Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Melahirkan Anak
"Kita udah sampai!"Ujar Wicaksono saat mereka sudah ada di salah satu hotel bintang lima yang ada di kota itu, mereka semua melangkahkan kaki ke lantai delapan dimana kamar yang di pesan oleh Wicaksono sudah tersdia untuk kedua pasang suami istri itu.
"Tidur yang nyenyak ya, jangan lupa nyicil."Ujar Wicaksono saat mereka sudah ada di depan kamar mereka, sementara Bintang dan Damian masih saling diam sembari menunggu mereka masuk ke dalam kamarnya.
"Jangan terkejut, pasti mereka udah siapin hal hal yang menjijikkan di dalam sana."Ujar Damian memperingatkan, setelah memastikan Wicaksono dan Raisa masuk ke dalam kamar dia pun membuka pintu ruangan itu dan benar saja, di dalam sana terlihat sangat menyeramkan!
"Astaga."Ujar Bintang yang nampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja di lihat oleh mata kepalanya sendiri.
Di dalam sana, mawar merah terlihat bertebaran dengan cahaya yang sengaja di buat remang kemerahan. Di atas kasur terlihat dua angsa yang terbuat dari handuk sedang saling berciuman menampilkan sebuah pose love.
"Sudah ku katakan jangan terkejut."Ujar Damian, dia sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran ayahnya itu.
"Tapi saya tidak menyangka jika mereka akan benar benar melakukan ini."Ujar Bintang, dia melewati hamparan kelopak mawar itu dengan hati hati seolah takut melukai mereka. Lilin nampak berjejar membentuk jalan yang mengarah ke lantai dan aroma mawar nampak sangat harum dan menenangkan, mungkin jika mereka benar benar pasangan suami istri yang saling mencintai, mereka akan menikmati semua ini.
"Ada ada saja."Ujar Damian tak habis pikir, dia menghidupkan lampu kamar itu dan menghilangkan nuansa romantis yang menggairahkan itu.
"Ada balon juga?"Gumam Bintang saat dia melihat atap kamar yang di penuli oleh balon yang berterbangan.
"Nampaknya mereka benar benar sangat bersemangat untuk mendapatkan cucu dariku."Ujar Damian, dia membuang paksa angsa angsa itu kemudian menghempaskan dirinya ke atas ranjang sementara Bintang hanya bisa berdiri canggung di dekat ranjang.
Damian menghela nafasnya pelan, dia tahu semua ini tidak akan berakhir sampai dia benar benar melahirkan seorang cucu untuk Wicaksono. Dengan malas, dia pun langsung mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan beberapa kalimat di dalam sana.
Bintang mengedikkan bahunya acuh, kemudian dia pun mendudukkan dirinya di atas sofa yang ada di sudut ruangan.
"Saya tidur di sini, tuan."Ujar Bintang, dia kemudian merebahkan dirinya setelah mengambil sebuah selimut tebal yang ada di dalam lemari.
Tak ada jawaban, Damian terlihat masih fokus dengan kertas dan juga penanya sementara Bintang nampak sudah hampir terlelap di tempatnya.
Lima belas menit sudah berlalu sejak awal Damian mulai membuat penanya menari di atas kertas putih itu dan di detik selanjutnya dia pun keluar dengan membawa kertas itu, mencoba untuk membuat suatu kesepakatan yang gila dengan Bintang.
"Bangun, Bintang."Ujar Damian, dia menggoyangkan tubuh Bintang dengan harapan gadis itu segera bangun dari tidurnya.
Bintang yang memang sudah sering di bangukan dengan tidak sopan seperti ini tentunya langsung terbangun saat mendapatkan panggilan dari Damian, meskipun tubuhnya sangat lelah tapi dia tetap harus mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh Damian.
"Baca ini."Ujar Damian dengan nada yang dingin seperti biasanya, dia menyerahkan selembar kertas yang sudah terisi setengahnya itu.
"Baik, tuan."Balas Bintang, setelah mengumpulkan seluruh nyawanya yang semula bertebaran. Bintang pun langsung membaca isi dari kertas itu.
"Perjanjian untuk melahirkan seorang anak?"Gumam Bintang dengan nada yang sedikit terkejut, dia mengerutkan alisnya bingung dengan apa yang baru saja dia baca bahkan saking terkejutnya dia sampai membaca ulang judul besar dari perjanjian itu.
