Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Merias
Arjo semakin muram wajahnya. “Ndoro Gusti Bupati ini … istri banyak, hilang satu saja kenapa dicari sampai seperti ini? Sampai harus meninggalkan tugas penting.”
Nyi Seger menepuk pelan pipi Arjo. “Kau belum tahu yang namanya racun cinta, ya begitu itu. Bisa membuat orang pintar jadi gila, dan sebaliknya. Tidur tidak tenang, makan tidak enak kalau tidak melihat pujaan hati. Jadi … ojo moyok, nanti nemplok.”
(Jangan mencela orang lain, nanti celaan itu akan terjadi pada diri yang mencela)
“Ahh … itu kan hanya peribahasa.”
“Lohh … tidak percaya, ya sudah … tunggu saja waktunya.”
Arjo melirik pantulan Nyi Seger di cermin, perempuan tua itu menyeringai mengerikan.
Buru-buru dia mengalihkan pandangan ke Kang Guru yang sibuk mengelap senjata.
“Kang Guru! Nanti saya menginap di kadipaten atau pulang?”
"Setelah selesai, kau langsung pulang, naik Tedjo ke padepokan, seperti tempo hari. Tedjo akan antarkan ke sana.”
Arjo mengerutkan alis. "Tedjo? Kenapa harus Tedjo?" Arjo tidak bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya. "Dari sekian banyak kuda di padepokan, kenapa harus yang paling menyebalkan? Kuda itu tidak pernah mau menurut. Kalau disuruh ke kanan, dia ke kiri. Kalau disuruh berhenti, dia malah lari. Kuda itu semaunya sendiri."
Kang Guru Harjo terkekeh pelan. "Ya karena itu kudamu, hadiah dari Ndoro Gusti Bupati untukmu."
Arjo menghela napas panjang. Ia juga tahu itu, sang bupati yang memberinya sejak dia bersumpah setia. Kuda itu telah menjadi tunggangannya 5 tahun terakhir, tapi tetap saja mereka tak pernah akur.
"Tedjo dulu kuda kesayangan mendiang Gusti Bupati." Kang Guru Harjo melanjutkan, suaranya lebih serius. "Kau seharusnya bangga. Tidak sembarang orang bisa menungganginya. Kau lihat sendiri, kan? Tedjo lebih galak pada teman-temanmu yang lain. Dia hanya mau ditunggangi oleh orang tertentu."
"Tedjo galak pada semua orang, Kang Guru, termasuk saya."
"Itu karena dia belum mengenalmu dengan baik." Kang Guru Harjo terkekeh. "Beri waktu. Tedjo itu... istimewa."
"Istimewa menyebalkan. Lima tahun, Guru. Butuh berapa lama lagi? Seumur hidup? Aku bisa gila kalau seumur hidup dengan kuda aneh seperti itu."
Nyi Seger menjitak pelan kepala Arjo agar kembali menghadap cermin. "Diam. Jangan banyak bergerak."
Kang Guru Harjo melanjutkan. "Kuda itu sering menyelamatkan nyawa mendiang Gusti Bupati. Bukan sekali dua kali, mungkin sudah ratusan kali. Dalam penculikan, penyergapan, pengejaran. Tedjo memang agak... keras kepala. Tapi kalau dihadapkan pada situasi berbahaya, dia sangat cerdas. Melebihi kecerdasan kuda pada umumnya."
Arjo mendengkus pelan.
‘Sulit dipercaya. Kuda itu lebih sering membuatku jengkel daripada terkesan.’
Tapi ia tidak membantah lagi.
Nyi Seger bekerja dengan cekatan.
Tangan-tangan keriput yang biasanya biasanya menyentil batu sampai pecah, ternyata sangat terampil. Pasta kecokelatan dilaburi di kening, di sudut mata, di lipatan-lipatan wajah, menciptakan kesan garis-garis halus yang membuat Arjo tampak lebih tua.
"Merem." Nyi Seger memerintah.
Arjo menutup mata.
"Bulu matamu terlalu panjang." Nyi Seger berdecak. "Ndoro Gusti Bupati tidak sepanjang ini."
Arjo merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kelopak matanya, gunting kecil yang memangkas bulu matanya yang tebal.
"Nyi, apa tidak apa-apa?" Ia berbicara tanpa membuka mata. "Kata orang, kalau bulu mata dicabut bisa melihat demit."
Nyi Seger terkekeh. "Ini tidak dicabut, cuma dicukur. Beda."
"Tapi tetap saja—"
"Diam."
Arjo menutup mulut.
Gunting kecil itu bergerak ke alisnya, yang memang lebih tebal dari alis Ndoro Soedarsono.
