Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 4: Tangan Terulur
Suara sirine ambulans itu... aku nggak akan pernah lupa.
WIIUUU WIIUUU WIIUUU.
Keras. Nyaring. Bikin jantung berdetak lebih kencang. Bikin napas sesak. Bikin... bikin semuanya terasa lambat tapi cepat di saat bersamaan.
Dua orang paramedis—cewek sama cowok, seragam oren, muka datar kayak udah biasa liat penderitaan—langsung masuk ke kamar kontrakan ku yang sempit. Mereka bawa tandu lipat.
"Pasiennya yang mana?"
"I-ini... Bapak aku..." Suara ku gemetar. "Dia... dia batuk darah... nggak berhenti..."
Paramedis cowok langsung cek nadi Bapak. Paramedis cewek pasang oksigen di hidung Bapak. Cepet. Profesional. Kayak robot.
"Tekanan darah drop. Denyut nadi lemah. Kita harus bawa sekarang."
"Tunggu... tunggu..." Aku narik lengan paramedis cewek. "Bapak aku kenapa? Dia... dia nggak apa-apa kan? Tolong bilang dia nggak apa-apa..."
"Mbak, kami harus bawa pasien ke RS sekarang. Kondisinya gawat. Mbak ikut atau nggak?"
"I-ikut! Zahra ikut!"
Mereka angkat Bapak ke tandu. Bapak nggak sadar. Mata tertutup. Napas pelan. Darah masih nempel di sekitar mulut.
"Bapak... Bapak... bangun Pak... Zahra disini..." Aku pegang tangan Bapak yang dingin. Dingin banget. Kayak... kayak mayat.
Jangan. Jangan mikir kayak gitu Zahra.
Ambulans jalan cepet. Aku duduk di samping tandu. Paramedis cewek masang infus di tangan Bapak. Paramedis cowok lapor ke RS lewat radio.
"Pasien laki-laki, 58 tahun, batuk darah masif, tekanan darah 80/50, nadi 110, saturasi oksigen 85%... perkiraan tiba 10 menit..."
Aku nggak ngerti bahasa medis mereka. Yang aku tau cuma... Bapak dalam bahaya.
"Mbak, keluarga pasien?"
"Iya... aku anak dia... anak satu-satunya..."
"Bapak punya riwayat penyakit apa?"
"TBC... sama jantung lemah... dia... dia lagi pengobatan tapi... tapi obatnya kemarin habis... Zahra telat beli..."
"Sudah berapa lama TBC-nya?"
"Dua tahun... lebih..."
Paramedis cewek sama cowok saling pandang. Nggak bilang apa-apa. Tapi aku tau. Aku tau dari tatapan mereka.
Bapak dalam kondisi buruk.
---
Rumah Sakit Umum Daerah. RSUD. Tempat yang aku benci tapi sering aku datangin sejak Bapak sakit.
Gedungnya tua. Cat dinding mengelupas. Lantai kusam. Bau antiseptik bercampur bau anyir darah dan urin. Orang-orang pada duduk di bangku tunggu—ada yang nangis, ada yang diem aja natap kosong, ada yang tidur di lantai karena nggak ada tempat.
Bapak langsung dibawa ke IGD. Aku nggak boleh ikut masuk.
"Mbak tunggu di luar. Dokter akan periksa dulu."
"Tapi—"
"Mbak tunggu di luar." Paramedis cowok nutup tirai IGD. SRET.
Dan aku cuma bisa berdiri di situ. Sendirian. Di lorong rumah sakit yang dingin. Di tengah orang-orang asing yang punya masalah masing-masing.
Aku duduk di bangku plastik panjang yang keras. Tangan ku masih gemetar. Baju daster ku ada noda darah Bapak. Hijab ku miring. Sendal jepit ku lepas sebelah—entah ketinggalan dimana.
"Ya Allah... tolong selamatin Bapak... tolong..." Aku bisik sendiri. Ngelipet tangan di dada. "Zahra nggak bisa hidup tanpa Bapak... tolong Ya Allah..."
"Keluarga pasien Ahmad Fauzi?"
Aku langsung berdiri. "Iya! Saya! Saya anaknya!"
Seorang dokter muda—kacamata, jas lab putih, stetoskop di leher—keluar dari IGD. Mukanya... serius. Terlalu serius.
"Perkenalkan, saya dr. Rani. Yang menangani Bapak Anda."
"Dok... Bapak aku gimana? Dia... dia kenapa Dok?"
"Pasien mengalami hemoptisis masif—batuk darah dalam jumlah besar—kemungkinan disebabkan komplikasi TBC yang sudah lanjut. Kami sudah stabilkan kondisi sementara, tapi... pasien butuh perawatan intensif. Harus rawat inap."
