Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 30 : Musuh dalam Kegelapan
Terkadang, dalam situasi atau masalah tertentu uang menjadi solusi yang tak terbantahkan. Bahkan, uang mampu menggerakkan hati dan tindakan seseorang.
Saat ini, waktu menunjukkan pukul 12 siang, seusai penjurian babak semi-final. Namun, belum ada keputusan dari para juri.
"Sudah satu jam kita menunggu. Tapi, kenapa belum ada kabar?" desah Chef Min Ho, yang merasa seakan kesabarannya sedang diuji.
"Aku mulai lapar. Kumakan saja masakanku. Masih tersisa banyak juga, kalian mau?" tawar Chef Ik Jun santai.
"Tidak usah, terima kasih. Hari ini, aku berencana makan siang di luar dengan seseorang setelah urusan di sini selesai," jawab Chef Do.
"Oh, jangan-jangan janjian kencan dengan Nona kaya itu?" usik Chef Ik Jun iseng.
"Hmm. Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya? Memangnya, kau mau bertukar pendapat denganku mengenai masakan kita hari ini?" alih Chef Do, kemudian menatap centong dan panci di meja Chef Ik Jun.
"Boleh. Akan kuambilkan mangkuk dan piring untukmu," kata Chef Ik Jun setuju, lalu bergerak menuju pantry bersama Chef Do.
"Aku juga mau," sanggah Chef Min Ho, seraya mengikuti kedua orang itu.
Sementara itu, kendala tersembunyi yang sedang dihadapi oleh para juri belum juga teratasi. Ok Jin Hee tiba-tiba dijemput oleh managernya, lalu berpamitan dengan sungkan sebelum meninggalkan lokasi.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan, Chef Gi Jun? Tidak mungkin kita membatalkan pengumuman hasil untuk hari ini," tanya Chef Yeon Ji, masih berusaha menutupi kegelisahan dengan sikap profesionalnya.
"Kau benar. Kita sudah membuat banyak orang menunggu cukup lama," desah Chef Gi Jun, lalu dengan langkah berat menghadap kepada massa dan para peserta.
"Chef Gi Jun, apa yang sebenarnya terjadi? Bisakah kami meminta penjelasan?" tanya tim produksi acara, sembari meminta pihak media berhenti menyuting dan mengambil foto untuk sementara.
"Kami selaku juri, dengan setulusnya menyampaikan permohonan maaf atas halangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam ajang kompetisi ini. Sangat disayangkan, pihak atasan kami mengharuskan agar keputusan hari ini ditunda terlebih dahulu," ungkap Chef Gi Jun, lalu membungkukan tubuh hormat hampir secara bersamaan dengan Chef Yeon Ji, walau terbilang berstatus tinggi dalam kalangan masyarakat.
Menyaksikan pertanggung jawaban dari dua orang figur panutan publik, ketiga peserta semi-final sejenak tercengang. Untungnya, permintaan halus itu diterima oleh pihak yang bersangkutan.
"Berarti, kita boleh pulang?" ringkas Chef Min Ho.
"Sepertinya begitu," respon Chef Ik Jun.
Tak lama kemudian, Chef Do telah berada di luar bersama rekan-rekan seperjuangannya.
Karena Chef Do dan Chef Ik Jun sibuk mengabari orang berharga mereka melalui ponsel masing-masing, Chef Min Ho tidak jadi berpamitan dan langsung pergi.
"Chef Do. Kuharap kita segera berjumpa lagi. Jika beruntung, sebagai sesama peserta finalis," ucap Chef Ik Jun.
"Tentu saja. Aku juga menantikan duel memasak berikutnya dengan salah seorang dari kalian," balas Chef Do mantap.
"Ei, percaya dirimu memang kelewatan. Bisa-bisa, kau menangis di babak berikutnya," canda Chef Ik Jun, walau setengah serius.
Keduanya pun berpamitan singkat, lalu berpaling ke arah yang berlawanan sebelum melangkah pergi.
Dalam perjalanan pulang dengan mengendarai mobilnya, Chef Do sesekali mengecek ponsel.
Pengirim : Kim Eun Chae
Oppa, bagaimana hasilnya? Apa aku telah melewatkan sesuatu yang penting? Padahal, aku hanya teralihkan sebentar saja.. Huhuㅠㅠ
Seperti biasa, senyuman penuh arti tersungging pada wajah tampan Chef Do.
"Kenapa dia secemas ini? Aku jadi ingin segera bertemu dengannya," tawa singkat pria itu.
Di sisi lain, Shin Sae Mi, yakni istri dari Chef Ik Jun tengah melayani seorang klien di kantornya.
"Mohon tuliskan nama dan informasi umum Anda pada halaman dokumen ini," pinta pengacara Shin, dengan sikap yang etis.
"Baik," jawab singkat klien wanita, yang tak lain adalah asisten pribadi Lee Seong Woon.
Nama lengkap : Im Se Na.
Usia yang tertera secara hukum : 30 tahun.
Tempat & tanggal lahir : Daegu, 7 Juni 1996.
Perihal laporan : penolakan pemberhentian kerja sesuai perjanjian awal, penganiayaan selama bekerja.
"Se Na-ssi. Sebelum saya memproses kasus ini, Anda diperbolehkan bercerita secara lengkap dan terbuka mengenai kejadian yang dirasa kurang adil atau merugikan Anda," ujar pengacara Shin.
Walau nampak ragu, wanita bernama Se Na itu memberanikan diri dan mulai berbicara secara perlahan.
"Seperti yang telah saya laporkan semenjak beberapa hari lalu, kontrak kerja saya seharusnya berakhir pada akhir bulan ini. Namun, atasan saya malah berkata tidak pernah tercantum tanggal maupun kesepakatan dalam kontrak saya dengan Beliau," jelas Se Na sebaik mungkin.
Melihat wajah Se Na yang pucat pasi dan lesu, pengacara itu dengan proaktif menyajikan teh panas.
"Apa Anda sudah sarapan atau hendak makan siang saat ini?" tanya pengacara Shin, sedikit berbasa-basi.
"Tidak apa-apa. Saya sudah sarapan sedikit sebelum kemari," kata Se Na.
"Kalau begitu, minum ini dan bersemangatlah, Se Na-ssi. Saya akan mendengarkan, lalu bertanya lebih lanjut, bila diperlukan," imbuh pengacara Shin.
"Terima kasih," balas Se Na patuh.
"Jadi, kontrak Anda dengan Tuan Lee Seong Woon dari grup perusahaan Lee's Trading & Co seharusnya berakhir pada tanggal 31 Januari tahun 2026. Karena keputusan ditutup secara sepihak, Anda mendatangi kantor Beliau. Kemudian, terjadi kekerasan yang menimbulkan luka memar di bagian dahi dan--," simak pengacara Shin, namun terhenti seketika Se Na beranjak dari kursi dan berdiri mematung di hadapan wanita itu.
"Luka seperti ini sudah banyak dan sering saya terima. Selama dua setengah tahun saya menjabat sebagai asisten pribadi Tuan Seong Woon, tidak pernah sekali pun saya diizinkan pulang ke rumah keluarga pada hari perayaan nasional maupun libur bekerja karena sakit. Bila saya menunjukkan kelelahan atau kekurangan di hadapan Beliau, saya langsung dihina dan dipukuli bagaikan binatang!" tegas Se Na, disertai air mata yang berlinang pada tulang pipinya.
Mendengar inti kesaksian secara langsung dari sang klien, pengacara Shin dalam sekejap telah menimbang-nimbang solusi sesuai ketentuan hukum yang dikuasainya.
"Baik, Se Na-ssi. Mohon tenangkan diri Anda terlebih dahulu. Kelak ke depannya, saya akan membuktikan perlakuan tidak senonoh pihak tergugat dan segala bentuk ketidakadilan yang telah Anda alami dalam sidang di pengadilan," ulas pengacara Shin.
Mendapatkan kepastian dari seorang ahli hukum, kini Se Na mampu menghembuskan nafas lega.
Dalam selang waktu sekitar 5 jam, mulai terdengar desas-desus dan berita miring mengenai Chef Gi Jun dan Chef Yeon Ji.
"Memangnya, ada penyebab lain? Pasti ada biang keroknya," ujar Chef Ik Jun, yang kini sedang menikmati makanan dan minuman di sebuah cafe.
"Benarkah? Maksudmu, siapa dalang di balik semua kekacauan ini?" lontar Chef Jang, yang cukup rutin berdiskusi dengan pria itu.
"Tentu saja, yang duduk nyaman sambil memikirkan rencana iblis di atas sana," terang Chef Ik Jun, sembari menyeruput minuman dan mengisyaratkan jari telunjuknya.
"Hah? Jangan mengandai-andai atau memberiku teka-teki seperti ini! Jawablah dengan jelas," tegur Chef Jang.
"Maksudku, orang-orang yang berkedudukan jauh di atas kita. Merekalah yang berusaha menggerakkan roda nasib seorang target dengan cara apapun," balas Chef Ik Jun yakin.
- Bersambung -