Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Coba Satu Kecupan
Menit demi menit berlalu.
Stella tidak mengatakan apa pun. Es krim di atas meja pun mulai mencair. Kayson meraihnya dan memasukkannya kembali ke dalam freezer.
“Ini kedua kalinya lo nyebut gue itu cinta pertama Riggs.”
Kayson membanting pintu freezer. Itulah masalah terbesarnya. Dia mendengar Riggs menceritakan perasaannya dua bulan setelah Kayson mencium Stella.
Dua bulan sialan.
“Kayaknya lo salah paham.”
Kayson menatapnya. Tangan Stella terjalin gelisah di depan tubuhnya.
“Gue enggak pernah tidur sama Riggs. Dia sahabat terbaik gue. Tidur bareng dia cuma bakal ngerusak semuanya. Enggak bakal membantu apa pun. Gue terlalu menghargai apa yang gue punya sama dia buat kehilangan itu cuma gara-gara seks.”
Sial.
Ya Tuhan … suaranya bahkan terdengar seksi saat Stella mengernyit menatapnya.
Kejutan menjalar ke seluruh tubuh Kayson. “Lo enggak pernah tidur sama adik gue?”
“Enggak. Gue enggak pernah tidur sama Riggs.”
Detak jantung Kayson berpacu. “Lo sering nginep di rumah dia. Dia bilang gitu tadi malam. Gue tahu Lo pasti ud—”
“Gue tidur di sofa! Waktu kita minum dan gue enggak mau nyetir pulang. Gue juga sering nginep di rumah dia waktu kuliah. Dia juga nginep di rumah gue. Lama-lama jadi kebiasaan. Begitulah kalau sahabat.”
Dia akan membunuh Riggs.
“Gue pernah dengar … dia bilang lo yang pertama—”
Bibir Stella mengatup, matanya berkedip pelan. “Gue enggak tahu kapan lo dengar dia bilang itu atau dia ngomong sama siapa, tapi gue bilang sekarang ya ... Dengerin ... gue enggak pernah tidur sama Riggs. Mau lo percaya atau nggak, itu pilihan lo.”
Napas Kayson terasa panas. Selama bertahun-tahun Kayson menjauh darinya, tersiksa oleh bayangan mereka bersama, dan ternyata ... Semua itu tanpa alasan yang jelas.
“Sekadar informasi, gue juga enggak tidur sama siapa pun sekarang. Gue enggak lagi dekat sama siapa pun,” tambah Stella, pipinya sedikit merona.
“Gue juga,” sahut Kayson sembari melangkah mendekat. “Gue kan bukan sahabat lo, Stella. Lo enggak perlu takut ngerusak persahabatan sama gue.”
Bibir Stella sedikit melengkung. “Gue rasa itu … bonus?”
“Gue mau lo.”
Tatapan Kayson turun ke dadanya.
“Lo juga enggak nyuruh gue pergi.” Kayson terus mendekat. Mimpinya kini tepat di depannya. “Lo juga enggak kabur dari dapur ini.”
“Enggak.”
“Kenapa?” Dia berhenti tepat di hadapan Stella. Kayson hanya perlu menyentuhnya. Tangannya terangkat, jari-jarinya menyusuri pipinya yang halus dan lembut. “Karena Lo masih ingat ciuman itu?”
Bulu mata Stella berkedip. “Gue cuma ingat betapa sakitnya waktu lo pergi sama cewek lain keesokan harinya Tapi gue bukan lagi cewek lima belas tahun. Lo juga bukan lagi bocah tujuh belas. Kita orang dewasa dan mungkin … mungkin gue pingin tahu apakah ciuman itu masih seindah dulu. Mungkin sudah waktunya kita cari tahu.”
Kepala Stella sedikit mendongak.
“Oke kita coba satu ciuman. Apa akan ada yang terluka? Maksud gue, kita bisa aja berciuman lalu sadar kalau sebenarnya kita enggak punya ketertarikan satu sama lain. Dan emang enggak ada apa-apa di antara kita.”
Omong kosong.
Kayson menginginkannya sampai seluruh tubuhnya terasa sakit. Dia terbangun di malam hari karena mimpi tentang Stella menghantuinya.
“Kita lihat saja apa yang terjadi. Gue sama lo ...” Tatapannya mencari mata Kayson. “... Tanpa ikatan. Kita coba satu ciuman.”
Tangan Kayson menyusup ke bawah rambut perempuan itu. Ia membungkuk untuk mendekat.
Tubuhnya kecil, sedikit di atas satu setengah meter, sementara tubuh Kayson menjulang lebih dari satu meter sembilan puluh. Sejak dulu Kayson tahu ia harus berhati-hati dengan Stella. Sangat berhati-hati.
