Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Setelah lakukan penyamaran pertama yang dianggap gagal oleh Ethan, hari berikutnya dia hanya berkunjung ke kantor pusat sebagai tamu. Tanpa membawa tongkat putih dan memakai kacamata hitam.
Dia tidak mau terjebak untuk kedua kali sebagai penyandang tuna netra. Sesuatu yang sangat menyiksa dan membuatnya menyesal.
Namun ketika tanpa sengaja berperan sebagai penyandang tuna netra memberikan pelajaran penting baginya. Hal itu membekas di hati dan dia lebih bersyukur, bisa melihat dengan baik dan jelas.
Karena belum ada hasil positif dan sesuai yang diharapkan, dia belum berhenti menyamar. Saat perpikir cara yang lebih baik, dia teringat pada penyamarannya dari Singapura.
Pikirnya, jika asistennya bisa tidak mengenalinya, akan lebih mudah mengecoh orang lain. Sehingga dia memutuskan untuk merubah gaya rambut dan gaya jalan. Tidak berjalan tegap dan tidak menonjolkan otot tubuh.
~••~
Setelah seminggu menyamar dan mempelajari yang dikerjakan oleh perusahaan di kantor cabang dan bekerja di rumah, Ethan memutuskan untuk masuk kantor.
Ethan bangun pagi dengan visi dan misi yang baru untuk mensukseskan perusahaan dan juga misi pribadinya, mencari pasangan sepadan.
Setelah puas menatap penampilan di cermin, dia pamit pada Mamahnya yang hanya bisa geleng kepala melihat dia mengenakan kemeja tanpa dasi dan jas, juga sepatu dari merek yang umum dipakai oleh karyawan.
Dia melengkapi penampilan dengan kacamata bening, agar bisa membaurkan matanya dan wajah dari orang-orang yang pernah bertemu dengannya.
Setelah tiba di kantor, Ethan melangkah masuk ke lobby gedung kantor tanpa menghiraukan tatapan karyawan yang heran, karena mengira dia adalah tamu yang datang sangat pagi.
Ethan memberikan isyarat kepada Rion yang sudah menunggu, agar tenang, bersikap biasa dan mengikutinya dari jarak jauh.
Namun ketika dia melewati resepsionis, Ethan hampir membeku melihat gadis yang menolongnya sedang membuka laptop sambil berbicara dengan seorang wanita di sampingnya.
Jantung Ethan berpacu cepat. Dia segera mengeluarkan ponsel. "Rion, lekas ikuti saya." Ethan lupa pada penyamarannya.
Dia berjalan cepat ke lift umum yang digunakan karyawan. "Cegat karyawan yang mau masuk ke sini." Bisik Ethan tegas saat Rion berada di dalam lift. Rion melaksanakan perintah, tanpa mengerti dan tidak bertanya.
Para karyawan pasrah dan hanya bisa kasak-kusuk di depan lift, saat tahu asisten CEO yang melarang. Mereka tetap berdiri menunggu dan ada yang pindah ke lift lain.
Mereka sudah mengenal Rion, karena setiap pertemuan, selalu berbicara mewakili CEO yang berada di luar negeri. Jadi tidak ada yang berani protes, walau mereka tahu para pimpinan punya lift sendiri.
Lift berhenti di lantai tiga, Ethan segera keluar. "Mana ruangan saya?" Tanya Ethan sambil berjalan cepat.
"Di ruangan saya, Pak. Ini..." Rion membuka pintu.
"Ruangan bapak ada di sebelah." Rion menjelaskan sambil menunjuk ke samping ruang kerjanya.
Ethan menarik nafas panjang. "Ok. Kau masuk ke ruangan saya. Kunci pintu dari dalam. Saya mau masuk ke sana." Ethan memberikan perintah sambil berpikir. Dia tidak menyangka, wanita yang menolongnya bekerja di kantornya.
"Sudah, Pak." Ucap Rion, sambil membuka pintu penghubung.
Ethan segera pindah ke ruang kerjanya. "Sekarang, minta OB beli alat cukur lengkap buat saya." Permintaan Ethan membuat Rion terkejut.
"Pak Niel tidak jadi menyamar?"
"Tetap. Kerjakan dulu yang saya minta." Ethan tiba-tiba mau bercukur. Dia yakin, gadis yang menolongnya akan mudah mengenal dia dengan wajah yang kotor oleh bulu halus.
Setelah lakukan yang diminta, Rion tetap berdiri menunggu. "Berikan nama karyawan yang ada di kantor ini." Ucap Ethan.
