Seorang suami yang mempunyai dua istri, namun keduanya baik-baik saja tidak ada masalah.
Istri pertama sakit-sakitan dan tidak di karuniai anak, sementara Istri kedua di karuniai seorang putra.
Akan tetapi Sang Suami tidak puas dengan dua Istri, Dia masih tergoda wanita lain.
Akhirnya Dia jatuh dalam pelukan wanita jahat dan serakah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Asmarani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 Karma
Sejak Lina keluar dari penjara, hidupnya sangat memprihatinkan. Kaki Lina yang sudah di amputasi hanya bisa mengandalkan kursi roda. Alex dulu menikahinya tapi hanya menjadikan dia boneka mainan. Jangankan hidup bahagia, hidup layak saja tidak pernah dia rasakan. Dia tidak bisa kerja, makan hanya mengandalkan uang dari Alex kalau dia ngasih, kalau ngga dia hanya mengharap uluran tangan tetangga. Belum lagi Alex yang sering kasar selama ini, hobbynya masih sama main perempuan.
"Mungkin ini balasan dari semua perbuatan yang pernah aku lakukan di masa lalu, merebut suami orang bahkan sampai meninggal dunia. Begitu jahatnya aku, sekarang aku mendapatkan karmanya."
"Clara...semoga kamu di sana baik-baik saja, maafkan ibu nak, semua ini karena salah ibu tapi kamu ikut menanggungnya. Semoga kelak kamu jadi orang yang berguna bagi banyak orang, tidak seperti ibumu," Lina menangis seorang diri, meratapi apa yang terjadi.
"Nih! buat belanja, jangan boros, udah ngga berguna boros lagi," Alex menendang kursi roda yang sedang di duduki Lina, Alek pun beralalu dari hadapan Lina sambil melemparkan uang ke mukanya. Lina hanya diam, tak mampu lagi untuk mengucapkan kata-kata. Dia memungut uang yang berserakan di lantai.
Alex pergi lagi bersama perempuan yang ia bawa, kemanapun dia pergi Lina udah ngga peduli. Tak ada lagi orang yang bisa dia mintai bantuan. Lina ingin sekali pergi meninggalkan Alex mencari tempat lain yang lebih nyaman.
"Bu...bu...tolong kesini sebentar," Lina memanggil seorang ibu paruh baya yang lewat depan kontrakanya.
Bu boleh minta tolong carikan kontrakan yang agak jauh dari sini," yang kecil aja bu.
Lina berbicara sama ibu-ibu tadi untuk merahasiakan pindahannya nanti, karena tetangga sekitar tau kalau Alex sering mukul istrinya. Ibu itu nampak mengangguk tanda setuju.
****
Di Panti Asuhan Ririn sama Clara baru pulang sekolah, mereka masuk ke kamar masing-masing. Setelah beberapa saat nampak Clara keluar dari kamar menuju rumah yang di tempati Bu Nani.
Tok...tok...tok...
Assalamu'alaikum...
Clara mengetuk pintu rumah Ibu Panti.
"Wa'alaikumussalaam...
"Ehh, Clara...ada apa, tumben kamu ke rumah, sini masuk duduk dulu," Bu Nani mengajak Clara masuk. Clara pun mengikuti Bu Nani.
"Maaf Bu, ada yang mau saya tanyakan sama ibu, dulu kan yang menitipkan aku ke Panti Eyang bukan Ibu kan? tanya Clara ingin tau. Dulu katanya Ibu Clara di penjara, apa Ibu Nani masih punya nomer teleponnya. Saya ingin mengunjungi kedua orang tua saya bu, sejak lahir saya belum pernah bertemu sama mereka," ucapnya sedih.
"Coba nanti ibu cari nomernya masih tersimpan apa ngga ya," Bu Nani terus mencari no hp Lina.
"Ohh ini masih ada, coba kamu hubungi sendiri," Bu Nani menatap Clara penuh iba, Bu Nani langsung memeluk Clara penuh kasih.
"Mungkin ibu kamu sibuk hingga dia tidak sempet untuk mengok kamu," Bu Nani menatap wajah polos milik Clara.
"Benarkah begitu Bu," sahut Clara.
"Ya sudah Bu, saya permisi dulu, terima kasih atas waktunya, maaf udah mengganggu waktu istirahat Ibu," Clara bangun dari tempat duduk dan beranjak pergi.
Clara keluar dari rumah Bu Nani, raut mukanya terlihat bahagia. Dengan memegang selembar kertas berisikan no Ibunya dia berjalan menuju kamarnya.
"Alhamdulillah no ibu masih ada...semiga saja masih aktif," mukanya berbinar saat netranya menatap layar ponsel miliknya.
Tuut...tuut...tuut...
Sudah berulang kali Clara mencoba menghubungi tapi ngga ada yang angkat, apa Ibu bener-bener sibuk,?" ucapnya dalam hati.
"Akan aku coba lagi, siapa tau ibu udah ngga sibuk."
Tuut...tuut...tuut...
Terdengar suara perempuan di ujung sana.
"Hallo...Assalamu'alaikum," suara salam dari ujung telepon
"Wa'alaikumussalaam...apa betul ini no Ibu Lina,?" Clara mencoba untuk memastikan.
"I-iya betul, ada apa, dengan siapa ya..."
"Ibu...ini aku Clara Bu, anak ibu, huu huu," Clara menangis karena terharu, dia ngga menyangka bisa mendengar suara ibunya lewat telepon. tangis sedih dan bahagia keduanya pecah dalam telepon. " Kamu sehat nak, maaf ibu belum bisa mengunjungimu, mungkin lain kali ibu akan sempatkan ke Panti Asuhan."
"Clara tunggu ya Bu, semoga ibu selalu sehat di sana, Ya sudah ya Bu Clara mau beres-beres dulu bantu Ibu Panti," Clara menutup teleponnya.
"Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mempertemukan aku dengan ibu biarpun hanya lewat telepon. Lindungi dan jaga Dia Ya Allah," Clara menadahkan tangannya keatas.
Sejak itu hari-hari Clara terlihat ceria, beda dengan Ririn yang nampak sedih termenung seorang diri. Setelah tau bahwa ibunya Clara akan ke Panti, Ririn jadi murung. Sampai saat ini Ririn belum ada titik terang siapa orang tua kandungnya.
"Hanya kalung dan liontin in**i yang jadi saksi, liontin berinisial HE ini pasti punya rahasia tentang siapa orang tuaku."
"Sudahlah...mungkin belum saatnya," Ririn menarik nafas pelan dan kembali melepasnya.
****
Braakk...
Suara Alex yang membuka pintu dengan kasar dari luar, ternyata dia habis minum sampai mabok.
"Linaa...aku laper, siapin aku makanan yang lezat, cepat! " teriak Alex.
"I-iya sebentar Mas, ini udah mateng semua," Lina menjawab dari dapur. Tidak butuh waktu lama Lina mengantarkan makanan buat Alex.
"Makanan apa ini hah! kamu kasih aku makan kaya gini, mbuurrr!
"Alex menyemprotkan makanan yang sudah di kunyah ke wajah Lina sembari mendorong meja yang berisi makanan. Dasar pererempuan ngga berguna, awas minggir! aku mau tidur."
Lina masih mematung di tempat semula, air matanyapun mulai menetes membasahi pipinya yang cekung karena kurus. Dengan derai air mataLina memungut sampah makanan yang beserakan di lantai karena ulah Alex. Setelah ia selesai membereskan mejanya, dia bergegas keluar, andaikan saja kakinya masih sempurna pasti dia sudah kabur dari tempat itu. Lina menunggu ibu-ibu yang lewat kemarin, dia mau menanyakan perihal rumah kontrakan.
"Linaaaa...di mana kamu Lina..." Alex teriak dari dalam kamarnya. Lina yang mendengar teriakan Alex langsung menggerakkan kursi rodanya menuju kamar.
"Ada apa Mas manggil-manggil," Lina mendekat ketakutan.
"Kipas mana! panas banget nih!" Alex duduk di ranjang sambil melotot.
Tubuh Lina gemetaran, dia bingung mau jawab apa, sedangkan kipas anginnya rusak lagi di benerin sama tukang servis.
"Ki-kipasnya rusak Mas," Lina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena takut kena tamparan dari suaminya.
"Apa! kenapa kamu ngga beli yang baru hah! Alex bangun tangannya mendorong dahi Lina dengan kasar.
"Uangnya ngga ada Mas, buat makan saja ngga cukup apalagi buat beli kipas," Lina masih menunduk ketakutan.
"Dasar perempuan sial, Alex meraih kaos yang tergeletak di kasur lalu bergegas keluar. Sementara Lina masih terdiam dikursi roda.
Lina merasakan hidupnya sangat menderita, dia putus asa dengan segala masalah yang ia hadapi. Kemana dia akan berlindung dari suami seperti Alex.
***
**bersambung...
Like dan vote favoritnya jangan lupa ya biar ngga ketinggalan ceritanya...❤🤗🤗**
andai dirimu nikahbdg nando dgn siri, harta ygvdiberikan nando ke kamu, jd harta gono gini istri yg sah sexara afama dan negara.
jd perkawinan dgn suri, tdk punya kekuatan hukum apapun.
Sudah tua kan ?
Waktu Nando selingkuh dgn Lina umurnya diatas 40 th. 23 tahun kemudian berarti sudah di atas 60th.
Hena teman sekolah Nando.
Masih melacur...