Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan di Bawah Langit Biasa
Pukul tujuh malam, sebuah angka yang biasanya menandai dimulainya kesunyian yang mencekam di rumah besar itu. Biasanya, pada jam seperti ini, koridor rumah hanya akan diisi oleh suara detak jam dinding atau langkah kaki pelayan yang terburu-buru. Namun malam ini, atmosfer di dalam rumah terasa berbeda—ada semacam arus listrik yang halus, sebuah antisipasi yang mendebarkan.
Arini berdiri di depan cermin besar di kamar utamanya. Ia tidak mengenakan gaun sutra rancangan desainer ternama atau perhiasan berlian seharga rumah mewah yang biasanya dipaksakan padanya demi citra keluarga. Malam ini, ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Ia mengenakan celana jeans biru tua yang pas dan nyaman, kaos putih polos berkualitas baik, dan sebuah kardigan rajut berwarna krem untuk menghalau dinginnya angin malam. Rambutnya pun tidak disanggul kaku; ia hanya menguncirnya kuda secara sederhana, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak lebih segar.
Ada rasa gugup yang aneh merayap di perutnya. Jenis kegugupan yang jauh lebih intens dibandingkan saat hari pernikahannya dulu. Mungkin karena dulu ia tahu apa yang harus ia perankan, sementara malam ini, tidak ada naskah yang bisa ia ikuti.
Suara ketukan pelan di pintu kamar membuat jantung Arini berdegup dua kali lebih kencang. Saat pintu terbuka, Aris berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang hampir serupa. Tidak ada setelan tuxedo, tidak ada dasi yang mencekik leher. Ia hanya mengenakan kaos polo berwarna gelap dan celana chino. Tanpa balutan pakaian formal, garis wajah Aris terlihat lebih lembut, tidak lagi seperti CEO yang siap memecat siapa pun.
"Sudah siap?" tanya Aris. Matanya menyapu penampilan Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk pertama kalinya, Arini melihat binar kekaguman yang jujur di mata suaminya—bukan penilaian dingin seorang kritikus mode, melainkan tatapan seorang pria yang benar-benar melihat seorang wanita. "Kamu terlihat... sangat nyata, Arini. Aku suka."
Mereka berangkat menggunakan mobil SUV biasa milik kantor, bukan sedan mewah yang biasanya dikemudikan oleh sopir pribadi dengan seragam kaku. Aris sendiri yang memegang kemudi. Di dalam kabin mobil, tidak ada denting musik klasik yang berat dan membosankan; hanya suara radio yang memutar lagu-lagu pop ringan dan suara bising kota Jakarta yang mulai merayap menuju kemacetan malam hari.
"Kita sebenarnya mau ke mana, Mas?" tanya Arini akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa manis namun tetap mendebarkan.
"Ke sebuah tempat yang dulu sering aku datangi saat aku merasa dunia terlalu menuntutku untuk menjadi sempurna," jawab Aris misterius. Sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan senyum tipis yang tulus. "Tempat di mana aku tidak perlu menjadi 'Aris sang Pewaris'."
Ternyata, Aris membawa Arini ke sebuah kawasan kuliner kaki lima yang sangat populer di daerah Jakarta Pusat. Tempat itu sangat jauh dari kata eksklusif. Udara di sana dipenuhi asap dari panggangan sate, aroma nasi goreng yang gurih, dan hiruk-pukuk percakapan orang-orang dari berbagai kalangan. Aris memarkir mobilnya dengan santai, lalu turun dan membukakan pintu untuk Arini—sebuah gerakan yang kini ia lakukan bukan karena protokol, melainkan karena ia memang ingin melindungi istrinya dari keramaian.
Mereka akhirnya duduk di kursi plastik biru di sebuah kedai martabak dan nasi goreng legendaris yang mejanya hanya dilapisi taplak plastik sederhana. Arini sempat tertegun sesaat. Ia melihat Aris—pria yang biasanya makan dengan set piring porselen dan pelayanan kelas satu—kini dengan santai mengusap meja kayu yang sedikit berminyak menggunakan tisu.
"Maaf kalau tempatnya tidak seperti yang kamu bayangkan untuk sebuah kencan," ujar Aris sambil menyodorkan segelas teh botol dingin pada Arini. "Tapi martabak di sini adalah yang terbaik di kota ini. Dulu, aku sering ke sini sendirian, duduk di sudut itu, hanya untuk merasa bahwa aku hanyalah manusia biasa. Di sini, tidak ada yang peduli berapa banyak nol di saldo bankku."
