Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Jajan
Malam itu suasana ruang makan keluarga Atlas terasa hangat dan tenang, hidangan penutup masih tersaji rapi di meja. Terlihat para pelayan berdiri berjejer rapi.
Naomi duduk di antara Max dan Nyonya Arumi, perutnya kenyang, hatinya pun terasa jauh lebih penuh dibandingkan setahun terakhir yang ia lalui.
Nyonya Arumi mengelap bibirnya dengan tisu, lalu menoleh ke arah Naomi dengan senyum penuh kasih.
“Naomi,” katanya lembut, “ini untukmu.” Ia menyodorkan sebuah kartu hitam mengilap.
Naomi berkedip, menatap kartu itu sejenak. “Ma … ini apa?”
“Kartu tanpa batas,” jawab Nyonya Arumi santai, seolah itu hanya kartu belanja biasa. “Mama ingin kamu pakai sesukamu. Anggap saja ini, pengganti semua yang tidak pernah kamu dapatkan selama setahun belakangan ini.”
Ya, semenjak Naomi masuk ke kediaman Eliois, ia menolak uang dari keluarga Atlas dan bodohmya Naomi seperti orang miskin di sana.
Naomi terlihat terdiam sepersekian detik, lalu matanya langsung berbinar terang. Tanpa ragu, ia menerima kartu itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Ma,” katanya tulus. “Aku janji tidak akan boros … eh tidak terlalu boros.”
Nyonya Arumi tertawa kecil.
Belum sempat Naomi menyimpan kartu itu, Tuan Bastian ikut menyelipkan satu kartu lain ke hadapannya.
“Ini dari Papa,” katanya sambil tersenyum bangga. “Uang jajan putri Papa.”
Naomi menatap kartu kedua itu, lalu mendongak dengan ekspresi nyaris tidak percaya. “Papa serius?”
“Tentu saja,” jawab Tuan Bastian. “Putri Papa pulang ke rumah. Masa uang jajannya kalah dari orang luar?”
Naomi langsung tertawa kecil, wajahnya berseri-seri. “Terima kasih, Pa!”
Naomi laalu menoleh ke samping ke arah Max.
Dengan santai, Naomi menadahkan tangannya ke depan Max, telapak tangannya terbuka lebar.
Max menatap tangan itu, lalu menatap wajah Naomi dengan alis berkerut.
“Apa?” tanyanya dingin.
Naomi berdecak kesal. “Kak Max, masa uang jajan dari Mama dan Papa sudah ada, dari Kak Max belum?”
Tuan Bastian dan Nyonya Arumi langsung saling pandang, lalu terkekeh kecil.
Max menyilangkan lengannya. “Kamu mau apa?”
Naomi menyeringai. Belum sempat ia menjawab, Max melanjutkan dengan nada datar,
“Saham? Mall? Perusahaan? Mobil baru? Atau pulau?”
Mata Naomi langsung berbinar semakin terang. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Max, senyumnya berubah jahil. “Kalau boleh … aku mau semuanya.”
Tanpa ragu sedikit pun, Max mengangguk. “Baik.”
Max langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor asistennya.
Naomi langsung panik. “Eh—tunggu! Kak Max!” Ia buru-buru meraih tangan Max, menahan ponsel itu. “Aku bercanda!”
Max menoleh, menatapnya datar. “Sudah terlanjur.”
Naomi membeku. “Terlanjur … apa?”
“Perintahnya sudah jalan, dan tidak boleh dibatalkan lagi,” jawab Max singkat.
Mata Naomi membulat sempurna. Jantungnya berdetak kencang. Dalam hati ia benar-benar kacau, ia memang membutuhkan uang, bahkan sangat banyak, untuk misi dan persiapan menghadapi badai salju itu. Naomi berencana akan membeli bahan pangan dan lainnya dengan uang itu. Tapi bukan seperti ini. Bukan tanpa perlawanan. Bukan tanpa alasan yang masuk akal.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata cepat dengan wajah serius, “Tidak perlu, Kak. Sungguh. Aku cuma bercanda.”
Max menatapnya, ekspresinya tak berubah. “Kenapa?”
Naomi terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Nanti, apa yang Kakak mau jadikan mahar untuk calon istri Kakak, kalau semuanya kakak berikan padaku?”
Ucapan itu membuat Max terdiam. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, ekspresi Max benar-benar berhenti.
Ia menatap Naomi lama. Kamu calon istriku.
Kalimat itu hanya terucap di dalam hatinya, tapi tidak keluar dari bibirnya.
