Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
17. TGD.17
Kesuksesan Shelly membangun Koperasi Maju Makmur Sejahtera tidak hanya menarik perhatian para pejabat dan investor, tapi juga memikat hati mereka yang terpesona oleh karismanya. Di tengah kesibukannya mengurus penggilingan padi, muncullah sosok **Arkan**, seorang arsitek muda dari Jakarta yang bekerja untuk firma yang mendesain pusat pelatihan pertanian di kabupaten.
Arkan adalah tipikal laki-laki kota yang rapi: wangi parfum mahal, mengendarai mobil SUV putih yang selalu mengkilap, dan memiliki tutur kata yang sangat terstruktur. Mereka bertemu pertama kali saat Arkan ditugaskan melakukan survei di desa Shelly.
---
Suatu pagi, Shelly sedang sibuk di pematang sawah, sibuk memeriksa saluran irigasi dengan botol sampel air di tangan. Kerudungnya tersampir santai, dan bagian bawah celananya sedikit terkena cipratan lumpur.
"Permisi, apakah saya berbicara dengan Ibu Direktur Shelly Anindya?" suara berat dan sopan terdengar dari arah belakang.
Shelly berbalik, menyipitkan mata menghalau silau matahari. Di sana berdiri Arkan, tampak sangat kontras dengan latar belakang sawah hijau. "Panggil Shelly saja, Mas. Dan di sini saya bukan direktur, saya hanya petani yang kebetulan punya ijazah."
Arkan tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang rapi. "Saya Arkan. Saya sudah baca banyak tentang proyek Anda di jurnal pembangunan desa. Ternyata aslinya lebih... dinamis dari yang saya bayangkan."
"Dinamis itu bahasa halus untuk 'berantakan karena lumpur' ya?" canda Shelly sambil berjalan menuju galengan yang lebih kering.
---
Selama sebulan proses pembangunan pusat pelatihan, Arkan seringkali mencuri waktu untuk mampir ke kantor koperasi. Ia tidak datang membawa bunga mawar, melainkan kopi literan dari kafe ternama di kota yang ia bawa jauh-jauh dalam *cooler box*.
"Shel, kamu nggak kangen udara mal yang dingin atau makan pasta di Jakarta?" tanya Arkan suatu sore saat mereka duduk di teras kantor koperasi.
Shelly menyesap kopi pemberian Arkan, lalu menunjuk ke arah bukit di kejauhan. "Di sana udaranya lebih dingin dari AC mal mana pun, Kan. Dan jujur, tempe goreng Ibu saya jauh lebih enak dari pasta paling mahal sekalipun."
Arkan tertawa. "Kamu ini sulit sekali dipengaruhi ya. Tapi serius, Shel. Saya punya proyek besar di Jakarta setelah ini. Saya butuh konsultan lanskap yang mengerti tentang ekosistem hijau. Kamu orang yang paling tepat. Kamu bisa tinggal di kota, punya karier yang lebih besar, dan tetap bisa memantau desa ini lewat sistem digitalmu."
Shelly menatap Arkan dalam-dalam. Ia tahu ini bukan sekadar tawaran pekerjaan; ini adalah ajakan Arkan untuk membawanya masuk ke dunianya.
"Mas Arkan," ucap Shelly lembut. "Jakarta punya ribuan orang hebat seperti kamu. Tapi desa ini? Mereka cuma punya saya. Saya bukan cuma konsultan di sini, saya adalah urat nadi koperasi ini. Kalau saya pergi, kepercayaan petani-petani itu akan luntur."
---
Suatu malam, hujan lebat mengguyur desa. Listrik padam, dan Shelly sedang sibuk di gudang karena khawatir ada atap yang bocor dan membasahi tumpukan beras yang siap kirim. Tiba-tiba, ia melihat lampu mobil menyinari halaman gudang yang becek.
Arkan turun dari mobilnya, menggunakan payung besar, namun celana kain mahalnya sudah basah kuyup karena genangan air.
"Mas Arkan? Ngapain malam-malam begini ke sini? Jalannya licin!" teriak Shelly dari ambang pintu gudang.
"Saya cuma mau antar ini!" Arkan memberikan sebuah kotak plastik kedap udara. Isinya adalah martabak manis kesukaan Shelly yang dibelinya di kota kabupaten. "Saya ingat kamu bilang kalau hujan begini paling enak makan yang manis-manis."
Shelly tertegun. Ia melihat Arkan yang kedinginan, gemetar, namun matanya menatap Shelly dengan ketulusan yang tak bisa dibohongi.
"Mas, kamu nekat. Bisa saja mobilmu terperosok ke parit," ujar Shelly sambil mengambilkan handuk bersih dari kantor.
"Mungkin memang nekat," jawab Arkan sambil mengeringkan rambutnya. "Tapi saya mulai sadar satu hal, Shel. Mengejar kamu itu nggak bisa pakai logika orang kota. Saya nggak bisa kasih kamu kemewahan karena kamu sudah merasa mewah dengan kesuksesan petani di sini. Jadi, saya cuma bisa kasih perhatian-perhatian kecil begini."
Shelly tersenyum kecil. Ia mulai merasa ada sesuatu yang hangat di dadanya. "Mas Arkan, kamu tahu nggak? Bapak saya itu sangat protektif. Dia nggak akan kasih izin orang kota 'menculik' anaknya kalau orang itu nggak bisa mencangkul."
Arkan membelalakkan mata. "Serius? Kamu mau saya belajar mencangkul?"
"Besok subuh, datang ke sawah Bapak. Pakai baju yang siap kotor. Kalau kamu tahan dua jam di bawah matahari tanpa mengeluh, mungkin saya akan pertimbangkan tawaran makan malammu," tantang Shelly sambil tertawa kecil.
---
Keesokan harinya, Arkan benar-benar datang. Ia memakai kaos lama dan celana pendek, namun masih terlihat terlalu 'bersih'. Bapak sudah menunggu di pematang dengan cangkul cadangan. Shelly memperhatikan dari kejauhan sambil memegang botol minum.
"Ayo, Nak Arkan. Pegang kayu ini kuat-kuat. Jangan takut sama lumpur, lumpur ini yang kasih kita makan," perintah Bapak dengan suara tegas namun ada nada bercanda.
Arkan mulai mengayunkan cangkul. Gerakannya kaku, berkali-kali ia hampir terpeleset, dan wajahnya memerah karena panas. Shelly melihat Arkan berjuang keras, bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk menunjukkan bahwa ia menghargai dunia Shelly.
Dua jam berlalu. Arkan kelelahan, tangannya mulai lecet, namun ia tidak menyerah sampai Bapak menyuruhnya berhenti.
"Gimana, Pak?" tanya Shelly saat mereka duduk di bawah pohon mangga sambil makan pisang rebus.
Bapak menepuk-nepuk pundak Arkan yang penuh keringat. "Lumayan. Punggungnya masih kaku, tapi hatinya keras juga. Dia nggak banyak mengeluh."
Bapak kemudian menoleh ke Arkan. "Nak Arkan, Shelly ini anak sawah. Kalau kamu mau bawa dia ke kota, pastikan kamu nggak akan melarang dia pulang setiap kali bau tanah memanggilnya. Tapi kalau kamu mau di sini, pastikan kamu siap jadi bagian dari lumpur ini."
Arkan menatap Shelly, lalu beralih ke Bapak. "Pak, saya nggak mau membawa Shelly pergi dari dunianya. Saya justru ingin membangun dunia saya di samping dunianya. Saya sudah mengajukan mutasi untuk jadi pengawas proyek pemerintah di daerah ini selama dua tahun ke depan."
Shelly terkejut. "Mas? Kamu serius meninggalkan kantormu di Jakarta?"
"Di sana saya cuma membangun gedung beton, Shel. Di sini, saya ingin ikut membangun mimpi besar kamu. Dan mungkin... membangun masa depan kita," jawab Arkan dengan nada yang sangat serius.
---
Sore itu, mereka berjalan menyusuri galengan sawah saat matahari mulai terbenam. Arkan tidak lagi memakai parfum mahalnya; ia berbau matahari dan tanah, namun bagi Shelly, itu adalah aroma yang paling jujur.
"Jadi, gimana?" tanya Arkan. "Tes mencangkulnya lulus?"
Shelly tertawa, ia meraih tangan Arkan yang lecet dan mengusapnya pelan. "Lulus dengan catatan: besok-besok pakai *sunblock*, Mas. Biar wajahmu nggak matang seperti udang rebus."
"Itu artinya ya?" Arkan memastikan dengan binar mata penuh harapan.
"Itu artinya, besok malam kita makan malam di rumah. Ibu mau masak ayam lodho. Dan jangan lupa, bawa martabaknya lagi," jawab Shelly sambil berjalan mendahului Arkan dengan langkah ringan.
Di bawah langit desa yang memerah, Shelly menyadari bahwa keberhasilannya tidak hanya memberikan kesejahteraan bagi desanya, tapi juga membukakan pintu bagi seseorang yang mau mengerti bahwa cinta sejati bukan tentang mengajak pergi, melainkan tentang mau menemani berjuang di tempat yang paling berarti.
Shelly, si anak petani yang pernah merasa asing di belantara beton, kini telah menemukan segalanya: akar yang kuat di tanahnya, dan dahan yang kokoh tempat ia menyandarkan hatinya.