Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesanan dari masa lalu
Siang itu, Naura kembali mengenakan seragam kafe dengan langkah yang sudah hafal jalurnya. Rambutnya diikat rapi, apron terpasang sempurna. Begitu memasuki kafe JINGGA, aroma kopi dan suara peralatan dapur langsung menyambutnya, menghadirkan ritme yang akrab. Beberapa rekan kerja menyapanya, dan Naura membalas dengan senyum ringan seperti biasa.
Kafe mulai ramai menjelang jam makan siang. Naura bergerak lincah dari satu meja ke meja lain, mencatat pesanan, mengantar minuman, sesekali membantu di bar saat antrean memanjang. Wajahnya tetap tenang meski keringat tipis mulai muncul di pelipis. Profesional, seperti yang selalu ia usahakan.
Namun di sela kesibukan itu, ponsel di saku apronnya sempat bergetar pelan. Naura melirik sekilas..nomor yang sama seperti kemarin. Ia menghela napas kecil, lalu menyimpan kembali ponselnya tanpa membuka pesan. Sekarang bukan waktunya.
Ia kembali melangkah, menegakkan bahu, menata senyum. Tak ia sadari, di antara hiruk-pikuk siang dan denting sendok yang beradu, takdir perlahan mendekat..menunggu momen yang tepat untuk mempertemukan dua masa lalu yang belum selesai.
Di sela kesibukan, Naura akhirnya sempat membuka ponselnya. Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang sama seperti kemarin.
Apa hari ini bisa pesan antar makanan?
Naura mengernyit tipis. Lagi. Nomor itu lagi. Ada rasa heran yang tak bisa ia abaikan. Bukankah kemarin ia sudah menjelaskan bahwa pesanan antar bisa melalui petugas lain? Kenapa orang ini tetap menghubunginya? Seolah bersikeras agar ia sendiri yang menangani pesanan itu.
Perasaan ganjil menyelusup, namun Naura tak ingin larut dalam prasangka. Mungkin hanya pelanggan tetap yang merasa nyaman dilayani orang yang sama, pikirnya. Ia menarik napas kecil, menyingkirkan segala dugaan.
Tanpa berpikir panjang lagi, Naura melangkah ke bar. Ia menyampaikan pesanan itu pada rekan kerjanya, lalu ikut membantu menyiapkan makanan dan minuman. Gerakannya cekatan, wajahnya kembali netral dan profesional—tak menyadari bahwa di balik pesan singkat itu, ada seseorang yang tengah menunggu dengan hati berdebar dan masa lalu yang perlahan menuntut untuk dihadapi.
Sementara di lain tempat ,Hamka sedang berada di kamarnya.Tangannya sedikit bergetar saat layar ponsel menyala. Hamka menatap nama yang kini tersimpan di kontaknya..Naura.
Meski itu belum pasti perempuan itu adalah Naura yang sama.
Hanya satu nama, namun beratnya seperti membawa lima tahun yang tak pernah selesai.
Ia menarik napas, lalu mengetik pelan, seolah setiap huruf harus dipilih dengan hati-hati.
Apa hari ini bisa pesan antar makanan?
Pesan itu tampak sederhana. Terlalu sederhana untuk perasaan yang berantakan di dadanya. Namun hanya itu yang mampu ia kirim..alasan paling aman agar tetap bisa mendekat, tanpa harus membuka luka dengan kata-kata yang belum tentu siap diterima.
Begitu pesan terkirim, Hamka meletakkan ponsel di meja, lalu meraihnya kembali. Berkali-kali. Menunggu.
Kalau ini benar dia,
aku cuma mau lihat dia baik-baik aja…
itu aja dulu.
***
Motor Naura berhenti di pelataran sebuah apartemen yang tampak cukup elit. Gedung tinggi dengan penjagaan rapi itu membuatnya sedikit menegakkan bahu, memastikan penampilannya tetap sopan dan profesional. Ia menurunkan standar motor, lalu meraih bungkusan pesanan di jok belakang.
