Setelah gagal berjodoh dengan Ustaz Ilham, tanpa sengaja Zahra bertemu dengan pria yang bernama Rendra. Dia menolong Rendra saat dikejar seseorang, bahkan memberi tumpangan pada Rendra yang mengaku tak mempunyai tempat tinggal.
Rendra yang melihat ketulusan hati Zahra, merasa jatuh cinta. Meski dia selalu merasa kotor dan hina saat berada di dekat Zahra yang merupakan putri pertama pemilik dari pondok pesantren Al-Jannah. Karena sebenarnya Rendra adalah seorang mafia.
Apakah Zahra akan ikut terseret masuk ke dalam dunia Rendra yang gelap, atau justru Zahra lah penerang kehidupan Rendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Zahra terdiam beberapa saat. "Aku gak mungkin merusak kebahagiaan mereka. Kita putar balik saja."
"Oke, kita putar balik," perintah Rendra. Kemudian mobil itu segera putar balik dan melaju lagi.
Zahra kini menyandarkan dirinya. Air mata itu sudah tidak bisa dia tahan. "Untuk sementara aku ingin tinggal di perkebunan kamu. Boleh kan?" pinta Zahra di sela-sela isak tangisnya.
"Tentu saja boleh." Kemudian dia memerintahkan sopirnya untuk melajukan mobilnya ke perkebunan. "Kita ke rumah yang di perkebunan."
"Baik Tuan."
Rendra masih saja menatap Zahra yang menangis sesenggukkan. Ingin dia memeluknya dan menenangkannya, tapi itu jelas tidak mungkin dia lakukan. "Udah, jangan sedih. Apa kamu masih belum rela kalau Ustaz Ilham menikah dengan adik kamu?"
Zahra menggelengkan kepalanya. "Aku justru senang, akhirnya Syifa mendapatkan pria yang dia inginkan. Tapi aku hanya sedih, aku seolah sudah tidak dianggap di keluargaku. Apa mereka sama sekali tidak mencariku? Kamu saja berulang kali berhasil menemukan aku. Tapi abi dan umi, aku tidak pernah mendengar kabar mereka mencariku." Zahra mengusap air matanya. Dia berusaha untuk tidak menangis lagi.
Rendra menghela napas panjang, dia sangat mengerti apa yang dirasakan Zahra. "Jangan sedih lagi. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Masih ada aku yang akan selalu membantu kamu dan orang lain yang pernah kamu temui, mereka semua baik sama kamu. Kita cari waktu yang tepat untuk ke rumah kamu lagi."
Zahra menganggukkan kepalanya. "Makasih, kamu sudah banyak menolongku."
"Ya, aku akan selalu ada untukmu."
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di perkebunan. Dengan dibantu suster, Zahra turun dari mobil.
"Zahra, kamu pucat sekali. Kamu gak papa kan?" tanya Rendra. Dia sangat khawatir dengan kondisi Zahra saat ini.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya. Dia berusaha untuk bertahan tapi badannya semakin terasa lemas. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan tubuhnya, kemudian dia jatuh pingsan di pelukan Rendra.
"Zahra! Zahra!" Rendra segera mengangkat tubuh Zahra dan membawanya berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia turunkan Zahra di atas ranjang yang berada di kamar lantai bawah.
Suster segera menginfus Zahra dan menyuntikkan beberapa cairan obat di tabung infus itu.
Rendra kini duduk dengan lemas di tepi ranjang. "Zahra, kamu harus kuat..."
Dia usap sesaat pipi Zahra. "Suster, tolong hubungi Dokter Hendra, apa yang seharusnya kita lakukan. Apa Zahra harus kembali ke rumah sakit?"
"Baik Tuan."
Rendra masih saja menatap Zahra saat suster menghubungi Dokter Hendra.
"Tuan, Dokter Hendra ingin bicara dengan Tuan."
Rendra mengambil ponsel itu dan berbicara dengan Hendra.
"Zahra, pingsan lagi. Iya, sudah diinfus... Kita tidak jadi ke rumah Zahra karena adik Zahra akan menikah, Zahra tidak mau merusak kebahagiaan mereka."
"Ya sudah, biarkan Zahra berada di perkebunan kamu dulu, udara pegunungan sangat bagus untuk kesehatan Zahra. Besok aku akan ke tempat kamu."
"Oke." Rendra mematikan panggilan itu. Lalu dia menghubungi seseorang.
"Roy, aku ada tugas untuk kamu. Kamu berpura-pura sebagai tukang dekor di rumah Zahra dan pasang cctv di semua penjuru. Harus hati-hati, jangan sampai ketahuan."
...***...
Pagi hari itu Zahra sedang menikmati udara sejuk pegunungan di taman dekat rumah Rendra. Dia hirup udara sejuk itu dalam-dalam lalu menghembuskannya. Setidaknya sedikit beban di dadanya kini sedikit berkurang.
"Minum dulu." Rendra menyodorkan segelas susu hangat untuk Zahra.
"Makasih." Zahra mengambil susu itu dan meminumnya sampai habis. Lalu meletakkan gelas yang telah kosong itu di meja taman.
"Udah beberapa hari aku gak ke sini." Rendra juga menghirup napas dalam. "Sejuk sekali udara di sini."
Zahra menganggukkan kepalanya. "Iya, aku selalu bersyukur, aku masih bisa bernapas sampai detik ini. Entah hari esok atau lusa mungkin udara ini sudah tidak bisa lagi aku hirup."
"Zahra, jangan bilang seperti itu. Kamu pasti sembuh."
Zahra tersenyum pahit. "Kamu lihat kan hidup aku sekarang, aku tidak jauh-jauh dari jarum infus dan obat-obatan."
"Iya, tapi kamu tetap harus berusaha. Dulu kamu pernah bilang, kamu selalu berdo'a dan bercerita pada Allah karena kamu yakin Allah mendengar doa-doa kamu dan mengabulkannya. Aku yakin, sekarang Allah pasti akan menyiapkan jalan yang terbaik buat kamu untuk bisa sembuh."
Zahra mengernyitkan dahinya. Sejak kapan Rendra menjadi religi seperti ini?
"Daripada kamu sedih gini, aku ada sebuah kejutan buat kamu." kata Rendra sambil tersenyum.
"Kejutan?"
Rendra menganggukkan kepalanya.
"Kamu ganti baju dulu bersama suster, dandan yang cantik karena aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."
Zahra mengernyitkan dahinya, "Kemana?"
"Nanti kamu pasti tahu." Kemudian Rendra menyuruh suster agar segera mengantar Zahra ke kamarnya. "Suster, bantu Zahra bersiap seperti yang aku bilang tadi."
"Baik, Tuan."
Zahra akhirnya menuruti perkataan Rendra. Dengan bantuan suster, dia kini berjalan menuju kamarnya.
Matanya membulat saat melihat sebuah gaun yang cantik lengkap dengan hijab syar'i dengan warna senada.
Zahra akhirnya memakai gaun itu. Sedikit kebesaram di tubuhnya yang kurus tapi masih terlihat bagus. Kemudian dia merias wajahnya.
"Mau saya bantu?"
"Saya bisa sendiri, sus."
Zahra mulai bersolek. Rasanya sudah lama sekali dia tidak merias wajahnya. Dengan sedikit sentuhan make up saja wajahnya sudah terlihat segar dan cantik.
Setelah selesai, dia memakai hijabnya.
"Nona Zahra cantik sekali, saya bantu pasang bros." Suster itu memasang bros di hijab Zahra. Setelah selesai dia membantu Zahra keluar dari kamar.
Rendra terpesona melihat kecantikan Zahra. Dia tersenyum tipis. Rasanya dia ingin merengkuh pinggangnya dan mengajaknya berjalan ke pelaminan, entahlah, kapan hal itu akan menjadi nyata dan bukan hanya angannya saja.
"Ayo, ikut aku." Rendra berjalan mendahuluinya sedangkan Zahra ada di belakang Rendra bersama suster.
Rendra membawa Zahra ke sebuah ruangan yang luas berada di belakang rumahnya. Mereka masuk ke dalam ruangan yang temaram itu. Rendra kini menghidupkan lampunya.
Mata Zahra melebar menatap layar televisi yang begitu besar berada di empat penjuru ruangan itu. Di tengah ruangan itu ada sebuah sofa dan meja yang sudah lengkap dengan kue dan minuman. Ada sebuah boneka teddy juga yang sangat besar.
"Ini buat apa?"
"Kamu duduk dulu." suruh Rendra.
Zahra akhirnya duduk di atas sofa.
Setelah suster keluar, Rendra mematikan lampu utama.
"Kamu gak mau ngapa-ngapain kan?" tanya Zahra. Dia mulai was-was.
Rendra tersenyum kecil lalu meletakkan teddy bear yang besar di antara mereka. "Kalau butuh sebuah pelukan, kamu peluk saja teddy bear, karena aku gak mungkin memeluk kamu. Kita kan belum halal." Rendra tertawa lalu dia menekan sebuah remote dan ke empat layar itu kini menyala.
Mata Zahra semakin membulat.
"Itu kan rumah aku..."
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
jgn lama2
critanya bnyk bngt cobaan nya