NovelToon NovelToon
Rahasia Kelam Di Balik Sutra

Rahasia Kelam Di Balik Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Rebirth For Love / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Novianti

Seorang putri Adipati menikahi putra mahkota melalui dekrit pernikahan, namun kebahagiaan yang diharapkan berubah menjadi luka dan pengkhianatan. Rahasia demi rahasia terungkap, membuatnya mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya. Di tengah kekacauan, ia mengambil langkah berani dengan meminta dekrit perceraian untuk membebaskan diri dari takdir yang mengikatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, kereta kuda Wang Yuwen akhirnya memasuki gerbang Istana. Kepulangannya kali ini membawa harapan baru yang membuncah di dadanya, harapan akan hubungan yang lebih baik dengan Cheng Xiao, dan juga dengan bayi mereka yang lucu. Setelah menghadap Kaisar untuk melaporkan hasil kerjanya yang gemilang, Wang Yuwen bergegas berjalan dengan hati berdebar kencang menuju Istana Putra Mahkota. Ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Cheng Xiao, dan tentu saja, dengan buah hati mereka. Ya, bayi mereka adalah sumber kebahagiaan terbesarnya saat ini.

Namun, begitu memasuki gerbang Istana Putra Mahkota, Wang Yuwen hanya mendapati Zhou Mei yang menyambut kepulangannya dengan senyum palsu yang terukir di bibirnya. "Kenapa... kenapa kau yang menyambutku?" tanya Wang Yuwen dengan nada terkejut dan sedikit kecewa, karena tidak melihat keberadaan Cheng Xiao di antara orang-orang yang menyambut kepulangannya.

"Yang Mulia," panggil Zhou Mei dengan suara lembut yang dibuat-buat, berusaha menarik perhatian Wang Yuwen.

"Ayahanda Kaisar sudah menjadikan saya sebagai istri setara dengan Anda, Yang Mulia. Tentu saja, sudah menjadi kewajiban saya untuk menyambut kepulangan Anda dan melayani Anda dengan sebaik-baiknya," lanjut Zhou Mei dengan nada penuh penekanan, seolah ingin menegaskan posisinya di sisi Wang Yuwen.

Wang Yuwen menghela napas panjang, merasa muak dengan tingkah laku Zhou Mei yang menjijikkan. "Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu," ujarnya dengan nada dingin dan tanpa ekspresi.

Wang Yuwen lalu menoleh ke arah pengasuh yang berdiri di dekatnya, "Di mana Permaisuri? Mengapa dia tidak ada di sini?" tanya Wang Yuwen dengan nada khawatir, kini ia memanggil Cheng Xiao dengan sebutan Permaisuri Putra Mahkota, sebagai bentuk penghormatan dan cintanya.

Namun, pengasuh itu hanya menunduk dalam, begitu pula dengan para pelayan Istana Putra Mahkota yang ikut menyambut kepulangan pria itu. Mereka semua terdiam, seolah ada rahasia besar yang mereka sembunyikan.

"Jawab aku! Di mana Permaisuri?!" teriak Wang Yuwen dengan nada membentak, amarahnya mulai terpancing karena mereka semua membisu. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan hatinya mulai dipenuhi dengan firasat buruk.

Tiba-tiba, dengan tangan gemetar, pengasuh itu menyodorkan secarik kertas yang terlipat rapi kepada Wang Yuwen. Pria itu menerimanya tanpa curiga sedikit pun, pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan tentang keberadaan Cheng Xiao. Namun, begitu membuka lipatan kertas itu, Wang Yuwen terkejut bukan main. Matanya membelalak tak percaya saat menyadari bahwa secarik kertas itu adalah surat cerai yang sudah ditandatangani oleh dirinya dan juga Cheng Xiao, lengkap dengan stempel Kaisar yang menandakan persetujuan.

"Tidak mungkin..." gumamnya lirih, suaranya bergetar dan wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia menatap nanar segel miliknya yang tertera di sana sebagai bukti persetujuan perceraian. Ia merasa seperti disambar petir di siang bolong.

Pada kenyataannya, ia tidak pernah menandatangani surat cerai apa pun, apalagi menggunakan stempel miliknya untuk urusan seperti ini. Satu-satunya saat ia menggunakan stempel itu adalah ketika ia menyetujui tugas berat untuk pergi ke wilayah selatan yang berbahaya.

"Ini tidak mungkin... ini pasti ada yang salah," gumamnya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas, berusaha menyangkal kenyataan pahit yang ada di hadapannya. Dengan gerakan kasar, ia merobek surat cerai itu menjadi beberapa bagian, lalu bergegas pergi menuju Paviliun Awan untuk mencari keberadaan Cheng Xiao. Ia harus segera mendapatkan penjelasan dari wanita itu.

Zhou Mei menatap kepergian Wang Yuwen dengan tatapan datar dan tanpa emosi. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Cheng Xiao, wanita itu tidak lagi memiliki ambisi untuk mendapatkan cinta Wang Yuwen. Ia sadar, jika pada wanita yang sangat mencintainya saja, Wang Yuwen bisa begitu kejam, apalagi hanya pada dirinya yang hanya mengandalkan wajah yang mirip dengan pujaan hatinya. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, Wang Yuwen menerobos masuk ke dalam Paviliun Awan. "Cheng Xiao... di mana kau?" panggilnya dengan nada cemas, suaranya menggema di seluruh paviliun.

Pria itu mencari keberadaan Cheng Xiao di setiap sudut Paviliun Awan, namun dia sama sekali tidak mendapati keberadaan wanita itu, dan juga bayi mereka. Paviliun itu terasa kosong dan sunyi, seolah tidak berpenghuni. Hatinya semakin dipenuhi dengan kecemasan dan firasat buruk. Ke mana Cheng Xiao pergi? Dan apa yang sebenarnya terjadi?

Wang Yuwen semakin panik. Dia berlari ke setiap sudut Paviliun Awan, membuka setiap pintu dan lemari, berharap menemukan Cheng Xiao atau setidaknya petunjuk tentang keberadaannya. Namun, nihil. Paviliun itu benar-benar kosong, hanya ada perabotan dan barang-barang pribadi Cheng Xiao yang tertata rapi, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

"Siapa pun! Dimana Cheng Xiao?!" teriak Wang Yuwen frustrasi, suaranya menggema di seluruh paviliun.

Seorang pelayan istana yang kebetulan lewat di dekat Paviliun Awan, mendengar teriakan Wang Yuwen dan dengan ragu-ragu mendekat. "Yang Mulia... ada apa?" tanyanya dengan suara gemetar, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Dimana Permaisuri? Dimana Cheng Xiao dan anakku? Kenapa dia tidak ada di sini? Apa yang terjadi?" tanya Wang Yuwen bertubi-tubi, mencengkeram bahu pelayan itu dengan erat.

Pelayan itu terisak, air matanya mulai mengalir deras. "Yang Mulia... Permaisuri... Permaisuri sudah pergi," jawab pelayan itu dengan suara tercekat.

"Pergi? Pergi kemana? Apa maksudmu dia pergi? Dia tidak mungkin pergi tanpa memberitahuku!" bantah Wang Yuwen dengan nada tidak percaya, menggelengkan kepalanya dengan keras.

"Permaisuri... Permaisuri sudah meninggalkan istana. Dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Anda, Yang Mulia. Dia... dia sudah menyerah," jelas pelayan itu dengan nada lirih, berusaha menyampaikan kenyataan pahit yang ada di hadapan Wang Yuwen.

"Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tidak percaya! Katakan padaku, kemana dia pergi? Aku harus bertemu dengannya! Aku harus bicara dengannya!" desak Wang Yuwen dengan nada putus asa, mengguncang tubuh pelayan itu dengan kasar.

. . .

Di kediaman Adipati Cheng yang megah, Cheng Xiao tengah menemui ayahnya di ruang kerja pria itu yang dipenuhi dengan buku-buku kuno dan aroma tinta yang khas. Suasana di ruangan itu terasa berat dan penuh dengan kesedihan.

"Kudengar, kau tidak menemui Cheng Xiao Lin beberapa hari ini," ujar Adipati Cheng dengan nada prihatin, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Ia menatap putrinya dengan tatapan lembut, mencoba memahami apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.

Cheng Xiao menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang pucat dan matanya yang mulai berembun. Ia tidak sanggup menatap ayahnya, merasa bersalah karena telah mengabaikan putranya sendiri.

Adipati Cheng menghela napas panjang, hatinya perih melihat putrinya yang begitu rapuh dan terluka. "Xiao'er, bukankah kau sangat menyayangi Cheng Xiao Lin? Kenapa kau justru mengabaikan putramu sendiri? Dia tidak bersalah, dia adalah darah dagingmu," tanya Adipati Cheng dengan lembut, berusaha menyentuh hati putrinya.

"Apa kini kau menyesali, karena telah melahirkannya? Apakah kehadiran Cheng Xiao Lin justru menjadi beban bagimu?" tanya Adipati Cheng dengan hati-hati, mencoba menggali lebih dalam perasaan putrinya.

Cheng Xiao menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya mulai menetes membasahi pipinya. "Tidak, Ayah! Aku tidak pernah menyesali kelahirannya! Aku sangat menyayanginya! Hanya saja... hanya saja melihatnya membuatku mengingat rasa sakit itu, Ayah. Rasa sakit karena dikhianati, rasa sakit karena kehilangan, rasa sakit karena masa lalu yang terus menghantuiku," jawab Cheng Xiao dengan suara bergetar, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam.

