Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Terima kasih banyak ya, Tante," ucap Ira dengan sopan, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar.
"Iya Tante! Duh, masakan Tante Diana kan juara, kebetulan banget perut Dinda sudah demo minta diisi karena syok tadi," celetuk Dinda, kembali ke sifat aslinya yang berusaha mencairkan suasana meskipun ia sebenarnya masih meremas kristal biru di saku roknya.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, saat melewati ambang pintu, Jelita merasakan hembusan angin dingin yang sangat tipis melewati tengkuknya. Ia tahu, Arjuna dan Gama tidak benar-benar pergi. Mereka masuk ke dalam rumah bersama mereka, menjaga setiap sudut bangunan ini tanpa terlihat oleh mata Diana.
Sesampainya di kamar Jelita yang luas, Ira langsung mengunci pintu dan terduduk lemas di karpet. "Gila... aku nggak tahu harus gimana kalau ibumu tahu apa yang sebenarnya terjadi di kampus tadi, Jel."
"Ibuku nggak akan tahu, Ra. Arjuna pasti sudah 'membereskan' ingatan orang-orang yang melihat kita di kelas tadi," sahut Jelita sambil meletakkan tasnya.
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar menurun drastis. Bayangan di sudut kamar mulai memanjang dan membentuk siluet pria tinggi yang sangat gagah. Arjuna muncul dengan keanggunan yang mengintimidasi, diikuti oleh Gama yang berdiri tegap di dekat jendela seperti patung ksatria.
"Rumah ini sudah kusegel," ucap Arjuna tanpa basa-basi. "Mahesa tidak akan bisa menembus dinding ini, kecuali jika salah satu dari kalian mengundangnya masuk secara tidak sengaja."
Gama menatap Ira dengan tajam. "Ingat, Irawati. Gelangmu jangan sampai lepas. Mahesa akan mencoba memanipulasi pikiranmu lewat mimpi."
Satu jam kemudian, aroma masakan lezat tercium hingga ke lantai atas. Ayah Jelita, Burhan, sudah pulang dan mereka semua berkumpul di meja makan. Makan malam yang seharusnya hangat terasa sangat aneh bagi Jelita, Ira, dan Dinda.
Sebab, di meja makan itu bukan hanya ada mereka berlima.
Arjuna duduk dengan santai di kursi kosong sebelah Jelita, lengannya menyandar di punggung kursi Jelita dengan posesif.
Gama berdiri diam di belakang kursi Ira, matanya yang biru berkilat sesekali mengawasi ke arah pintu belakang.
"Ayo makan yang banyak, Ira, Dinda. Kalian pasti capek banget karena kejadian di kampus tadi," ucap Burhan sambil memotong lauk. "Ayah tadi lihat di berita, katanya ada gempa di fakultas kalian sampai gedungnya retak. Syukurlah kalian selamat."
"I-iya, Om. Untung kami tadi sudah keluar kelas," jawab Ira sambil melirik ke sampingnya, di mana ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa dari kehadiran Gama.
Dinda hampir saja tersedak saat melihat Arjuna dengan santainya mengambil sebutir anggur dari piring buah di tengah meja dengan gerakan gaibnya. Angur itu melayang sedikit lalu menghilang—dimakan oleh sang raja kegelapan.
"Dinda? Kamu kenapa? Wajahmu lucu sekali," tanya Diana sambil tertawa kecil.
"Eh, nggak apa-apa Tante! Cuma... anu... anggurnya kelihatannya enak banget!" jawab Dinda panik.
Jelita merasakan tangan dingin Arjuna merayap di bawah meja, menggenggam tangannya dengan erat.
"Fokus pada makananmu, Ratu Kecilku. Abaikan aku sejenak jika kau tidak ingin orang tuamu curiga," bisik Arjuna langsung ke pikiran Jelita, disusul dengan senyuman miring yang terlihat sangat tampan sekaligus nakal.
Setelah makan malam selesai, mereka bertiga segera pamit ke kamar dengan alasan ingin mengerjakan tugas. Begitu pintu kamar tertutup, Ira langsung meledak.
"JELITA! Bagaimana bisa kita tenang kalau mereka ikut makan malam bersama kita?! Aku merasa seperti diawasi malaikat maut dan pangeran mesum secara bersamaan!"
"Kamu harus membiasakannya Ira! sekarang kita harus berdampingan dengan mereka." jelas Jelita.
"Benar kata Jelita! Malahan aku ingin berlama-lama menatap Gama yang gagah itu." Ucap Dinda dengan mata berbinar saat makan tadi memperhatikan Gama.
Ira menatap Dinda dengan tatapan "ingin menghilang dari bumi". Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang akibat sensasi dingin Gama yang berdiri di belakangnya selama satu jam penuh.
"Dinda, kamu itu beneran ya! Aku tadi mau mati karena kedinginan dijagain Gama, kamu malah sibuk cuci mata!" gerutu Ira sambil melempar bantal ke arah Dinda.
Dinda dengan tangkas menangkap bantal itu sambil nyengir lebar. "Ya gimana lagi, Ra? Habisnya Mas Gama kalau lagi mode serius gitu aura ksatria-ksatria di komik itu keluar semua. Aku sampai lupa kalau dia itu... yah, kamu tahu sendiri, nggak punya napas."
Jelita tersenyum tipis melihat kedua sahabatnya mulai bisa bercanda kembali. Ia mendekati meja rias, namun langkahnya terhenti saat ia melihat bayangan Arjuna di cermin, berdiri tepat di belakangnya.
Arjuna melingkarkan lengannya di pinggang Jelita, mengabaikan kehadiran Ira dan Dinda yang langsung terdiam kikuk di sudut kamar.
"Kau terlalu banyak tersenyum pada pria tua itu tadi," bisik Arjuna, suaranya terdengar berat dan posesif.
"Arjuna, dia itu ayahku," protes Jelita pelan, wajahnya memerah karena malu dilihat kedua sahabatnya.
"Aku tidak peduli," sahut Arjuna dingin. Ia memutar tubuh Jelita agar menghadapnya. "Di mataku, hanya aku yang boleh menerima senyumanmu. Ingat, Ratu Kecilku, aku membiarkanmu tetap di dunia ini bukan untuk membagikan perhatianmu pada manusia lain."
Gama muncul di dekat balkon, ia tidak ikut masuk ke dalam drama posesif rajanya. Ia tetap waspada, menatap ke arah gelapnya kebun belakang rumah.
"Irawati," panggil Gama datar tanpa menoleh. "Tidurlah di tengah. Jangan dekat dengan jendela. Aku akan berjaga di luar balkon ini. Jika kau mendengar suara ketukan di kaca yang bukan berasal dariku, jangan pernah berani membukanya."
Ira menelan ludah. "I-iya, Mas Gama. Terima kasih."
Dinda langsung meloncat ke tempat tidur. "Asyik! Aku tidur di sebelah Jelita! Jadi kalau ada apa-apa, aku bisa langsung peluk Ratu Astina Maya!"