Memperlakukannya dengan seluruh kelembutan yang ia miliki, Itu sesuatu yang sulit, mengingat betapa liar Kayson menginginkannya.
“Kita enggak bakal cerita ke Riggs soal ini,” bisik Stella. “Belum sekarang maksud gue. Ini kan cuma ciuman.”
Bibir Kayson menekan bibir perempuan itu.
Lembut.
Hati-hati.
Lalu, mulut Stella terbuka menyambutnya. Lidahnya saling bersahutan. Hasrat mereka pun meledak.
Hanya sebuah ciuman. Kayson mengecap rasanya, terus mengecapnya, hingga kehilangan kendali.
Tangan Stella melingkari bahunya, menariknya lebih dekat. Kayson bisa merasakan payudara itu menekan tubuhnya. Lengkungan lembutnya. Kismis yang menegang. Kayson bisa merasakan seluruh hangat tubuh Stella.
Kayson mengangkatnya dalam pelukan sambil terus menciumnya. Membawanya terbang dengan mulutnya.
Kaki perempuan itu melingkari tubuh Kayson. Tangannya mencengkeram pinggangnya, dan ereksinya menekan ke arahnya, panjang, keras, tebal.
Kemejanya, kemeja milik Kayson yang dikenakan Stella, terangkat, dan tubuhnya yang tegang menekan langsung ke pertemuan antara pahanya.
Mereka melambat. Jauh lebih pelan. Kayson terus menciumnya. Membelainya dengan mulut dan lidah.
Perempuan itu sudah senang luar biasa saat mereka berciuman sebelumnya di sekolah.
Sekarang dia benar-benar menakjubkan, dan Stella sungguh ingin menghajar setiap pria yang pernah menciumnya setelah Kayson.
Buang-buang waktu. Terlalu banyak waktu terbuang. Seharusnya sejak dulu Stella bersamanya.
Kayson mengangkat perempuan itu ke atas meja. Stella terduduk. Kayson melepaskan tangannya dari pinggang Stella lalu menumpuknya di atas meja, di kedua sisi tubuhnya, sementara ia terus menciumnya.
Di suatu tempat di rumah sialan ini, sebuah telepon berdering. Kayson mengabaikannya.
Namun tangan Stella bergerak cepat. Ia mendorong dada Kayson. “Kayaknya … itu telepon gue.” Napasnya terengah.
“Biarin aja,” gumam Kayson sambil mencium lehernya.
Tubuh perempuan itu gemetar. Melengkung ke arahnya. Kayson mengisap kulitnya tepat di atas denyut nadi Stella yang berdebar.
“Cuma … astaga, enak banget.”
Stella tak lagi mendengar deringnya.
Bagus.
Siapa pun itu bisa menelepon kembali di waktu yang jauh lebih tepat.
“Ini … sudah lewat tengah malam. Kenapa ada yang nelepon gue .…”
Suara dering lain memenuhi udara. Kali ini berasal dari HP Kayson sendiri, yang masih ada di saku belakangnya. Ia lupa pada benda itu.
“Angkat,” pinta Stella.
Kayson menatap perempuan itu. Bibir merah. Mata indah. Pipi merona.
Dia lah yang menyebabkan semua itu. Kayson telah membangkitkan gairahnya. Perempuan itu merasakan hasrat liar yang sama dengannya.
Hanya sebuah ciuman. Bukan, bukan sekadar ciuman. Sebuah permulaan.
Telepon itu berdering lagi dan, sial, ia mengenali nada dering yang menyebalkan itu.
Riggs.
Kayson mundur, napasnya berat, lalu menarik HP dari sakunya.
“Harusnya Lo telepon gue kalau bener-bener darurat banget,” geram Kayson.
“Stella!” balas Riggs cepat. “Gue coba telepon dia, tapi enggak diangkat. Dia ada sama lo, kan? Dia aman?”
Stella duduk di meja dapur, tampak seperti dosa terindah yang pernah Kayson lihat.
“Dia aman. Dia sama gue.”
“Denger, gue barusan ditelepon polisi. Mereka bilang udah coba hubungi dia tapi enggak bisa, dan karena gue kontak darurat yang dia cantumin, jadi mereka nelepon gue.”
Ketegangan langsung menjalar di tubuh Kayson. “Apa yang terjadi?”
“Rumahnya, bro … sial!” Suara Riggs bergetar. “Kebakaran! Polisi patroli yang lihat duluan. Ada bajingan yang sengaja membakar rumah Stella!”
...────୨ৎ────...
...Hi....
...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....
...Terima kasih....
...────୨ৎ────...