, di bawah atap rumah Wijaksana, kebahagiaan sejati akhirnya benar-benar pulang.
Setelah kebisingan ruang makan mereda dan rumah besar itu mulai tenggelam dalam keheningan malam, Ares masuk ke kamarnya. Kamar yang sudah berbulan-bulan ia tinggalkan itu masih tertata rapi, namun terasa jauh lebih luas dari sebelumnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, meletakkan tongkat penyangganya dengan hati-hati, lalu menatap ponsel yang bergetar di atas nakas.
Tanpa membuang waktu, Ares segera menekan ikon kamera. Layar ponselnya sempat buram sejenak sebelum akhirnya menampilkan wajah yang sangat ia rindukan.
Chloe berada di sebuah kamar yang didominasi warna putih, tampak duduk bersandar pada bantal-bantal besar. Rambutnya terurai bebas, dan meskipun ada gurat kelelahan karena perjalanan jauh, senyumnya langsung mengembang saat melihat wajah Ares.
"Hai, Tuan Aktor. Sudah sampai di istanamu dengan selamat?" suara Chloe terdengar sedikit serak namun tetap hangat di telinga Ares.
"Baru saja selesai makan malam bersama keluarga," jawab Ares sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. "Mommy masak banyak sekali. Rasanya seperti mereka ingin aku mengganti semua berat badan yang hilang selama di rumah sakit dalam satu malam."
Chloe tertawa kecil, suara tawanya membuat dada Ares terasa hangat. "Baguslah. Kamu memang harus lebih berisi agar terlihat gagah saat mulai syuting nanti. Oh ya, bagaimana kakimu? Masih sanggup berjalan dari pintu depan ke kamar?"
"Sedikit berdenyut, tapi aku baik-baik saja," Ares menunjukkan tongkatnya ke kamera. "Aku tidak memaksakan diri. Bagaimana denganmu? Sudah bertemu dokter di London?"
Mereka terus bercerita. Chloe bercerita tentang Julian yang sangat cerewet mengenai jadwal terapinya, tentang ibunya yang terus-menerus menangis karena senang Chloe sudah pulang, dan tentang udara London yang mulai mendingin. Sebaliknya, Ares bercerita tentang keponakannya, Kiara, yang menganggapnya superhero.
Namun, di tengah tawa itu, ada jeda yang cukup lama. Keduanya terdiam, hanya menatap wajah satu sama lain melalui layar kecil berukuran beberapa inci. Jarak ribuan kilometer antara Jakarta dan London tiba-tiba terasa begitu nyata dan menyesakkan.
"Chloe..." panggil Ares pelan.
"Ya?"
Ares menatap mata Chloe dalam-dalam melalui layar. Ia teringat masa-masa sulit mereka di Singapura, saat mereka saling memegang tangan untuk menahan rasa sakit dari mesin robotik. Ia teringat bagaimana Chloe adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tertawa saat ia merasa dunia sudah berakhir.
"Di bawah tadi... suasananya sangat ramai. Semua orang tertawa, makanannya enak, dan aku benar-benar lega karena aku bisa kembali pulang tanpa kursi roda itu," Ares menjeda kalimatnya, menarik napas panjang. "Tapi jujur... ada sesuatu yang kurang. Rasanya aneh tidak melihatmu di sampingku."
Mata Chloe tampak berkaca-kaca. Ia terdiam, menunggu kalimat Ares selanjutnya.
"Aku merindukanmu, Chloe. Sangat merindukanmu," bisik Ares akhirnya. "Bukan hanya sebagai teman fisioterapi, tapi sebagai... sosok yang tidak ingin aku lepaskan."
Chloe menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis agar tidak pecah di depan kamera. Ia mengusap layar ponselnya, seolah-olah ia sedang menyentuh pipi Ares.
"Aku juga merindukanmu, Ares. Rasanya sepi sekali di sini tanpa tantangan-tantangan konyolmu setiap pagi," jawab Chloe dengan suara bergetar. "Tapi janji padaku satu hal, jangan biarkan rasa rindu ini membuatmu berhenti berjuang. Aku di sini sedang berjuang agar bisa berdiri di atas panggung balet lagi, dan aku ingin kamu di sana sedang berdiri di depan kamera sebagai bintang utama."
"Aku janji," ucap Ares mantap. "Dan setelah filmku selesai, atau setelah kamu bisa menari lagi... aku akan datang ke London. Aku akan membuktikan kalau rindu ini bukan cuma lewat layar ponsel."
Chloe tersenyum lebar, air mata kebahagiaan akhirnya jatuh di pipinya. "Aku akan menunggumu, Ares. Jangan terlalu lama, ya?"
Malam itu, meskipun raga mereka terpisah benua dan samudera, Ares tidur dengan perasaan tenang. Kejujurannya telah melepaskan beban di dadanya. Perjuangan di Singapura telah usai, namun perjuangan baru untuk masa depan bersama Chloe baru saja dimulai. Di dalam kamarnya yang tenang, Ares memejamkan mata, memimpikan hari di mana ia tidak perlu lagi menatap layar untuk melihat senyum gadis baletnya.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung.......