Arini tersenyum, dan kali ini senyumnya terasa sangat ringan di wajahnya. "Aku lebih suka ini, Mas. Jauh lebih suka. Di sini, aku tidak perlu takut salah memegang garpu atau merasa dihakimi karena berbicara dengan nada yang terlalu santai."
Sambil menunggu pesanan mereka datang, percakapan mulai mengalir. Ajaibnya, mereka tidak membicarakan bisnis, tidak membahas tuntutan Ibu Sofia, dan tidak lagi mengungkit pasal-pasal dalam kontrak pernikahan mereka. Aris mulai bercerita tentang cita-cita masa kecilnya yang ingin menjadi arsitek, tentang bagaimana ia suka menggambar gedung-gedung unik sebelum ayahnya memaksanya masuk ke sekolah bisnis. Arini pun bercerita tentang gairahnya pada bahasa, tentang betapa ia merasa sangat hidup saat berhasil menerjemahkan sebuah kalimat sulit menjadi untaian kata yang indah.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka, mereka saling mengenal sebagai individu, bukan sebagai karakter dalam sebuah sandiwara. Aris tertawa lepas—suara tawa yang belum pernah Arini dengar sebelumnya—saat Arini menceritakan kejadian konyol saat ia salah mengartikan istilah medis dalam sebuah novel terjemahannya. Tawa itu terasa begitu hangat, seolah-olah meruntuhkan sisa-sisa dinding es yang selama ini memisahkan mereka.
Namun, di tengah suasana yang penuh tawa itu, Aris tiba-tiba terdiam. Ia menatap tangan Arini yang berada di atas meja, lalu perlahan menangkupnya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Arini," panggilnya dengan suara rendah yang sedikit bergetar. "Malam ini, aku sadar satu hal yang sangat menyakitkan. Aku telah membuang waktu berbulan-bulan untuk membencimu hanya karena kamu adalah simbol dari paksaan hidupku. Padahal... padahal kamu adalah satu-satunya hal terbaik yang pernah diberikan hidup kepadaku di tengah semua paksaan itu. Aku terlalu sibuk melihat luka di kakiku sendiri sampai tidak sadar kamulah yang selama ini mencoba mengobatinya."
Arini menatap dalam-dalam ke mata Aris. Ia mencari bayangan Clara di sana, namun ia tidak menemukannya. Ia juga tidak melihat tuntutan Ibu Sofia. Ia hanya melihat seorang pria yang sedang mencoba jujur dengan perasaannya sendiri.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Mas," bisik Arini dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Terima kasih sudah membiarkanku mengenal Aris yang asli."
Saat martabak manis pesanan mereka datang, Aris menyuapi Arini potongan kecil dengan gerakan yang sangat canggung namun terasa begitu manis. Di bawah pendar lampu neon kedai pinggir jalan dan kepulan asap makanan, Arini menyadari bahwa kebahagiaan sejati memang tidak butuh kemegahan. Ia hanya butuh kejujuran dan keberanian untuk saling terbuka.
Saat mereka berjalan kembali menuju mobil, Aris merangkul bahu Arini secara protektif, melindunginya dari kerumunan orang yang berlalu-lalang. Sentuhan itu tidak lagi terasa seperti ancaman atau bagian dari sandiwara publik. Itu adalah pelukan hangat dari seseorang yang mulai mengerti arti dari kata "pulang".
Namun, kebahagiaan yang baru saja mekar itu seketika layu saat ponsel di dalam tas Arini berdering keras. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Arini mengangkatnya dengan perasaan ragu, dan dalam hitungan detik, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Tubuhnya menegang, membuat Aris seketika menghentikan langkahnya dan menatap istrinya dengan cemas.
Suara di seberang sana sangat ia kenali—suara yang penuh dengan racun dan kedengkian, suara yang berniat menghancurkan ketenangan mereka sekali lagi.
"Halo, Arini. Jangan pikir dengan bersembunyi di balik alasan ayahmu yang sakit, kamu bisa memenangkan Aris sepenuhnya," suara Clara terdengar tajam dan dingin. "Kamu mungkin merasa sudah menang malam ini, tapi aku punya sesuatu yang tidak akan pernah Aris ceritakan padamu. Sesuatu tentang malam terakhir kami sebelum dia menikahimu... malam yang membuktikan bahwa sampai kapan pun, aku adalah satu-satunya wanita yang ada di dalam ingatannya. Mau dengar detailnya?"
Arini merasa dunianya kembali berguncang. Serangan Clara kali ini jauh lebih personal dan mematikan. Ia menatap Aris yang berdiri di depannya dengan wajah bingung, dan seketika rasa ragu yang sempat hilang kini kembali menyerang hatinya seperti badai yang siap menghancurkan segalanya.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.