Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB28 - MAAFKAN AKU
Kedua ekor mata Davina tampak mengasihani sang suami. Posisi Dave pada saat itu meringkuk di atas lantai yang dingin. Davina pun tak tega melihat Dave seperti itu. Ia pun berjongkok, menepuk pundak Dave dengan sentuhan lembut.
"Dave ... bangun," panggil Davina.
"Dave ... bangunlah. Pindah ke kamarmu," panggil Davina lagi. Terlihat pergerakan dari tubuh Dave. Ia pun menatap wajah Davina yang sembab. Kedua kelopak matanya terlihat membengkak.
"Davina ...." Dave pun memposisikan tubuhnya duduk. Perlahan ia mengucek kedua matanya yang berat.
"Pindahlah ke kamarmu. Aku akan memasak makan malam untukmu. Nanti aku panggilkan," kata Davina seraya hendak bangkit berdiri. Dave menarik pergelangan tangan Davina hingga ia terduduk di samping Dave.
"Jangan pergi. Tetaplah bersamaku, Vin," ucap Dave dengan suara yang serak.
Davina merasakan hangat pada genggaman tangan Dave. Ia pun secepat kilat, meletakkan punggung tangannya di dahi Dave.
"Kau panas, Dave," kata Davina panik.
Dave tersenyum.
"Bukan ... aku cuma kena hukuman." Davina menarik tubuh Dave dan membantunya untuk berjalan.
"Ayo kita ke kamar." Davina berusaha mengangkat tubuh kekar Dave.
Dave tersenyum melihat kekhawatiran dari wajah Davina. Ia pun merangkul pundak Davina, agar wanita itu tak merasakan tubuhnya yang kelewat berat.
"Kenapa kau malahan tidur di lantai. Kamarmu begitu luas." Davina memarahinya dengan kesal.
"Itu bukan kamarku. Kamar kita berdua. Karena kau tidur di atas lantai. Jadi, aku mau sama-sama kita merasakannya," kata Dave.
Davina mencebikkan bibirnya.
"Sudah aku katakan, jangan mengashini aku. Jadilah dirimu sendiri," balas Davina. Dave cuma diam. Ia tahu, Davina akan selalu mengatakan seperti itu.
Sesampainya di dekat ranjang, Davina menarik selimut dan membantu Dave untuk masuk ke dalam. Ia pun membungkus setengah tubuh Dave.
"Istirahatlah. Aku siapkan bubur dan membawakan obat pereda panas untukmu," kata Davina. Kemudian ia berbalik dan hendak pergi. Dave kembali menarik tangan Davina dan menahannya.
Davina menoleh. "Ada apa?"
"Jangan tinggalkan aku," kata Dave dengan suara parau.
Davina sekejap menatap tanpa berkedip pada kedua mata Dave. Ia pun menarik napasnya, melihat wajah Dave yang lemas.
...Kenapa sulit sekali membenci pria ini. Melihat wajahnya saja, mampu menggoyahkan perasaanku....
Davina menyentuh tangan Dave, lalu ia mendekat duduk di samping ranjang. Dave memperhatikan wajah Davina lekat-lekat.
"Aku hanya membuatkanmu makan malam. Hanya sebentar saja. Terus, aku akan mengambilkan obat pereda untukmu. Aku nggak akan ke mana-mana, Dave. Bersabarlah sebentar," ucap Davina membujuk.
Dave menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Kau sudah berjanji tak akan meninggalkan aku, kan?" Pria di depan Davina itu memastikan.
Davina menganggukan kepalanya.
"Ia ... aku berjanji. Tidurlah sebentar, nanti aku akan membangunkanmu," balas Davina meyakinkan.
"Baiklah. Terima kasih, Vin," balas Dave.
Davina segera berdiri. Ia pun berjalan menjauh dan berlalu dari kamar. Sesampainya di dapur, tanpa memikirkan rasa kecewanya, ia pun tulus menyediakan makan malam untuk Dave.
Setelah hampir setengah jam. Davina kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur, gelas dan obat pereda panas. Davina meletakkan bawaannya di atas nakas, tepatnya di samping Dave. Matanya, memandang ke arah wajah Dave. Kedua mata itu terpejam sangat dalam. Ia merasakan sesuatu dalam hatinya.
Sebenarnya ... apakah aku salah mencintai pria ini? Aku juga tak tahu, ini benaran cinta atau hanya sekedar menyukainya. Tapi, aku ingin ini benaran cinta.
Tangan Davina terulur ke dahi Dave. Ia merasakan lagi, apakah panasnya turun. Davina terkesiap, panasnya Dave semakin naik dari sebelumnya.
"Panas sekali," cetusnya.
"Dave ... bangun," panggil Davina dengan lembut.
