NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat

Mulut Dahlia memang diam seribu bahasa namun tidak dengan pikirannya yang terus berisik. Kenapa mobil suaminya bisa berkeliaran di jalan sementara suaminya itu lembur di kantor. Siapa yang mengendarai mobil suaminya itu.

Belum terjawab pertanyaan tadi sudah muncul lagi pertanyaan baru saat mobil suaminya memasuki area parkir sebuah hotel bintang lima.

Untuk apa suaminya ke hotel? Pekerjaan atau hiburan? Sendiri kah atau bersama siapa?.

Mata Dahlia menyipit kala dia tahu suaminya keluar dari mobil bersama atasannya yang dikenalnya sebagai rekan bisnis bosnya. Sejauh ini tidak ada gelagat intens antara suami dan atasannya itu.

Tanpa menghiraukan bosnya yang masih setia duduk di belakang kemudi, Dahlia turun dari mobil dan segera mengikuti suaminya. Dia tidak mau kehilangan jejak supaya semuanya jelas.

Semakin ke sini jantung Dahlia sudah tidak aman, rangkulan suaminya mendarat pada bokong atasannya. Di sambut hangat senyum semringah sambil menaruh tangannya pada pipi suaminya.

Hal yang wajar kah yang dilihatnya saat ini?.

Dahlia tidak dapat mengikutinya lagi, mereka menghilang di balik pintu kamar hotel presidential suite.

Dahlia segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas, menghubungi suaminya dan langsung mendapatkan jawaban.

"Halo, sayang."

"Mas di mana?."

"Kamu lupa, sayang?. Aku lembur di kantor."

"Oh, iya, aku lupa. Ya, udah, lanjut kerja lagi."

Tubuh Dahlia oleng mengenai dinding tembok, entah sudah sejak kapan suaminya berselingkuh dengan atasannya. Sudah berapa lama juga dia dibodohi?.

Sudah habis materinya dan sekarang kepercayaannya pun direnggut paksa.

Sudah banyak air mata yang jatuh menetes, rasanya begitu sangat sesak dan sakit dikhianati oleh orang yang sangat dicintainya. Langkah kaki Dahlia gontai meninggalkan hotel, dia kembali ke mobil Pak Adnan yang masih terparkir di sana.

Kepulan asap menghiasi wajah bosnya, pemandangan baru yang dilihatnya. Pak Adnan tidak bicara apa pun, dia hanya menikmati sisa rokoknya.

Dahlia berdiri di sampingnya, ikut menghirup asap yang mengenai wajahnya dan buru-buru saja Pak Adnan mematikan sisa batang rokoknya.

"Saya mau mati saja."

Sangat lirih Dahlia mengatakan itu sambil memukul-mukul dadanya.

"Bodoh kalau kamu berpikir mau mati. Kamu masih muda, cantik, pintar. Rugi kalau nggak bisa menikmati hidup yang singkat ini."

"Dia sudah sangat mengecewakanku."

"Buatlah dirimu sendiri bahagia."

Dahlia menggelengkan kepala.

"Bagaimana bisa? Hatiku aja sangat sakit."

Kemudian Pak Adnan berdiri di depan Dahlia.

"Jangan biarkan rasa sakitmu mampir di hatimu. Buang yang jauh dan lihat sekelilingmu yang bisa membuatmu bahagia."

Air mata Dahlia tumpah di hadapan Pak Adnan, dia tidak malu air matanya dan ingusnya berjatuhan bersamaan.

"Aku sangat mencintainya tapi dia mengkhianati cintaku."

Sambil menangis dia mengatakan itu. Biarlah malam ini dia menangis sejadi-jadinya supaya tidak ada lagi air mata untuk esok hari.

Hujan kembali turun deras, baik Dahlia atau Pak Adnan tidak ada yang berlari. Justru mereka sangat menikmati setiap tetes air yang mengenai tubuh mereka. Apalagi bagi Dahlia, seakan ini menjadi obat untuk luka hatinya yang begitu dalam.

Menangis kencang di bawah guyuran air hujan yang sangat deras, tidak memikirkan tubuhnya akan seperti apa nanti yang terpenting baginya saat ini adalah mengobati luka hati.

Sudah cukup lama berada di bawah guyuran air hujan yang mulai reda Pak Adnan buka suara sambil mengusap wajah yang dipenuhi air hujan.

"Udah puas belum ujan-ujanan nya?."

