Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Kecil
Mungkin hujan belum diperintahkan untuk turun, tapi awan gelap dengan hembusan angin yang kencang sudah hadir. Seolah ikut dalam kegiatan hitam itu. Rasanya sepasang mata itu tidak bisa lagi menangis. Seolah air mata nya sudah kering, dia hanya melihat timbunan tanah yang menutupi tubuh yang selalu menemani nya belasan tahun.
Tangannya menggenggam tangan mungil yang berdiri di sebelahnya. Ada banyak pertanyaan dari bibir kecil itu. "Mommy, kenapa nenek dikubur seperti kucing?" Tanya nya. Alina menoleh, menatap wajah yang memiliki banyak pertanyaan itu.
"Karena itulah tempat istirahat terakhir nenek." Jawab Alina memberikan pengertian.
"Jadi, nenek tidak tinggal dengan kita lagi?" Alina menggeleng dengan berat. "Iya sayang, karena nenek sudah punya tempat tinggal nya sendiri. Cukup untuk nya." Lanjut Alina.
"Hari mau hujan.... Nenek tidak kedinginan?" Beberapa huruf sulit untuk Rosa ucapkan, tapi Alina mengerti dengan baik apa yang diucapkan oleh putrinya.
"Tidak, nenek tidak akan kedinginan, kepanasan ataupun sakit lagi. Hmmm."
"Tapi kalau kita kesini. Nenek keluar tidak?"
"Tidak, tapi dia tau kita datang."
"Bunga-bunga nya untuk apa?" Tanya Rosa kembali saat sang mommy menaburkan bunga dan juga orang-orang disana.
"Untuk menghias rumah nenek. Seperti kamar Rosa."
"Oh, Rosa juga mau!" Jelasnya, tangan nya mengeruk bunga itu dan menaburkan nya di tanah yang basah itu.
"Ini untuk nenek, supaya kamar nya wangi." Cicit Rosa sambil terus menaburkan bunga. Dada Alina kembali sesak mendengarnya. Genangan air kembali datang dan menetap di pelupuk matanya.
"Iya kan mommy?"
"Iya sayang." Ujar Alina melipat bibirnya dan mengelus lembut rambut putrinya yang coklat itu.
"Parfum nya mommy?" Tanya Rosa sambil menunjuk air dalam botol yang dituangkan oleh wanita disebelahnya.
"Iya."
"Rosa juga mau!" Ujarnya senang.
'Bibi, terimakasih.... Kau selalu menemani ku, lebih dari seorang pekerja. Kau seperti ibu bagiku, terimakasih banyak. Aku tidak bisa mengungkapkan nya dengan kata-kata. Dan karena dirimu juga, aku mengerti ....... Tentang Rosa, anak ini..... Dia menyembuhkan luka ku dan memberikan warna baru bagiku, semangat untuk ku. Andai saja saat itu bibi tidak bersikeras saat itu untuk merawat Rosa. Mungkin, dia tidak ada disini, bersama ku.' Alina tersenyum saat merasakan sentuhan lembut di tangannya.
"Mommy, mau hujan."
"Iya sayang, ayo.... Kita pulang!" Ujar Alina, dia menggenggam tangan kecil itu melangkah beriringan dengan langkah nya. Alina sempat menoleh sejenak, dia melihat tempat peristirahatan terakhir bibi yang perlahan semakin basah.
'Bibi, aku pergi.'
***************
"Baiklah, kita keringkan dulu rambut mu." Ujar Alina memangil putrinya mendekat.
"Ya mommy. Basah, hachu!" Rosa bersin-bersin, Alina segera mengeringkan nya. Rambut coklat itu jadi basah sekarang.
"Mommy juga." Perbedaan tinggi, membuat Rosa kesulitan melakukan hal yang sama pada sang mommy.
"Mommy, kapan kita pulang." Pertanyaan itu membuat Alina berhenti sejenak.
"Kenapa? Rosa tidak suka disini?" Tanya Alina.
Matanya berkedip beberapa kali, sebelum memberikan jawaban. "Bukan mommy, Alina suka disini." Ujarnya.
"Suka?" Rosa kembali mengangguk.
"Iya, makanan disini enak semua. Banyak lagi, murah juga...." Jelasnya, senyum Alina mengembang seketika.
"Juga....."
"Hmmmm?" Alina menunggu dengan sabar.
"Rosa, bisa main air seperti yang lainnya. Itu seri kan mommy?" Alina menoleh kearah jendela. Sekarang, dia berada di rumah bibi, rumah yang sederhana tapi terasa hangat. Letaknya pun jauh dari kota dan keramaian.
Mungkin, Rosa lebih menyukai tempat ini. Selain karena makanan, juga karena anak-anak yang yang lebih ramah untuk bermain bersama. Meksipun baru dua hari disini.
"Rosa suka disini?" Rosa mengangguk cepat.
"Kalau tidak bisa, tidak apa mommy." Ujarnya.
Alina beranjak saat mendengar ketukan pintu yang bercampur dengan hujan yang turun dengan sedang. "Alina, ini ibuk bawakan makanan. Pasti belum makan kan?" seorang wanita dengan payung datang dan semangkok makanan di tangannya.
"Sayur sup untuk si kecil juga. Dia suka kan?"
"Terimakasih Bu. Terasa merepotkan."
"Alahh, tidak merepotkan! Bi Ningsih sering cerita tentang mu. Wanita yang baik dan menganggapnya keluarga. Setelah kehilangan keluarga nya karena bencana, dia tinggal sendiri dan mencari kerja. Sekarang, sudah tenang."
"Sekali lagi terimakasih." ucap Alina.
"Sama-sama, oh Rosa!" Kepala Rosa tampak miring melihat keadaan.
"Cantiknya, kayak bule. Pasti ayahnya bule ya." Alina tersenyum canggung.
"Ayo Rosa, bilang terimakasih."
"Terimakasih...."
"Aduh manisnya!" Gemas wanita itu melihat Rosa.
"Ya sudah, silakan makan. Ibuk pulang dulu. Dah Rosa!"
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