Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Rahasia di Balik Kabut Pagi
Sisa-sisa ancaman Cillian dan gugatan hukum dua ratus ribu Euro itu masih terasa seperti beban beton yang mengikat kaki Elara. Sepanjang malam, ia hampir tidak bisa memejamkan mata, memikirkan bagaimana caranya menumbangkan raksasa kecil yang menggunakan kekayaan orang tuanya untuk menindas keadilan.
Namun, saat fajar mulai mengintip dari balik cakrawala, Fionn menariknya keluar dari tumpukan berkas. "Jika kau tidak menghirup oksigen murni sekarang, Elara, otakmu akan meledak sebelum kita bisa melawan mereka," katanya lembut namun tegas.
Pagi di Shannonbridge selalu punya cara untuk menyembuhkan. Kabut tipis menggantung di atas permukaan sungai Shannon, bergerak lambat mengikuti arus air yang tenang. Aroma tanah basah dan sisa-sisa embun yang menguap menciptakan harmoni yang membuat saraf-saraf tegang Elara perlahan melonggar.
"Kau benar," bisik Elara, merapatkan jaketnya sambil menggandeng lengan Fionn. "Udara di sini... terasa lebih jujur daripada di Dublin."
Fionn tersenyum, menghirup udara dalam-dalam. "Di sini, alam tidak punya agenda tersembunyi, Elara. Dia hanya memberikan apa adanya."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang kedai, melewati deretan gudang tua milik warga yang biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan nelayan atau tumpukan wol. Keheningan pagi itu terasa begitu sakral, sampai sebuah suara asing memecahnya.
Ah... Ah... ya... lebih cepat...
Suara desahan tertahan dan bunyi gesekan kain yang kasar terdengar dari balik sebuah gudang kayu yang pintunya sedikit terbuka. Elara dan Fionn saling pandang. Rasa penasaran mengalahkan akal sehat mereka. Dengan langkah sepelan mungkin, mereka mendekat ke arah celah pintu yang terbuka.
Di dalam sana, di atas tumpukan karung goni yang berdebu, Elara melihat pemandangan yang membuat perutnya mual. Sinead, wanita yang kemarin begitu sombong memojokkannya, tengah berada dalam posisi intim dengan seorang pria paruh baya yang perutnya buncit dan rambutnya sudah memutih. Mereka tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas karena posisi mereka yang membelakangi pintu, namun terlihat jelas pria itu mengenakan pakaian mahal yang kontras dengan lingkungan gudang yang kumuh.
Mata Elara membelalak. Ia segera menarik lengan Fionn, memaksa pria itu untuk menjauh sebelum mereka ketahuan. Mereka berlari kecil hingga mencapai tepian sungai yang cukup jauh, napas mereka memburu bukan karena lelah, tapi karena syok.
Elara berhenti, berkacak pinggang sambil menatap Fionn dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara jijik dan tak percaya.
"Jadi... itu mantan kekasihmu?" tanya Elara, suaranya mengandung nada ejekan yang tak bisa ia sembunyikan. "Wanita yang melayani pria paruh baya di gudang kotor saat matahari bahkan belum sepenuhnya bangun?"
Fionn tampak pucat, ia menyandarkan tubuhnya di pohon ek besar, tangannya mengusap wajah dengan kasar. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa, Elara. Dia bukan Sinead yang dulu kukenal. Dia benar-benar sudah kehilangan harga dirinya demi sesuatu yang bahkan aku tidak mengerti."
"Aku tidak habis pikir, Fionn," Elara melanjutkan, kini benar-benar memojokkan Fionn dengan rasa cemburu yang menggemaskan. "Maksudku, lihatlah dia! Bagaimana mungkin kau pernah memiliki hubungan spesial dengannya? Apa selera pria perdesaan memang serendah itu? Atau kau dulu hanya butuh seseorang untuk menemanimu saat kopi sedang sepi?"
"Elara, tolonglah," rintih Fionn, wajahnya merona karena malu. "Itu masa lalu. Dulu aku masih muda dan mungkin terlalu kesepian. Tapi melihatnya tadi... aku merasa jijik pada diriku sendiri karena pernah mencium wanita itu. Dia seperti bunglon yang bisa berubah warna demi siapa pun yang memegang dompet paling tebal."
"Dia menjijikkan, Fionn. Benar-benar menjijikkan," desis Elara, meski dalam hati ia merasa menang secara moral. "Dia berlagak seperti permata desa yang suci di depan semua orang, tapi di belakang... dia menjual dirinya di atas karung goni."
Fionn menatap Elara, matanya kini dipenuhi penyesalan. "Maafkan aku karena pernah membiarkan wanita seperti itu ada dalam sejarah hidupku. Aku bersumpah, melihatnya tadi membuatku sadar betapa beruntungnya aku memilikimu. Kau adalah permata, Elara. Dan dia hanyalah... Hah! Sudahlah!."
...****************...
Kejadian di gudang itu memberikan energi baru bagi Elara, meskipun energi itu berasal dari kemarahan. Begitu kembali ke pondok, ia tidak lagi merasa lesu. Ia duduk di depan laptopnya dengan mata yang berkilat tajam.
"Cillian punya uang karena bisnis keluarganya," gumam Elara. "Dan jika bisnis keluarganya kotor, maka kekayaannya adalah racun yang bisa kita gunakan untuk menghancurkannya."
Selama berjam-jam, Elara menggunakan koneksinya di Dublin untuk menembus basis data pendaftaran tanah dan laporan keuangan perusahaan keluarga Cillian. Fionn membantunya dengan membongkar arsip-arsip lama milik ayahnya yang tersimpan di gudang bawah tanah kedai.
Tiba-tiba, Elara berteriak kecil. "Aku menemukannya!"
