Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor Beredar
Keesokan harinya, suasana Sekte Bukit Bintang berubah tanpa ada tanda-tanda mencolok. Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada lonceng darurat yang dibunyikan. Namun entah dari mana asalnya, sebuah kabar mulai menyebar. Mula-mula berbisik di antara murid luar, lalu merambat ke murid inti, hingga akhirnya terdengar bahkan di kalangan pelayan dan penjaga gerbang.
Rumor itu sederhana, namun dampaknya besar. Bahwa dalam kompetisi beladiri antar sekte di Sekte Pedang Langit nanti… Sekte Bukit Bintang hanya akan mengirim satu orang perwakilan. Nama yang disebut-sebut hanya satu, Gao Rui.
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali membocorkannya. Ada yang bersumpah mendengarnya dari seorang murid inti yang kebetulan lewat di dekat paviliun patriak. Ada pula yang mengaku mendengar langsung dari pelayan yang biasa mengantar teh ke kediaman tetua. Seperti kebanyakan rumor di dunia persilatan, kabar itu tumbuh semakin liar setiap kali berpindah mulut. Namun satu hal pasti, ia menyebar dengan kecepatan yang tak bisa dibendung.
Di beberapa tempat, rumor itu menimbulkan kekaguman. Di tempat lain, ia memicu ketidakpuasan. Di kediaman Tetua Kelima, Mo Pou, rumor itu jatuh seperti percikan api ke dalam tumpukan jerami kering.
“Tidak masuk akal!”
Suara bentakan menggema di ruang dalam kediaman itu. Rung Kai, murid dari Tetua Mo Pou berdiri dengan wajah memerah, dadanya naik turun menahan emosi. Tangannya mengepal erat, urat-urat di lehernya tampak menegang.
“Hanya satu perwakilan?!” ulangnya dengan nada tak percaya. “Guru, ini keterlaluan! Sekte kita bukan sekte kecil! Kita diperbolehkan mengirim beberapa murid, bahkan sekte lain pasti akan mengirimkan beberapa orang juga!”
Baginya, keputusan itu terasa seperti penghinaan, bukan hanya terhadap sekte, tetapi juga terhadap dirinya.
“Semakin banyak murid yang dikirim, semakin besar kemungkinan kita menang!” lanjut Rung Kai dengan nada keras. “Kenapa harus mempertaruhkan segalanya pada satu orang saja?”
Di atas dipan kayu berukir sederhana, Mo Pou duduk bersandar, wajahnya masih pucat. Aura di sekelilingnya belum sepenuhnya stabil, tanda bahwa ia masih dalam masa pemulihan. Tubuhnya belum benar-benar pulih sejak hari ketika ia dihajar tanpa ampun oleh guru Gao Rui, Boqin Changing.
Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya perlahan.
“Tenanglah,” ucap Mo Pou dengan suara agak serak, namun tenang. “Kemarahan tidak akan mengubah apa pun.”
Rung Kai menoleh, masih dengan ekspresi kesal.
“Guru, bagaimana mungkin aku tenang? Ini menyangkut masa depan sekte!”
Mo Pou menghela napas pelan. Ia memahami perasaan muridnya. Rung Kai adalah murid yang ambisius, penuh percaya diri, dan memiliki bakat yang memang tidak buruk. Jika situasinya berbeda, mungkin ia sendiri akan ikut mempertanyakan keputusan itu.
Namun situasinya sudah tidak sama lagi.
“Patriak pasti memiliki pertimbangan lain,” kata Mo Pou akhirnya. “Keputusan sebesar ini tidak mungkin diambil tanpa alasan.”
Rung Kai mendengus pelan, jelas belum puas. Namun ia tidak menyela.
Mo Pou menurunkan pandangannya, pikirannya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu. Pada saat ia dengan penuh keyakinan berdiri di depan orang yang mengaku guru dari Gao Rui… dan kemudian dihajar tanpa sempat membalas secara layak. Pada saat ia merasakan tekanan yang begitu besar hingga bahkan bernapas pun terasa sulit.
Selanjutnya ia mengetahui satu fakta yang membuat seluruh kesombongannya runtuh. Bahwa orang yang menghajarnya hingga hampir kehilangan nyawa… adalah seorang pendekar bumi.
Sejak hari itu, pikirannya menjadi jauh lebih jernih. Ia mulai menyadari betapa sempitnya pandangannya selama ini.
“Aku tidak ingin lagi berurusan dengan Gao Rui,” ucap Mo Pou pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Apalagi dengan gurunya.”
Nada suaranya tidak mengandung dendam. Justru ada kehati-hatian yang tulus. Rung Kai terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada lebih rendah namun masih mengandung gengsi,
“Guru… jika aku lebih serius waktu itu, aku yakin aku bisa mengalahkan Gao Rui di babak puncak kompetisi beladiri sekte.”
Kalimat itu keluar begitu saja, seolah ia sudah lama menahannya. Mo Pou menoleh dan menatap muridnya cukup lama. Lalu, tiba-tiba ia tertawa. Tawa itu pendek, namun jelas.
“Serius?” tanyanya sambil menggeleng pelan. “Gao Rui bisa bertahan dari serangan terkuatku.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap langsung ke mata Rung Kai.
“Sekarang katakan padaku,” lanjutnya pelan namun menusuk, “apakah menurutmu… kau mampu?”
Kalimat itu jatuh tepat sasaran. Rung Kai membeku. Seluruh kemarahannya seolah tersiram air dingin. Ingatan tentang kekuatan Mo Pou yang selama ini ia anggap sebagai gunung tinggi langsung muncul di benaknya. Jika bahkan serangan terkuat gurunya tidak mampu menjatuhkan Gao Rui…
Tenggorokannya bergerak. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Tidak ada jawaban yang keluar.
