Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Gedoran Realita
Napas Ella seolah tertahan di pangkal tenggorokan, membuat paru-parunya terasa sesak dan berat. Di dalam gudang olahraga yang remang itu, waktu seakan berhenti berputar. Ia bisa merasakan kehangatan bibir Rizki yang tinggal seujung kuku lagi menyentuh miliknya—begitu dekat hingga sensasi kesemutan mulai merayapi permukaan bibirnya sendiri. Dunianya menyempit drastis, memudar menjadi latar belakang yang kabur dan tidak relevan. Tidak ada lagi rak peralatan yang berdebu atau aroma kayu tua; yang ada hanya detak jantung Rizki yang liar beradu dengan miliknya, deru napas yang memburu, dan aroma maskulin dari parfum mahal yang bercampur dengan sisa keringat latihan basket, menciptakan aroma memabukkan yang membuat kepala Ella pening luar biasa.
Ella memejamkan mata erat-erat. Bukannya menghindar, jemarinya justru tanpa sadar meremas seragam olahraga Rizki hingga kain itu kusut dalam genggamannya. Ia mencari pegangan, mencari sesuatu yang nyata untuk menahan tubuhnya, karena sepasang lututnya sudah terasa seperti jeli yang tidak sanggup lagi menopang berat badannya. Di ambang penyerahan diri itu, Ella hampir saja melupakan segala luka yang Rizki torehkan selama seminggu terakhir. Namun, tepat sebelum dunia mereka benar-benar menyatu dalam sebuah ciuman yang akan mengubah segalanya, sebuah hantaman brutal menghujam pintu gudang dari arah luar.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Ella! Kamu di dalam?!"
Suara itu meledak seperti bom di tengah kesunyian gudang yang mencekam. Itu suara Wawan. Keras, panik, dan penuh dengan nada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan lagi di balik topeng selorohnya.
Rizki tersentak hebat, seolah-olah baru saja disiram air es di tengah mimpi buruk yang panas. Ia menjauhkan wajahnya dengan gerakan cepat yang mendadak, membuat Ella merasa seolah oksigen kembali menyerbu paru-parunya secara paksa dan kasar. Napas Rizki masih tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Namun, ekspresi lembut dan rapuh yang ia tunjukkan saat meminta maaf tadi lenyap dalam sekejap mata. Wajahnya mengeras kembali, digantikan oleh kilat kemarahan yang berkilat tajam di matanya. Rizki menatap pintu kayu tua yang bergetar itu seolah-olah ia ingin membakarnya berkeping-keping hanya dengan kekuatan tatapannya.
"Ella! Aku tahu kamu di dalam bersama Rizki! Buka pintunya, Ki! Jangan jadi pengecut dengan membawa dia ke tempat pengap seperti ini demi kepentingan egomu!" teriak Wawan lagi. Gedorannya kali ini jauh lebih brutal, membuat engsel pintu gudang yang berkarat itu mengeluarkan suara derit yang memilukan, seolah pintu itu akan jebol kapan saja.
Rizki mendesis pelan, sebuah kutukan tertahan keluar dari bibirnya. Ia merutuki interupsi yang menghancurkan momen kemenangannya, momen di mana ia hampir saja mendapatkan kembali hati Ella seutuhnya. Dengan gerakan gusar, ia merapikan kerah seragamnya dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemari. Sebelum melangkah menuju pintu, ia menatap Ella yang masih terpaku di dinding kayu. Wajah gadis itu merah padam, rambutnya sedikit berantakan, dan bibirnya masih terbuka kecil karena syok yang luar biasa.
Rizki mendekat lagi, memangkas jarak hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Ella. Hawa panas napasnya kembali merayapi kulit leher Ella saat ia membisikkan sesuatu dengan nada yang begitu posesif dan dingin, sebuah perintah yang membuat bulu kuduk Ella meremang seketika.
"Ingat apa yang aku katakan tadi, La. Kamu milikku. Hanya milikku. Jangan pernah berani-berani mengadu padanya tentang apa pun yang baru saja terjadi di dalam sini. Jangan biarkan dia merasa telah menyelamatkanmu, karena pada akhirnya, kamu akan tetap kembali padaku."
Rizki kemudian melangkah menuju pintu dengan keangkuhan yang kembali ia pasang sebagai perisai. Ia memutar kunci dengan kasar, suara logam yang beradu terdengar tajam, lalu ia menarik daun pintu itu hingga terbuka lebar. Begitu celah pintu terbuka, Wawan tidak menunggu sedetik pun. Ia langsung merangsek masuk dengan emosi yang meluap-luap, napasnya memburu menunjukkan bahwa ia baru saja berlari mencari keberadaan Ella ke seluruh penjuru sekolah.
