NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dermaga rindu pesantren

Di asrama putra, Langit disambut heboh oleh teman-temannya. Namun, pikirannya melayang jauh. Biasanya ia paling malas belajar, tapi kali ini ia justru bersemangat. Mengapa? Karena hanya saat kelas malam nanti ia bisa melihat Senja, meskipun hanya dari balik sekat kayu yang memisahkan santri putra dan putri.

Benar saja, saat pengajian kitab kuning dimulai, Langit duduk di barisan depan agar bisa melihat bayangan Senja di balik tirai pembatas. Saat Senja sedang serius menulis makna kitab di mejanya, tiba-tiba seorang santriwati junior mendekat dan memberikan sebuah selipan kertas kecil.

"Di Bali kita punya bintang, di sini kita punya doa. Tapi tetap saja, saya lebih pilih pelukan kamu daripada kitab ini. I love you, Ja. — Suami tengilmu."

Senja tersenyum dibalik cadar tipisnya, hatinya menghangat. Ternyata, meski kembali ke pesantren, Langit tetap tidak kehilangan cara untuk membuatnya merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia.

Malam di pesantren terasa begitu sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan dengkur halus para santri di asrama putra. Namun, di salah satu sudut barisan ranjang, Langit Sterling sedang berjuang melawan batinnya sendiri.

Langit berbaring telentang dengan kedua tangan menyangga kepala. Matanya menatap langit-langit asrama yang kusam, namun pikirannya terbang jauh ke vila mewah di Uluwatu. Ia teringat bagaimana hangatnya kulit Senja saat bersentuhan dengannya, aroma parfum istrinya yang memabukkan, dan suara desahan lembut Senja yang masih terngiang jelas di telinganya.

Langit tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ia membalikkan badannya ke samping, memeluk guling erat-erat seolah guling itu adalah tubuh mungil Senja.

"Baru sehari pisah ranjang aja rasanya kayak setahun," gumamnya pelan. Ia merindukan bagaimana Senja meringis malu saat ia goda, dan bagaimana istrinya itu akhirnya menyerahkan seluruh cintanya malam itu. Rasa pasrah karena aturan pesantren membuatnya hanya bisa memeluk kenangan itu rapat-rapat dalam mimpinya yang belum kunjung datang.

Sementara itu, di blok asrama putri yang terpisah jarak cukup jauh, suasana hati yang sama sedang melanda Senja Ardhani.

Senja sudah bolak-balik mengubah posisi tidurnya. Ke kiri salah, ke kanan pun tak tenang. Selimutnya sudah berantakan, namun matanya tetap terjaga.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Langit yang sedang mencium keningnya dengan penuh perasaan kembali muncul. Ingatan tentang bagaimana suaminya itu memperlakukannya dengan begitu lembut namun penuh gairah di Bali membuat sekujur tubuhnya terasa hangat kembali.

Wajah Senja merona merah di tengah kegelapan kamar. Bukannya sedih karena rindu, ia justru terus-menerus tersenyum. Akhirnya, karena sudah benar-benar tidak bisa tidur, Senja duduk di pinggir kasur tipisnya.

Ia menumpu dagu dengan kedua tangannya, membiarkan rambut panjangnya terurai. Senja menatap ke arah jendela, membayangkan Langit sedang melakukan hal yang sama di seberang sana. "Langit nakal... gara-gara kamu, aku jadi nggak bisa tidur begini," bisiknya lirih sambil tersenyum manis.

Rasa rindu itu terasa sesak namun indah. Senja menyentuh lehernya sendiri, teringat jejak-jejak cinta yang ditinggalkan Langit di sana. Meski kini ia kembali harus mengenakan hijab rapat dan bersikap formal, ingatan bahwa ia telah menjadi milik Langit seutuhnya membuat malam yang sunyi itu terasa begitu romantis baginya.

Keduanya sama-sama terjebak dalam kerinduan yang membuncah, hanya bisa saling mendoakan dalam diam agar esok segera tiba, di mana mereka bisa saling mencuri pandang kembali.

Pukul tiga dini hari, lonceng kayu pesantren berbunyi pelan, menandakan waktu bagi para santri untuk bangun melaksanakan shalat Tahajud.

