Anissa terpaksa menerima perjodohan atas kehendak ayahnya, dengan pria matang bernama Prabu Sakti Darmanta.
Mendapat julukan nona Darmanta sesungguhnya bukan keinginan Anissa, karena pernikahan yang tengah dia jalani hanya sebagai batu loncatan saja.
Anissa sangka, dia diperistri karena Prabu mencintainya. Namun dia salah. Kehadiranya, sesungguhnya hanya dijadikan budak untuk merawat kekasihnya yang saat ini dalam masa pengobatan, akibat Deprsi berat.
Marah, kecewa, kesal seakan bertempur menjadi satu dalam jiwanya. Setelah dia tahu kebenaran dalam pernikahanya.
Prabu sendiri menyimpan rahasia besar atas kekasihnya itu. Seiring berjalanya waktu, Anissa berhasil membongkar kebenaran tentang rumah tangganya yang hampir kandas ditengah jalan.
Namum semuanya sudah terasa mati. Cinta yang dulu tersususn rapi, seolah hancur tanpa dia tahu kapan waktu yang tepat untuk merakitnya kembali.
Akankan Anissa masih bisa bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
"Emt ... Aku sedang menemui rekanku yang bertugas di sini! Kalau begitu ... Aku pamit duluan!"
"Elang, tunggu ...." Mutia menarik lengan Elang, hingga membuat sang empunya sedikit menggeram.
"Lepaskan tanganmu, Mutia!"
"Oh, maaf! Rekan ... Siapa rekanmu itu? Mungkin aku mengenalnya, karena aku sudah lama periksa rutin ke sini?" ucap Mutia kembali mencoba meyakinkan orang di depanya.
"Kamu tidak akan mengenalnya! Lagian, jangan pernah lagi sok peduli dalam hidupku!" tandas Elang tanpa menatap wanita di sampingnya.
Mutia terdiam, membeku di tempat. Setelah itu, dia hanya menatap nanar pada sepupu Prabu yang kini masuk kedalam mobilnya, dan langsung melenggang keluar.
'Kamu benar-benar keterlaluan, Elang! Benari-beraninya kamu mengabaikanku seperti ini' geram Mutia sambil menghentakan kakinya, berjalan keluar.
*
*
*
Waktu sudah menunjukan 11 siang.
Anissa pamit dengan alasan ada pekerjaan yang belum dia selesaikan. Namun itu hanya dalihnya, karena dia takut jika Prabu akan singgah juga ke rumah sakit.
"Hati-hati, Nak!" ucap bu Laksmi menampakan senyum hangat.
Anissa lalu bergegas keluar. Menutup pintu secara perlahan.
Setelah itu dia menaikan kembali selendang satinnya, dan memakai masker kembali.
"Nyonya muda ... Tunggu ....!" seru mbok Siti menghentikan langkah Anissa.
Anissa urungkan niatnya untuk melangkah. Dia melepaskan maskernya kembali, dan berbalik badan.
"Mbok Siti ... Ada apa ya, Mbok?"
"Duduklah! Simbok ingin berbicara sebentar."
Anissa mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Lalu dia menatap wanita tua di depanya, "Kita ke taman samping saja, Mbok!"
Mbok Siti mengangguk, lalu berjalan menuju taman rumah sakit yang berada di samping sudut.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nyonya, dan Tuan muda?" gumam mbok Siti setelah mereka duduk. Wanita parubaya itu menatap kearah Anissa dengan tatapan iba.
Anissa mengunci tatapan mbok Siti, "Apa mbok Siti tau?"
"Tiga hari yang lalu, Tuan muda menanyakan pada Simbok, kalau Nyonya sudah tidak pulang ke rumah ...." kata Mbok siti menjelaskan.
"Apa Prabu pernah singgah setelah itu, Mbok?" Anissa memicing, mengorek informasi tentang suaminya.
Mbok Siti membenarkan posisi duduknya. Tatapanya menatap jauh kedepan, "Itulah yang menjasi pikiran Nyonya besar. Tuan tidak pernah mengabari ibunya, bahkan juga tidak kesini! Tapi Nyonya besar agak lega, saat melihat Nyonya datang. Mungkin dia pikir rumah tangga anda masih baik-baik saja," terang mbok Siti.
'Ada apa dengan pria itu? Bahkan, berkabar pada ibunya saja tidak. Pasti ada sesuatu'
"Sekarang, Nyonya musa tinggal di mana?" timpal mbok Siti menepuk pelan tangan Anissa.
"Aku harap, mbok Siti menutupi semua ini pada Ibu! Nissa tidak ingin ... Ibu berpikir yang tidak-tidak! Biarkan Ibu fokus pada kesehatanya terlebih dahulu," jawab Anissa sambil mejatuhkan pandanganya.
"Percayalah, tidak akan!" kata mbok Siti mengulas senyum nanar.
Anissa mengangkat pandanganya. Kedua matanya sudah berkaca-kaca, "Nissa tingga di Salatiga, Mbok! Nissa menyewa rumah di sana."