Perlahan kedua matanya terbuka. Sekujur tubuhnya merasakan sangat panas.
"Makanlah dulu. Tubuhmu sangat panas," ucap Davina dengan perlahan menarik tubuh Dave agar bersandar di ujung tempat tidur.
"Tidak masalah. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Vin," kata Dave dengan bibir yang melengkung.
"Gimana nggak khawatir, bukankah suami sendiri sakit, itu sangat tak baik untuk seorang istri?" gumamnya seraya menyendokkan suapan pertama ke mulut Dave. Kedua mata Dave terkesiap mendengar penuturan.
"Buka mulutmu," kata Davina, saat mata Dave sama sekali tak bergerak memandangnya.
"Maafkan, aku," kata Dave.
"Jangan memulai. Makanlah dulu," sindir Davina.
Tanpa melepas pandangannya, Dave membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Davina.
"Apakah enak?" tanya Davina.
Dave menganggukan kepalanya.
"Semua masakanmu enak. Hanya lidahku saja yang tak enak."
Davina tersenyum kecil.
"Hemmm ... namanya juga sedang sakit," balas Davina. "Sudah ... buruan dihabiskan. Siap ini, kau harus meminum obatmu," kata Davina mengingatkan lagi.
"Jika aku minum obat. Apakah kau akan meninggalkan aku?" Kedua mata Dave mengunci mata Davina. Ia menunggu jawaban dari bibir tipis Davina. Tatapan Davina seakan tak percaya dengan ucapan Dave barusan. Entah mengapa, sedari tadi yang dikatakan Dave, seperti itu.
"Kau pikir aku wanita yang nggak punya hati?"
Dave tersenyum.
"Kau wanita yang sangat baik, Vin. Aku tak pantas mendapatkan cintamu." Dave berucap serius.
Davina menunduk. Ia pun kembali fokus pada sendok dalam genggamannya. Kembali lagi, Davina mengarahkan sendoknya ke mulut Dave.
"Makanlah," ucap Davina mengalihkan pembicaraan.
Dave membuka mulutnya. Ia tahu, Davina masih kecewa oleh perkataannya. Tapi, di satu sisi Dave takut di tinggal oleh Davina. Keheningan pun tercipta, saat tak ada lagi pembicaraan keduanya.
"Buka mulutmu," ucap Davina mengarahkan obat pereda panas ke mulut Dave. Ia pun langsung mengikuti perintah Davina. Selesai dengan tugasnya, Davina kembali meminta Dave berbaring. Ia pun membungkus tubuh Dave dengan perlakuan lembut.
"Tidurlah. Aku ingin ke bawah." Davina pamit.
Dave menganggukan kepalanya.
"Jangan tidur di kamar kosong. Ini kamarmu juga," balas Dave mengingatkan.
Davina dia cuma tersenyum dan melangkah keluar kamar. Sesudah tiba di bawah, Davina langsung beres-beres. Seusainya, dia mengambil makan malam untuk dirinya sendiri. Duduk sendiri di tengah ruang makan. Mengingat Dave seperti itu, karena menunggu dirinya. Membuat perasaan Davina sedikit bersalah.
"Ia sendiri yang mau. Kenapa aku harus merasa bersalah?" gumamnya seraya mengunyah makanannya.
"Argghhh ... tapi tetap saja. Aku tak bisa jahat ke dia. Seharusnya, itu pantas didapatnya. Dia benar-benar melukai perasaanku! Kenapa juga aku menyukainya," gumam Davina kesal.
Seusai makan dan beres-beres. Davina kembali ke kamar. Ia mendapati Dave yang tidur sangatlah nyenyak. Davina mendekat, menatapi peluh yang membanjiri dahi Dave.
"Apakah itu sangat sakit?" tanya Davina seraya mengusap lembut air keringat Dave.
"Kenapa semakin panas?" pekik Davina.
Kedua kakinya pun cepat berjalan menuju kamar mandi. Ia mengambil air dalam baskom dan kain untuk mengompres panas Dave. Dengan cekatan, Davina menempelkan kain putih di dahi Dave.
"Jangan sakit. Kenapa aku rasanya sedih banget melihatmu begini," gumam Davina. Ia mengusap beberapa sulur anak rambut Dave. Memperhatikan wajah tampan Dave sedari dekat.
"Kau sih nakal. Kenapa tak bisa menjadi pria yang benar-benar bisa aku andalkan." Davina tersenyum melihat teduhnya wajah Dave.
Setelah beberapa jam ia mengganti kain kompresan. Akhirnya, Davina mengantuk dan tertidur di samping ranjang. Tepatnya di samping Dave. Tangan Davina, menyentuh pergelangan tangan Dave, untuk mengukur suhu panas Dave hingga kantuk membawanya ke dalam tidur.
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