Koridor asrama yang remang-remang mulai diisi oleh langkah-langkah kaki yang tenang menuju masjid.

Langit berjalan dengan mata yang sebenarnya masih berat karena hampir tidak tidur semalaman, namun semangatnya mendadak bangkit saat melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan di kejauhan. Itu Senja. Istrinya berjalan menunduk, mengenakan mukena putih bersih dengan langkah yang anggun di koridor putri yang berbatasan dengan area jalan santri putra.

Melihat situasi yang sepi karena santri lain sudah lebih dulu masuk ke masjid, Langit mempercepat langkahnya. Dengan gerakan yang gesit namun senyap, saat Senja melewati sebuah pilar besar yang gelap, Langit tiba-tiba meraih pergelangan tangan Senja dan menariknya lembut ke balik bayangan pilar tersebut.

"Astaghfirullah—" Senja hampir saja berteriak karena terkejut, namun sebuah telapak tangan hangat segera membungkam mulutnya dengan lembut.

"Ssttt... ini saya, Ja," bisik suara parau yang sangat ia rindukan.

Begitu menyadari itu adalah Langit, napas Senja yang tadinya memburu langsung mereda.

Dalam kegelapan yang remang, mata mereka bertemu. Jantung keduanya berpacu hebat, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena getaran rindu yang meledak setelah malam yang terasa sangat panjang.

Langit menatap wajah Senja yang tampak begitu suci dalam balutan mukena. Tanpa berkata-kata, Langit meraih tangan kanan Senja, membawanya ke depan bibirnya, dan mencium punggung tangan itu dengan sangat lama dan penuh perasaan. Ia memejamkan mata, menghirup aroma sabun dan kehangatan kulit istrinya yang masih teringat jelas dari malam di Bali.

"Satu malam nggak meluk kamu, rasanya mau mati, Ja," bisik Langit lirih, suaranya terdengar sangat manja dan tulus.

Senja tersenyum dibalik mukenanya, matanya berkaca-kaca karena haru. Ia membalas genggaman tangan Langit tak kalah erat. "Aku juga... aku nggak bisa tidur semalaman karena mikirin kamu."

Langit tidak tahan. Ia memajukan wajahnya, mencium kening Senja dengan penuh takzim. Sebuah ciuman yang singkat namun sarat akan janji setia. "Sabar ya, Nyonya Sterling. Belajar yang rajin hari ini. Saya akan selalu perhatikan kamu dari jauh."

"Sudah, Lang... nanti ada pengurus lewat," bisik Senja sambil perlahan melepaskan tangannya, meski sebenarnya ia ingin tetap di sana selamanya.

Langit mengangguk, melepaskan Senja dengan berat hati. "Ayo shalat. Doakan saya ya di sujud kamu."

Senja mengangguk manis, lalu bergegas keluar dari balik pilar menuju barisan jamaah putri.

Langit berdiri diam sejenak di sana, menyentuh dadanya yang bergemuruh. Pertemuan singkat itu sudah cukup untuk mengisi energinya menghadapi hari-hari di pesantren.

Pagi harinya di kelas kitab, fokus Langit benar-benar buyar. Meskipun fisiknya ada di bangku santri, jiwanya masih tertinggal di balik pilar masjid tadi subuh.

Otaknya yang cerdas mulai memutar otak—dia butuh alasan logis untuk bisa berada di dekat Senja tanpa memancing kecurigaan santri lain.

Saat Ustaz sedang menjelaskan bab tentang hak-hak suami istri, Langit sengaja mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Ustaz, saya benar-benar tidak paham bagian ini. Bukankah lebih baik jika saya mendapat penjelasan tambahan dari keluarga Kyai agar tidak salah tafsir? Saya merasa butuh bimbingan khusus di Ndalem," ucap Langit dengan wajah yang dibuat-buat bingung, padahal di dalam hati dia sedang tertawa licik.

Teman-temannya hanya melongo. Mereka tahu Langit cerdas, tapi kali ini akting "bodoh"-nya benar-benar luar biasa. Ustaz yang tidak curiga akhirnya mengangguk.

"Ya sudah, Langit. Setelah kelas, kamu silakan ke ruang tamu Ndalem, kebetulan tadi Ibu Nyai mencari bantuan."

Dengan langkah ringan, Langit hampir berlari menuju kediaman Kyai. Benar saja, di ruang tengah yang luas, Senja sedang duduk bersimpuh di samping dr. Siti Aminah. Mereka sedang menata kotak-kotak obat untuk kegiatan bakti sosial pesantren. Senja tampak serius mencatat nama-nama obat, kacamata baca tipis bertengger di hidung bangirnya, membuatnya terlihat sangat cerdas dan mempesona.

"Assalamu’alaikum, Bu Nyai... Senja," sapa Langit dengan nada yang sangat sopan.

Senja mendongak, matanya membulat melihat Langit tiba-tiba muncul. Pena di tangannya hampir jatuh. "L-langit? Sedang apa di sini?"

"Langit mau tanya soal pelajaran tadi, Bu," jawab Langit sambil melirik Senja dengan tatapan nakal yang hanya dimengerti oleh sang istri.

dr. Siti Aminah tersenyum. "Kebetulan, Langit. Ibu mau ke klinik sebentar ada pasien darurat. Senja, tolong bantu Langit jelaskan yang dia tidak tahu, ya? Sambil selesaikan catatan obat ini."

Begitu dr. Siti keluar dari ruangan, suasana langsung berubah. Langit tidak membuang waktu. Ia langsung duduk di karpet tepat di samping Senja, merapat hingga lengan mereka bersentuhan.

"Jadi, bagian mana yang kamu nggak paham, Langit?" tanya Senja mencoba bersikap formal meski jantungnya berdegup kencang.

"Semuanya," bisik Langit sambil menarik lembut buku catatan Senja. "Terutama bagian gimana cara nahan kangen kalau istri saya duduk sedekat ini tapi saya nggak boleh nyentuh."

"Langit! Ini di ruang tengah, nanti kalau Abah lihat gimana?" Senja memperingatkan dengan suara rendah, wajahnya sudah merona hebat.

Langit hanya terkekeh pelan. Ia memanfaatkan tumpukan kotak obat yang tinggi sebagai penghalang pandangan dari arah pintu. Di balik tumpukan itu, ia menyelinapkan tangannya, menggenggam jemari Senja dan sesekali mengelusnya lembut.

"Cuma sebentar, Ja. Biar saya semangat belajarnya," ucap Langit manja. Ia kemudian mengambil sebuah pulpen dan menuliskan sesuatu di telapak tangan Senja.

"Malam ini, jendela kamar kamu jangan dikunci. Saya mau kasih oleh-oleh dari Bali yang ketinggalan."

Senja menatap tulisan itu, lalu menatap suaminya dengan cemas sekaligus bersemangat. "Kamu gila ya? Itu bahaya banget, Langit!"

"Demi kamu, saya berani jadi gila," jawab Langit sambil mengedipkan sebelah matanya, kembali berpura-pura membaca kitab saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat.

Malam semakin larut di Pesantren Mambaul Ulum. Jam malam sudah diberlakukan, dan seluruh lampu asrama putra telah dipadamkan. Namun, bagi Langit, ini adalah waktu operasional yang sesungguhnya. Dengan hanya mengenakan kaos hitam dan celana santai, ia mengendap-endap keluar dari asrama putra, memanfaatkan kegelapan bayangan pohon-pohon besar yang berjajar di area pesantren.

Di sisi lain, di dalam kamarnya, Senja sedang duduk gelisah di tepi tempat tidur. Ia baru saja selesai melaksanakan shalat, namun hatinya tidak tenang.

Pesan Langit di telapak tangannya tadi siang terus terngiang. Ia menatap jendela kayu kamarnya yang sedikit terbuka, ragu antara harus menutupnya rapat demi keamanan atau membiarkannya sesuai permintaan suaminya yang nekat itu.

SREKK... SREKK...

1
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
yuningsih titin
cie.. malam pertama senja dan langit😍
yuningsih titin
duh bahagianya yang mau bulan madu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!