Ctak.
"Aduh!"
Rasa perih menyengat di atas matanya. Nyi Seger mencabut beberapa helai alis dengan pinset kecil.
"Duh... sengsarane..." Arjo meringis. "Pelan-pelan, Nyi!"
"Mau mirip atau tidak?" Nyi Seger mencabut helai berikutnya tanpa ampun. "Alis Ndoro Gusti Bupati lebih tipis. Kalau kau muncul dengan alis setebal ulat bulu, orang-orang pasti curiga."
Ctak. Ctak. Ctak.
Arjo menggigit bibir, menahan ringisan.
Di sudut ruangan, Kang Guru Harjo berusaha menyembunyikan tawa di balik batuk-batuk pelan.
Setelah alis, Nyi Seger beralih ke kulit tangan.
Ia mencampur sesuatu di mangkuk kecil, bubuk cokelat dari tanah liat, minyak kelapa, dan cairan kekuningan yang baunya seperti kunyit. Campuran itu diaduk sampai menjadi pasta halus.
"Punggung tangan." Nyi Seger memerintah.
Arjo mengulurkan tangannya.
Pasta itu dilaburkan di kulit punggung tangannya; dingin, sedikit lengket, tapi terasa halus. Warna kulitnya yang lebih terang langsung berubah menjadi lebih kecokelatan, lebih mirip dengan kulit Bupati Soedarsono.
"Leher juga."
Pasta yang sama usapkan di leher, di belakang telinga, di setiap bagian kulit yang mungkin terlihat dari balik pakaian.
Arjo memandang cermin.
Wajah yang balas menatap bukan lagi wajahnya sendiri.
Garis-garis halus di dahi dan sudut mata membuatnya tampak lebih tua, mungkin sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Alis yang lebih tipis mengubah kesan wajahnya. Bulu mata yang dipangkas membuat matanya tampak berbeda. Kulit yang lebih gelap menyempurnakan penyamaran.
Dan yang paling mencolok. Janggut dan kumis yang dibiarkan tumbuh sejak seminggu lalu, meniru penampilan Ndoro Soedarsono yang kini kurang terawat sejak garwo ampil-nya menghilang.
Arjo memasang ekspresi serius, dagu sedikit terangkat, mata menyipit tajam, bibir terkatup rapat. Ekspresi khas Ndoro Soedarsono yang telah ia latih bertahun-tahun.
Sosok di cermin itu … sangat mirip.
Kang Guru Harjo melangkah mendekat, memandang hasil kerja Nyi Seger dengan tatapan menilai.
"Sempurna." Ia mengangguk puas. "Kalau aku tidak tahu yang sebenarnya, aku pasti mengira ini Ndoro Gusti Bupati asli. Kemampuanmu membuat orang menyamar sungguh patut diacungi jempol, Nyi. Tidak ada yang bisa menandingi."
"Bukan kemampuan." Nyi Seger menutup kotak peralatannya. "Pengalaman. Puluhan tahun membuat orang-orang terlihat seperti orang lain. Raja jadi pengemis. Pengemis jadi raja. Laki-laki jadi perempuan. Hidup jadi mati."
Arjo bergidik mendengar kalimat terakhir.
‘Hidup jadi mati. Apa maksudnya?’
Tapi ia tidak bertanya. Dengan Nyi Seger, lebih baik tidak bertanya hal-hal yang tidak perlu. Perempuan ini … lebih sensitif daripada anak gadis manapun.
Pakaian kebesaran bupati sudah disiapkan di atas tempat tidur.
Beskap hitam dari kain beludru halus dengan sulaman benang emas di kerah dan lengannya. Kain batik parang rusak, motif yang hanya boleh dipakai keluarga keraton dan bangsawan tertinggi. Blangkon dengan hiasan berlian kecil di bagian depan. Selop beludru hitam dengan bordiran emas.
Arjo mengenakan semuanya dengan bantuan Kang Guru Harjo.
Senjata disembunyikan di tempat-tempat strategis; pistol kecil di balik beskap, belati kecil di pinggang, tersembunyi oleh lipatan kain, pisau tipis di bawah selop yang dirancang khusus, dan senjata-senjata lain yang tersembunyi.
‘Duh Gusti … ini mau perang atau mau rapat?’
Arjo memandang bayangannya di cermin sekali lagi.
Kanjeng Raden Mas Adipati Soedarsono, balas menatapnya. Bukan Arjo si tukang kuda. Bukan murid padepokan.
Tapi bangsawan tertinggi di wilayah ini. Penguasa yang dihormati dan ditakuti. Arjo menarik napas dalam-dalam.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo