Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Naskah Sang Sutradara
Galang tidak melepaskan kuncian lengannya, justru ia semakin membawa tubuh Fiora tenggelam ke dalam dekapan hangatnya. Aroma maskulin dari tubuh Galang yang baru saja mandi menyerang indra penciuman Fiora, membuatnya sulit untuk tetap berpikir logis.
"Kalau begitu tidurlah. Aku punya kejutan untukmu besok, Fiora," bisik Galang tepat di telinga gadis itu, suaranya terdengar begitu dalam dan penuh misteri. Panggilan "Paman" benar-benar telah lenyap, digantikan oleh intimidasi pria dewasa yang sedang mengklaim miliknya.
Sebelum Fiora sempat bertanya kejutan apa yang dimaksud, Galang menarik wajah Fiora perlahan dan mendaratkan sebuah ciuman di keningnya—lama dan penuh perasaan—sebelum akhirnya memeluk erat tubuh mungil tunangannya itu, seolah takut Fiora akan menghilang jika ia melonggarkan pegangannya.
'Ini... ini bukan bagian dari rencana gue, kan?' batin Fiora sambil mengerjapkan mata di balik dada bidang Galang. Jantungnya masih berdegup gila-gilaan, namun ada rasa hangat yang asing menjalar di hatinya.
Selama ini, Fiora selalu menjadi sutradara dalam setiap drama yang ia buat. Ia yang mengatur kapan Galang harus cemburu, kapan Galang harus menolongnya, dan kapan ia harus terlihat malang. Namun malam ini, di penthouse mewah pada hari ini , Fiora menyadari bahwa ia telah kehilangan naskahnya.
Galang-lah yang sekarang memegang kendali. Perlakuan lembut dan posesif pria itu sama sekali tidak ada dalam hitungan strateginya. Fiora merasa takut, tapi di saat yang sama, ia juga merasa sangat diinginkan.
"Selamat tidur, tunangan nakalku," gumam Galang lirih, tangannya mengelus punggung Fiora dengan ritme yang menenangkan hingga perlahan rasa kantuk mulai menyerang Fiora yang masih kebingungan dengan perasaannya sendiri.
Fiora hanya bisa pasrah dalam pelukan itu, sambil terus bertanya-tanya dalam hati: Kejutan apa lagi yang disiapkan Galang besok? Dan apakah ia siap menghadapi Galang yang kini jauh lebih berani dan tidak lagi memanggil dirinya 'Paman'?
Sinar matahari pagi pada Kamis, 8 Januari 2026, menembus celah gorden tipis di kamar penthouse, menyinari wajah Fiora yang masih terlelap. Galang sudah terbangun lebih dulu, namun ia tidak berniat beranjak sedikit pun.
Ia tetap pada posisinya, membiarkan Fiora tertidur pulas di dalam dekapannya. Tangan Galang yang besar menyangga kepalanya sendiri, sementara matanya menatap lekat wajah tunangannya itu. Tanpa riasan tebal dan tanpa topeng kesombongan yang biasa ia tunjukkan di depan orang banyak, Fiora terlihat begitu damai—dan sangat rapuh.
Galang mengamati setiap inci wajah Fiora. Ia teringat bagaimana gadis ini selalu mengejarnya dengan cara-cara yang menyebalkan, penuh intrik, bahkan sampai berani memalsukan amnesia hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Selama ini Galang terlalu kaku, terlalu fokus pada pekerjaannya, dan terlalu buta untuk melihat bahwa obsesi Fiora sebenarnya bersumber dari ketulusan yang keras kepala.
"Ternyata kau memang manis, Fiora," gumam Galang sangat lirih, hampir berupa bisikan.
Tangannya terangkat, perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Fiora dengan gerakan yang sangat lembut, seolah takut akan membangunkan sang Ratu Drama dari mimpi indahnya. Galang menyadari, di balik semua rencana licik yang Fiora buat untuk menyingkirkan Mira, gadis di depannya ini hanya sedang berjuang mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai miliknya.
Sebuah senyum tipis, kali ini tanpa rasa sinis atau niat menggoda, terukir di bibir Galang. Ia mulai merasa bahwa hidup dengan wanita penuh kejutan seperti Fiora mungkin tidak akan seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.
Namun, Galang segera kembali ke mode "predator"-nya saat melihat kelopak mata Fiora mulai bergerak sedikit.