Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Sugar Coated Invitation
Pagi hari
Sebuah amplop bersegel emas diletakkan di atas meja kerja Anthenia.
Kertasnya tebal, wanginya lembut—ciri khas rumah bangsawan tua.
Anthenia membuka segel itu perlahan.
Undangan Pesta Teh
Diselenggarakan oleh
Grand Duke Flavius, Maximus Flavius
dan putrinya
Lady Minerva Flavius (16 tahun)
Mengundang seluruh bangsawan wanita
termasuk Tuan Putri Kekaisaran
Tempat: Kediaman Flavius
Waktu: Dua hari lagi, sore hari
Anthenia membaca sampai baris terakhir, lalu menutup surat itu tanpa ekspresi.
“Oh,” gumamnya pelan.
“Sepertinya ini akan menarik.”
—
Lorong istana
Nelia berlari kecil menyusulnya, membawa undangannya sendiri.
“Lady Anthenia! Kau juga dapat, kan?” katanya antusias.
“Ibu bilang keluarga Flavius jarang mengundang pesta teh besar.”
Anthenia mengangguk.
“Karena mereka tidak pernah melakukan apa pun tanpa alasan,” jawabnya tenang.
Nelia berkedip.
“Eh?”
“Tidak apa-apa,” Anthenia tersenyum kecil.
“Kau akan menikmatinya.”
Namun dalam benaknya, pikirannya bergerak cepat.
Flavius netral.
Tua, berpengaruh, dan disegani semua pihak.
Jika mereka bergerak sekarang… berarti keseimbangan istana mulai goyah.
—
Sayap selir — waktu yang sama
Heilen Valerius membaca undangan itu sambil tersenyum tipis.
“Minerva Flavius,” gumamnya.
“Anak yang pintar memilih waktu.”
Ia melipat surat itu rapi.
“Pesta teh,” katanya pelan,
“adalah medan perang terbaik bagi mereka yang tidak boleh menghunus pedang.”
—
Kediaman Flavius — sore hari
Minerva Flavius duduk di depan cermin, rambutnya disisir rapi. Wajahnya muda, tapi matanya tajam—tidak polos seperti usianya.
“Apakah aku melakukan hal yang benar, Ayah?” tanyanya pelan.
Grand Duke Maximus Flavius berdiri di belakangnya.
“Kau tidak memilih pihak,” katanya tenang.
“Kau hanya membuka pintu.”
Minerva tersenyum kecil.
“Dan membiarkan mereka menunjukkan wajah aslinya?”
Maximus mengangguk.
“Terutama Lady Blackwood,” lanjutnya.
“Seluruh istana sedang menatapnya.”
Minerva menurunkan pandangannya, bibirnya melengkung samar.
“Aku ingin melihat,” katanya lembut,
“apakah dia benar-benar selembut yang mereka katakan.”
—
Kamar Anthenia — malam
Anthenia berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu istana Araluen.
Pesta teh seluruh bangsawan wanita, pikirnya.
Dengan keluarga Flavius sebagai tuan rumah.
Ia tersenyum tipis—dingin.
Ini bukan undangan.
Ini pengujian.
Dan kali ini,
ia tidak berniat hanya duduk diam sambil menyeruput teh.
Kediaman Grand Duke Flavius — sore hari
Gerbang besi berornamen singa terbuka perlahan.
Kereta-kereta bangsawan berderet rapi, lambang keluarga berkilau di bawah cahaya sore. Taman Flavius tertata sempurna—mawar putih dan biru mendominasi, menandakan netralitas rumah itu.
Anthenia turun dari keretanya dengan langkah tenang. Gaun berwarna abu-abu kebiruan membalut tubuhnya, sederhana namun elegan. Tidak mencolok—namun mustahil diabaikan.
Beberapa bisikan langsung muncul.
“Itu dia…”
“Putri Blackwood…”
“Yang dekat dengan Putra Mahkota…”
Nelia turun menyusul, merapatkan jarak di sisi Anthenia.
“Semua orang melihatmu,” bisiknya.
“Biarkan,” jawab Anthenia pelan.
“Yang berbahaya bukan tatapan. Tapi niat di baliknya.”
—
Teras utama
Seorang gadis berambut cokelat gelap melangkah maju, didampingi Grand Duke Maximus Flavius.
Wajahnya lembut, senyumnya sopan—namun matanya tajam dan penuh perhitungan.
“Selamat datang,” ucapnya manis.
“Aku Minerva Flavius.”
Ia menunduk anggun pada Nelia lebih dulu, lalu menoleh ke Anthenia.
“Lady Blackwood,” lanjutnya.
“Akhirnya kita bertemu.”
Anthenia membalas dengan hormat yang seimbang.
“Terima kasih atas undangannya, Lady Minerva.”
Minerva tersenyum kecil, seolah puas.
“Aku harap pesta teh ini menyenangkan,” katanya.
“Untuk semua.”
Nada suaranya halus—
namun Anthenia menangkap maknanya.
Bukan semua akan merasa nyaman, pikirnya.
—
Taman belakang — pesta dimulai
Meja-meja kecil tersusun rapi. Cangkir porselen berhiaskan lambang Flavius berkilau di bawah sinar matahari.
Para bangsawan wanita mulai bercengkerama.
Elza Lavenza duduk tak jauh, bersama Beatrice dan Adelaide. Genevieve memilih duduk dekat Nelia.
Heilen Valerius datang belakangan—tenang, penuh wibawa.
Tatapan mereka bertemu sekilas.
Tidak ada senyum.
Tidak ada anggukan.
Hanya pengakuan diam-diam:
kau juga di sini.
Minerva berdiri di tengah taman.
“Terima kasih telah datang,” ucapnya ceria.
“Hari ini, aku hanya ingin kita menikmati teh, kue, dan percakapan ringan.”
Beberapa wanita tersenyum.
Anthenia mengangkat cangkirnya perlahan.
Percakapan ringan, pikirnya.
Di istana, itu berarti siapa yang pertama tergelincir.
—
Beberapa menit kemudian
Minerva duduk di samping Anthenia.
“Lady Blackwood,” katanya lembut,
“aku sering mendengar namamu akhir-akhir ini.”
“Tentu saja,” jawab Anthenia.
“Araluen tidak pernah kehabisan cerita.”
Minerva terkekeh kecil.
“Kau tidak keberatan, kan… jika aku bertanya?”
“Bagaimana rasanya berada di pusat perhatian?”
Anthenia menyesap tehnya dengan tenang.
“Seperti duduk di tengah taman,” katanya pelan.
“Indah—dan penuh duri.”
Minerva terdiam sejenak.
Lalu tersenyum lebih lebar.
“Aku suka jawaban itu.”
Di kejauhan, Heilen memperhatikan mereka.
Elza membisikkan sesuatu pada Beatrice.
Dan tanpa disadari banyak orang,
pesta teh ini telah berubah—
bukan lagi tentang minuman hangat,
melainkan tentang siapa yang akan menguasai narasi.
Anthenia meletakkan cangkirnya.
Baiklah, pikirnya dingin.
Mainkan.
Taman belakang Kediaman Flavius — sore semakin condong
Angin sore berembus lembut, menggoyangkan pita-pita tipis di meja teh.
Minerva berdiri kembali, kali ini dengan senyum yang lebih cerah.
“Aku ingin mendengar pendapat kalian,” katanya ringan.
“Menurut kalian, apa peran terpenting seorang bangsawan wanita di kekaisaran?”
Pertanyaan itu terdengar polos.
Namun beberapa wanita langsung menegang.
Beatrice Miller menjawab lebih dulu.
“Tentu saja menjaga martabat keluarga dan mendukung keputusan kekaisaran.”
Adelaide mengangguk setuju.
“Dan tidak melampaui batas.”
Beberapa pasang mata melirik Anthenia.
Genevieve mengerutkan kening.
“Itu terlalu sempit,” katanya pelan.
“Bangsawan juga pelindung rakyat.”
Minerva tersenyum, lalu menoleh ke Anthenia.
“Lady Blackwood,” katanya lembut,
“bagaimana menurutmu?”
Suasana mengeras.
Anthenia tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir tehnya—lalu mengangkat wajahnya perlahan.
“Menurutku,” katanya tenang,
“peran bangsawan wanita adalah memastikan keluarganya tidak menjadi beban bagi kekaisaran.”
Beatrice mendengus kecil.
“Itu terdengar seperti urusan pria.”
Anthenia menoleh padanya.
“Jika menjaga wilayah, pangan, dan stabilitas disebut urusan pria,” katanya datar,
“maka kekaisaran ini rapuh.”
Hening.
Minerva menatap Anthenia dengan sorot mata berbeda—bukan lagi sekadar ingin tahu, melainkan tertarik.
“Jawaban yang berani,” katanya.
“Apakah itu sebabnya kau sering disebut… terlalu aktif?”
Beberapa senyum kecil muncul.
Anthenia tersenyum tipis.
“Aktif adalah kata yang dipilih oleh mereka yang tidak ingin bergerak,” jawabnya.
“Aku hanya melakukan apa yang perlu.”
Nelia menatap Anthenia dengan mata berbinar.
—
Sisi lain taman
Heilen Valerius memperhatikan dari kejauhan.
“Dia tidak terjebak,” gumamnya.
Elza Lavenza menyesap tehnya.
“Belum,” katanya pelan.
“Pesta ini panjang.”
—
Kembali ke meja utama
Minerva mengangguk kecil, lalu berkata ringan:
“Aku dengar kau akan segera kembali ke kediaman Blackwood.”
“Benar,” jawab Anthenia.
“Sayang sekali,” Minerva tersenyum.
“Aku berharap bisa lebih sering berbincang.”
Anthenia menatapnya lurus.
“Jika takdir mengizinkan,” katanya pelan,
“kita akan bertemu lagi.”
Minerva tersenyum—kali ini tulus.
“Aku rasa,” katanya,
“kita akan.”
—
Senja — pesta berakhir
Kereta-kereta mulai meninggalkan kediaman Flavius.
Bisikan tetap ada, namun nadanya berubah.
“Dia tidak seperti yang kukira…”
“Putri Blackwood itu berbahaya…”
“Berbahaya… atau diperlukan?”
Anthenia menaiki keretanya bersama Nelia.
Begitu pintu tertutup, Nelia menarik napas panjang.
“Itu menegangkan,” katanya.
“Tapi kau… menang.”
Anthenia menatap ke luar jendela.
“Tidak,” katanya pelan.
“Aku hanya memastikan mereka tidak bisa mengendalikan ceritaku.”
Di kejauhan, Minerva Flavius berdiri di teras, menatap kereta yang menjauh.
“Ayah,” katanya pelan.
“Dia bukan bidak.”
Maximus Flavius mengangguk.
“Tidak,” jawabnya.
“Dia pemain.”
Langit Araluen memerah saat matahari tenggelam.
Dan tanpa disadari banyak pihak,
pesta teh itu telah menetapkan keseimbangan baru.