Dahlia hanya mengangguk lalu berjalan dan membuka pintu mobil. Dia tidak mempedulikan tubuh basah yang mengenai jok mobil yang mahal milik bosnya. Dia duduk santai dengan mata sembab.

Pun dengan Pak Adnan yang sama basah kuyup, dia membawa mobilnya keluar dari area hotel.

"Kamu mau aku antar ke mana?."

"Aku ikut Pak Adnan aja."

"Kamu nggak takut?."

"Sudah nggak ada yang aku takutkan lagi, semua kekecewaan dalam hidup ini udah lengkap aku rasakan."

"Oke."

Mobil melaju semakin kencang hingga sampai di sebuah perumahan elit. Dahlia dan Pak Adnan sama-sama keluar dari mobil. Mereka berjalan memasuki rumah itu.

"Ikuti aku!."

Dahlia pun mengikutinya tanpa tanya. Mereka sudah berada di kamar utama milik Pak Adnan.

"Pilih kemeja atau t-shirt yang muat di tubuhmu."

Dahlia hanya mengangguk lalu pilihan jatuh pada t-shirt berwarna hitam.

"Kita mandi bersama?."

Pak Adnan menggodanya sambil tersenyum.

"Asal Pak Adnan kuat aja nggak menyentuhku."

Lalu Pak Adnan menelan ludah ketika Dahlia melepaskan pakaian atasnya. Menyisakan bra berwarna hitam membungkus sesuatu yang cukup besar besar berwarna putih.

"Ayo, kita mau mandi bersama!."

Dahlia berjalan lebih dulu ke kamar mandi yang kemudian disusul oleh Pak Adnan.

Tidak sampai telanjang mereka mandi bersama dengan kegiatan masing-masing. Bohong jika Pak Adnan atau Dahlia tidak mengagumi tubuh bagian atas satu sama lain. Beberapa kali juga Dahlia menelan ludah jika terus menatap perut kotak-kotak Pak Adnan yang tidak dimiliki suaminya.

Hanya saling pandang tanpa ada yang berani menyentuh satu sama lain. Keduanya masih berada dalam batasannya.

Kegiatan mandi sudah selesai, t-shirt berwarna hitam itu sangat pas dengan tubuh Dahlia. Pak Adnan langsung menyiapkan teh hangat untuk mereka.

"Mau pakai madu?."

"Boleh, Pak."

Lalu Pak Adnan menyerahkan cangkir teh hangatnya pada Dahlia.

"Terima kasih."

"Kamu mau makan nggak?."

"Aku nggak lapar. Pak Adnan makan aja kalau lapar."

"Nggak."

Mereka duduk di depan perapian sambil sesekali menyeruput teh hangat yang mampu menghangatkan tubuh mereka.

"Mau menginap atau aku antar pulang?."

Dahlia segera menaruh ponselnya setelah membaca pesan dari suaminya yang mengatakan tidak pulang karena masih harus bekerja.

"Kalau boleh aku menginap di sini aja."

"Tentu saja boleh, kamu bisa tidur bersamaku."

"Di sini banyak kamar yang bisa aku tempati kenapa juga aku harus tidur bareng Pak Adnan?."

Pak Adnan tertawa cukup kencang.

"Hanya kamarku yang ada kasusnya, Dahlia, kamar yang lain masih kosong. Kamu bisa cek sendiri kalau berpikir aku bohong."

"Kenapa Pak Adnan pelit sih? Banyak uang tapi nggak mau beli kasur."

Kembali Pak Adnan tertawa lalu menaruh cangkirnya dan duduk di dekat Dahlia.

"Aku akan isi seluruh kamar ini asalkan kamu tinggal di sini bersamaku, Dahlia."

Kali ini Dahlia yang tertawa kencang.

"Apa kata dunia aku tinggal di sini?."

"Kata dunia kamu itu istriku."

Dahlia diam, benar-benar diam lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Pak Adnan.

"Kamu nggak senang?."

Pak Adnan menarik dagu Dahlia supaya mereka kembali saling tatap.

"Bagaimana aku senang, aku aja baru patah hati."

"Kamu tahu, Dahlia?."

Dahlia menggeleng.

"Obat patah hati yang paling manjur adalah cinta yang baru."

"Tapi nggak secepat ini juga, Pak."

"Kita pelan-pelan saja jalani hubungan ini lalu kita menikah saat urusanmu dan suamimu benar-benar selesai."

"Aku nggak bisa jawab sekarang."

Lalu kemudian Dahlia bangkit namun kakinya tersandung dan jatuh di atas pangkuan Pak Adnan.

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!