Menikah dengan pria tampan, baik, setia dan kaya mungkin terdengar seperti mimpi di siang bolong. Tapi tidak bagi Erina, wanita dengan nama lengkap Erina Azkia Davina itu menjadi salah satu wanita beruntung di muka bumi ini karena berhasil menikah dengan pria tampan, baik, setia dan kaya raya.
Namun, meskipun Erina menikah dengan pria yang nyaris sempurna, pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Penghianatan yang dilakukan ayahnya di masa lalu menghantui Erina dan membuat Erina tidak bisa mempercayai suaminya, Bisma, apalagi Erina pernah memergoki Bisma dengan wanita lain di kantor.
Rasa takut yang menghantui Erina membawa petaka dalam rumah tangganya. Bahkan, Erina dan Bisma hampir bercerai. Hampir, beruntung Bisma selalu bisa mengimbangi Erina dan tidak suka memperpanjang masalah. Bisma memang pantas disebut sempurna.
****
Note: Saya harap kalian tidak mengandalkan emosi saat membaca novel ini, karakter ceritanya mungkin kurang baik, tapi kalian jadilah pembaca yang baik.
©2019, lightqueensa || Nur Alquinsha A
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Alquinsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ITC #28
"Dimana Erin? kenapa malah lo yang ngambil barang dia?" Tanya Soraya sambil memandangi Leo galak.
Pria di depan Soraya mengaku datang atas perintah Erina untuk mengambil barangnya, tapi Soraya tidak akan percaya begitu saja, Erina sering cerita kalau orang-orang Bisma tidak pernah mendengarkannya, mana mungkin sekarang mau Erina perintah.
"Bisma nyuruh lo kan? si brengsek itu nyulik Erina?" Tuding Soraya.
Leo menganga karena mendengar pertanyaan tidak masuk akal Soraya, secara hukum dan agama Bisma itu suami Erina, mana bisa Bisma disebut menculik istrinya sendiri. Lalu Leo berdehem sebelum bicara.
"Nona Soraya, saya tidak berbohong, saya datang kesini atas perintah nona Erin, anda bisa menelpon nona Erin kalau tidak percaya." Ucap Leo berusaha untuk tenang.
"Cih, Erin pasti sudah di ancam Bisma, si tukang selingkuh itu memang tidak tahu diri." Ucap Soraya yang tidak bisa berhenti memaki Bisma.
"Heh?" Leo menghela nafas sebentar. "menurut anda nona Erin mudah untuk di ancam?"
Soraya diam-diam menjawab tidak, Erina tidak mudah untuk itu, tapi bukan berarti Soraya harus percaya terhadap orang suruhan Bisma yang berdiri di depannya.
"Raya, sudahlah. mungkin Erin memang menyuruh dia, kita berikan saja ya?" Farhan yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Soraya mendengus. "Tidak bisa, kamu tidak ingat Erin menangis semalam? Erin juga bilang mau cerai sama Bisma ingat?" Tanyanya mengingatkan Farhan barangkali suaminya lupa.
"Iya, aku ingat." Jawab Farhan.
"Tapi kamu sudah melihat klarifikasi hubungan Bisma dan Gisella kan? mungkin Erin berubah pikiran karena itu." Ucap Farhan melanjutkan.
Leo menyimak pembicaraan mereka, sepertinya sempat terjadi hal besar dalam rumah tangga sahabatnya, Erina bahkan sempat memikirkan perceraian dan Leo baru mengetahuinya.
Soraya mengaku melihat klarifikasi tentang rumor Bisma dan Gisella, tapi apa mungkin hal itu membuat Erina berubah pikiran?
Soraya ingat, Erina terlihat tidak peduli dengan klarifikasi yang mereka dengar, buktinya Erina mengambil barangnya setelah mendengar itu.
"Tapi--" belum sempat Soraya menyangkal perkataan Farhan, suaminya lebih dulu memotongnya.
"Kamu harus menghargai keputusan Erin." Ucap Farhan lembut.
Soraya menghela nafasnya. "Baiklah, kamu boleh memberikan barang Erin padanya." Putus wanita itu, lalu berbaring dan memunggungi kedua pria yang ada di ruangannya.
Farhan hanya menggelengkan kepala melihat kelakukan istrinya, Farhan tahu betul alasan Soraya seperti itu, Soraya tidak ingin Erina sampai terluka untuk yang kesekian kalinya.
Lalu, Farhan mengambil barang Erina dan memberikannya pada Leo, koper dan sebuah kotak yang sama-sama berukuran sedang.
"Kamu bisa membawanya sendiri?" Tanya Farhan melihat Leo kesulitan.
Meskipun hanya kotak berukuran sedang, kotak itu lumayan berat karena berisi album yang tersusun rapih di dalamnya, Farhan khawatir Leo sampai menjatuhkan itu.
"Saya bisa, jangan khawatir." Jawab Leo disertai senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati, ada barang kesayangan Erin di dalam kotak itu."
Erina mulai merasa risih, Bisma tidak berhenti menatapnya semenjak mereka memutuskan untuk menonton televisi, membuat Erina tidak bisa fokus dengan apa yang dia tonton.
"Televisinya ada di depan, berhenti menatapku." Ucap Erina tidak tahan.
Bisma tersenyum melihat wajah kesal istrinya dari samping. "Saya tahu, hanya saja saya takut kamu tiba-tiba menghilang dari pandangan saya."
"Tidak masuk akal, memang dia pikir gue punya kekuatan semacam itu, menghilangkan diri?" Gerutu Erina dalam hatinya.
Bisma menjadi sangat berlebihan dan membuat Erina tidak nyaman, meski Erina menyukai adegan dalam drama saat pemeran pria begitu perhatian pada pemeran wanitanya, tapi Erina tidak pernah berharap mendapatkan perhatian seperti itu dari suaminya.
"Aku pergi kalau kamu tidak bisa fokus menonton." Ucap Erina jengkel.
Bisma sempat diam sebelum akhirnya menahan tangan Erina serta menarik tangan itu hingga Erina beralih duduk di pangkuannya, lalu Bisma mendekap tubuh Erina supaya istrinya tidak pergi.
"Maaf, sekarang saya akan fokus menonton." Bisik Bisma sambil menaruh dagunya pada pundak Erina.
"Kalau gini, malah gue gak bisa fokus nonton, dasar bodoh." Erina kembali menggerutu dalam hati.
"Saya baru tahu kamu suka menonton itu." Ucap Bisma saat televisi mereka memperlihatkan adegan ciuman diatas ranjang.
Erina meneguk ludahnya, dia juga tidak tahu akan ada adegan seperti itu, dan Bisma baru saja menuduh Erina suka menontonnya.
"Bisma, sepertinya ada tamu, aku akan membuka pintu." Ucap Erina mengalihkan saat mendengar bel di mansion berbunyi.
Tapi, Bisma tidak membiarkan Erina pergi dan malah memeluk Erina erat, sehingga mau tidak mau Erina tetap menonton adegan yang semakin memanas. Erina sampai malu melihat adegan tidak pantas itu.
"Orang bayaran saya akan membuka pintu." Suara berat itu membuat Erina merinding, Bisma seperti terpancing dengan apa yang mereka tonton.
Bisma masih menonton televisi, tapi tangannya mulai nakal dan memasuki pakaian Erina, tanpa memperdulikan keberadaan mereka saat ini, mereka sedang berada di ruangan tengah.
"Bisma!" Tegur Erina sambil menahan tangan suaminya, tidak ingin para maid memergoki apa yang sedang Bisma lakukan padanya.
"Kamu sudah menggoda saya, kenapa tidak mau tanggung jawab?" Bisma beralih menciumi tengkuk Erina sementara tangannya memilih diam karena Erina memegang tangan itu.
"Menggoda bagaimana? perasaan gue diem aja!" Erina mencibir dalam hati.
Erina tidak habis pikir dengan perubahan Bisma, sudah dua kali pria itu berusaha memuaskan nafsunya tanpa mengenal tempat mereka.
"Erin, kapan datang bulan kamu selesai?" Tanya Bisma, ini kedua kalinya pria itu membahas datang bulan Erina.
"Saya ketakutan menghadapi singa liar di rumah sakit, kalian bermesraan?" Suara itu membuat Bisma dan Erina tersentak.
Erina bergerak cepat menjauhi Bisma, sementara Bisma menatap kesal Leo yang memasuki ruang tengah, berani sekali sekretarisnya itu mengganggu.
Erina berdehem.
"Oh, Leo? kamu sudah mengambil barangku?" Tanya Erina sekedar untuk basa-basi, Erina tidak ingin kalau Leo membahas apa yang tadi pria itu lihat.
Leo tersenyum menatap Erina. "Saya sudah mengambilnya, mau di simpan dimana barang ini?" Tanyanya.
Erina berjalan menghampiri Leo, beruntung dia sudah biasa menebalkan mukanya, sehingga meskipun Leo sudah memergokinya, Erina masih bisa bersikap tenang dan santai.
"Terimakasih, kamu bisa memberikan itu padaku." Jawab Erina lalu mengambil kotak albumnya dari tangan Leo, sementara Bisma mengekori Erina dari belakang.
"Tidak perlu berterimakasih." Bisma yang mengatakan itu saat Leo hanya merespon Erina dengan senyuman. "Leo hampir membuatmu pergi, dia seharusnya minta maaf."
"Heh! apa maksudmu?" Tanya Leo tidak terima, hampir membuat Erina pergi? yang benar saja, Leo merasa tidak melakukan apapun.
"Kamu hampir membuat Erin pergi! tidak dengar?" Tanya Bisma ketus.
Leo mendengus kesal. "Aku tidak mengerti maksudmu." Sahutnya tidak terlalu peduli dengan perkataan Bisma.
"Sudahlah, sekarang kamu bisa pergi." Bisma mengusir sambil mengibaskan tangannya pada Leo.
"Bisma, tidak baik bersikap seperti itu." Tegur Erina.
"Kamu dengar? tidak baik bersikap seperti itu!" Leo menyambar untuk menegaskan.
Bisma memutar mata, kalau bukan karena Erina angkat bicara, sudah pasti Bisma mengusir Leo, pria itu tidak tahu Leo sudah melakukan tugasnya, Bisma mengira belum ada yang melakukan klarifikasi mengenai rumor yang membawa namanya.
"Kamu juga harus tahu, tidak baik melupakan tugas yang bosmu berikan." Balas Bisma tidak mau kalah.
"Bisma!"
Jangan lupa mendukung karya ini dengan menekan tombol suka dan masukan ke daftar favorit kalian. Teruntuk kalian yang tertarik dengan karya-karya aku, silahkan ikuti aku di mangatoon atau intagram (@light.queensha) Terimakasih ...
Regards:
©2019, lightqueensa.
Berharap cerita nya menarik dan seru.