Tuan Bastian melirik istrinya, lalu tersenyum kecil. “Naomi,” katanya santai, “terima saja. Biar Max yang pusing cari uang lagi.”
“Iya,” sambung Nyonya Arumi. “Dia memang begitu. Kalau sudah niat memberi, tidak pernah setengah-setengah.”
Naomi menghela napas panjang. Akhirnya, ia menurut. Dengan wajah cemberut, ia meletakkan dagunya di atas meja, pipinya sedikit mengembang.
“Kenapa rasanya aku malah seperti orang yang dipaksa kaya, sih?” gumamnya pelan.
Max melirik sekilas ke arahnya. “Biasakan saja,” katanya dingin. “Kamu anak keluarga Atlas dan juga nyonya keluarga Atlas.”
Perkataan terakhir Max hanya tentu ia berani ucapkan dalam hatinya.
Naomi mendengus kecil, tapi sudut bibirnya tak bisa menahan senyum tipis.
*
Pagi itu udara di sekitar Universitas Volkov terasa sejuk. Bangunan-bangunan megah bergaya klasik berdiri anggun, dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Mobil hitam yang ditumpangi Naomi berhenti tepat di area drop-off khusus.
Naomi turun sambil menyampirkan tas di bahunya. Ia menatap gerbang universitas itu sejenak, bibirnya melengkung tipis.
“Akhirnya,” gumamnya.
Begitu melangkah masuk, dari kejauhan ia sudah melihat tiga sosok yang sangat dikenalnya. Yura dengan rambut pendeknya yang terlihat sporty, Sonya yang anggun dengan senyum lembut, dan Timmy yang berdiri sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat.
“Naomi!” seru Timmy lantang tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain.
Yura dan Sonya turut melambaikan tangan.
Naomi segera menghampiri mereka. Namun, alih-alih tersenyum, wajahnya justru tampak cemberut.
“Kalian tahu tidak, aku pulang ke kediaman keluarga Atlas kemarin,” oceh Naomi begitu berdiri di hadapan mereka.
Yura mengangguk singkat. “Kami tahu.”
“Tapi kenpa tidak satu pun dari kalian datang menjemputku,” lanjut Naomi sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Sebagai sahabat, apakah kalian tidak merasa bersalah?”
Timmy refleks mengangkat kedua tangannya. “Tunggu sebentar. Jangan langsung menuduh seperti itu.”
Sonya tersenyum canggung. “Naomi, sebenarnya kami—”
“Kalian memiliki urusan mendadak,” potong Yura
Naomi sambil menghela napas kecil. “Alasan yang sangat klasik.”
Ketiganya saling berpandangan.
Sonya akhirnya berbicara. “Benar. Kami memiliki keperluan mendadak.”
Timmy mengangguk cepat. “Ya, sangat mendadak.”
Naomi menyipitkan mata, menatap mereka satu per satu. “Kenapa jawaban kalian terdengar sangat kompak?”
Sonya terkekeh pelan. “Itu hanya kebetulan.”
Dalam hati, ketiganya terdiam bersamaan.
Bagaimana mungkin mereka mengatakan yang sebenarnya? Bahwa Max Atlas kakak angkat Naomi yang terkenal dingin dan memiliki aura menekan secara tidak langsung membuat Timmy tidak diizinkan mendekat. Tatapan Max kemarin saja sudah cukup membuat Timmy merasa terintimidasi.
Naomi akhirnya mendengus kecil. “Baiklah. Kali ini aku akan percaya kalian.”
Timmy menghela napas lega. “Syukurlah.”
Yura menepuk bahu Naomi dengan ringan. “Yang terpenting, kamu sudah kembali ke rumah Atlas. Kamu terlihat lebih hidup.”
Sonya mengangguk setuju. “Benar. Wajahmu tampak berbeda.”
Naomi terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku juga merasakannya.”
“Mari kita masuk,” ujar Yura. “Jika terlambat lagi, dosen bisa sangat tidak bersahabat.”
Timmy meringis. “Itu bukan kemungkinan. Itu kepastian.”
Keempatnya berjalan berdampingan menuju gedung Fakultas Bisnis. Beberapa mahasiswa melirik Naomi, sebagian berbisik pelan. Nama Atlas memang bukan nama yang asing di kampus itu.
Naomi berpura-pura tidak menyadarinya.
Di dalam kelas, mereka segera menempati tempat duduk yang biasa dua bangku panjang di bagian tengah.
.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....