Mo Pou kembali bersandar, menutup matanya perlahan.
“Kadang,” ucapnya pelan, “mengakui batas diri sendiri… adalah langkah pertama untuk tetap hidup.”
Ruang itu kembali hening. Untuk pertama kalinya sejak rumor itu menyebar, Rung Kai benar-benar terdiam, bukan karena kalah argumen, melainkan karena mulai memahami betapa besar jurang kekuatan yang sebenarnya ada di hadapannya.
...******...
Sementara rumor itu terus beredar seperti kabut tipis yang menyelimuti seluruh Sekte Bukit Bintang, pusat kediaman Tetua Bei justru berada dalam suasana yang jauh berbeda.
Tidak ada bisik-bisik, tidak ada kegaduhan. Di halaman belakang kediaman itu, suara hembusan napas berat terdengar teratur. Gao Rui berdiri di tengah halaman rumah, tubuhnya basah oleh keringat. Bajunya menempel di punggung, rambutnya yang panjang diikat sederhana ke belakang. Di sekelilingnya, tanah retak-retak halus, bekas tekanan dari latihan yang baru saja ia lakukan.
Ia menutup mata, menstabilkan pernapasan, lalu perlahan menarik tenaga dalam yang tersisa kembali ke dalam dantiannya. Aliran energi itu patuh, bergerak rapi tanpa gejolak sedikit pun. Beberapa detik kemudian, Gao Rui membuka mata dan menghembuskan napas panjang.
Latihan selesai. Ia menurunkan sikap kuda-kudanya, lalu mengusap wajah dengan punggung tangan. Ekspresinya tenang, nyaris datar. Seolah rumor yang sedang mengguncang sekte itu tidak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali.
Dari teras rumah kayu sederhana di samping halaman, Tetua Bei duduk sambil memperhatikan. Tangannya memegang cangkir teh yang uapnya sudah menipis. Tatapannya tenang, namun dalam. Sejak pagi, ia memang sengaja tidak mengganggu latihan Gao Rui.
Gao Rui melangkah mendekat, lalu duduk di sisi teras, tepat di samping Tetua Bei. Ia mengambil handuk kecil, mengeringkan keringat di leher dan lengan, lalu menatap ke depan.
Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di halaman. Suasana itu terasa… damai, kontras dengan gejolak yang sedang terjadi di luar.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan, Tetua?” tanya Gao Rui akhirnya, memecah keheningan.
Nada suaranya sopan, tidak mendesak. Namun ia mengenal Tetua Bei dengan cukup baik. Sejak duduk, ia sudah merasakan ada keganjilan kecil dalam sikap tetuanya hari ini.
Tetua Bei tersenyum tipis, lalu meletakkan cangkir tehnya di meja kecil di samping kursi. Ia menatap ke depan, bukan ke arah Gao Rui.
“Kau peka seperti biasa,” ucapnya pelan.
Ia terdiam sejenak, seolah menyusun kata-kata. Lalu akhirnya berkata,
“Semalam… aku dipanggil oleh patriak.”
Gao Rui sedikit terkejut, meski wajahnya tetap tenang. Ia menoleh, menatap Tetua Bei.
“Patriak Li Xuang?” tanyanya memastikan.
Tetua Bei mengangguk pelan.
“Pemanggilan mendadak,” lanjutnya. “Tanpa perantara. Tanpa alasan yang dijelaskan di awal.”
Ia menghela napas tipis.
“Aku sudah menduga ini berkaitan dengan kompetisi antar sekte.”
Gao Rui tidak segera menanggapi. Ia menurunkan pandangannya sejenak, memikirkan kata-kata itu. Rumor yang beredar sejak pagi langsung terhubung di benaknya, meski ia belum mendengarnya secara langsung dari siapa pun.
“Apa yang dibicarakan patriak?” tanya Gao Rui akhirnya.
Tetua Bei tersenyum samar, senyum yang mengandung kelelahan sekaligus penerimaan.
“Ia bertanya padaku satu hal,” katanya. “Apakah aku bersedia mengawasi latihanmu sepenuhnya… dan mengawalmu jika nanti kau berangkat ke Sekte Pedang Langit.”
Gao Rui terdiam. Tidak ada keterkejutan berlebihan. Tidak ada kegembiraan. Hanya keheningan singkat.
“Jadi… rumor itu benar,” ucapnya pelan.
Tetua Bei tidak menyangkal. Ia hanya berkata,
“Keputusan itu belum diumumkan secara resmi. Namun arah anginnya sudah jelas.”
Ia menoleh, menatap Gao Rui dengan serius.
“Patriak tidak mengatakan ini secara gamblang, tapi maksudnya jelas. Sekte ini akan mempertaruhkan wajahnya… padamu.”
Gao Rui menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Tatapannya tetap jernih.
“Apa pendapat Tetua?” tanyanya.
Pertanyaan itu sederhana, namun bobotnya besar.
Tetua Bei terdiam cukup lama sebelum menjawab. Ia menatap murid di sampingnya, lalu perlahan berkata,
“Sebagai tetua… aku paham risiko keputusan ini. Terlalu besar, terlalu berani.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah,
“Namun sebagai pendekar… aku tahu satu hal. Jika harus memilih satu orang, maka pilihan itu tidak salah.”
Gao Rui tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, tanda hormat.
“Aku akan berlatih lebih keras,” katanya singkat.
Tetua Bei tersenyum. Kali ini, senyumnya lebih tulus.
“Itu sebabnya aku tidak pernah meragukanmu,” ucapnya.
Di kejauhan, lonceng kecil terdengar ditiup angin. Di luar kediaman ini, rumor terus tumbuh dan membesar. Namun di teras rumah kayu itu, sebuah keputusan besar telah diterima… dengan tenang.