"Kalau hati sudah memilih, otakku ini bisa apa?!"
Devian Almero, sosok pria tampan yang sama sekali tak mengerti perihal cinta sebelum bertemu dengan Diandra.
Ya, Diandra. Gadis manis itu mampu menggetarkan hati Devian saat awal perjumpaan.
Hingga akhirnya Devian nekad mengejar Diandra dan langsung mengklaim gadis itu sebagai milik. Berjalannya waktu, hujan rasa kasih sayang yang diberikan Devian, akhirnya mampu menaklukan hatinya.
Namun, sebuah fakta mencengangkan muncul di saat keduanya memadu kasih. Diandra baru mengetahui bahwa pasangannya itu ialah 1 diantara 7 anggota psikopat dari Keluarga Breadsley.
Sanggupkah Diandra menjalani hidup bersama Devian, sang psikopat tampan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertaruh aset berharga
Gadis berambut coklat itu sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Entahlah, waktu ia memaksa kakinya untuk berlari menghampiri Devian malam itu, sakit di kakinya tiba-tiba saja menghilang. Sangat mustahil tetapi nyata.
Diandra mempercepat langkah menyusuri koridor sekolah. Bergegas menuju ke toilet tak tahan lagi. Waktu mata pelajaran tadi dirinya lumayan lama menahan buang air kecil.
Menit kemudian gadis itu keluar dan ingin segera kembali ke kelas. Namun tiba-tiba, Diandra merasakan cekalan sebuah tangan besar pada tanganya, menarik paksa Diandra untuk ikut bersama sosok pria di depannya. Kemudian sudut bibir Diandra tertarik mengukir senyum saat menyadari sosok pria yang kini menggenggam jemarinya itu ialah Devian.
Diandra menurut, sedikitpun tak memberontak walaupun aksi Devian ini sangat membuat dirinya terkesiap. Sampai akhirnya langkah kaki Devian berhenti di sebuah ruang kelas di gedung sekolah lama yang tak lagi digunakan.
Pria dengan kemeja putih dan sepatu pantofel itu perlahan melepas kaitan tangannya dan melempar senyum hangat.
Mata Diandra berbinar terang melihat ketampanan Devian yang semakin hari semakin bertambah. Gantengnya masuk kategori nggak sopan. Ugal-ugalan.
Iris mata keduanya pun saling bertemu. "Rindu?" tanya Diandra menebak lebih dulu kata yang akan terlontar dari bibir Devian.
Devian mengangguk senang. Pacarnya itu sangat hafal dengan tabiatnya. Sedikit-sedikit dilanda rasa yang dinamakan rindu.
"Aku juga rindu, sayang," ucap Diandra terdengar mengalun sampai membuat Devian gemas.
"Coba, ucapin lagi. Gue nggak denger, nih!" pinta Devian menunjukan seringai jahil.
"Sorry, sayangnya nggak ada siaran ulang." Diandra mengejek, menjulurkan sedikit lidahnya.
Tak tahan lagi, Devian menyimpan tubuh Diandra dalam pelukan. Sebaliknya, Diandra juga bergelayut manja pada leher Devian.
"Devian ...."
"Hm ...."
"Kamu jangan jauh dari aku, ya."
"Kok, sekarang manggilnya aku?"
"Nggak papa. Lebih enak didengar, 'kan?"
"Iya, sayang."
"Janji dulu ... kalau kamu nggak akan pernah jauh dari aku."
"Iya, sweetie. Cukup antartika yang jauh. Kalau antara kita jangan."
"Dih, gombal!"
"Nggak papa. 'Kan gombalnya sama pacar sendiri."
Diandra melepas kalungan tanganya dari leher Devian. Pria itu menempelkan keningnya, beradu dengan kening Diandra. Tangannya bergerak meraih jemari Diandra dan kembali menggenggamnya. "Dev, kamu nggak capek apa ganteng tiap hari?" Pertanyaan Diandra itu membuat Devian terkekeh. Baru sadar kalau pacarnya itu tampan?
"Kalau aku nggak ganteng, kamu nggak bakal mau, 'kan sama aku, Ndra?"
"Sekarang gantian aku yang tanya. Kamu kalau senyum gulanya berapa sendok, sih. Manisnya sampai tumpah-tumpah."