Rawat inap.
Berarti... berarti biaya.
"Dok... Dok, berapa biayanya?"
Dr. Rani menghela napas. Kayak udah tau aku nggak mampu bayar. "Untuk rawat inap, biaya per hari sekitar lima ratus ribu. Belum termasuk obat, tes lab, rontgen. Total estimasi... mungkin sekitar lima juta untuk seminggu pertama."
Lima juta.
Lima. Juta.
Uang yang aku nggak punya. Bahkan kalau aku kerja siang malam sebulan penuh, aku nggak bisa dapet segitu.
"Dok... aku... aku nggak punya uang sebanyak itu..."
"Anda punya BPJS?"
"Ada... tapi... tapi Bapak aku belum daftar rawat inap di BPJS... prosesnya kan lama Dok... aku—"
"Kalau begitu Anda harus bayar dulu biaya awal. Minimal dua juta untuk uang muka."
Dua juta.
"Dok... aku... aku mohon... Bapak aku kondisinya gimana sekarang? Dia... dia bahaya nggak?"
Dr. Rani diam sebentar. "Kalau tidak segera ditangani... kondisinya bisa memburuk. Dalam 24 jam ke depan, kami harus monitor ketat. Tapi untuk itu, pasien harus masuk ruang rawat inap."
"Dok tolong... tolong rawat Bapak aku dulu... nanti uangnya aku cari... aku janji Dok... aku—"
"Mbak, saya paham kondisi Anda. Tapi ini kebijakan rumah sakit. Tanpa pembayaran uang muka, kami tidak bisa proses rawat inap. Anda bisa coba ke bagian administrasi untuk tanya opsi lain. Mungkin ada program bantuan atau keringanan."
Dan dokter itu pergi.
Gitu aja.
Ninggalin aku berdiri sendirian. Dengan beban dua juta yang nggak mungkin aku punya.
---
Bagian administrasi. Ruangan sempit dengan satu meja, satu komputer tua, dan satu petugas wanita paruh baya yang mukanya udah kayak tembok—datar, dingin, nggak ada empati.
"Nama pasien?"
"Ahmad Fauzi."
Dia ngetik. Pelan. Kayak nggak peduli ada orang yang nyawanya lagi di ujung tanduk.
"Uang muka dua juta. Bisa dibayar sekarang?"
"Saya... saya nggak punya uang sebanyak itu sekarang... tapi saya bisa—"
"Kalau nggak bisa bayar, pasien nggak bisa rawat inap. Cuma bisa di UGD. Tapi UGD maksimal 24 jam. Setelah itu harus keluar atau pindah rawat inap."
"Ibu... tolong... Bapak saya kondisinya gawat... saya janji nanti saya bayar... saya kerja... saya bisa cicil..."
"Nggak bisa. Kebijakan rumah sakit." Dia bahkan nggak natap aku. Tetep fokus ke layar komputer. "Anda bisa coba pinjam ke keluarga. Atau teman. Atau cari donasi."
Keluarga? Nggak ada.
Teman? Siti aja nggak bisa bantuin.
Donasi? Siapa yang mau donasi ke orang nggak dikenal?
"Ibu tolong... kumohon... ini nyawa Bapak saya..."
"Mbak, di belakang Anda masih ada antrian. Kalau belum bisa bayar, tolong minggir dulu."
Aku nggak percaya. Aku nggak percaya ada manusia yang sedingin ini.
"IBU—"
"Zahra?"
Suara. Suara yang aku kenal.
Aku nengok.
Arkan.
Arkan berdiri di pintu administrasi. Masih pake kemeja putih yang sama—tapi sekarang agak kusut. Napasnya agak tersengal. Kayak baru lari.
"Mas... Mas Arkan... kenapa... kenapa Mas disini?"
Dia jalan deket. "Bu Ria yang hubungin aku. Dia bilang Bapak kamu dibawa ke RS. Aku langsung kesini."
Bu Ria... ya Allah, Bu Ria baik banget.
"Mas... Mas nggak usah repot-repot... aku... aku bisa urus sendiri..."
"Zahra, Bapak kamu kondisinya gimana?"
"Dia... dia gawat Mas... dokter bilang harus rawat inap tapi... tapi aku nggak punya uang..."
Arkan langsung natap petugas administrasi. "Ibu, berapa yang harus dibayar?"
"Uang muka dua juta untuk rawat inap."
"Oke. Saya bayar sekarang." Dia keluarin dompet. Dompet kulit coklat tebal. Isinya... ya Allah... puluhan lembar ratusan ribuan. Dia hitung cepet. Keluarin dua puluh lembar seratus ribuan. "Ini dua juta."