Adipati Cheng bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Cheng Xiao. Dengan lembut, ia mengangkat dagu putrinya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Xiao'er, aku tahu kau sedang terluka. Aku tahu kau sedang menderita. Tapi kau tidak boleh menyerah pada rasa sakitmu. Kau harus kuat, demi dirimu sendiri, dan demi Cheng Xiao Lin," ujar Adipati Cheng dengan nada menenangkan.

"Cheng Xiao Lin tidak bersalah dalam masalah ini. Dia adalah anugerah yang diberikan kepadamu. Jangan biarkan rasa sakitmu merenggut kebahagiaannya. Dia membutuhkanmu, Xiao'er. Dia membutuhkan kasih sayangmu," lanjut Adipati Cheng, berusaha menyadarkan putrinya.

Cheng Xiao terisak, air matanya semakin deras mengalir. Ia tahu ayahnya benar. Ia tidak boleh membiarkan rasa sakitnya menguasai dirinya dan merusak hubungannya dengan putranya. Cheng Xiao Lin tidak bersalah, dan ia pantas mendapatkan kasih sayang seorang ibu.

"Aku tahu, Ayah. Aku tahu aku salah. Aku akan mencoba... aku akan mencoba untuk menjadi ibu yang baik untuknya," ucap Cheng Xiao dengan suara serak, berjanji pada dirinya sendiri dan pada ayahnya.

Adipati Cheng tersenyum lembut dan memeluk putrinya dengan erat. "Aku percaya padamu, Xiao'er. Kau adalah wanita yang kuat dan penyayang. Kau pasti bisa melewati semua ini," ujar Adipati Cheng, memberikan dukungan moral kepada putrinya.

Setelah beberapa saat, Cheng Xiao melepaskan pelukan ayahnya dan menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu, ini tidak akan mudah. Tapi ia bertekad untuk mencoba. Ia ingin menjadi ibu yang baik untuk Cheng Xiao Lin, dan ia ingin menemukan kebahagiaannya sendiri.

"Aku akan menemui Cheng Xiao Lin sekarang," ujar Cheng Xiao dengan nada lebih percaya diri, menatap ayahnya dengan tatapan penuh tekad.

Adipati Cheng mengangguk dan tersenyum. "Bagus. Dia pasti sangat merindukanmu," jawab Adipati Cheng, merasa lega melihat putrinya mulai bangkit dari keterpurukannya.

Dengan langkah yang lebih mantap, Cheng Xiao beranjak dari ruang kerja ayahnya dan berjalan menuju kamar putranya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Cheng Xiao Lin dan memberikan kasih sayangnya yang selama ini tertunda.

1
sahabat pena
jangan mengemis cinta.. klo suami mu tdk membalasnya tinggal kan saja. dunia ini luas..masih banyak laki-laki yg lbh baik.
Ani_Sudrajat
Putra mahkota yg sangat² bodoh, setelah menyakiti perasaan istrinya,
memberikan mahkota yg sangat berharga istrinya kepada orang lain, baru bilang cinta 🤦‍♀️😤
Zabarra
enggak nyambung. kalo ada kesalah pahaman kenapa Chen Xiao merubah semua kesukaannya demi mengikuti putra mahkota..? narasi diawal juga Chen Xiao ngejar Wang Yuwen, cinta banget. bagus diawal udha dibagian ini malah ada narasi gak nyambung. sampe mau bunuh diri karena cinta tak terbalas, dibab ini bilang salah paham, yang dicintai jendral Tang. Langsung ancur nilainya
SamdalRi: Sorry kak, blunder. Baru selesai revisi
total 1 replies
yumin kwan
percuma putra mahkota.... wong sudah cerai, sudah bukan istrimu lagi
Ani_Sudrajat
Penyesalan selalu datang belakangan 😅
Ani_Sudrajat
Kenapa mereka selalu mengganggu ketenangan Cheng Xiao?? biarkan Cheng Xiao bahagia dengan putranya.
Zabarra
Ini novel top banget, sampai bikin nangis dari bab awal. keren thor, komplit bgt ini ceritanya
Natasya
👍
Nurhasanah
dari bab awal sampe bab ini ... fl nya cuma bisa nangis doang nggak ada gebrakan apapun😏😏
yumin kwan
ish.... kok kaisar ga langsung aja kasih dekrit perceraian....
semangat up nya 💪
Ani_Sudrajat
Cerita nya bagus ..
Marini Dewi
semangat thor biar bnyk up Nya. hehehe
Ani_Sudrajat
Orang tua mana yg tidak sedih melihat putri kesayangannya di perlakukan seperti itu??
yumin kwan
kasian sekali cheng xiao.....
semangat up lagi 💪💪💪
echa purin
👍🏻👍🏻
Ani_Sudrajat
Bagus ceritanya.
Semangat thor 💪
Marini Dewi
alur cerita y sangat menarik, semangat thor 💪💪💪
Ani_Sudrajat
Up nya tambah lagi thor 😄
Marini Dewi
bikin gregetan. up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!