"Aku ingin bercerai karena aku sudah tahu maksud busuk mu! Tidak ada hubungannya dengan Rose! Aku tidak pernah mencintaimu sejak awal. Kau telah merampas posisi Rose sebagai istriku!"
"Selama aku tidak menandatangani surat cerai, itu tetap dianggap selingkuh! Dia tetaplah perusak rumah tangga!"
Setiap kali Daisy melawan ucapan Lucifer, yang dia dapatkan adalah kekerasan. Meskipun begitu dengan bodohnya dia masih mencintai suaminya itu.
"Karena kamu sangat ingin mati, aku akan mengabulkannya!"
Kesalahpahaman, penghianatan, kebohongan. Siapa yang benar dan siapa yang salah. Hati nurani yang terbutakan. Janji masalalu yang terlupakan. Dan rasa sakit yang menjadi jawaban.
Apakah kebenaran akan terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little turtle 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback : After Accident
"Sayang, bagaimana perasaan mu?"
"Apa ada yang sakit di tempat lain?"
"Kamu tau ini siapa, kan?"
Amber dengan panik dan mata bengkaknya yang menjelaskan berapa lama dia menangis, mengusap wajah putrinya dengan penuh khawatir.
Sedangkan gadis yang baru saja sadar setelah dua hari koma itu hanya diam dan menatap kosong ke langit-langit kamar Rumah Sakit.
"Bagaimana dengan Lucifer? Apa dia baik-baik saja?" tanya Daisy yang kemudian menatap Ibunya dengan tatapan penuh harap.
Amber hanya diam, mengusap air matanya kemudian menuangkan air untuk Daisy.
Klak~
Pintu terbuka dan Sonia masuk dari luar sana. Dengan air mata yang membasahi wajahnya dia berlutut dihadapan Amber.
"Maafkan aku, Amber.." ucap Sonia.
"Apa maksudmu?" Amber pun ikut berlutut dan membantu Sonia untuk berdiri.
"Ini semua musibah, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa," tutur Amber sambil mengusap punggung Sonia.
Keduanya berpelukan sejenak, kemudian melepasnya saat Daisy memanggil nama Sonia.
"Dia putra Tante Sonia?" tanya Daisy.
Sonia menoleh, kemudian mengangguk lemah dan berjalan mendekat. Tangan kanan nya menggenggam tangan Daisy, sedangkan tangan kiri nya mengusap rambut Daisy dengan penuh penyesalan.
"Kamu kehilangan banyak darah dan hampir saja-"
Sonia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya terasa tercekik. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menahan tangisnya.
"Tante tidak tahu harus berbuat apa.." lirih Sonia kemudian.
"Bagaimana dengan Lucifer? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Daisy membuat Sonia mempererat genggaman tangannya.
Kali ini Sonia sudah tidak mampu lagi menahan rasa pedih di hatinya. Isak tangis mengisi keheningan dalam ruangan itu.
Daisy yang melihat hal itupun mau tidak mau juga ikut berpikiran negatif. Air matanya mulai menetes di sudut matanya. Dia memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela.
"Maafkan Daisy karena tidak bisa melindunginya.." gumam Daisy tak berani menatap Sonia.
"Sayang, semua ini bukan salahmu. Ini salah Tante. Tante kurang memperketat keamanannya, bahkan juga datang terlambat untuk menemukan kalian,"
"Jika saja Tante tidak membawa polisi, pasti mereka tidak akan menyentuh kalian," lanjut Sonia penuh penyesalan.
Daisy hanya menggeleng menolak semua ucapan Sonia sambil membalas genggamannya. Sedangkan Amber yang berdiri di sebelah sana tak kuasa melihat keduanya.
Dua hari kemudian setelah Daisy sadar.
Total empat hari sudah mereka di Rumah Sakit, tapi belum ada tanda-tanda akan siuman dari Lucifer.
Daisy yang sudah mulai lumayan sehat itu sering kali datang ke kamar Lucifer. Menggenggam tangannya dan terkadang membisikkan sebuah kata di telinganya.
Hari itu, setelah kunjungannya ke kamar Lucifer, Daisy kembali berjalan ke kamarnya sambil menarik tiang infusnya.
"Jika besok Lucifer belum juga sadar, aku akan membawanya ke luar negeri untuk menjalani pengobatan yang lebih intensif.." sebuah suara yang Daisy dengar dari dalam ruangan kamarnya.
"Dokter disini mengatakan bahwa Lucifer sudah tidak memiliki harapan lagi, Amber.. Mereka bilang putraku satu-satunya itu sudah mati otak!" teriak histeris Sonia ditengah tangisnya.
Brak~
Tiang infus yang Daisy gunakan untuk sandaran karena kakinya yang gemetar, tidak dapat menahannya dan akhirnya roboh.
Daisy tersungkur di lantai dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Untuk pertama kalinya dia merasakan jatuh cinta. Dan akhir dari cintanya itu adalah kematian.
"Tidak, tidak! dia tidak boleh mati!" teriak Daisy.
Amber dan Sonia yang ada di dalam ruangan langsung bergegas keluar.
"Bunda, dia tidak boleh mati.."
"Tante.."
Daisy menangis sehancur-hancurnya. Dia menundukkan kepalanya dan memukuli lantai sambil mengatakan kalimat yang sama, "Dia tidak boleh mati!"
Sonia berlutut dan memeluk Daisy dengan erat. Wanita dewasa itu tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan remaja itu. Dia sendiri juga hancur. Sebaik apa dia menghibur dirinya sendiri, tapi kenyataannya terlalu menyakitkan.
"Dia sudah berjanji untuk menikahi Daisy, Tante.."
"Dia sudah berjanji~"
"Dia tidak boleh mati~"
Sonia melepas pelukannya, menyiah rambut pendek Daisy yang basah akan keringat dan air matanya. Lalu mengecup kening Daisy.
"Tante tidak akan membiarkannya mati. Dia adalah putra Tante satu-satunya.."
"Seperti dia yang berjanji untuk menikahi mu, Tante juga akan berjanji untuk menjadikan kamu sebagai menantu Tante."
"Tante pastikan Lucifer akan sembuh. Tante akan membawanya kembali saat dia sembuh nanti.."
Setelah hari itu, di hari ke lima, Lucifer belum juga siuman. Dan seperti yang Sonia katakan, dia membawanya ke luar negeri.
yg penting tetap up dan semangat terus kk 👍👍👍
saya tdk ada masalah klu mereka bersatu kembali, tp dengan cara yg tidak mudah. mohon maaf kk bila tdk sesuai imajinasi kk.
langsung up lg ya kk saya menantikan itu 🙏🙏🙏
ku harap up nya gk lama 🙏🙏
...