"Semuanya, atau hanya di lantai tiga, Pak?"
"Semua yang bekerja di sini?"
"Sebentar, Pak. Saya ambil laptop." Rion segera ke ruangannya. Ethan duduk di kursi kebesarannya sambil perhatikan isi ruangan.
"Kita kerja di sini. Kalau ada yang mau bertemu denganmu, terima di ruanganmu." Ucap Ethan setelah Rion kembali sambil membawa laptop.
"Baik, Pak." Rion segera memposisikan diri sebagai asisten, sebab melihat bossnya sangat serius.
"Rion, jangan berikan nama karyawan, tapi CV." Ucap Ethan cepat, sebelum Rion berikan nama karyawan. Rion segera bicara dengan HRD untuk mengirim CV karyawan.
Beberapa saat kemudian setelah memeriksa semua CV karyawan, Ethan terkejut tidak melihat CV gadis yang menolongnya. "Rion, telpon HRD lagi. Apa semua CV karyawan sudah dikirim." Ethan penasaran. Dia yakin, gadis yang menolongnya ada di resepsionis.
"Pak, itu semua karyawan tetap, tidak termasuk yang training." Jawab Rion setelah telpon HRD.
"Minta semua dikirim. Apa yang training tidak termasuk karyawan perusahaan?" Ethan jadi emosi. Dia dengar yang dikatakan Rion kepada HRD. 'Saya minta CV semua karyawan, kecuali pejabat.'
"Pak, mereka minta maaf, sudah keliru terjemahkan permintaan." Ucap Rion setelah bicara dengan Kabag HRD. Ethan hanya diam, karena tidak sabar menunggu untuk meyakinkan yang dia lihat.
Setelah pihak HRD mengirim CV karyawan yang sedang training, Ethan langsung menyandarkan punggung melihat foto gadis yang menolongnya adalah salah satu karyawan dari lima karyawan training.
Setelah menarik nafas panjang, dia fokus membaca CV karyawan traning yang bernama Athalia. "Rion, tanya HRD. Mengapa mereka menempatkan karyawan training ini di resepsionis. Padahal dia sarjana bisnis managemen." Ethan menunjuk CV Athalia.
"Tanya yang lain, sebelum tanya tentang Athalia..." Ethan menjelaskan cara menanyakan sambil lewat, agar pihak HRD tidak curiga Athalia sedang mendapat perhatian khusus dari pihak perusahaan.
"Baik, Pak. Saya mengerti." Rion berkata cepat. 'Mungkinkah boss sudah bertemu dengan Athalia sebelumnya?' Rion membatin. Dia ikut membaca CV Athalia dan memperhatikan fotonya. Dia merasa pernah melihat Athalia di lobby.
"Pak, mereka menempatkan dia di resepsionis, karena hanya ada jabatan itu yang tersisa. Dan dia bersedia ditempatkan di situ." Rion menjelaskan yang dikatakan Kabag HRD, tanpa menyertakan nada ragu-ragu dalam penjelasan Kabag.
"Baik. Nanti kita bicara lagi. Cek OB sudah beli alat cukur belum?" Ethan ingat permintaannya. Dia mau membersihkan wajah, karena khawatir tiba-tiba bertemu Athalia. Dia yakin, Athalia akan mengenalnya, sebab mereka pernah bertemu muka.
Rion segera menghubungi OB yang diminta tolong dan membiarkan bossnya yang sedang serius melihat layar laptop. Dia yakin, boss nya sedang memikirkan karyawan yang bernama Athalia.
"Rion, berikan data staf yang membawahi resepsionis." Ethan berkata setelah Rion kembali dengan alat cukur.
"Siap, Pak." Rion bekerja cepat menyiapkan yang diminta bossnya. Sedangkan Ethan ke toilet untuk bercukur.
Setelah kembali ke ruangan, Ethan kembali memakai kacamata untuk membiasakan diri dengan alat yang akan membaurkan matanya selama dia belum diperkenalkan sebagai CEO.
"Rion, kenapa kita sediakan tempat resepsionis di kantor ini?" Tanya Ethan setelah lama berpikir.
"Mungkin seperti di kantor pusat, Pak. Di sana ada resepsionis, jadi diduplikat ke sini." Rion menjawab yang terpikirkan.
"Saya akan perbaiki kantor ini, sesuai dengan peruntukan. Kita bukan seperti gedung kantor di pusat, yang disewakan buat perusahaan lain."
...~•••~...
...~•○♡○•~...