Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Nomor Tak Dikenal
“Bu, ayo,” ucap Nadira pelan.
Ia berjalan berdampingan dengan ibunya menuju rumah Bu Lurah, tempat acara pernikahan akan digelar. Langkah mereka menyusuri jalan kampung yang masih lengang. Saat melewati satu rumah di sisi kiri, pandangan Nadira tertahan.
Rumah buleknya.
Catnya tampak lebih cerah, halamannya rapi. Nadira hanya melirik sekilas sebelum kembali melangkah, memilih diam.
Tak lama, mereka tiba. Halaman rumah Bu Lurah masih sepi. Kursi-kursi plastik sudah tersusun rapi, tenda berdiri kokoh, namun belum banyak orang datang.
' Sepertinya masih terlalu pagi,' batin Nadira.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu menoleh ke arah ibunya. “Bu, Nadira tunggu di sini saja, ya? Di dalam nanti pasti ramai.”
Bu Rohiyah mengangguk kecil. “Iya. Jangan ke mana-mana ya nduk.”
Nadira mengangguk. Ia berdiri di tepi halaman, sementara ibunya melangkah masuk ke dalam rumah. Pandangannya mengikuti punggung itu sampai menghilang di balik pintu.
Kini ia sendiri.
Nadira mengalihkan pandangan ke jalan depan. Sesekali, jemarinya bergerak di layar ponsel, sekadar mengusir bosan. Namun pikirannya tak benar-benar tenang.
Kling.
Nadira menunduk, jemarinya refleks menyentuh layar ponsel. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Ia membacanya perlahan.
'Ini bukti kalau suami Anda tidak normal. Masih banyak yang saya simpan. Tentu saja tidak gratis. Saya tahu Anda tidak ada di rumah. Mungkin sekarang mereka sedang bermain pedang di kamar kalian. Sangat disayangkan.'
Napas Nadira tertahan. Keningnya berkerut, dadanya mengencang. Jemarinya menggenggam ponsel itu sedikit lebih erat.
“Siapa…?” gumamnya lirih. Satu nama melintas di kepalanya. “Apa jangan-jangan Siska?”
Belum sempat ia menata pikirannya, layar ponsel kembali menyala. Panggilan masuk. Nomor yang sama.
Nadira menekan ikon hijau.
“Halo? Kamu siapa?”
Tawa terdengar dari seberang. Berat. Bukan suara perempuan.
Nadira menegakkan punggung. “Aku tanya, kamu siapa?”
“Lima puluh juta. Aku kasih semua buktinya. Gimana?”
Darah Nadira terasa naik ke kepala. “Kamu memeras ku?”
Beberapa detik hening, tak ada jawaban.
“Halo? Halo!”
Nadira menatap layar.
Panggilan ternyata sudah terputus. Ia mencoba menghubungi balik. Sekali. Dua kali. Yang menjawab hanya suara operator.
Nadira menurunkan ponselnya perlahan. Telapak tangannya dingin, jantungnya berdetak tak beraturan. Ia menghela napas panjang, lalu menggenggam ponsel itu erat-erat.
“Mas Ardian bermain pedang? Apa maksudnya?” gumam Nadira.
“Haiyo, lihat siapa yang duduk sendirian di sini.”
Nadira tersadar dari lamunannya, ia menoleh sekilas, kehadiran ibu dan anak itu tak layak disambut. “Suka-suka saya. Kenapa repot urusi saya? Urusi saja masa depan bulek. Sepertinya sudah cukup berat. Apalagi sampai—”
“Semua itu salahmu,” potong wanita itu cepat. “Kenapa kamu percaya begitu saja omongan saya?”
Sudut bibir Nadira terangkat tipis. “Memang susah menyuruh anjing berhenti menggonggong.”
“Kurang ajar! Dasar anak durhaka!”
Nadira tetap diam. Senyum miringnya tak pudar, justru semakin tenang.
“Sudahlah, Bu. Ayo masuk saja,” ujar Ratna, nadanya menahan kesal.
Mereka melangkah pergi, melewatinya begitu saja. Nadira duduk tak bergerak, matanya mengikuti punggung mereka sampai menjauh.
Kesempatan.
Ia berdiri perlahan, debu di rok ditepuk sekadarnya. Tubuhnya berbalik, langkahnya pelan meninggal acara yang akan dimulai sebentar lagi. Sesekali Nadira menoleh, memastikan tak ada mata yang memperhatikan.
.
.
Kini langkah Nadira terhenti di depan rumah, rumah buleknya. Pandangannya melekat pada pintu kayu itu, lama, dingin.
“Akan kuambil semuanya,” ucapnya pelan. “Rumah ini berdiri dari uangku. Terlalu enak kalau mereka menikmatinya.”
Tangannya menekan tuas pintu. Tak terkunci. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Ceroboh.”
Pintu dibuka perlahan. Nadira menyelinap masuk tanpa ragu sedikitpun. Pandangannya menelisik sekitar hingga terpaku pada satu pintu yang dikenalnya betul.
Benar.
Kamar itu milik Bulek Ina.
Nadira melangkah ke lemari, menarik pintunya. Matanya menyisir cepat, lalu berhenti. “Dimana bulek Ina menyimpan berkas itu?”