Petugas itu langsung antusias. Mukanya yang tadi datar sekarang senyam-senyum. "Baik Pak. Saya proses sekarang. Pasien atas nama Ahmad Fauzi ya?"
"Iya. Proses secepat mungkin."
"Siap Pak!"
Aku... aku nggak bisa ngomong. Mulut ku kebuka tapi nggak ada suara keluar.
Arkan nengok ke aku. "Zahra, kamu tunggu disini. Aku urus administrasinya."
"M-Mas... Mas nggak perlu... aku—"
"Udah. Bapak kamu lebih penting sekarang." Dia senyum. Senyum tulus yang bikin dada ku sesak. "Kamu tunggu aja."
---
Tiga puluh menit kemudian, Bapak dipindah ke ruang rawat inap. Kelas tiga—kamar isi enam orang, kasur besi, dinding retak, tapi setidaknya... setidaknya Bapak ditangani.
Aku duduk di samping kasur Bapak. Infus masih nempel di tangan kirinya. Oksigen masih terpasang. Mata tertutup. Napas pelan tapi teratur. Dokter bilang kondisinya stabil—untuk sementara.
Arkan duduk di kursi sebelah ku. Diam. Nggak ngomong apa-apa. Cuma menemani.
"Mas..."
Dia nengok.
"...kenapa Mas bantuin aku?"
Arkan diam sebentar. Kayak mikir jawaban. "Karena aku nggak bisa diem aja liat orang kesusahan."
"Tapi... tapi aku bukan siapa-siapa Mas... aku cuma... cuma orang asing yang Mas baru ketemu kemarin..."
"Zahra." Dia natap aku. Serius. "Kamu pikir aku bantuin kamu karena kamu 'siapa-siapa'? Nggak. Aku bantuin karena kamu butuh. Sesimpel itu."
Tenggorokan ku kayak dicekek. Mata ku mulai panas.
"Mas... aku... aku nggak tau harus ngomong apa..."
"Kamu nggak usah ngomong apa-apa. Yang penting Bapak kamu sembuh."
Dan saat itu... saat itu aku nggak kuat lagi.
Aku nangis.
Nangis sejadi-jadinya. Di depan orang yang baru aku kenal. Di depan orang yang udah berkali-kali nolongin aku. Di depan orang yang... yang terlalu baik untuk dunia ini.
"Maafin aku Mas... maafin aku..." Aku nutup muka pake tangan. "Aku... aku lemah... aku nggak berguna... aku... aku cuma bisa nangis..."
"Zahra, nangis nggak bikin kamu lemah." Arkan pegang bahu ku. Pelan. Hangat. "Kamu udah kuat banget bertahan sampe sekarang. Nggak semua orang bisa kayak kamu."
"Tapi aku... aku nyusahin Mas... Mas udah bayarin Bapak aku... aku... aku nggak tau gimana caranya balikin uang Mas..."
"Kamu nggak usah pikirin itu sekarang."
"Tapi—"
"Zahra." Dia potong. Tegas tapi lembut. "Fokus ke Bapak kamu dulu. Soal uang, kita pikirin nanti. Oke?"
Aku natap Arkan. Lama. Mata ku masih basah. Napas masih sesak.
Kenapa... kenapa dia sebaik ini?
"...Mas... aku janji... aku bakal balikin uang Mas... entah gimana caranya... aku bakal kerja keras... aku... aku nggak akan ngemplang... aku janji Mas..."
"Aku percaya sama kamu."
Dan kata-kata itu... kata-kata itu bikin aku nangis lagi.
---
Malem itu, Arkan pulang setelah mastiin Bapak tidur dengan tenang. Dia tinggalin nomor HP-nya—yang sebenarnya udah ada di kartu nama tapi dia tetep tulis ulang di kertas kecil.
"Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Oke?"
"...iya Mas. Makasih... makasih banyak..."
Arkan senyum. Terus pergi.
Dan aku duduk sendirian di samping kasur Bapak. Natap langit-langit kamar rawat inap yang penuh bercak kuning. Dengerin suara mesin oksigen yang berbunyi ritmis. Dengerin napas Bapak yang pelan.
"Bapak... Zahra ketemu orang baik hari ini..." Aku bisik pelan. "Orang yang... yang beda dari orang lain..."
Aku keluarin kertas kecil dari saku.
**Arkan Alexander**
**+62 812-XXXX-XXXX**
**Hubungi aku kapan aja.**
"...Ya Allah... ini tandanya apa?"
Aku nggak tau. Tapi yang aku tau...
Arkan Alexander bukan orang biasa.
Dan mungkin... mungkin dia datang ke hidupku bukan tanpa alasan.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 5: Benang Merah Mulai Terjalin**