"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Perang Diskon & Bapak-Bapak Sosialita
"Kosong. Hampa. Seperti hati mantan."
Hara menutup pintu kulkas dua pintu yang ukurannya sebesar lemari baju itu dengan dramatis. Dia berbalik, menatap Cayvion yang sedang duduk santai di meja makan sambil membaca berita saham di tabletnya.
"Pak, kita darurat pangan. Bu Marta sakit, stok makanan habis. Telur tinggal cangkangnya, susu tinggal tetes terakhir. Kalau kita nggak belanja sekarang, anak-anak Bapak bakal makan angin buat makan malam."
Cayvion menurunkan tabletnya sedikit. "Tinggal pesan delivery. Restoran bintang lima langgananku bisa kirim Wagyu A5 dalam tiga puluh menit."
"Elio alergi MSG restoran, Pak. Dan Elia lagi fase GTM—Gerakan Tutup Mulut, dia cuma mau masakan rumahan. Jadi, simpan Black Card Bapak buat beli saham, sekarang ganti baju. Kita ke Grosir Mart."
"Grosir Mart?" Alis Cayvion menyatu. "Tempat yang parkirannya penuh motor dan bau durian itu? Tidak. Suruh stafmu belanja."
"Staf saya lagi libur, Pak. Ingat? Bapak yang kasih cuti massal kemarin gara-gara saham naik. Ayo, buruan. Pakai kaos oblong aja biar nggak mencolok."
Tiga puluh menit kemudian, Cayvion Alger berdiri di depan pintu masuk Grosir Mart yang riuh.
Penampilannya sungguh ajaib. Dia memakai kaos polos putih (seharga dua juta), celana pendek selutut, topi baseball ditarik rendah, dan kacamata hitam besar yang menutupi setengah wajahnya.
"Pak," tegur Hara sambil mendorong troli besar yang rodanya bunyi cit-cit. "Copot kacamatanya. Ini di dalam ruangan, bukan di Pantai Kuta. Bapak malah kelihatan kayak buronan narkoba yang lagi nyamar."
"Diam, Hara," desis Cayvion, merapatkan topinya. Dia melihat sekeliling dengan waspada, seolah takut ada paparazzi menyelinap di antara tumpukan beras karungan. "Aku harus menjaga privasi. Kalau ada investor yang lihat aku dorong troli isi deterjen, wibawaku hancur."
"Wibawa Papa udah hancur sejak Papa diompolin Elia kemarin," celetuk Elio yang duduk manis di dalam troli sambil memegang daftar belanjaan. "Jalan, Pa. Trolinya berat. Jangan manja."
Cayvion mendengus, tapi tetap mendorong troli itu memasuki lorong pertama. Lorong Kebutuhan Bayi. Elia kalau tidur masih suka ngompol, jadi masih butuh popok kalau malam.
Mata Cayvion membelalak di balik kacamata hitamnya saat melihat label harga di rak popok. Dia mengambil satu bal besar popok ukuran XL, membolak-baliknya seperti sedang memeriksa dokumen merger.
"Tunggu sebentar," gumam Cayvion ngeri. "Dua ratus ribu? Untuk satu bungkus? Isinya cuma empat puluh? Itu artinya lima ribu perak per lembar?"
"Iya, kenapa?" tanya Hara sambil melempar dua bal lagi ke dalam troli.
"Hara, ini barang sekali pakai!" protes Cayvion, jiwa ekonominya terguncang. "Anak-anak ini pipis, lalu dibuang. Kita membuang lima ribu rupiah ke tong sampah setiap tiga jam? Sehari bisa lima puluh ribu? Sebulan satu setengah juta cuma buat nampung pipis? Apa popok ini terbuat dari sutra ulat sutra Himalaya?"
"Selamat datang di dunia parenting, Bapak CEO," sahut Hara santai, lalu berjalan ke rak susu. "Makanya Bapak kerja yang rajin. Pantat anak Bapak mahal perawatannya."
Elia yang berjalan di samping troli menarik celana Cayvion. "Papa, Elia mau itu!"
Telunjuk mungilnya mengarah ke rak cokelat Kinder Joya yang dipajang di dekat kasir.
"Oke," Cayvion yang masih syok soal harga popok ingin mencari pelarian. Dia berjalan ke rak cokelat. Alih-alih mengambil satu, dia mengangkat satu kotak kardus utuh berisi 24 butir telur cokelat itu dan menaruhnya di troli.
"Biar stok sebulan. Nggak usah bolak-balik," kata Cayvion enteng.
"BALIKIN!" teriak Hara panik. Dia menyambar kardus itu dari troli. "Bapak gila ya? Itu gula semua! Gigi anak Bapak nanti rontok semua kayak kakek-kakek! Cukup satu! Satu biji!"
"Pelit," cibir Cayvion, tapi dia menurut, meletakkan kembali kardus itu dan mengambil satu biji dengan wajah cemberut. Persis suami takut istri.
