NovelToon NovelToon
Gadis Polos Kesayangan Tuan Mafia

Gadis Polos Kesayangan Tuan Mafia

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:159k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Sebelum lanjut membaca, boleh mampir di season 1 nya "Membawa Lari Benih Sang Mafia"

***

Malika, gadis polos berusia 19 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Dijual oleh pamannya demi sejumlah uang, ia terpaksa memasuki kamar hotel milik mafia paling menakutkan di kota itu.

“Temukan gadis gila yang sudah berani menendang asetku!” perintah Alexander pada tangan kanannya.

Sejak malam itu, Alexander yang sudah memiliki tunangan justru terobsesi. Ia bersumpah akan mendapatkan Malika, meski harus menentang keluarganya dan bahkan seluruh dunia.

Akankah Alexander berhasil menemukan gadis itu ataukah justru gadis itu adalah kelemahan yang akan menghancurkan dirinya sendiri?

Dan sanggupkah Malika bertahan ketika ia menjadi incaran pria paling berbahaya di Milan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Albert pulang lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya dipenuhi satu hal, Malika.

Sejak kejadian gadis itu bertemu Tuan Muda Alexander dan hampir membuat pria itu murka hanya gara-gara seekor kucing, Malika terus mengurung diri.

Jelas saja hal itu membuat Albert gelisah setengah mati. Ia berdiri di depan pintu kamar, mengetuk berkali-kali.

Tok! Tok! Tok!

“Malika, ini Paman. Bukalah pintunya, Nak,” panggil Albert, berusaha tetap tenang.

Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang membuat dada Albert semakin sesak.

Ia mengetuk lebih keras.

“Malika? Kau baik-baik saja? Jawab Paman!”

Tetap sunyi.

Rasa khawatir mengalahkan segalanya. Albert menarik napas panjang, lalu dengan satu hentakan kuat mendobrak pintu.

Pintu itu terbuka keras, menimbulkan debu halus yang jatuh dari kusennya dan suara brak yang menggema di ruangan.

“Malika!” Albert melangkah cepat, siap menghadapi kemungkinan terburuk, bahwa gadis itu menangis, shock, atau lebih buruk lagi, melarikan diri karena ketakutan.

Namun yang ia temukan justru membuatnya terhenti.

Di atas ranjang, Malika tidur pulas. Bahkan terdengar dengkuran halus yang entah bagaimana membuat hati Albert tenang dan sekaligus kesal.

Bagaimana bisa Malika malah enak-enakan tidur sementara Albert begitu mengkhawatirkannya?

“Syukurlah,” desahnya sembari menepuk dadanya sendiri. “Paman pikir kau melakukan sesuatu yang bodoh. Rupanya pikiran tua ini terlalu payah.”

Albert mendekat perlahan, lalu duduk di tepi tempat tidur. Malika tampak begitu damai, kontras dengan kekacauan yang baru saja ia timbulkan.

Ujung rambutnya berantakan, pipinya menempel pada Pumpkin, kucing oranye gembul yang menjadi sumber kekacauan tadi pagi.

Albert mengulurkan tangan, mengusap lembut kening gadis itu.

“Malika, kau benar-benar istimewa,” gumamnya lirih. “Saat pertama kali melihatmu, Paman tahu dunia Paman akan berubah. Dan Paman tidak menyangka kau masih hidup setelah membuat Tuan Muda marah besar hanya karena seekor kucing. Binatang paling ia benci.”

Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya. Albert mengusapnya cepat, seolah malu pada perasaannya sendiri.

“Paman hanya berharap kau bisa bahagia di sini, bersama Paman.” bisiknya.

Gerakan tangannya rupanya mengusik Malika. Gadis itu mengerjapkan mata, tampak bingung beberapa detik sebelum akhirnya menatap Albert.

“Paman sudah pulang?” tanyanya dengan suara serak baru bangun tidur. “Lho, kenapa Paman menangis? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

Albert buru-buru menggeleng. “Tidak, tidak. Paman hanya kelilipan.” Ia tersenyum canggung, menyembunyikan rasa bersalahnya.

“Oh.” Malika mengangguk begitu saja, menerima alasan itu tanpa curiga sedikit pun.

Sikap polosnya, entah kenapa, selalu membuat Albert ingin tertawa. Gadis itu lalu memeluk Pumpkin lagi seolah tadi tak terjadi apa-apa.

“Astaga, pintunya rusak?!” pekik Malika menunjuk ke belakang Albert dan Albert hanya garuk-garuk kepala.

Belum sempat Albert bicara lebih jauh, Sofia muncul di ambang pintu dengan wajah tegang dan napas memburu.

“Albert, ini gawat!” ucap Sofia dengan terengah karena panik.

“Ada apa Sofia? Apakah mansion diserang? Atau ada mata-mata yang menyelinap masuk?” tanya Albert, reflek teringat tugas utamanya jika ada kekacauan mendadak.

Sofia menggeleng keras. “Bukan. Masalah ini, jauh lebih gawat dari serangan musuh. Ini menyangkut Tuan Muda.”

Albert dan Malika saling pandang. Keduanya sama-sama bingung dan khawatir. Meskipun tingkat kekhawatiran Malika masih sebatas mengganggu waktu tidur siangnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” desak Albert, mencoba mengendalikan nada suaranya.

Sofia menelan ludah, tampak ragu untuk menyampaikan kabar itu, takut dengan reaksi Albert.

“Tuan Muda… itu… dia…”

“Katakan yang jelas, Sofia!” seru Albert dengan nada tinggi tanpa ia sadar.

Sofia memejam satu detik, lalu berkata cepat seperti melepaskan beban besar.

“Tuan Muda ingin Malika datang ke kamar beliau. Siang nanti!”

Deg!

Darah Albert seperti berhenti mengalir. Lututnya lemas sampai hampir jatuh dari duduknya. Wajahnya langsung pucat pasi.

Sementara Malika hanya mengedip polos. Sekali, dua kali, seakan berusaha mencerna kalimat tersebut. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya makna itu benar-benar masuk ke otaknya.

Begitu sadar, Malika terlonjak.

“Apa?! Tuan Muda ingin Lika datang ke kamarnya?!” pekiknya.

Pumpkin ikut terbangun dan meloncat kaget.

“Ini tidak mungkin! Sofia, apakah kau yakin tidak salah dengar?”

“Mana mungkin aku salah dengar? Tuan Muda sendiri memberi perintah padaku. Hari ini dia akan pulang lebih awal,” jawab Sofia panik.

Malika, yang masih kebingungan setengah hidup setengah masih tidur, mengangkat tangan pelan seperti anak sekolah yang ingin bertanya.

“Paman, kalau Tuan Muda memanggilku ke kamar, apakah itu berarti aku disuruh bersih-bersih?” tanyanya dengan wajah lugu.

Albert dan Sofia menatap Malika dengan tatapan yang sama, antara ingin menangis dan ingin menampar kening sendiri karena kepolosannya.

“Malika, jika masalahnya hanya membersihkan kamar, Tuan Muda tidak akan memanggilmu sendirian di jam seperti ini,” ucap Albert.

Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa panggilan itu bisa menjadi hukuman, atau lebih buruk.

1
tinie
nah tebakanku Malika anaknya Jenifer yg dibuang atau ditukar sama bayi yg mati
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Febby fadila
yaaa kok udah tamat aja Thor astaga, blom juga punya anak gimana ya ampun
Febby fadila
Jimmy tugasmu bertambah untuk membeli pabrik kerupuk kesukaan calon nyonya federick
Febby fadila
kasihan Malika karena sellu disiksa sama John gila itu jadinya dia JD gadis yg tumbuh dlm kepolosan
Febby fadila
jangan egois dong bang Al, kasih Malika kesempatan untuk merasakan cinta dari ortunya, cos khaylin kamu bisa jaga dia lbih ketat lagi agar tidak bertindak lbih jauh untuk menyakiti malika
Febby fadila
yaa ketahuan kan klw kamu menyimpan rasa Sama leana
Febby fadila
khaylin ini emang rada gila terlalu obsesi karena ketakutan yg nggak jls padahal enak tu punya kakak kandung bisa berbagi cerita dan saling melngkapi
Febby fadila
nggak masalah cuman dicicip sedikit kok tuan muda 🤣🤣🤣🤣 yg penting jaga pertahanan
Febby fadila
tenang Jimmy bocah kematianmu lagi jatuh cinta sama kek papax dulu 🤣🤣🤣
Febby fadila
Alex harus menjaga Malika Denga baik karena khaylin sebagai adik lagi nggak waras
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣 iya benar Leon singa, Malika kamu ini ada² aja
Febby fadila
ckk.. khaylin jangan serakah, kamu itu seorang adik kandung tp sifatmu mencerminkan sikap yang tidak baik
Febby fadila
betul sekali tidak ada jln lain selain tes DNA
Febby fadila
ckkk... salah kamu sendiri klw bilang ciuman itu adalah tanda terima kasih
Febby fadila
🤣🤣🤣🤣🤣 malu ya Alex apalagi kalaw tau Malika pernah cium Leon sebagai salam perpisahan 🤣🤣🤣 langsung keluar asap tu dari kepala Alex 🤣🤣
Febby fadila
iya senjata yg akan membuatmu terbang nirwana 🤣🤣🤣 sekali ditembak
Febby fadila
jangan membantah ya Lika karena ada adikmu yg nggak tau diri itu nggak mulai ngak waras mau nyakitin kamu karena obsesinya
Febby fadila
astaga emangx benar kata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohon sama kek khaylin ini sama kek Jenifer masih muda dulu
Febby fadila
awas kamu Jim klw sampai kamu belok lho 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!