Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Rian
The Devil Husband Bagian 29
Oleh Sept
Seruni POV
"Bu Fatimah!" gumamku lirih saat melihat di depanku ada bu Fatimah yang lama sekali tidak berjumpa. Fisiknya masih sama, hanya saja kerutan lebih banyak tergambar di wajahnya yang sudah menua. Aku yang tadinya terenyuh, dan ingin langsung menghambur pada beliau, seketika langsung tersadar saat mas Erwin melihat padaku.
Pria kejam ini sepertinya sengaja, aku dokter yang selama ini bergelut dengan ribuan wajah manusia. Aku bisa merasakan, ada semburat jahat di mata mas Erwin. Aku harus tetap tenang, berjalan seperti tidak mengenal mereka berdua. Nanti, nanti akan ada masanya aku akan menemui ibu panti asuhan di mana dulu aku dibesarkan.
Saat aku berjalan melewati mereka berdua, aku dengar mas Erwin memanggil. Tidak mungkin aku lari, aku pun menoleh dan bersikap sewajarnya.
"Dok!"
"Iya," jawabku dengan ekspresi biasa layaknya orang pada umumnya.
Untuk sesaat mas Erwin terus saja menatapku, dilihat seperti itu, terus terang itu membuatku sangat tidak nyaman.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku dengan menekan kata PAK, biar dia tahu, dia sekarang tidak muda lagi. Biar dia tahu, dia tidak boleh semena-mena padaku seperti dulu. Jujur, entah mengapa melihat mas Erwin aku selalu saja sakit hati.
Mendengar aku bicara, bu Fatimah langsung menatapku dengan intens. Beliau kemudian berdiri dan menatapku dengan bingung. Jelas bu Fatimah tidak asing dengan suaraku. Kulihat makin lama mata bu Fatimah memerah, dan perlahan mata itu malah basah.
Aku menahan sekuat tenaga untuk tidak hanyut dan larut terbawa arus. Aku harus melawan semua ini, masa lalu harus segera aku lupakan.
"Maaf, saya permisi. Ada pasien yang menunggu!" pamitku buru-buru pergi. Aku tidak ingin dikenali siapapun.
Meskipun dalam hati ini, ingin sekali memeluk bu Fatimah. Karena ada mas Erwin, terpaksa aku harus menghindar dulu. Aku tidak mau mas Erwin tahu kalau aku adalah Seruni, ya ... aku ingin dia tahu aku adalah dokter Nadin.
"Runi!"
Samar-samar aku mendengar suara bu Fatimah menyebut nama lamaku. Rasanya sesak sekali hati ini, ingin ku berpaling, akan tetapi akal sehatku menolak. Ada pria kejam yang ada bersama bu Fatimah. Biarlah aku durhaka, aku hanya tidak mau masuk lagi dalam jeratan mas Erwin yang sudah membuat hatiku hancur selama-lamanya.
Beruntung, di depan lorong dokter Rian sedang bicara dengan salah satu keluarga pasien. Aku langsung mempercepat langkah, kemudian menghilang masuk ke ruangan dengan asal mengikuti dokter Rian.
"Kenapa ikut masuk?" bisik dokter Rian yang kala itu mau memeriksa pasien.
Aku tersenyum tipis, kemudian berdiri di sampingnya.
"Kalian serasi," ucap pasien yang sedang diperiksa dokter Rian.
"Benarkah?" tanya Dokter Rian. Kulihat wajahnya langsung sumringah.
Aku kemudian menatap ke belakang, menatap pintu yang tertutup, seolah melihat masa lalu bersama mas Erwin. Setelah itu, kulihat sosok pria lain di depanku. Sangat jauh berbeda. Dia sosok yang dingin kata orang-orang, tapi selalu hangat padaku.
Mendadak aku menggeleng pelan, sepertinya otakku tidak waras karena memikirkan bersama dokter Rian untuk menghindar dari kejaran mas Erwin. Apa aku sudah mulai gilaa?
***
Pulang kerja, dokter Rian menghampiriku yang kala itu akan masuk mobil.
"Din ... aku ikut. Anterin sampai depan apartment."
"Mobilnya mana?" tanyaku melihat ke sekeliling.
"Jadwal servis, aku tadi naik taksi."
"Oh, ayo!" ucapku yang tidak masalah memberikan tumpangan.
Selera musik kami sama, jika dilihat-lihat, kami memiliki banyak kemiripan. Hobby, makanan, bacaan, hampir sama. Entahlah, apa kami jodoh? Sambil menyetir aku malah tersenyum tidak jelas.
"Eh, kamu kebanyakan pasien ya? Tuh nular!"
Aku langsung menoleh dan terkekeh.
"Masih batas aman."
"Batas aman? Oke ... bicara mengenai batas aman ... apa segini juga batas aman?" tanya dokter Rian sambil mendekatkan wajah. Langsung saja aku tepis wajahnya dengan galak.
"Aku nyetir. Aneh-aneh aku turunin di sini loh, Dok!" ancamku sambil bercanda.
"Astaga! Sadis banget."
Kami pun sama-sama tersenyum, kemudian tidak terasa sudah sampai.
"Terima kasih."
"Sama-sama," jawabku.
"Mampir gak? Hujan tuh!"
Aku kemudian melihat ke belakang, memang tiba-tiba hujan deras.
"Gak, lah. Jalan aja, pelan-pelan!"
DUARRR ...
Aku terhenyak, tersentak kaget karena suara petir yang tiba-tiba menggelegar.
"Udah-udah ... masuk! Pulang pas agak reda. Jangan mengendara saat seperti ini. Takut pohon tumbang juga. Bahaya!"
Aku berpikir sesaat, kemudian memutuskan untuk menunda kepulanganku. Sepertinya aku memang harus berhenti sejenak dan mampir untuk minum kopi, karena mataku juga lelah, sedikit mengantuk.
***
Apartment dokter Rian.
Pria ini perfectionist sekali, tempat tinggalnya sangat rapi. Aku yang sebagai perempuan saja sedikit terkesima.
"Ini siapa yang beresin, menatap kaya begini?"
"Ya aku lah, siapa lagi? Nggak ada yang tinggal di sini. Lagian mama papa juga lama stay di Amrik."
Aku manggut-manggut.
"Bentar ya, aku buatkan yang hangat-hangat."
"Nggak usah! Aku buat sendiri."
"Oke, aku mandi dulu."
Aku pun ke dapur, sumpah ini sih estetik banget. Seperti yang aku mau. Hanya saja aku terlalu sibuk, sampai malas merapikan apartment. Semua masih sama seperti saat dokter Lani masih hidup. Aku sama sekali tidak merubah furniturnya. Semuanya masih sama.
Sesaat kemudian, dua cangkir kopi sudah siap di meja. Aku menyesap kopiku dulu sambil menunggu dokter Rian keluar.
KLEK
Reflek aku menoleh ke pintu yang tidak jauh di sebelahku. Aku mengumpat kesal dalam hati saat mataku mengangkat pemandangan yang tidak biasa. Dokter Rian keluar dengan rambutnya yang masih basah, dan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Maaf membuatmu terkejut!" ucap dokter Rian yang langsung duduk di depanku dan menyesap kopi yang aku buatkan.
"Sana pakai bajumu, Dok! Jangan jadi dokter Mesyumm!" Aku langsung seja menyindir tingkah dokter Rian.
"Kau ini! Dikasih pemandangan gratis malah ditolak! Dasar!" Dokter Rian langsung berdiri dan melempar handuknya.
Spontan aku menutup mata dengan kedua tangan, tapi dokter Rian malah tertawa lepas.
"Hey! Yang dokter mesyumm itu kamu, Nadin!" ledeknya balik.
"Pakai baju sana!"
"Ish! Lihat dengan benar!"
Pelan-pelan ku buka tangan yang semula menutupi mata ini, oh benar. Yang mesyumm ternyata aku. Sebab dokter Rian ternyata pakai celana pendek di atas lutut.
"Mau persan makanan? Aku lapar."
Kulihat jam, dan memang lapar sih. Aku pun mengangguk. Sambil menunggu hujan reda dan pesanan datang, kami berdua main kartu. Benar-benar dokter kurang kerjaan. Dokter Rian kalah berkali-kali dariku, hingga wajahnya penuh tepung.
"Kau curang, Nadin!"
Aku hanya tersenyum. Bukan aku yang curang, tapi sepertinya pria ini sengaja mengalah. Jangan pikir aku tidak bisa membaca pikiran orang. Aku ini sudah tahu meski sekali lihat.
"Kenapa mengalah? Meskipun ini hanya permainan, tetaplah serius," gerutuku.
Dokter Rian melipat tangan, kemudian menatapku dalam. "Aku hanya ingin kau senang!"
Aku langsung membuang muka lalu menahan senyum. Rasanya aneh, pria ini selalu bisa membuatku nyaman.
"Bagaimana ... kau senang kan? Kamu nggak akan rugi menikah denganku."
Aku menggeleng.
"Ya ... terus saja menolak. Tapi aku tidak akan mudah menyerah."
Menyerah, lebih baik kami menyerah pada hubungan ini. Aku bukan Nadin yang dia kenal, aku Seruni. Batinku berbicara tapi mulutku terkunci rapat.
"Aku pernah hamil!" ucapku tiba-tiba saat dokter Rian menyentuh tanganku.
Kulihat ke dalam matanya lekat-lekat, ada keterkejutan yang tergambar jelas. Tapi kemudian berubah teduh, dia pun semakin mendekat, tangannya melepas tanganku, berganti dengan menyentuh daguku perlahan.
"Apa lagi? Sepertinya kamu pintar membuatku senam jantung!" ucapnya kemudian menempelkan bibirnya dengan tiba-tiba.
CUP
Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2