"Den Elang juga sama khawatirnya dengan Tuan muda, saat tahu jika anda pergi dari rumah!"
"Mereka memang satu paket, Mbok!" kekeh Anissa sambil menyeka sedikit air matanya.
Mbok Siti menepuk-nepuk pelan tangan Anissa kembali. Lidahnya terasa kelu, mengingat rumah tangga wanita di depannya tidak begitu mudah.
"Tolong jaga, Ibu! Kabari Nissa, jika terjadi sesuatu pada Ibu, Mbok! Maaf, jika karena kepergian Nissa ... Keadaan semakin runyam."
"Nyonya tenangkan dulu pikiran, Nyonya! Simbok lebih dari tahu, apa yang sebenarnya terjadi," sahut mbok Siti mencoba paham.
Anissa bangkit, begitu juga mbok Siti. "Saya pamit dulu! Sekali lagi terimakasih, atas waktu Simbok pada Ibu."
Mbok Siti mengangguk. Lalu hanya menatap kepergian Nyonya mudanya dengan tatapan culas.
Anissa kembali mengenakan maskernya, dan segera berjalan menuju pintu keluar utama. Mengingat taxi online yang dia pesan tadi sudah pergi, jadi mau tak mau, Anissa harus menunggu bis umum lewat di depan rumah sakit.
"Siapa kamu sebenarnya? Sosok misterius dengan selendang, dan juga masker? Apakah sebersih itu tubuhmu?"
Anissa tiba-tiba terhenyak, saat ada suara dari arah belakang yang kini membuat tubuhnya kian membeku.
"Anda ... Bukanya, anda orang yang hampir menabrak saya kemarin?" heran Anissa saat melihat sosok pria waktu lalu yang hampir menabraknya, kini malah berdiri di hadapanya.
Pria itu tersenyum remeh, seraya mendesah pelan, "Sekarang, kamu harus ikut saya! Kamu harus mempertanggung jawabkan semua ulahmu!" kata Pria tadi sambil menarik pergelangan tangan Anissa.
"Lepaskan! Saya tidak tahu siapa anda! Dan lagi, urusan kita sudah berakhir waktu lalu!" ucap Anissa menggeram. Dia menekan penuh kalimatnya, berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan pria tadi.
"Tapi gara-gara ulah kamu, saya jadi telat menghadiri pertemuan bisnis kemarin. Dan kamu tahu apa ... Saya gagal memenangkan tender kemaren!" geram pria itu menatap tajam Anissa.
"Itu bukan urusan saya! Jadi lepaskan tangan saya, atau saya akan berteriak!" ancam Anissa sudah bersiap-siap akan berteriak.
"Silahkan, berteriak! Kamu pikir, jika kamu berteriak, maka orang akan bersimpati padamu? Kamu salah! Maka kamu akan di anggap gila oleh mereka, dengan penampilanmu seperti ini ...." ujar remeh pria tadi. Setelah itu, pria tadi semakin menarik lengan tangab Anissa untuk di ajaknya menuju mobil.
Melihat itu, Gara sontak saja membolakan mata. Astaga ... Dia benar-benar malu karena ulah Tuannya saat ini.
"Tolong ... Pria ini ingin menculik saya ....." teriak Anissa.
Orang-orang yang berlalu lalang semoat menghentikan langkahnya. Mereka saling tatap, hingga membuat pria tadi seketika membuka suara.
"Jangan dengarkan! Dia istri saya! Dia dalam tahap penyembuhan, jadi agak susah ...." dalih pria itu menyakinkan orang di sekitarnya.
Gara segera berlari mendekat. Pria muda itu tidak habis pikir dengan ide gila Tuannya.
"Astaga tuan! Anda ini apa-apaan? Sebentar lagi meting mau di mulai ... Dan anda masih sibuk mencari masalah dengan wanita. Ya Tuhan ....." ucap Gara yang sudah merasa jengah.
Aww!!
Teriak Pria tadi, saat tulang keras kakinya di tendang Anissa begitu kencang. Setelah itu Anissa langsung berlari.
"Gara ... Cepat kejar dia! Cepat ...." teriak Pria tadi sambil mengangkat satu kakinya, menahan sakit.
"Baik tuan! ...." Gara segera berlari ke arah barat untuk mengejar Anissa.
Mengingat kaki Anissa yang masih terasa nyeri, jadi dia tidak dapat berlari layaknya orang normal.
"Hei Nona ... Tolong bekerja samalah dengan saya!"
"Lepaskan saya!" bentak Anissa saat tanganya berhasil di tarik Gara dari belakang.
"Ayolah, Nona ... Pekerjaan saya sudah berat, jadi jangan memperberat lagi, dengan main kejar-kejaran dengan anda!" seru Gara dengan wajah memelas.
Anissa masih melayangkan tatapan membunuh kearah asisten muda itu. Wajah yang separu tertutup masker itu, begitu terlihat merah padam, ingin sekali menelan hidup-hidup orang di depanya.
"Begini saja, Nona! Ikuti saja perintah Tuan saya! Saya dapat pastikan, jika anda akan aman. Tuan saya bukan orang kanibal, yang akan memakan daging anda!" kata Gara, lalu dia sedikit memajukan badanya, "saja berjanji, nanti saya akan bantu anda untuk keluar! Dan saya pastikan, anda keluar dalan keadaan baik-baik saja. Atau begini ... Sebentar," Asisten itu terlihat merogoh saku belakangnya, untuk mengambilkan dompet miliknya.
"Ini KTP saya," Gara menyerahkan KTP miliknya pada Anissa. "Jika anda tidak yakin, atau tubuh anda akan terluka nantinya ... Anda dalat melaporkan saya kepada pihak yang berwajib."
"Bisa saja ini KTP palsu!" sahut Anissa sambil membolak balikan kartu tersebut.
"Ya Tuhan Nona ... Itu asli! Tolong saya, Nona ... Plistt!" Gara memas di hadapan Anissa sambil menangkupkan tanganya di depan dada.
Hah!!
Desah Anissa, "Ya sudah, saya tahan KTP milikmu!"
Setelah itu, mereka berdua berjalan kembali kedepan rumah sakit, yang dimana Pria tadi sudah menunggunya sambil duduk, dengab tangan mengusap tulang keras kakinya.
"Tuan, saya sudah berhasil membawa wanita ini," ucap Gara masih menggenggam lengan Anissa.
Kedua netra Pria tadi membola, melihat tangan Gara tanpa dosa masih melingkar di pergelangan tangan Anissa.
"Sekarang bawa masuk ke dalam mobil!"
Anissa hanya mengikuti permainan gila dua pria itu. Entah bagaimana nantinya, yang jelas dia sudah tidak sabar ingin segera pulang.
Selepas kepergian mobil milik pria tadi, di saat yang bersamaan mobil Elang baru saja masuk kedalam rumah sakit tempat bu Laksmi dirawat.
"Tuan ... Kita langsung kemana ini?" gumam Gara memecah suasana hening dalam mobil.
"Pathouse saya!" jawab pria tadi dengan suara dingin.
Mobil terus berjalan, hingga tanpa Anissa sadari, sudah memasuki kota Salatiga lagi. Dan hal itu sedikit membuat Anissa menjadi lebih tenang.
Sejak tadi, Gara dapat melihat jika Tuannya mencuri-curi pandang pada wanita yang kini duduk di sebelahnya.
'Cantik sih ... Tapi galaknya minta ampun!' batin Pria itu saat mencuri tatap wajah Anissa.
Gara yang spontan membelokan mobilnya kearah kanan, tampak menahan tawa, karena Tuannya menjadi salah tingkah sendiri.
Brugh
Aww!!
"Kamu sengaja, ya?" teriak Anissa, saat tubuh Pria di sebelahnya menghimpit tubuhnya, karena ulah sang asisten.
"Enak saja! Ngapain saya dekat-dekat wanita tidak jelas kaya kamu," balas pria itu memalingkan wajahnya kearah kaca.
Anissa mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya juga kearah kaca.
Hingga tanpa mereka rasa, mobil itu sudah berhenti di depan rumah dengan pagar hitam menjulang tinggi.
dah tau penyakitan mlh nikah tp nyiksa istrinya bawa pulang wanita lain pula.
semoga smpat minta maaf ke anisa sebelum mati tu si Prabu.
✨🦋1 Atap Terbagi 2 Surga ✨🦋
udah update lagi ya dibab 62. nanti sudah bisa dibaca 🤗😍
alasan ibu mertua minta cucu, bkn alasan krn kau saja yg ingin di tiduri suamimu.
tp ya gimana secara suaminya kaya raya sayang banget kan kl di tinggalkan, pdhl mumpung blm jebol perawan lbih baik cerai sekarang. Anisa yg bucin duluan 🤣🤣. lemah
mending ganti kartu atau HP di jual ganti baru trus menghilang. balik nnti kl sdh sukses. itu baru wanita keren. tp kl cm wanita pasrah mau tersiksa dng pernikahan gk sehat bukan wanita keren, tp wanita lemah dan bodoh.
jaman sdh berubah wanita tak bisa di tindas.
yg utang kn bpk nya ngapain mau di nikahkan untuk lunas hutang. mnding #kabur saja dulu# di luar negri hidup lbih enak cari kerja gampang.
karena ini Annisa terkejut, bisa diganti ke rasa sakit seolah sembilu pisau ada di dadanya. maknanya, Annisa merasa tersakiti banget
setahuku, penulisan dialog yang benar itu seperti ini.
"Mas? Aku tak suka dengan panggilanmu itu Terlalu menjijikan untuk didengar, Annisa," ucap Parbu dingin dengan ekspresi seolah diri Annisa ini sebegitu menjijikan di mata Prabu.
Tahu maksudnya?
"BLA BLA BLA,/!/?/." kata/ucap/bantah/seru.
Boleh kasih jawaban kenapa setiap pertanyaan di dialog ada dobel tanda baca. semisal, ?? dan ?!. Bisa jelaskan maksud dan mungkin kamu tahu rumus struktur dialog ini dapet dr mana? referensi nya mungkin.