NovelToon NovelToon
Kusebut Namamu Dalam Doaku

Kusebut Namamu Dalam Doaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Pelakor jahat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mutia Muthii seorang ibu rumah tangga yang sudah menikah dengan seorang pria bernama Zulfikar Nizar selama 12 tahun dan mereka sudah dikaruniai 2 orang anak yang cantik. Zulfikar adalah doa Mutia untuk kelak menjadi pasangan hidupnya namun badai menerpa rumah tangga mereka di mana Zulfikar ketahuan selingkuh dengan seorang janda bernama Lestari Myra. Mutia menggugat cerai Zulfikar dan ia menyesal karena sudah menyebut nama Zulfikar dalam doanya. Saat itulah ia bertemu dengan seorang pemuda berusia 26 tahun bernama Dito Mahesa Suradji yang mengatakan ingin melamarnya. Bagaimanakah akhir kisah Mutia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hancur Hatiku

Mutia terduduk di sudut ruangan, tubuhnya lemas dan air matanya terus mengalir. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia sudah mencari ke mana-mana, tetapi ia tidak menemukan jejak Sephia dan Sania. Hatinya hancur, diliputi ketakutan dan keputusasaan.

"Ya Allah, lindungilah anak-anakku," bisik Mutia, suaranya bergetar. "Aku mohon, kembalikan mereka padaku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

Ahmad dan Leha duduk di samping Mutia, memeluknya erat. Mereka juga merasakan kesedihan yang mendalam, melihat putri mereka begitu menderita. Mereka tahu bahwa tidak ada kata-kata yang bisa menghibur Mutia saat ini, tetapi mereka akan terus berada di sisinya, memberikan dukungan dan kekuatan.

"Nak, kita akan menemukan mereka. Jangan menyerah," ucap Ahmad, suaranya bergetar menahan tangis.

"Ibu yakin, mereka baik-baik saja. Mereka anak-anak yang kuat, mereka pasti bisa bertahan," tambah Leha, mencoba memberikan harapan.

Mutia menggelengkan kepalanya, air matanya semakin deras. "Aku takut, Ayah, Ibu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada mereka," isaknya.

"Jangan berpikir seperti itu, Nak. Kita harus tetap positif. Kita harus yakin bahwa mereka akan kembali," ucap Ahmad, mencoba meyakinkan Mutia.

"Tapi bagaimana jika mereka terluka? Bagaimana jika mereka ketakutan?" tanya Mutia, suaranya penuh kekhawatiran.

"Kita tidak tahu apa yang terjadi, Nak. Tapi kita harus percaya bahwa Allah melindungi mereka. Kita harus terus berdoa dan berusaha," jawab Leha, mengusap punggung Mutia.

Mutia terdiam, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyerah. Ia harus terus berjuang untuk menemukan Sephia dan Sania. Ia akan terus berdoa dan berharap, sampai ia bisa memeluk kedua anaknya kembali.

"Kita akan menemukan mereka, Nak. Kita akan membawa mereka pulang," ucap Ahmad, memeluk Mutia erat.

"Bersama-sama," tambah Leha, mengangguk penuh keyakinan.

Malam itu, mereka bertiga terus berdoa dan berharap, memohon kepada Tuhan untuk keselamatan Sephia dan Sania. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi mereka bertekad untuk tidak menyerah. Mereka akan terus mencari, sampai mereka menemukan anak-anak yang mereka cintai.

****

Zulfikar menggeram frustrasi, ia tidak tahu ke mana Lestari membawa Sephia dan Sania. Ia merasa gagal sebagai seorang ayah, tidak mampu melindungi anak-anaknya dari wanita jahat itu. Ia menatap ke sekeliling ruangan, mencari petunjuk, tetapi tidak menemukan apa pun.

"Lestari, di mana kamu membawa anak-anakku?" teriak Zulfikar, suaranya menggema di seluruh rumah. Ia merasa marah dan takut, takut kehilangan kedua anaknya selamanya.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan Lestari muncul dengan wajah ceria. Zulfikar segera menghampiri istrinya, matanya berkilat marah.

"Di mana anak-anakku, Lestari?" tanya Zulfikar, suaranya mengancam.

Lestari tersenyum sinis. "Anak-anakmu? Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," jawabnya, berpura-pura tidak tahu.

"Jangan berbohong, Lestari! Aku tahu kamu membawa mereka pergi. Di mana mereka?" bentak Zulfikar, emosinya memuncak.

"Aku tidak tahu, Mas Zulfikar. Kenapa kamu menuduhku seperti ini?" tanya Lestari, wajahnya berubah menjadi marah.

"Karena aku tahu kamu ingin menyakiti Mutia, dan kamu menggunakan anak-anakku sebagai alat!" teriak Zulfikar, ia tidak bisa lagi menahan amarahnya.

Cekcok terjadi di antara mereka, kata-kata kasar dan tuduhan saling dilontarkan. Zulfikar yang sudah kehilangan kendali, mendorong Lestari dengan kasar.