Dengan langkah tenang, Naura memasuki lobi dan menuju lift. Pintu logam itu menutup perlahan, membawanya naik. Angka-angka di panel menyala satu per satu, hingga berhenti di lantai lima belas. Perjalanan terasa cukup lama, hanya ditemani dengung halus mesin lift dan pantulan bayangannya sendiri di dinding.
Ting.
Pintu lift terbuka. Naura melangkah keluar, aroma karpet bersih dan pendingin ruangan langsung menyergap. Ia berjalan menyusuri lorong dengan langkah mantap, sesekali menurunkan pandangan ke layar ponselnya, mencocokkan nomor unit yang tertera. Matanya bergerak seksama, mencari pintu yang sesuai tanpa tahu bahwa beberapa langkah lagi, ia akan berhadapan dengan seseorang yang pernah menjadi bagian besar dari hidupnya.
Naura menekan bel di samping pintu unit itu. Detiknya terasa memanjang. Ia berdiri sambil menahan beban di tangan, sesekali melirik jam di ponsel. Beberapa saat kemudian, pintu akhirnya terbuka.
Seorang wanita paruh baya muncul, wajahnya ramah dengan senyum yang hangat.
“Masuk saja, Mbak. Si Mas-nya lagi mandi,” ucapnya santai dengan logat Jawa yang khas.
Dari caranya berbicara, Naura menebak perempuan itu adalah asisten rumah tangga penghuni unit tersebut. Naura tersenyum sopan, namun tetap bertahan di ambang pintu.
“Bu, maaf, apa boleh saya titip pesanannya saja ya? Soalnya saya nggak bisa lama-lama.”
Tak mungkin rasanya menunggu pelanggan sampai selesai mandi. Masih banyak pekerjaan lain yang menunggunya di kafe.
Wanita itu tampak sedikit kikuk, lalu tertawa kecil.
“Duh, maaf ya,Mbak cantik. Tadi si Mas sudah titip pesan, katanya kalau Neng datang harus nunggu dulu.” Ia membuka pintu lebih lebar. “Ayo… silakan masuk.”
Naura terdiam sejenak. Ada rasa tak enak yang sulit dijelaskan, namun profesionalitas kembali menuntunnya. Dengan ragu yang ia simpan rapi, Naura melangkah masuk—tanpa menyadari bahwa pintu yang baru saja ia lewati akan mempertemukannya dengan masa lalu yang belum sempat ia hadapi.
Naura dipersilakan duduk. Ia menurunkan bungkusan pesanan di atas meja kecil, lalu pandangannya menyapu ruangan apartemen yang tampak bersih, rapi, dan tertata dengan selera yang tenang. Semuanya terlihat biasa—hingga matanya tertahan pada sebuah rak kaca di sudut ruangan.
Di sana, tersimpan sebuah miniatur motor.
Napas Naura tercekat. Miniatur itu… sama persis. Bukan sekadar mirip—bahkan detail kecilnya pun tak asing. Miniatur yang dulu pernah ia berikan pada seseorang. Tangannya refleks mengepal.
Naura bangkit dari duduknya. Dengan langkah pelan, hampir tanpa suara, ia mendekati rak kaca itu. Jantungnya berdetak kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama yang tak biasa. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menyeruak, membuat tenggorokannya mengering.
“Mungkin cuma mirip,” gumamnya lirih, berusaha menenangkan diri, memaksa logika bekerja meski hatinya tak sejalan.
Di saat yang sama, dari arah lain apartemen, Hamka baru saja keluar dari kamarnya. Hari itu hari libur, ia mengenakan pakaian santai namun tetap kasual. Rambutnya masih sedikit basah, aroma parfum maskulin yang lembut tercium seiring langkahnya.
Hamka membeku di tempat.