"Ah, udah. Digombalain terus bikin aku diabetes, tauk!" Devian memang menyebalkan, tapi bikin hati Diandra tak karuan.
Tanpa mengindahkan pekikan kesal itu, Devian mulai berani menyelipkan tanganya ke belakang tengkuk leher Diandra. Mendekatkan bibirnya agar saling menyatu. Tak ada lagi rasa canggung bagi keduanya melakukan kiss setiap kali mereka bertemu. Sepertinya Devian akan menarik perkataanya waktu itu yang mengatakan 'Tak akan memulai duluan mencium bibir Diandra'. Bahkan psikopat tampan itu menyesal sudah berujar seperti itu. Jujur, bibir Diandra semakin lama semakin membuatnya candu.
"Woi! Ganggu orang tidur aja," cetus Gio tiba-tiba.
Dua sejoli itu kontan saling menarik bibir. Menoleh pada sumber suara di sana. Euforia yang mereka bangun hancur sudah, terganggu oleh munculnya sosok Gio. Tiba-tiba saja pria itu muncul dari balik lemari bekas.
"Gio ...." sebut Diandra dengan mata membulat sempurna.
Devian berdecak kesal. "Lo ngapain di sini, Yo? Ganggu orang lagi kangen aja."
"Siapa bilang gue ganggu! Jelas-jelas gue duluan yang masuk ruangan ini," bantah Gio sembari merentangkan tanganya ke atas, melemaskan otot tubuhnya yang baru bangun dari tidur.
"Pantes, di kelas tadi lo nggak ada, Yo! Rupanya malah tidur lo di sini!" keluh Diandra, kedua tanganya terlipat di depan dada.
"Gue males ikut pelajaran guru killer. Lagian lo juga ... ini 'kan masih waktu jam pelajaran. Lo malah enak-enakan pacaran. Awas, Ndra. Ketahuan guru bisa-bisa lo dikeluarin dari sekolah."
"Kalau ketahuan, gue yang bakal bela Diandra." Devian merangkul bahu Diandra dan menariknya mendekat.
"Ya, terserah lo, dah. Ayo balik ke kelas!" ajak Gio. Bad boy itu mulai mengayunkan kakinya keluar dari kelas dengan kedua tangan tenggelam dalam saku celana.
Devian membiarkan pacarnya itu pergi bersama Gio. Bagi Devian, menemui pacarnya itu bukanlah perkara yang sulit. Bahkan, menyusup ke kamar Diandra sudah biasa ia lakukan.
*
"Kenapa sih, lo pakek acara balik ke rumah ini!" bentak Chester pada Zea yang baru saja masuk ke dalam rumah. Sudah dua hari gadis itu tak pulang ke rumah.
Tak mengindahkan kicauan Chester, Zea memilih berlalu pergi ke kamarnya di atas.
Felix dan Arley menghampiri Chester setelah mendengar keributan dan kini mereka sama-sama duduk santai di ruang tamu.
"Kenapa sih, Ches? Pagi-pagi udah kaya orang kebakaran jenggot aja," tegur Felix, menatap Chester penuh selidik.
"Noh, ulet bulu! Kenapa sih, pakek acara balik lagi ke rumah! Padahal gue udah seneng kalau dia nggak balik." Chester menggebrak meja melampiaskan kekesalannya.
"Sabar, Ches. Tunggu aja. Bentar lagi tuh betina bakal didepak sama Devian," ujar Felix. Kartu AS Zea saat ini sudah jatuh dalam genggamannya.
"Kok, lo tahu? Jangan-jangan, ada yang lo sembunyiin ya dari gue?" Chester memicingkan matanya menatap Felix penuh selidik.
"Sebenarnya ada, sih!" Ntar lo juga bakal tau," Felix menepuk bahu Chester. Bagi Felix yang berhak memberi tahu masalah ini pada anggota Bredsley ialah Devian.
Terdengar suara dentingan yang berasal dari pintu liff. Bersamaan dengan itu, muncul sosok Devian setelah pintu itu terbuka lebar.
"Tumben, si dracula bangun pagi!" ejek Arley.
"Lo nggak tahu ya ... Devian, 'kan sekarang jadi guru," jawab Felix di akhiri ledakan tawa.
"Serius?!" Arley menegapkan tubuh yang semula bersandar pada sofa.
"Serius, lah! Orang gue yang masukin."
"Dracula, oi, dracula!" panggil Aland tiba-tiba. Ia baru saja selesai memberi makan choky.
Aland duduk ikut bergabung. Ekspresi senang menghiasi wajahnya.
"Napa manggilin gue?" jawab Devian memutar bola mata malas.
"Ada mangsa baru, gaes. Tapi kali ini mangsanya cewek." Naik turun alis Aland sembari menunjukkan seringai jahil.
"Kasih gue aja, Land! Biar gue yang urus," sambar Felix antusias. Masalah dunia wanita ia paling cepat tanggap.
Aland menggelengkan jari telunjuk di depan wajah Felix. "Ini kelasnya beda, Bro! Menurut gue si dracula yang cocok ngatasin ni betina."
"Dih, sombong amat! Emang, tuh, cewek cantiknya kaya apa, sih! Sampai Devian yang harus maju!" ketus Felix kesal. Lagi-lagi ia kalah peringkat jika harus disandingkan dengan Devian.
"Cantik, bahenol, gitu, lah! Dia g*rmo kelas kakap, gaes. Gimana, Dev. Lo mau nggak?" Aland memberi tawaran pada cowok paling tampan dalam keluarga Breadsley. Kemudian menunjukan gambaran foto seorang wanita yang ia maksud lewat ponselnya pada teman-temannya.
"Nj*r, sempurna. Sayang banget dia g*rmo," celetuk Arley.
"Biasanya cewek begini susah buat digiring ke perangkap. Gini deh, kalau si dracula berhasil bawa ni cewek, gue kasih tu vila mewah yang baru gue beli." Felix bertaruh mengorbankan vila mewah yang baru saja ia beli dengan harga fantastis. Keren!
"Gue ikutan!" susul Arley. Ia tertarik turut main dalam taruhan kelas kakap ini.
"Kalau Devian bisa bawa tu cewek, gue kasih kartu ATM platinum punya gue." Arley tak main-main mengorbankan isi uang dalam ATM-nya. Hanya Arley, dari diantara anggota Breadsley yang anti pemborosan. Pria itu selalu menata keuangannya dengan sangat rapi. Bisa dibayangin 'kan banyaknya jumlah saldo ATM platinum milik Arley?
Devian berdecih. "Oke gue terima. Ada lagi yang mau nambahin taruhan?" Devian mengabsen satu per satu wajah manusia di depannya.
"Karena gue nggak suka naik motor, noh, ambil motor gede di garasi. Itu moge hadiah dari temen gue." Chester mempertaruhkan motor ninja keluaran terbaru. Dirinya memang tak suka berkendara menaiki motor. Baginya berkendara dengan mobil akan lebih membuat kulitnya terjaga dari polusi dan sengat sinar matahari.
"Lo, Land? Ikut nggak?" tanya Devian kemudian.
"Gue kasih tiket liburan aja. Terserah lo nanti mau pergi kemana. Gue yang bayar full," ujar Aland.
"Oke, deal. Gue terima tantangan dari kalian semua!" tegas Devian sepakat.
*Oke. Aku putuskan sosok Devian akan aku rubah ya kak. Sosok gambar di atas menurutku lebih cocok. Semoga kalian semua juga suka.
Komen, like, vote, rate, jangan lupa ya kak.
Yang sudah kasih itu semua, aku doain lancar rezekinya. 😄🙏*
"Jgn mudah percaya ucapan org lain, walaupun dg bukti yg nyata, krn org licik bisa melakukan apapun itu. Jgn sprti Devian yg mudah percaya kalo Zea adl Melody masa lalunya tnp menyelidikinya terlebih dahulu, sampai mengabaikan & menyakiti Diandra. Tegaslah dlm berprinsip, jgn ingin keduanya tp mengabaikan org yg tulus dg nya. & ternyata Diandra adl Melody masa lalunya."
"Jk kita mencintai seseorg, kita hrs bisa mnjaga kepercayaannya, mnjaga hati, pikiran & tubuh kita hny utk nya. Jgn sprti Devian yg menyentuh Kimberly hny krn obat perangsang, walaupun Diandra tdk tau saat itu, taunya saat ucapan Kimberly sblm kematian."
...dilanjutin yaaaa..semangat