Lestari terjatuh, perutnya membentur tepi meja. Ia meringis kesakitan, darah mengalir dari kakinya. Zulfikar terkejut melihat apa yang telah ia lakukan, tetapi ia tidak punya waktu untuk menyesal.

"Katakan di mana anak-anakku, Lestari!" bentak Zulfikar, ia menarik kerah baju Lestari.

Lestari menatap Zulfikar dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu akan menyesal melakukan ini, Mas Zulfikar," desisnya, suaranya bergetar.

Zulfikar tidak peduli dengan ancaman Lestari. Ia hanya ingin menemukan anak-anaknya, dan ia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka. Ia tidak akan membiarkan Lestari menyakiti mereka lagi.

****

Lestari terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat pasi. Ia baru saja mengalami keguguran, kehilangan bayi yang ia kandung. Air mata terus mengalir dari matanya, hatinya hancur berkeping-keping.

"Ini semua salahmu, Mas Zulfikar," gumam Lestari, suaranya bergetar penuh amarah. "Kamu telah membunuh anakku."

Zulfikar duduk di samping ranjang, wajahnya penuh penyesalan. Ia tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan besar, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menyelamatkan Sephia dan Sania, meskipun itu berarti ia harus menyakiti Lestari.

"Maafkan aku, Lestari. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Zulfikar, suaranya lirih.

"Maaf? Apakah kata maafmu bisa mengembalikan anakku?" bentak Lestari, matanya berkilat penuh kebencian. "Kamu telah merebut segalanya dariku, Mas Zulfikar. Kamu telah menghancurkan hidupku."

Zulfikar terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu bahwa ia telah menyakiti Lestari, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Lestari menyakiti anak-anaknya.

"Aku akan membuatmu menyesal, Zulfikar," desis Lestari, suaranya dingin dan mengancam. "Aku akan membuat Mutia menderita, dan aku akan menyiksa Sephia dan Sania lebih kejam lagi."

Zulfikar terkejut mendengar ancaman Lestari. Ia tidak menyangka istrinya itu akan begitu kejam.

"Jangan lakukan itu, Lestari. Jangan sakiti anak-anakku," mohon Zulfikar, suaranya bergetar.

"Kamu tidak bisa menghentikanku, Zulfikar," ucap Lestari, senyum sinis menghiasi wajahnya. "Aku akan membalas dendam, dan tidak ada yang bisa menghentikanku."

Zulfikar menatap Lestari dengan tatapan penuh kekhawatiran. Ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Lestari, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia terjebak dalam situasi yang mengerikan, di mana ia harus memilih antara melindungi anak-anaknya atau menyelamatkan Lestari dari kehancurannya sendiri.

****

Sephia dan Sania saling menatap, air mata masih membasahi pipi mereka. Rasa sakit dan ketakutan menyelimuti hati mereka, tetapi ada satu hal yang lebih kuat: keinginan untuk melarikan diri.

"Kita harus pergi dari sini, Kak," bisik Sania, suaranya bergetar.

"Ya, kita harus pergi," jawab Sephia, matanya berkilat penuh tekad. "Kita tidak boleh membiarkan wanita itu menyakiti kita lagi."

Mereka berdua merangkak menuju jendela, tangan mereka gemetar saat menyentuh kaca yang dingin. Sephia mengambil pecahan kayu yang tajam dari lantai dan memukul kaca jendela dengan sekuat tenaga. Kaca itu pecah berkeping-keping, menciptakan lubang yang cukup besar untuk mereka lewati.

"Ayo, Sania," bisik Sephia, ia membantu adiknya memanjat keluar jendela.

Mereka berdua melompat ke tanah, kaki mereka terasa sakit saat menyentuh tanah yang keras. Mereka saling berpegangan tangan, mencoba menguatkan diri.

"Kita harus menjauh dari sini," ucap Sephia, ia menarik tangan Sania dan berlari menjauh dari tempat persembunyian itu.

Mereka terus berlari, meskipun tubuh mereka terasa lemah dan terluka. Mereka tidak tahu ke mana harus pergi, tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak boleh kembali ke tempat itu.

"Kak, aku lelah," isak Sania, langkahnya mulai melambat.

"Kita harus terus berjalan, Sania. Kita tidak boleh berhenti," jawab Sephia, ia menarik tangan adiknya dengan lembut.

Mereka terus berjalan, melewati jalanan yang sepi dan gelap. Mereka tidak tahu berapa lama mereka telah berjalan, tetapi mereka tidak menyerah.

"Kita harus menemukan Ibu," ucap Sania, air matanya kembali mengalir.

"Ya, kita akan menemukan Ibu," jawab Sephia, ia memeluk adiknya erat. "Ibu pasti sedang mencari kita."

Mereka terus berjalan, dengan harapan dan tekad yang tersisa di hati mereka. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan, tetapi mereka bertekad untuk bertahan hidup dan kembali ke pelukan ibu mereka.

1
StepMother_Friend
semangat kak
Serena Muna: makasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!