"Papa lemah," bisik Elio pada adiknya. "Sama Mami aja kalah."
Mereka sampai di lorong sembako. Suasananya seperti medan perang. Ibu-ibu berdaster berdesakan memburu minyak goreng. Suara musik dangdut dari speaker toko beradu dengan teriakan SPG yang menawarkan kecap manis.
"Minyak goreng, Pak. Ambil yang dua liter. Merek Sevia. Itu lagi promo," perintah Hara sambil sibuk memilih bawang merah di seberang lorong. "Buruan, stoknya tinggal dikit di rak tengah."
Cayvion mengangguk. Dia melihat targetnya. Sebuah kemasan minyak goreng dua liter berdiri sendirian di rak yang kosong. Itu item terakhir.
Cayvion melangkah percaya diri. Dia mengulurkan tangan.
Tepat saat jari-jarinya menyentuh gagang kemasan minyak itu, sebuah tangan lain yang lebih kekar dan berotot juga mencengkeramnya.
Cayvion menoleh.
Di sebelahnya berdiri seorang Ibu-ibu bertubuh gempal dengan daster batik motif parang dan rol rambut masih menempel di poni. Tatapannya tajam setajam silet. Aura membunuhnya lebih kuat daripada investor asing manapun yang pernah Cayvion hadapi.
"Lepas, Mas. Saya duluan yang liat," kata Ibu itu galak.
Cayvion, yang tidak pernah mau kalah dalam negosiasi apapun, tersenyum miring. "Maaf, Bu. Tangan saya sudah menyentuh duluan. Secara hukum kepemilikan aset, ini hak saya."
"Halah! Aset aset ndasmu!" semprot Ibu itu, mengeratkan cengkeramannya. "Saya udah ngincer ini dari pintu masuk! Kamu laki-laki kok rebutan minyak sama Emak-emak! Ngalah dong!"
"Di dunia bisnis tidak ada kata mengalah, Bu. Siapa cepat dia dapat," Cayvion menarik minyak itu.
"Eh, narik-narik! Nantang ya?!" Ibu itu tidak mau kalah. Dia menarik balik minyak itu dengan kekuatan tenaga dalam.
Terjadilah tarik-menarik sengit di tengah lorong 4. Minyak goreng itu bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Lepas, Bu. Saya bayar dua kali lipat kalau perlu," tawar Cayvion, mencoba menyogok.
"Nggak butuh duitmu! Saya butuh nyambel!" teriak si Ibu makin ngegas.
Suara keributan itu menarik perhatian pengunjung lain. Hara yang sedang menimbang bawang menoleh dan melotot horor.
Suaminya. CEO Alger Corp. Orang terkaya nomor 5 di majalah Forbas. Sedang main tarik tambang berebut minyak goreng diskonan seharga tiga puluh ribu rupiah melawan Emak-emak berdaster.
"Pak! Lepasin!" teriak Hara dari jauh.
Tapi terlambat.
Si Ibu itu mengeluarkan jurus pamungkas. Dia menyentak minyak itu sekuat tenaga sambil menginjak kaki Cayvion dengan sandal kayu yang kerasnya minta ampun.
"Aduh!" Cayvion refleks melepaskan pegangannya karena kesakitan.
Akibat gaya inersia yang tiba-tiba hilang, si Ibu itu terpental ke belakang, menabrak tumpukan piramida kaleng biskuit Khong Guan yang disusun setinggi dua meter di belakangnya.
Gubrak! Klontang! Pyar!
Ratusan kaleng biskuit runtuh menimpa si Ibu dan menggelinding ke seluruh lantai dengan suara gaduh yang memekakkan telinga. Minyak goreng di tangan si Ibu terlempar dan pecah, isinya muncrat ke mana-mana—termasuk ke kaos putih mahal Cayvion.
Hening.
Musik dangdut seolah berhenti. Semua mata tertuju pada Cayvion yang berdiri mematung dengan baju berminyak di tengah reruntuhan kaleng biskuit.
Si Ibu bangkit dari tumpukan kaleng, wajahnya merah padam, rambut rol-nya miring. Dia menunjuk wajah Cayvion dengan telunjuk gemetar.
"KAMU!" teriak Ibu itu melengking, suaranya memecah keheningan. "Ganti rugi! Kamu pikir kamu siapa hah?! Mentang-mentang ganteng main kasar sama perempuan!"
Cayvion panik. Kacamata hitamnya miring. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil dompet, berniat melempar Black Card-nya untuk membungkam mulut ibu ini.
Tapi tangannya kosong.
Dia lupa. Dompetnya tertinggal di mobil. Dia cuma bawa HP yang baterainya habis total karena dipakai main game sama Elio tadi.
Cayvion menatap Hara dengan wajah pucat pasi. Tatapannya berkata: Istriku, tolong aku. Aku bangkrut dan akan diamuk massa.
Hara menepuk jidatnya keras-keras.
"Ya Tuhan... kenapa aku nggak nikah sama dokter hewan aja sih..."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri