NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Siang hari matahari bersinar terik, namun angin dari hamparan kebun teh di belakang rumah membuat suasana tetap sejuk. Setelah kejadian pagi tadi—ancaman, lemparan pisau, dan kejar-kejaran para bodyguard—Mala mencoba mempersiapkan diri untuk berangkat ke kota. Dokumen penting membutuhkan tanda tangannya, dan ia tak ingin urusan kebun teh tertunda.

Meski Nina dan para bodyguard memintanya istirahat sejenak, Mala tetap bersikeras.

“Aku cuma harus tanda tangan sebentar,” gumam Mala sambil memeriksa tasnya. “Habis itu balik lagi.”

Nina hanya bisa menghela napas panjang. “Ibu, tubuh Ibu kelihatan lemah. Pagi tadi hampir kena dua serangan, dan sekarang—”

“Aku baik-baik saja, Nina.”

Mala tersenyum kecil. “Lagipula Daren masih di perjalanan. Sebelum dia datang dan ngomel-ngomel, aku selesaikan dulu.”

Namun bahkan sebelum Nina sempat membalas, Mala merasa pandangannya tiba-tiba bergetar.

Dunia seperti memudar dari pinggir.

Suara-suara di sekitar meredam.

Detik berikutnya, Mala memegang pinggiran meja untuk menjaga keseimbangan.

“Mala?”

Nina menegang. “Bu Mala?”

Mala ingin menjawab, tapi mulutnya terasa berat. Kepalanya berputar seperti terjun ke pusaran air.

Dan tanpa sempat berkata lagi—

BRAK!

Tubuh Mala ambruk ke lantai.

“MALA!”

Nina berteriak panik.

Para bodyguard yang berjaga langsung berlari masuk, senjata terangkat karena mengira ada serangan lagi.

“TARUH SENJATANYA! DIA PINGSAN!” teriak Nina.

Pak Wira yang mendengar keributan itu keluar dari ruang kerjanya dengan wajah panik. “Anakku! Tolong panggil dokter! SEKARANG!”

---

Dalam lima menit, ambulans kecil dipanggil khusus dari kota terdekat, dikawal ketat oleh beberapa bodyguard yang menutup akses jalan dari dua arah. Desa kecil itu belum pernah melihat iring-iringan begitu banyak penjaga berseragam hitam sebelumnya.

Warga mulai keluar dari rumah masing-masing, bergumam khawatir.

“Astaga, Nirmala pingsan?”

“Baru pagi tadi rumahnya diserang…”

“Kok bisa Melisa sekejam itu… padahal dulu kelihatan baik.”

Desa kecil itu mendidih dengan bisik-bisik.

---

Di dalam kamar, Mala sudah dibaringkan di tempat tidur. Dokter Rimba, dokter senior yang dipanggil langsung oleh Tuan Armand, tiba dengan koper medis.

Rayhan—yang kebetulan sedang berkomunikasi dengan Daren—masuk terburu-buru.

“Bos sudah dekat di gerbang desa!” katanya.

Nina mengangguk. “Bagus. Dokter sedang periksa.”

Dokter Rimba mengambil sampel darah cepat, memeriksa tekanan darah, detak jantung, pupil mata, dan refleks tubuh. Semua orang tegang menunggu, terutama Pak Wira yang tak henti-henti berjalan mondar-mandir.

Setelah beberapa menit, dokter menarik napas panjang.

“Saya tahu penyebabnya.”

Semua langsung menoleh tajam.

Dokter menatap Pak Wira lalu Rayhan.

“Bu Nirmala tidak pingsan karena shock saja… tapi karena hamil muda.”

Keheningan panjang menyelimuti ruangan.

Nina hampir menjatuhkan botol air di tangannya.

Pak Wira terdiam sambil mengalihkan pandangannya.

Rayhan… justru menaik-turunkan alis sambil menahan senyum lebar.

Dan tepat saat itu, Daren masuk terburu-buru.

“Mala! Aku dengar dia pings—”

Langkah Daren berhenti tepat di tengah pintu ketika melihat ekspresi semua orang.