Tanpa banyak bicara, Wawan menyambar bahu Ella dan menarik gadis itu ke belakang tubuhnya, memposisikan dirinya sebagai perisai hidup yang kokoh. Wawan menatap Rizki dengan sorot mata yang belum pernah Ella lihat sebelumnya—tatapan tajam seorang pria yang siap melepaskan segala aturan dan tata krama demi melindungi sesuatu yang paling berharga baginya.
"Lo apain dia, Ki?" tanya Wawan, suaranya rendah, berat, dan mengandung ancaman yang sangat nyata. Matanya menyisir penampilan Ella yang tampak terguncang, lalu kembali menatap Rizki dengan kebencian yang mendalam.
Rizki hanya menyeringai tipis, sebuah seringai meremehkan yang menjadi ciri khas sang ketua kelas populer. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan gaya angkuh yang kembali muncul secara instan, seolah-olah getaran suaranya yang meminta maaf di dalam gudang tadi hanyalah ilusi.
"Cuma urusan OSIS. Kenapa? Lo takut dia lebih suka berurusan denganku daripada mendengarkan leluconmu yang sama sekali tidak lucu itu? Jangan terlalu berlebihan, lo bukan siapa-siapa di sini."
"Urusan OSIS tidak dilakukan di dalam gudang yang terkunci, brengsek!" Wawan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Ia hampir saja melayangkan pukulan telak ke wajah tampan Rizki jika Ella tidak segera menahan lengannya dengan tangan yang gemetar.
"Wan, sudah... tolong, ayo kita pergi saja dari sini," bisik Ella lirih, nyaris seperti permohonan yang putus asa. Ia tidak sanggup berada di sana lebih lama lagi. Kepalanya berdenyut pening karena transisi emosi yang begitu cepat—dari rasa sakit hati yang mendalam, ketegangan romantis yang membingungkan, pengakuan Rizki yang mengejutkan, hingga ketakutan akan perkelahian fisik yang berdarah.
Wawan menatap Ella. Seketika, matanya yang tadi berapi-api karena amarah perlahan melembut, meskipun masih menyiratkan selidik yang dalam. Ia memperhatikan bibir Ella yang masih gemetar dan matanya yang basah oleh sisa air mata. Sebagai seorang pria, Wawan tidak bodoh. Ia tahu sesuatu yang sangat intim dan besar baru saja terjadi di balik pintu terkunci itu, dan kenyataan itu menghancurkan hatinya secara perlahan, menciptakan lubang besar yang terasa dingin di dadanya. Namun, ia memilih untuk menahan rasa sakit itu demi Ella.
"Ayo, La," ajak Wawan. Kali ini ia tidak menarik Ella dengan kasar. Ia justru menggandeng jemari Ella, merajut jari-jarinya di sela jari Ella dengan sangat erat, seolah ingin memberi pernyataan tegas kepada Rizki bahwa ia tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja kepada pria yang hanya berani bersembunyi di balik kata "melindungi".
Saat mereka berjalan menjauh menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi, Ella tidak tahan untuk tidak menoleh ke belakang sekali lagi. Hatinya masih tertinggal di gudang itu, terjerat oleh kata-kata Rizki. Rizki masih berdiri mematung di depan pintu gudang, menatap punggung mereka dengan tatapan dingin yang menusuk, namun ada jejak kesepian di sana.
Tepat pada saat itu, dari ujung koridor lain, Lia muncul dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak cemas, namun berubah menjadi ceria saat melihat Rizki. "Rizki! Aku cari kamu ke mana-mana!" Lia langsung memeluk lengan Rizki dengan manja, menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu seolah ia adalah pemilik sah tempat itu.
Ella merasakan dadanya nyeri melihat pemandangan tersebut. Pengakuan Rizki bahwa ia memacari Lia hanya untuk melindungi Ella terasa sangat jauh dan tidak nyata saat melihat betapa serasinya mereka berdiri di sana. Rizki tidak menolak pelukan Lia, ia membiarkan gadis itu menggayut di lengannya, tapi matanya tetap terkunci pada sosok Ella yang semakin menjauh di koridor.
Permainan perasaan ini baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Ella menyadari dengan pahit bahwa hatinya akan menjadi korban utama di antara dua arus yang sangat kuat ini. Satu arus menariknya dengan janji-janji manis di kegelapan, dan satu arus lagi menjaganya dengan cahaya yang tulus namun penuh dengan luka yang dipendam.
Saat ia melangkah keluar dari gedung sekolah bersama Wawan, Ella tahu bahwa ketenangan hidupnya sebagai siswi teladan telah musnah selamanya. Kini, ia terjebak dalam pusaran obsesi Rizki dan kesetiaan Wawan yang mulai melampaui batas persahabatan.