"Satu, perjanjian akan berlangsung selama satu tahun. Jika dalam satu tahun pihak B (Bintang) bisa melahirkan anak untuk pihak A (Damian) maka pihak B akan di berikan imbalan, 1 buah mansion, 1 buah mobil dan uang tunai sepuluh milyar." Bintang terbelalak saat membaca poin pertama yang di buat oleh Damian, bukan karna nilainya tapi karna dia harus melahirkan anak untuk Damian.
"Dua, setelah kontrak berakhir pihak A dan pihak B akan berpisah dan mengembalikan gelar nyonya Wicaksono kepada Lidya."Ujar Bintang,kali ini gadis itu menyetujuinya tanpa banyak bicara lagi.
"Tiga, baik pihak A maupun pihak B di larang jatuh cinta satu sama lainnya."Imbuhnya.
"Empat, di larang mencampuri urusan pribadi masing masing pihak."Ujar Bintang.
"Lima, pihak A dan pihak B harus berakting layaknya suami istri di hadapan kedua orang tua pihak A dan juga publik."
"Enam, kontrak bisa di batalkan kapan saja oleh pihak A, terlebih ketika Lidya sudah kembali. Note, pihak A akan terus menafkahi anak yang akan di lahirkan oleh pihak B."
"Tujuh, anak yang di lahirkan akan di asuh oleh pihak A tanpa ada sangkut pautnya dengan pihak B."Ujar Bintang.
"Maksudnya bagaimana, tuan?"Tanya Bintang dengan nada yang sedikit bingung, dia masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang baru saja dia baca.
"Seperti yang di tulis di sana, aku mau kamu melahirkan anak untukku."Ujar Damian dengan dingin seperti biasanya.
"Kamu bisa menambahkan apa yang perlu kamu tambahkan di sana."Imbuh Damian lagi.
"Jadi setelah melahirkan anak ini, saya akan bebas?"Tanya Bintang. Satu kata itu yang terdengar paling menarik di telinganya.
"Tentu saja."Balas Damian singkat.
"Apa anda bisa menjamin jika keluarga Bramono akan baik baik saja setelah ini? Dan mereka juga akan membebaskan saya?"Tanya Bintang, dia memang berada di rumah itu karna Lidya tapi dia juga harus memastikan jika dia bisa bebas dari sana dan tidak perlu mengikuti kemana pun Lidya pergi nantinya. Karna sejak dahulu tugasnya adalah menjadi pelayan pribadi untuk Lidya meskipun statusnya adalah sebagai anak angkat dari keluarga Bramono.
"Tentu saja, akan ku pastikan kamu bebas kemana pun kamu pergi tanpa hambatan apapun."Ujar Damian dengan penuh keyakinan.
"Kalau begitu saya setuju."Ujar Bintang tanpa pikir panjang lagi, yang paling penting baginya adalah pergi dari tempat ini dan bebas dari segala hal yang mengekangnya.
"Kau tidak keberatan dengan imbalannya atau mungkin kau merasa kurang?"Tanya Damian memastikan.
"Tidak tuan, semuanya sudah cukup."Jawab Bintang tanpa adanya keraguan sedikit pun bahkan jika di tanya seratus kali pun dia tidak akan menyesali keputusannya saat ini, "Dimana saya harus tanda tangan?"Tanya Bintang sekali lagi.
"Di sini."Damian menunjuk sebuah sudut yang bertuliskan pihak B.
Tanpa adanya keraguan, Bintang pun langsung membubuhkan tanda tangannya di sana. Dia tidak keberatan untuk melahirkan anak bagi Damian, lagi pula yang memintanya mengambil keputusan ini adalah Damian dan jika anaknya tinggal lalu di asuh oleh Damian jelas hidupnya akan terjamin, jadi Bintang tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, terlebih dia juga akan mendapatkan uang untuk memulai hidupnya.
"Baiklah, kita sepakat."Ujar Damian, dia juga membubuhkan tanda tangannya di sana.
"Sepakat."Balas Bintang dan begitulah akhirnya kesepakatan gila itu di buat dengan tujuan untuk menguntungkan satu sama lainnya.