Rayhan dengan wajah paling tidak tahu malu menunjuk Daren menggunakan dagu sambil berkata,

“Selamat, Bos… bibitnya kualitas super.”

Daren memutar kepala perlahan, menatap Rayhan dengan mata membesar dan rahang tegang.

“Ray… aku sumpah kalau kau buka mulut lagi—”

Rayhan menaikkan alis dua kali. “Fakta tidak bisa dipungkiri, Bos.”

Nina buru-buru menutup mulut Rayhan agar Daren tidak meledak.

Pak Wira memijit pelipis. “Jadi… saya akan segera punya cucu...?”

Dokter mengangguk sopan. “Baru usia tiga sampai empat minggu. Itu sebabnya dia mudah lelah, emosinya naik turun, dan pingsan.”

Daren mendekati tempat tidur dengan hati-hati. Ia memandang wajah Mala yang masih pingsan, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memegang tangannya.

Wajah Daren tampak pucat dan kacau—percampuran antara kaget, takut, lega, dan panik.

“Aku… bakal jadi ayah?” gumamnya lirih, seperti tidak percaya.

Rayhan bersandar ke dinding sambil berbisik ke Nina, “Baru kali ini gue liat Bos kayak gini. Biasanya kena skandal di media aja mukanya datar.”

Nina mencubit pinggang Rayhan. “Diam!”

---

Dokter memberikan instruksi.

“Bu Mala harus istirahat total. Jangan stres, jangan ke kota dulu. Tidak boleh berkegiatan berat.”

“Tidak boleh ke kota?” ulang Mala pelan.

Ternyata ia sudah setengah sadar. Matanya terbuka sedikit.

Semua langsung mendekat.

“Nak… kamu pusing?” tanya Pak Wira lembut.

Mala menatap sekeliling bingung. “Aku pingsan ya? Kenapa aku—”

Daren menggenggam tangannya. “Karena kamu hamil.”

Mala langsung membeku.

“A… apa?”

Matanya melebar setengah lingkaran.

“HAMIL?! Aku?!”

Nina mengangguk pelan. “Iya, Bu.”

Rayhan dari belakang mengangkat dua jempol. “Kerja bagus, Bu.”

Daren melotot. “Rayhan.”

Rayhan: angkat tangan tanda menyerah.

Mala menutup wajah dengan kedua tangan. Pipinya memerah, bukan karena malu… tapi karena kaget luar biasa.

“Aku… hamil. Buah dari… kejadian itu?”

Daren menunduk, suaranya pecah. “Iya, Mala… dan aku akan tanggung jawab sepenuhnya.”

Mala menarik napas panjang, lalu berkata lirih, “Setidaknya aku tidak sendirian lagi.”

Daren meremas tangannya kuat. “Kamu tidak akan pernah sendirian lagi.”

---

Setelah dokter pergi, penjagaan dinaikkan ke level tertinggi.

Dua bodyguard berjaga di pintu.

Dua lagi mengitari rumah.

Satu berada di dalam rumah dekat kamar.

CCTV portable dipasang di setiap sudut.

Sinyal handphone dipantau oleh hacker tim Armand.

Penjagaan sekarang sangat mencolok hingga warga desa mulai berkerumun di jalan, berbisik-bisik.

“Ya ampun, hamil katanya… pantas Daren panik.”

“Bener juga ya, Melisa jahat sekali…”

“Kita harus jaga-jaga, siapa tahu bahaya menyebar.”

Desa itu sudah seperti zona perang diam-diam.

Mala akhirnya duduk bersandar, wajahnya masih pucat tapi sudah lebih baik.

Ia menatap Daren dengan mata yang sedikit basah.

“Sepertinya… aku batal ke kota.”

Daren memegang pipinya lembut. “Kamu nggak akan kemana-mana. Mulai sekarang, kamu fokus jaga diri dan bayi kita.”

iya bang, kita jaga anak kita,tapi aku khawatir kalau melisa tau aku hamil pasti yang jadi target nya bertambah.

Aku dan anak kita....

Sstt.... Ada aku suami mu,aku akan melakukan berbagai cara untuk menjaga mu dan juga calon anak kita.

Assalamualaikum selamat malam

Selamat membaca...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!