Fionn segera mendekat. "Apa itu?"
"Tahun 2018. Perusahaan Cillian membeli lahan di sisi selatan Shannonbridge untuk proyek perumahan yang tidak pernah dibangun. Mereka mengklaim lahan itu tidak layak karena masalah lingkungan," Elara menunjuk sebuah grafik di layarnya. "Tapi lihat laporan audit internal ini, yang seharusnya tidak pernah dipublikasikan. Lahan itu sebenarnya sangat subur, tapi mereka sengaja merusak kadar airnya dengan membuang limbah konstruksi secara ilegal agar harganya jatuh, lalu mereka membelinya dari warga dengan harga sampah!"
Fionn terperanjat. "Itu penipuan massal! Banyak warga desa yang kehilangan tanah mereka karena berpikir tanah itu sudah tidak berharga."
"Bukan hanya itu," Elara menambahkan, jarinya menari di atas keyboard. "Pria paruh baya yang tadi kita lihat dengan Sinead... aku punya firasat. Cillian bekerja sama dengan beberapa anggota dewan kota untuk menutupi jejak ini. Jika aku bisa menghubungkan titik-titik ini, gugatan Cillian terhadapmu tidak akan ada artinya di depan kasus penipuan publik sebesar ini."
Fionn menatap kekasihnya dengan pandangan penuh kekaguman. Elara bukan lagi hanya arsitek yang merancang gedung, ia adalah prajurit yang sedang membongkar benteng kebohongan.
"Elara, kau benar-benar luar biasa," bisik Fionn, mencium puncak kepala Elara.
"Kita belum selesai, Fionn," Elara mendongak, matanya penuh determinasi. "Cillian ingin menggunakan hukum untuk mengambil kedaimu? Aku akan menggunakan hukum untuk mengambil seluruh martabat keluarganya. Dia pikir dia bisa menginjak-injak kita? Dia belum pernah melihat seorang wanita Dublin yang sedang marah."
Drama emosional pagi itu telah berubah menjadi senjata. Masa lalu Fionn yang kelam bersama Sinead kini hanyalah sampah yang tertiup angin, sementara masa depan yang sedang mereka perjuangkan mulai memiliki fondasi yang kuat dari kebenaran yang mulai terungkap.
"Satu minggu, kan?" Elara tersenyum penuh kemenangan. "Cillian tidak akan bertahan sampai hari kelima."
Fionn tertawa, menarik Elara ke dalam pelukannya. Rasa bangganya pada Elara meluap, menghapus sisa-sisa rasa jijik dari kejadian di gudang tadi. Di Shannonbridge, kebenaran mungkin terkadang tertutup kabut, tapi bersama Elara, Fionn tahu kabut itu akan segera sirna.
...****************...
Sinead merapikan gaunnya yang kini kusut dan berdebu dengan tangan yang gemetar. Di dalam gudang yang pengap itu, aroma keringat dan debu di gudang terasa mencekik. Pria paruh baya di hadapannya—seorang pejabat teras dari dewan kota yang memiliki koneksi kuat dengan keluarga Cillian—sedang mengancingkan kemeja mahalnya sambil membuang muka, seolah-olah Sinead hanyalah noda yang ingin segera ia hapus dari ingatannya.
"Ini. Ambil dan jangan pernah hubungi aku lagi sampai aku yang memanggilmu," pria itu melemparkan selembar amplop tebal ke atas karung goni.
Sinead menyambar amplop itu, meremasnya erat. Matanya berkilat antara harga diri yang hancur dan ambisi yang tetap menyala. "Kau berjanji padaku, Tuan. Kau bilang kau bisa mengatur agar izin operasional The Crooked Spoon dibekukan. Aku sudah memberikan apa yang kau minta."
Pria itu mendengus sinis sambil mengenakan jasnya. "Kau terlalu naif, Sinead. Aku hanya memberimu kesempatan untuk 'membantu' proyek besar. Masalah Fionn dan wanita arsitek itu... itu urusan Cillian. Aku hanya memastikan birokrasinya berjalan lancar bagi orang yang membayarku lebih banyak."
"Tapi aku melakukan ini untukmu! Untuk kemajuan desa ini!" suara Sinead naik satu oktav, penuh keputusasaan yang menggemaskan sekaligus menyedihkan.
"Kau melakukan ini untuk dirimu sendiri, Sayang. Kau benci melihat mantan kekasihmu bahagia dengan wanita yang jauh lebih berkelas darimu," pria itu menoleh, menatap Sinead dengan pandangan merendahkan sebelum melangkah keluar pintu gudang. "Bercerminlah, Sinead. Kau hanya gadis desa yang sedang mencoba bermain di liga besar. Dan di liga ini, kau hanyalah pion yang bisa dibuang."
Setelah pria itu pergi, Sinead jatuh terduduk di atas karung goni yang tadi menjadi saksi bisu kehinaannya. Ia memeluk amplop uang itu di dadanya, air mata amarah mulai jatuh merusak riasannya yang tebal. Ia merasa kotor, namun rasa bencinya kepada Elara jauh lebih besar daripada rasa jijiknya pada diri sendiri.
"Lihat saja, Elara O'Connell," desis Sinead di tengah isaknya. "Kau pikir kau sudah menang karena memilikinya? Aku akan memastikan kau tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan di desa ini. Jika aku memang harus hancur, aku akan menyeretmu bersamaku ke dasar rawa Shannon ini."
Ia tidak menyadari bahwa beberapa saat yang lalu, sepasang mata yang paling ia takuti telah melihat segalanya. Di bawah cahaya pagi yang mulai menembus celah gudang, Sinead terlihat begitu rapuh namun penuh racun—sebuah bunga liar yang rela membusuk demi mematikan tanaman indah di sekitarnya.