"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ia akan selalu terlahir kembali
..."Darah yang dikira bukti kesucian, nyatanya adalah tinta yang menuliskan kontrak kematian."...
......................
Syifa menyesap kopinya dengan tenang, matanya menatap tajam ke arah hiruk-pikuk kota di bawah jendela hotel. Pikirannya melayang pada Fadhil, sang Perwira Reserse Kriminal yang kini berada dalam genggamannya. Ia membalas pesan pria itu dengan kalimat yang begitu intim, mengikat sang penegak hukum dalam jerat nafsu yang tak terelakkan.
Fadhil bukan sekadar mangsa; ia adalah kunci gerbang kebebasan Syifa. Selama perwira itu terobsesi pada kulit porselennya, setiap bercak darah di tangan Syifa akan dihapus bersih sebelum sempat menjadi barang bukti. Sang perwira yang disegani itu kini hanyalah tameng yang memastikan tak ada penyelidikan yang menyentuh ujung gaun hitamnya.
"Peninggalan Broto cukup banyak untuk membuatku tetap cantik," gumam Syifa dingin. Jika kutukan ini mulai merusak parasnya, ia sudah siap terbang untuk operasi plastik paling mahal. Ia tak akan membiarkan aset utamanya punah.
Gedoran brutal di pintu memecah keheningan. Syifa tersentak, nyaris memaki, namun sosok di ambang pintu membuat kemarahannya menguap.
"Agung," desisnya.
"Kau ke mana saja?! Aku panik mencarimu, aku hampir nekat menyerbu kantor polisi!" Agung merangsek masuk dengan napas tersengal dan wajah yang pucat pasi.
"Aku di sini, Agung. Tenanglah," jawab Syifa lembut. Melihat ketulusan yang meluap di mata pria itu, sesuatu yang manusiawi di dalam dada Syifa bergetar hebat.
Tanpa banyak bicara, Agung mendekat dan mengangkat tubuh Syifa dalam gendongan bridal style. Ia membawanya menuju ranjang dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah Syifa adalah kaca yang retak.
"Kau masih sakit, trauma karena dukun Penyang itu belum hilang. Jangan banyak gerak," bisik Agung dengan nada protektif yang dalam. Ia merebahkan Syifa di atas seprai yang sejuk, lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir wanita itu—sebuah perintah sunyi agar Syifa berhenti bicara.
Syifa terdiam, mematung di bawah selimut sementara Agung meraih telepon PABX untuk memesan bubur spesial. Di balik kepatuhannya, pikiran Syifa terus bekerja. Di luar sana, Fadhil sedang menghapus jejak kejahatannya, sementara di dalam kamar ini, Agung sedang membasuh luka jiwanya. Ia bermain di antara dua dunia: satu pria untuk menyelamatkan nyawanya, dan satu pria untuk memelihara kewarasannya.
Bubur itu datang dalam keheningan yang hangat. Dengan hati-hati, Agung menyendoknya, meniup uap panas yang mengepul perlahan sebelum menyuapkannya ke mulut Syifa. Syifa menerima setiap suapan itu dengan tatapan kosong yang perlahan melunak.
Ia kenyang. Bukan hanya karena sarapan itu, tapi karena Kukang di dalam darahnya masih mendengkur puas setelah pesta jantung semalam. Syifa membiarkan Agung menatapnya, membiarkan mata polos itu menelusuri wajahnya. Di bawah sorot mata Agung, Syifa merasa kulitnya yang terbiasa amis oleh darah mendadak terasa bersih. Ia merasa seperti seorang remaja yang jatuh cinta untuk pertama kalinya—sebuah perasaan asing yang menyesakkan. Hanya Agung pria yang mendekatinya tanpa jemari yang merayap nakal ke paha atau tubuhnya. Agung selalu memulai dengan tangan; seperti saat ini, telapak tangannya yang masih terbebat perban menggenggam jemari Syifa dengan kekuatan yang gemetar.
"Aku sangat panik, Syifa. Aku merasa ingin mati jika kau hilang begitu saja dari hidupku," rintih Agung, suaranya pecah oleh ketakutan yang nyata.
"Sst!" Syifa membungkam bibir pria itu dengan telunjuknya.
Karena ia tahu sang Kukang tengah terlelap dalam kepuasan yang pekat, Syifa menyadari bahwa kali ini sentuhannya tidak akan membawa maut. Dengan gerakan yang lembut namun penuh kerinduan, ia menarik wajah Agung mendekat. Syifa membiarkan bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang dalam dan memabukkan—sebuah tautan yang bukan sekadar luapan gairah, melainkan segel janji yang sunyi. Di antara deru napas mereka, Syifa seolah sedang membisikkan sumpah pada semesta bahwa di tengah lautan nyawa yang ia lumat, Agung adalah satu-satunya raga yang akan ia jaga hingga napasnya sendiri terhenti.
"Aku hanya pengap semalam. Makanya aku mencari udara keluar, lalu kembali ke sini," bisik Syifa di sela napas mereka yang beradu.
Agung menatapnya dengan binar mata yang redup oleh kebingungan, seolah sedang berusaha memecahkan teka-teki paling mustahil di dunia. "Sebenarnya... aku tidak pernah beranjak meski satu jengkal pun dari depan pintumu semalam," bisiknya seraya membelai pipi Syifa dengan punggung tangannya yang gemetar.
"Aku berdiri mematung di sana, memerangi kantuk dan dingin hanya demi memastikan tidak ada satu pun bahaya yang berani menyentuhmu. Namun, Syifa... aku tetap tidak melihat kapan kau pergi. Kau seolah berubah menjadi kabur dan lenyap menembus dinding, meninggalkanku yang terjaga dalam kesunyian yang menyiksa."
Ada nada pilu dalam suaranya, sebuah pengabdian tulus yang membuat Syifa merasa dunianya yang gelap mendadak bermandikan cahaya. Agung tidak sedang menginterogasinya; ia sedang meratapi ketidakmampuannya untuk menjadi pelindung yang sempurna bagi wanita yang ia puja.
Syifa terkekeh pelan, sebuah tawa merdu yang menyembunyikan kedinginan maut. Ia menyandarkan kepalanya di dada Agung, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang karena cinta, bukan karena ketakutan.
Syukurlah kau tak melihatku, Agung, bisik hatinya dengan getir. Jika matamu menangkap sosokku yang merayap di langit-langit semalam, bisa jadi detik ini kau yang sedang terbujur kaku di kamar mayat, bukan sedang memelukku di sini.
Syifa perlahan bangkit dari sandaran dada Agung, membiarkan jemari pria itu membelai lembut sisa rambut di keningnya. Tatapan Agung jatuh begitu dalam, penuh dengan binar kasih yang seolah ingin mematri wajah Syifa di dalam ingatannya selamanya.
"Besok aku harus pergi bekerja, Sayang," bisik Agung dengan nada berat, seolah enggan melepaskan momen ini. "Pembangunan jembatan di daerah yang sangat jauh dan terpencil. Aksesnya sulit."
Syifa menatapnya lekat. Di dalam hatinya, sebuah desah syukur bergema. Baguslah pria pujaannya pergi untuk sementara. Jarak ini adalah anugerah; ia butuh ruang bebas untuk menghapus kutuk Kukang yang kian mendidih di dalam tubuhnya. Semua ini harus berakhir sebelum Agung kembali dan melihat sisi monster yang sesungguhnya.
"Berapa lama?" tanya Syifa, suaranya parau oleh emosi yang ia buat-buat.
"Mungkin sebulan."
"Aku akan sangat merindukanmu," jawab Syifa, kali ini dengan ketulusan yang murni menusuk dadanya sendiri.
Seakan ciuman tadi tidaklah cukup untuk meredam kegelisahan jiwa mereka. Seakan ada kehangatan yang dituntut oleh dahaga Syifa sendiri—dahaga manusiawinya, tanpa campur tangan Kukang. Syifa menarik Agung kembali, membiarkan pria itu tidak hanya singgah di bibirnya, tetapi menikmati seluruh keindahan dirinya dalam pelukan yang lebih intim di bawah sinar fajar yang menerobos celah jendela.
Pagi itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Agung memuja setiap inci tubuh Syifa dengan kelembutan yang menyayat hati. Namun, di balik desah napas dan keintiman yang membara, takdir telah mencatat sebuah vonis yang mengerikan. Tanpa disadari oleh keduanya, Agung baru saja melangkah masuk ke malam pertama menuju tumbal tujuh malam. Sebuah hitungan mundur maut yang baru akan berhenti saat nyawa atau kutukan itu sendiri yang terenggut.
Di bawah remang cahaya fajar yang menyusup malu-malu, Agung terbuai dalam ekstasi yang ia anggap sebagai anugerah surgawi. Baginya, momen ini adalah puncak dari segala pengabdiannya. Ia memeluk tubuh Syifa dengan raga yang bergetar, merasa telah memenangkan bagian paling berharga dari wanita yang ia puja. Ia tak pernah menyadari, bahwa di balik keindahan yang ia rengkuh, nyawanya baru saja digadaikan untuk pertama kali pada sang maut.
"Kau... kau maasih hmm... ini pertamakalimu," bisik Agung dengan suara parau, nyaris menangis karena haru.
Matanya tertuju pada setetes noda merah yang kontras di atas sprei putih yang berantakan. "Maafkan aku," lirihnya tulus, merasa bersalah karena telah merobek "kesucian" yang ia kira adalah milik pertama bagi Syifa.
Syifa hanya terdiam, membelai rambut Agung dengan tatapan yang sulit diartikan. Di balik kulit porselennya, Kukang tertawa dalam sunyi. Inilah khasiat terkutuk dari sihir hitam itu: ia akan selalu terlahir kembali sebagai perawan di hadapan setiap pria baru yang menjamahnya. Sebuah jebakan visual yang sempurna; kesucian palsu yang dirancang untuk mengikat mangsa agar semakin dalam terjatuh ke dalam lubang obsesi.
Noda darah itu bukanlah tanda cinta, melainkan segel kontrak maut yang mulai berdenyut. Agung merasa telah memiliki Syifa seutuhnya, tanpa tahu bahwa darah yang ia lihat adalah awal dari hitungan mundur tujuh malam yang akan menguras habis sari pati kehidupannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba