NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Pertaruhan di Atas Meja

Malam merayap di pinggiran Jakarta Selatan, tapi ruko dua lantai itu masih memancarkan cahaya lampu neon yang benderang.

Di dalamnya, Senja Amara sedang berperang dengan waktu. Ruko itu tidak memiliki kemewahan kantor lamanya di Artha Group. Tidak ada aroma parfum mahal atau suara langkah kaki asisten yang sigap membawakan dokumen.

Yang ada hanyalah tumpukan gulungan kertas kalkir, bau debu semen yang tipis, dan aroma kopi hitam yang sudah mendingin di atas meja kayu tua.

​Senja tahu, mengundurkan diri dari perusahaan sebesar Artha Group adalah langkah yang dianggap gila oleh banyak orang.

Di dunia arsitektur, nama besar perusahaan adalah jaminan. Tanpa itu, Senja hanyalah seorang wanita dengan selembar lisensi yang namanya baru saja terseret skandal keluarga. Tapi, bagi Senja, ruko sempit ini adalah simbol kemerdekaannya. Di sini, setiap garis yang ia tarik di atas kertas adalah murni suaranya, bukan instruksi yang harus disesuaikan dengan selera pasar atau ego bosnya.

​Pagi harinya, Senja mempersiapkan diri untuk pertempuran sesungguhnya. Ia memilih blazer merah marun dengan potongan tegas, dipadukan dengan celana kain hitam yang memberikan kesan otoritas.

Senja memoles wajahnya dengan riasan yang minimalis tapi berkarakter, menekankan pada sorot matanya yang kini tak lagi mengandung keraguan.

Hari ini adalah tender tertutup untuk renovasi Grand Batavia Hotel, sebuah ikon sejarah di pusat Jakarta yang ingin diubah menjadi hotel butik mewah oleh pemilik barunya.

​Saat tiba di lokasi pertemuan di lobi hotel tersebut, langkah Senja sempat terhenti. Atmosfer di sana sangat berat. Beberapa pria berjas rapi dari firma-firma ternama tampak saling berbisik.

Dan di tengah mereka, berdiri sosok yang paling ingin ia hindari: Aditya Artha.

​Aditya tampak berbeda. Tidak ada lagi tatapan hangat atau senyum memuja yang dulu sering ia berikan pada Senja. Wajahnya tampak kaku, dan matanya memancarkan kegelisahan yang ditutupi oleh keangkuhan.

Begitu melihat Senja, Aditya langsung memisahkan diri dari rombongannya dan menghampiri Senja.

​"Senja? Untuk apa kamu di sini?" tanya Aditya tanpa basa-basi, suaranya rendah tapi penuh penekanan. "Jangan bilang kamu nekat ikut tender ini dengan nama 'Amara Architects' yang baru berumur tiga hari itu?"

Senja menatap Aditya datar, bahkan cenderung dingin. "Namaku mungkin baru tiga hari di papan ruko, Adit. Tapi pengalamanku adalah alasan kenapa proyek-proyek mu dulu sukses. Aku punya hak yang sama untuk ada di sini."

​Aditya tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Ini proyek skala nasional, Senja. Kamu tidak punya tim lapangan, kamu tidak punya jaminan bank yang cukup, dan yang paling penting, kamu tidak punya nama besar untuk meyakinkan investor. Kembalilah ke kantor. Aku sudah bicara dengan para dewan direksi. Mereka bersedia memaafkan pengunduran dirimu yang impulsif itu asalkan kamu mau bekerja di bawah pengawasanku secara ketat. Jangan permalukan dirimu sendiri dengan kalah telak di sini."

​Senja memajukan wajahnya sedikit, menatap tepat ke manik mata Aditya. "Kamu tahu kenapa aku keluar, Adit? Karena kamu lebih takut pada lobi kantormu yang kotor daripada kehormatan rekanmu. Dan sekarang, kamu menawarkanku 'perlindungan' di bawah kakimu? Tidak, terima kasih. Aku lebih suka kalah sebagai petarung daripada menang sebagai tawananmu."

​Di dalam ruang rapat yang dingin, Senja berhadapan dengan panel juri yang dipimpin langsung oleh Ibu Diana, pemilik tunggal jaringan hotel Batavia.

Ibu Diana dikenal sebagai wanita bertangan besi yang membenci segala bentuk drama dan omong kosong. Tiga firma besar, termasuk tim dari Aditya, sudah mempresentasikan desain mereka yang serba futuristik—kaca, baja, dan minimalisme yang kaku.

​Saat giliran Senja tiba, ia tidak membuka laptop untuk menunjukkan presentasi digital yang rumit. Senja justru mengeluarkan satu sketsa manual berukuran besar yang ia gambar dengan tangan selama tiga malam tanpa tidur.

​"Semua orang ingin membangun masa depan dengan cara menghancurkan masa lalu," ucap Senja memulai dengan suara yang stabil namun bertenaga.

"Tapi hotel ini punya jiwa yang tidak bisa digantikan oleh kaca atau baja paling mahal sekalipun. Desain saya tidak menawarkan perombakan total. Saya menawarkan restorasi jiwa."

​Senja menunjukkan detail pada sketsanya—bagaimana ia mempertahankan pilar-pilar kolonial asli tapi menyisipkan sistem pencahayaan modern yang tersembunyi.

"Bangunan ini seperti seorang wanita yang sudah melewati banyak badai. Dia tetap anggun, tapi jauh lebih kuat di dalam. Saya tidak akan mengubahnya menjadi gedung kaca yang dingin. Saya akan menjadikannya tempat di mana sejarah dan masa depan berpelukan."

​Ibu Diana menopang dagu, matanya yang tajam menelisik setiap detail di sketsa Senja. "Filosofi yang sangat manis, Nona Senja. Tapi bagaimana dengan teknisnya? Saya dengar Anda baru saja terlibat masalah dengan penyuplai material? Bagaimana saya bisa yakin Anda tidak akan menggunakan bahan 'banci' seperti yang dilakukan mantan rekan Anda di Semarang?"

Senja tidak goyah. "Justru karena saya pernah melihat lubang hitam di industri ini, saya tahu cara menutupnya. Saya mempertaruhkan seluruh lisensi dan reputasi saya. Jika ada satu milimeter saja kesalahan dalam pemilihan material saya, Ibu bisa mencabut hak praktek saya selamanya."

​Keheningan menyelimuti ruangan. Dari sudut mata, Senja bisa melihat Aditya yang tampak gelisah. Aditya tahu betul bahwa dalam hal detail dan filosofi, Senja adalah pakarnya.

​Setelah penantian yang menyiksa selama dua jam di lobi, asisten Ibu Diana akhirnya keluar dengan sebuah map emas. "Pemenang tender untuk renovasi Grand Batavia Hotel adalah... Amara Architects."

​Ruangan itu seolah meledak di telinga Senja. Ia menang. Ia berhasil mengalahkan raksasa dengan tangannya sendiri. Tapi, kemenangan itu segera berubah menjadi konfrontasi panas. Begitu juri meninggalkan ruangan, Aditya langsung mendatangi meja Senja.

​"Kamu menggunakan trik apa, Senja? Kamu merayu Ibu Diana dengan kata-kata puitis itu?" desis Aditya, wajahnya memerah karena malu dikalahkan oleh mantan bawahannya sendiri.

"Ini tidak masuk akal! Kamu tidak akan sanggup mengerjakan ini sendirian!"

​"Aku punya tim yang sedang aku bangun, Adit. Dan yang paling penting, aku punya integritas yang tidak bisa dibeli dengan citra perusahaan," sahut Senja sambil merapikan sketsanya.

​"Jangan sombong!" Aditya menarik lengan Senja dengan kasar saat mereka berada di koridor sepi menuju parkiran. "Aku yang membawamu ke Jakarta! Aku yang memberimu panggung! Tanpa Artha Group, kamu tetaplah arsitek buangan dari Semarang!"

Senja menyentak lengannya hingga terlepas. Matanya berkilat marah. "Kamu tidak pernah memberiku apa-apa, Adit! Kamu hanya memanfaatkan bakatku untuk memperkaya dirimu sendiri! Dan sekarang setelah aku bebas, kamu bertingkah seperti pemilik budak yang kehilangan pelayan setianya? Sadarlah, Adit. Kamu tidak memilikiku!"

