Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRANSISI KE BAB 16: Ketika Dendam Mulai Bergerak
#
Telepon itu berdering lima kali sebelum Mahira mengangkat. Tangannya gemetar—entah karena hampir mencium Zarvan atau karena nama Khaerul yang muncul di layar. Mungkin keduanya.
"Halo?" suaranya keluar lebih lemah dari yang ia inginkan.
"Mahira." Suara Khaerul dingin. Terlalu dingin. "Besok pagi. Jam tujuh. Meeting emergency dewan direksi. Kamu wajib hadir."
"Meeting apa? Kenapa—"
"Kamu akan tahu besok." Klik. Sambungan terputus.
Mahira menatap ponselnya dengan perasaan tidak enak yang merayap di perut. Zarvan berdiri di sampingnya, wajahnya mengeras.
"Dia ngapain?"
"Aku... aku nggak tahu. Tapi ini nggak bagus. Khaerul nggak pernah ngomong sedingin itu kecuali kalau—" Mahira menggigit bibir. Tasbih Cahaya di sakunya tiba-tiba terasa panas. Peringatan. "—kecuali kalau dia lagi planning something."
"Kamu nggak boleh sendirian besok." Zarvan meraih tangannya. "Aku akan—"
"Nggak bisa. Ini internal Qalendra Group. Kalau kamu datang, malah akan jadi lebih complicated." Mahira menarik tangannya—bukan karena tidak mau, tapi karena harus. "Aku harus hadapi ini sendiri."
"Mahira—"
"Please, Zarvan." Ia menatap mata pria itu—mata yang sedetik lalu nyaris menciumnya. "Aku... aku butuh waktu untuk prepare. Mental aku lagi nggak stabil. Tadi hampir... kita hampir..." pipinya memanas, "...dan sekarang ada ancaman dari Khaerul. Aku nggak bisa mikir jernih kalau kamu ada di sekitar aku."
Kata-kata itu keluar lebih jujur dari yang ia maksud. Tapi itu kenyataan. Kehadiran Zarvan membuat jantungnya kacau—dalam cara yang indah dan menakutkan sekaligus.
Zarvan diam cukup lama. Lalu ia mengangguk. "Oke. Tapi kamu harus janji akan kabarin aku. Apapun yang terjadi besok. Deal?"
"Deal."
Tapi Mahira tidak tahu bahwa besok akan menjadi hari terburuk dalam karirnya. Dan kemungkinan besar, Khaerul sudah merencanakan ini sejak berminggu-minggu lalu.
***
Pukul 11 malam. Mahira sudah di rumah, tapi tidak bisa tidur. Ia duduk di meja kerjanya dengan laptop terbuka—mengecek ulang semua dokumen project yang ia handle. Merger dengan Al-Hakim. Program CSR di wilayah Timur. Kerjasama dengan NGO lokal.
Semuanya bersih. Tidak ada kesalahan. Tidak ada yang bisa dijadikan celah.
Atau begitu ia pikir.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Raesha:
*"Mahira, aku baru denger dari Papa. Ada yang ngelaporin kamu ke dewan direksi. Laporan tentang mismanajemen dana project. Papa lagi coba tahan sidang, tapi paman Danesh maksa harus dilaksanain besok. Kamu tahu sesuatu tentang ini?"*
Mismanajemen dana?
Mahira langsung membuka folder keuangan project-nya. Matanya menyapu angka demi angka. Dan—
"Tidak. Tidak mungkin."
Ada transfer dana sebesar 500 juta rupiah ke rekening vendor fiktif. Vendor yang tidak pernah ia setujui. Tidak pernah ia tanda tangani kontraknya.
Tapi tanda tangannya ada di dokumen approval. Digital signature yang—secara teknis—sah.
"Dipalsukan," bisiknya. Tangannya mencengkeram mouse hingga buku-buku jarinya memutih. "Khaerul. Dia... dia memalsukan approval aku."
Ia langsung menelepon Raesha.
"Kak!" suaranya nyaris berteriak. "Ada yang salah. Ada transfer dana yang—"
"Aku tahu. Papa udah kirim dokumennya ke aku." Suara Raesha tegang. "Mahira, ini serius. Kalau kamu nggak bisa buktiin ini fraud, kamu bisa dipecat. Atau lebih buruk—dituntut penipuan korporat."
"Tapi aku nggak—"
"Aku tahu kamu nggak. Papa juga tahu. Tapi paman Danesh dan Khaerul udah bikin narasi. Mereka udah ngomong ke beberapa anggota dewan kalau kamu 'nggak kompeten', 'terlalu muda', 'nepotisme'." Raesha menghela napas frustrasi. "Mereka udah plan ini dari lama, Mahira. Mereka cuma nunggu momen yang tepat."
Dan momen yang tepat adalah sekarang—pas Mahira mulai dekat dengan Zarvan. Pas kutukan mulai terungkap. Pas ada kemungkinan untuk memutuskan rantai dendam 300 tahun lalu.
Khaerul tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Besok," kata Mahira dengan suara yang dipaksakan tenang, "besok aku akan buktiin ini fraud. Aku akan cari tahu siapa yang akses sistemku. Siapa yang palsukan signature aku. Dan aku akan—"
"Mahira." Raesha memotong. "Kamu punya waktu cuma delapan jam. IT forensic butuh minimal seminggu untuk trace digital fraud. Kamu nggak akan sempat."
"Jadi kamu mau aku nyerah?!"
"Aku mau kamu prepare untuk worst case scenario." Suara kakaknya melembut. "Kalau besok sidang memutuskan kamu guilty, Papa akan coba nego. Mungkin suspensi sementara. Bukan pemecatan langsung. Kita masih punya waktu untuk—"
"Nggak!" Mahira memukul meja. Laptop-nya bergetar. "Aku nggak akan biarkan Khaerul menang. Dia... dia pikir dengan ngerusak karir aku, dengan ngisolasi aku dari keluarga, dia bisa... dia bisa—" suaranya bergetar, "—dia pikir aku akan nyerah kayak Aisyara nyerah?"
Keheningan di seberang telepon.
"Mahira," Raesha bersuara pelan, "ini nggak ada hubungannya sama Aisyara. Ini urusan korporat. Ini—"
"Semuanya connected, Kak!" Mahira bangkit berdiri. "Khaerul adalah Khalil. Dan dia mengulang pola yang sama. Dia ngejauh-in aku dari Zarvan dengan cara apapun. Karena dia nggak mau aku bahagia!"
"Okay, okay. Tenang." Raesha mencoba menenangkan. "Dengar, besok kamu datang dengan kepala dingin. Jangan emosional. Jangan sebut-sebut soal Khalil atau reinkarnasi atau apapun itu. Tetap di fakta. Di bukti. Kita akan handle ini secara profesional."
Mahira menarik napas dalam. "Oke. Oke. Profesional."
Tapi dalam hati, ia tahu ini bukan hanya soal profesionalisme. Ini perang. Perang yang dimulai 300 tahun lalu dan belum selesai.
---
#