Bruk.
Sesuatu jatuh ke lantai. Nadira menunduk, keningnya berkerut. Sebuah map lusuh tergeletak. Ia mengambilnya, membuka sekilas.
“Ini…” gumamnya. “Pembelian material. Semua ada.”
Senyum miring muncul. Map itu segera dimasukkan ke dalam tas. Tanpa menoleh lagi, Nadira keluar dan menutup pintu seperti semula dan segera pergi dari sana sebelum saksi mata melihat keberadaannya.
...
Kini akhirnya Nadira berada sedikit jauh dari rumah kediaman buleknya. Jemarinya langsung menekan satu nama, Mbak Luna. Tak lama sambungan telepon pun terhubung.
“Assalamualaikum, Mbak.”
“Waalaikum salam, kenapa Ra?”
“Mbak, bukti sudah aku dapat. Berkas lengkap. Kita bertemu di simpang perbatasan,” katanya singkat.
“Baik. Aku juga ada di sekitar sana,” jawab suara di seberang.
Klik.
Nadira melangkah cepat menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
“Pak, ke perbatasan. Simpang besar,” ucapnya.
“Baik, Bu,” jawab sopir itu.
Mobil melaju. Nadira meremat map di dalam tasnya, dadanya naik turun pelan. Sepanjang jalan, hanya sunyi yang menemani, bersama degup jantung yang tak kunjung tenang.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti. Nadira menuruni kendaraan dan langsung mengenali mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Ia segera melangkah masuk.
“Mbak Luna,” sapa Nadira.
Wanita itu menoleh, wajahnya terang. “Ya ampun, Nadira. Kita bertemu lagi.”
Nadira membalas dengan senyum tipis. Mereka duduk berhadapan.
“Ayo,” ujar Mbak Luna. “Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”
Nadira menarik napas, lalu bicara perlahan. Ia menceritakan semuanya. Dari uang yang dialihkan, nama yang tercoreng, hingga tudingan menelantarkan orang tua.
Tangannya bergerak membuka tas, satu per satu bukti dikeluarkan. Bukti transfer. Tangkapan pesan tentang renovasi rumah. Lalu berkas lusuh yang ia ambil dari rumah buleknya.
Mbak Luna menyimak tanpa memotong. Sesekali alisnya berkerut saat melihat semua bukti yang baru saja disodorkan oleh Nadira.
“Ini sudah masuk penipuan,” katanya akhirnya. “Ditambah pencemaran nama baik.”
“Bisa dipercepat?” tanya Nadira. Ada harap yang tertahan di suaranya.
“Bisa. Kita dorong secepat mungkin. Bulekmu berpotensi kena denda, bahkan sanksi hukum.”
“Aku akan bayar biayanya karena mau jadi pengacara ku,” ucap Nadira cepat.
Mbak Luna menggeleng. “Tidak perlu. Untukmu, gratis.”
Nadira terdiam sejenak. Bahunya terasa lebih ringan.
“Oh ya,” lanjut Mbak Luna, suaranya melunak. “Hubunganmu dengan ibu mertuamu masih sama? Aku bukan mau bermaksud ingin mencampuri urusanmu dengan Ibu mertuamu.”
Nadira menghela napas. Tatapannya jatuh ke meja. “Masih, dan Mas Ardian masih tetap membela ibunya meski salah.”
“Kenapa masih bertahan?”
“Mau bagaimana lagi? Aku bertahan karena aku ingin pernikahan satu kali seumur hidup.”
“Pikirkan mental kamu, Nadira. Jika kamu berubah pikiran, bisa bilang padaku, aku akan membantumu,” ucap Luna.
Nadira mengangguk pelan, “Terima kasih Mbak Luna.”
...
Sore merambat pelan. Nadira kini sudah berada di rumah, duduk mematung dengan ponsel di genggaman. Layar itu kembali menyala, pesan dari nomor tak dikenal masih di sana.
Jika itu benar, siapa yang harus disalahkan? Dirinya sendiri yang menutup telinga, karena tak mendengar ucapan Siska.
Atau Ardian yang hanya diam untuk menyembunyikan rahasia yang selama ini tak dirinya ketahui?
Nadira menghembuskan napas panjang. Kepalanya berdenyut.
“Nduk, kamu di sini rupanya?”
Nadira menoleh. “Iya, Bu. Kepalaku pusing, jadi pulang duluan,” ucapnya, berbohong sambil memijat pelipis. “Acaranya gimana tadi, Bu?”
“Lancar, nduk. Walau tadi sempat ada keributan.”
“Keributan?” alis Nadira terangkat tipis.
“Iya.”
Nadira tak bertanya lagi. Pikirannya sudah menebak ke mana arah cerita itu. Nama bulek Ina muncul begitu saja.
“Pasti bulek Ina dan putrinya?”
“Kok kamu bisa tahu?” tanya Bu Rohiyah, heran.
“Ya tahulah Bu, orang Dira dari kecil sudah hidup didesa, sudah tahu kelakuan Bulek Ina. Tapi Dira bisa-bisanya percaya gitu loh sama Bulek Ina, padahal sifatnya kayak gitu, semaunya sendiri,” ujarnya.
Bu Rohiyah tertawa, “Ada, ada saja kamu nduk.”