​"Kita lihat saja seberapa lama kamu bisa bertahan," ancam Aditya dengan nada yang sangat gelap. "Aku punya koneksi di seluruh penyuplai material di kota ini. Aku akan pastikan tidak ada satu toko pun yang mau mengirim semen ke rukomu. Kamu mau main mandiri? Aku akan tunjukkan seberapa kejam dunia ini untuk wanita yang tidak tahu cara berterima kasih."

​Senja pulang ke rukonya dengan perasaan yang bercampur aduk antara kemenangan dan kewaspadaan. Tapi, kejutan belum berakhir. Saat ia tiba di depan ruko, ia menemukan empat ban mobilnya telah dikempiskan secara paksa.

Tidak hanya itu, di kaca depan mobilnya, terdapat tulisan besar menggunakan lipstik merah menyala: "PENGKHIANAT TETAPLAH PENGKHIANAT. TUNGGU TANGGAL MAINNYA."

​Senja terdiam. Ia melihat sekeliling jalanan yang mulai sepi. Ia tahu ini bukan cara main Rangga atau ibunya yang hanya tahu cara berteriak.

Ini adalah cara main yang lebih personal, lebih penuh obsesi. Ini adalah tanda bahwa Aditya sudah kehilangan sabar dan mulai menunjukkan sisi "gila"-nya.

​Senja tidak menangis. Ia justru berjalan menuju pintu rukonya, mengambil ponsel, dan membuka aplikasi CCTV yang baru ia pasang secara tersembunyi tadi pagi. Di layar ponselnya, ia melihat rekaman seorang pria dengan topi rendah yang sangat ia kenali postur tubuhnya—supir pribadi Aditya—sedang merusak ban mobilnya

Senja tersenyum dingin. "Kamu meremehkanku lagi, Adit. Kamu pikir aku masih wanita naif yang bisa ditakut-takuti dengan teror receh seperti ini?"

​Senja tidak menelepon polisi saat itu juga. Ia menyimpan rekaman tersebut sebagai "bom waktu." Ia tahu, di dunia bisnis yang keras, ia butuh lebih dari sekadar desain yang bagus; ia butuh keberanian untuk membalas setiap pukulan dengan serangan yang lebih mematikan.

​Malam itu, Senja tidur di atas tumpukan cetak biru bangunannya. Ia kelelahan, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar hidup. Ia sudah memutus rantai dengan Rangga, dan ia baru saja mendeklarasikan perang terbuka dengan Aditya.

1
Risa Yayang Cinta Sejati
Axel kamu hebat banget deh sampai mau jadi tameng Senja dan menyelesaikan masalah Senja
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Axel lebih memilih Senja karena Clara pernah berkhianat
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Senja ayo berani lawan Clara karena Axel memilihmu
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Rangga makanya ngga usah bikin masalah sama Senja tanggung akibatnya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Axel kamu gentle membawa Senja ke acara dan akan memperkenalkan Senja ke semua orang
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Rangga kamu ketakutan banget sampai menuruti perintah Axel
Suamiku Paling Sempurna
Clara pasti akan merencanakan sesuatu supaya Axel dan Senja ngga bersatu tuh
Suamiku Paling Sempurna
Clara menyusun rencana supaya Axel kembali padanya dan menjauhi Senja
Suamiku Paling Sempurna
Axel punya bukti percakapan Rangga dengan asisten Aditya membuat Rangga takut
Risa Istri Cantik
Axel sama Senja apa bakal di restui sama papanya Axel karena papanya Axel cuma mentingin bisnis
Risa Istri Cantik
Wah Senja buruan siap siap Axel akan menjemput kamu ke acara tersebut
Risa Istri Cantik
Rangga kamu mengancam Axel akan menyebarkan berita putra Baskoro melakukan kekerasan
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
sinta pliss sadar kasian kamu sin😭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
usaha dia sia" buat bantu rangga😭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
parah sinta lebih bodoh dari senja😭
Yayang Suami Risa
Senja Axel mengorbankan posisinya menjadi pewaris karena mencintai kamu
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
sinta jangan bodoh kamu😭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
sadar sin sadar
Yayang Suami Risa
Senja kamu cantik sampai Axel terpesona sama kecantikan kamu
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
pelan pelan ajaa sin biar ngerasaain 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!