Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
#34
“Ternyata tubuhmu memang begitu murahnya, sampai-sampai kau memberikannya pada pria yang kebetulan kau jumpai di jalanan. Penjelasan apa yang ingin kau katakan?!”
Anjani tertunduk bersimpuh, meraba pipinya yang merah dan berdenyut sakit, saking kerasnya tamparan Gunawan, wanita itu sampai tersungkur ke lantai.
Dengan susah payah Anjani kembali berdiri, matanya nyalang menatap Gunawan, untuk pertama kalinya ia melawan arogansi suaminya. Jangan dikira Anjani bahagia bersama Gunawan, karena yang disayangi Gunawan hanyalah anak mereka. Sementara hadirnya Anjani hanya sebagai syarat sebuah keluarga lengkap.
“Apa Mas juga pernah bertanya keinginanku?! Aku juga ingin disayangi, dicintai, bukan hanya berlimpah materi tapi juga merasakan kebutuhan batin yang seharusnya Mas berikan untukku!”
Gunawan semakin meradang, “Jadi hanya itu yang terpikirkan olehmu?! Aku sudah menutupi kejahatanmu 20 tahun yang lalu, hingga orang lain yang menggantikan hukumanmu. Apa yang kau pikirkan hanya urusan kemaluan yang kau pikirkan?!”
“Sekarang wanita itu mulai bersuara di medsos, dan bukan hanya kau saja yang terancam. Aku pun sama terancamnya! Kenapa tak berpikir dulu sebelum berbuat?!”
Anjani terbelalak, “A-apa Mas?”
“Aku melindungi kesalahanmu selama puluhan tahun, tidak kah kau sedikit saja menunjukkan rasa terima kasih?! Aku sudah memintamu duduk diam, dan jangan melakukan apa-apa! Tapi ternyata kau tetap menunjukkan beta rendah dan hinanya dirimu!”
Gunawan mendekat satu langkah lagi, “Maka jangan salahkan aku jika terpaksa melakukan ini!”
Pria itu berbalik keluar, setelah sebelumnya mengambil kunci pintu kamar. Rasanya Gunawan ingin sekali menendang Anjani ke jalanan, tapi hidupnya pun bergantung pada kesaksian Anjani, jika sampai wanita itu buka mulut. Maka habislah sudah.
Anjani hanya bisa pasrah, ketika melihat Gunawan mengurungnya di kamar, itu masih bagus karena Gunawan tak menendangnya ke jalanan. Jika tidak, maka dirinyalah yang akan di tangkap dan diselidiki oleh pihak berwajib.
Suasana rumah begitu kacau, Gunawan mengumpulkan semua pengawal-pengawalnya. Saat ini juga ia ingin menyingkirkan bukti-bukti terkait dengan kejahatannya selama 20 tahun belakangan ini.
Maka praktis, semua pengawal terlibat, hingga Miranda pun kembali terabaikan. Gadis itu masih duduk diam usai mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, rasanya sungguh tak percaya. Ternyata suara-suara di media itu benar adanya.
Pada awalnya Miranda hanya menganggap itu sebuah sensasi pemberitaan, tapi beberapa saat lalu, Miranda baru mengetahui bahwa Papi dan Maminya adalah dua orang yang terlibat secara langsung pada peristiwa tersebut.
Walau di luar terlihat acuh, tapi Miranda bangga dengan profesi Gunawan sebagai pengacara, karena itulah, gadis itu pun dengan mantap mengambil fakultas hukum sebagai jalur pendidikan karirnya.
Tapi ternyata, memiliki gelar pengacara tak lantas membuat seseorang menjadi pribadi yang baik dan layak mendapat penghormatan. Justru gelar pengacara itu membuatnya lebih leluasa berbuat hina pada sesama.
•••
Sementara itu, di rumah sakit.
Kamar rawat Biru tak ubahnya seperti kantor berita nasional, Giana dan Ayu sibuknya luar biasa, memantau perkembangan pemberitaan di sosial media.
Beberapa saat yang lalu, Giana menerima laporan bahwa ada orang-orang yang berusaha men-take down pemberitaan, namun tangan Tuhan bekerja secara ajaib, menggagalkan aksi tersebut. Hingga pemberitaan terus berkembang semakin panas dengan jutaan komentar.
Giana yakin, para aparat hukum yang jujur tak akan tinggal diam, bila mereka tak bertindak, maka bersiaplah melawan gerombolan masa yang mengamuk.
Ayu sudah berencana mendatangi kepolisian untuk meresmikan tuntutan yang semula ia lemparkan tanpa bukti autentik.
Kini kematian Jono bisa menjadi salah satu bukti autentik, tekadnya sangat kuat untuk membersihkan namanya dari segala macam tuduhan. Dan harus segera terealisasi, agar putranya bisa hidup dengan perasaan bangga, kepala dan bahu tegak sebagai seorang penegak hukum yang disegani. Bukan penegak hukum yang bermodal sensasi.
“Nice!” gumam Giana senang, karena tim IT nya kembali berhasil mendapatkan video eksklusif beberapa pertemuan rahasia Pak Menteri bersama antek-anteknya.
“Ada apa, Kak?” tanya Ayu yang sedang merapikan selimut Biru.
“Lihat video ini. Aku yakin ini akan membuat mereka kalah telak!”
“Lalu, Tuan Giovanni, sebagai pihak yang membocorkan informasi mereka?”
“Dia intel kepolisian yang sedang menjalankan tugas, ku yakin dia akan baik-baik saja.”
Ucapan Giana membuat Ayu lega, “Lalu, Arman?”
“Dia pun sama, walaupun bukan intel kepolisian. Tapi Arman profesional, sekarang setelah tugasnya mengumpulkan bukti berakhir, ia akan menghilang seolah tak pernah ada.”
Ayu kembali mengangguk namun masih ada keraguan dalam sorot matanya, “Kenapa?” tanya Giana.
“Aku hanya penasaran, dari mana Kakak mendapatkan informasi tentang orang-orang itu?”
Giana tersenyum misterius. “Selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha.”
“Ish, tak jelas sekali Kakak ini.”
“Eh, jelas, lah, aku wanita ber-uang, apapun bisa ku lakukan termasuk meruntuhkan kerajaan keserakahan Gunawan.”
“Iya— iya— kakaku yang terbaik.”
“Kok gak ikhlas gitu? Kau tak terima, Dek?”
Gurauan itu seolah menjadi perlambang perasaan bahagia mereka, namun, tak lama kemudian—
Layar monitor yang memantau tanda-tanda vital Biru berbunyi, Ayu dan Giana yang sedang larut dalam canda seketika menoleh ke sana.
•••
Di kantor polisi, para petinggi kepolisian tak berkutik. Sekian lama, mereka menurut pada perintah Pak Menteri, kini tak bisa mereka lakukan, karena ada tekanan dari penguasa dengan jabatan diatas menteri.
“Kita harus siapkan surat panggilan, Pak,” usul salah seorang asisten kepala polisi.
Namun pak kepala, terlihat ragu, karena selama ini Pak Menteri telah banyak membantunya hingga sampai di jabatan ini. Pria itu mondar-mandir gelisah, dan bimbang kemana arah kakinya hendak melangkah.
Tok!
Tok!
Pintu diketuk oleh seseorang, “Pak, diluar puluhan wartawan sedang menanti.”
Pak Kepala Polisi menoleh kaget, “Tuh, kan. Saya bilang juga apa, Pak! Bagaimana kalau Pak Presiden juga menekan kita?! Masihkan Bapak ingin melindungi Pak Menteri?!”
Diantara begitu besar perasaan takut, Pak Kepala Polisi pun mengangguk, rupanya rasa panik dalam dirinya mampu mengalahkan rasa takut yang begitu besar.
•••
Gadis itu kembali berhasil melarikan diri, air matanya berlinang, akibat kesedihan yang tak mampu ia tahan.
Semalam setelah ia berhasil dibawa pulang oleh anak buah Gunawan, ia sempat berdebat dengan sang Papi. Miranda tetap kukuh dengan perasaannya, dan Gunawan secara alami melindungi buah hatinya dari pria yang bermaksud memanfaatkannya.
“Papi tahu apa soal Biru, dia pria paling sopan yang pernah kutemui!” bantah Miranda ketika Gunawan secara tegas melarangnya melanjutkan hubungan dengan Biru.
“Sopan? Apalagi? Apalagi yang kau tahu tentang pria itu? Apa dia juga mengatakan bahwa dia memanfaatkanmu untuk mendekati Papi? Lancang berusaha mencuri data-data dari komputer Papi? Papi yakin dia juga murni berpura-pura jatuh cinta padamu!” Gunawan tak bermaksud memarahi putri kesayangannya. Tapi, dirinya kini adalah orang tua yang harus mengerahkan segenap jiwa dan raga demi melindungi buah hatinya.
“Aku tak percaya! Apapun yang Papi bicarakan, aku tetap mempercayai Biru!”
Penolakan Miranda itu mengakhiri perdebatan mereka semalam.
Hidup Gunawan kini serasa lebih panas dari neraka, semalam berdebat dengan Miranda, dan esok harinya berdebat dengan istrinya.
Niat hati ingin mencari nafkah demi menyenangkan keluarga, tapi Gunawan terjerembab semakin dalam ke jurang kenistaan, hingga semakin lama semakin terlena dalam nikmatnya uang haram yang tak mampu menghadirkan ketengan dalam kehidupan rumah tangganya.