NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepaket Burger Jumbo Tengah Malam

Mobil sedan mewah itu membelah keheningan jalanan ibu kota yang mulai basah oleh sisa-sisa hujan. Jarum jam di dasbor menunjukkan pukul 01:15 pagi. Di dalam kabin, hanya terdengar deru halus mesin dan gesekan ban di atas aspal.

Arash mengemudi dengan tenang, satu tangannya berada di kemudi sementara tangan lainnya menumpu di jendela, menopang dagunya yang tampak tegang.

Raisa duduk kaku di kursi penumpang samping kemudi. Kepalanya bersandar pada kaca jendela yang dingin, menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat seperti garis-garis cahaya yang memudar. Di tengah kesunyian itu, sebuah suara pengkhianat terdengar—perut Raisa keroncongan cukup nyaring, memecah keheningan kabin yang kedap suara tersebut.

Raisa refleks merapatkan tas ke perutnya, wajahnya memanas karena malu. Ia berharap Arash tidak mendengarnya di tengah konsentrasi mengemudinya yang tajam. Namun, harapan itu pupus saat ia melihat sudut bibir Arash berkedut tipis, sebuah seringai samar yang tampak meremehkan.

Tanpa sepatah kata pun, Arash memutar kemudi dengan gerakan tegas ke arah lajur kiri, memasuki area sebuah restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Ia mengarahkan mobilnya menuju jalur drive-thru.

"Lho, kita mau ke mana?" tanya Raisa dengan nada bingung, ia menegakkan punggungnya dan menatap lampu neon kuning restoran yang terang benderang.

Arash tidak menoleh, matanya tetap fokus pada spion samping. "Menurutmu apa yang dilakukan orang di depan mesin pemesan ini? Membeli saham?" sahut Arash dengan nada sarkas yang tajam seperti biasanya.

"Tapi aku tidak bilang aku lapar," sanggah Raisa, suaranya mencicit kecil.

Arash menghentikan mobil tepat di depan pelantang suara pesanan. Ia menurunkan kaca jendela, membiarkan udara malam yang dingin menyeruak masuk. "Aku tidak sedang menanyakan keinginanmu, Raisa. Aku hanya tidak mau besok pagi kau jatuh pingsan di tengah presentasi karena asam lambungmu naik. Itu akan sangat merepotkan dan membuat citraku sebagai atasan terlihat buruk karena mempekerjakan 'budak' hingga kelaparan."

"Selamat malam, mau pesan apa?" suara dari mesin itu menyela.

"Dua paket burger ayam besar, satu tanpa bawang, dan dua kopi hangat," Arash memesan dengan cepat tanpa menoleh pada Raisa untuk bertanya pilihannya. Ia seolah sudah tahu bahwa Raisa benci bawang bombay di burgernya—detail kecil yang entah bagaimana bisa ia ingat.

Setelah melakukan pembayaran dan menerima kantong kertas cokelat yang beraroma gurih, Arash kembali melajukan mobilnya. Bau kentang goreng yang menggoda seketika memenuhi mobil, membuat perut Raisa semakin berisik.

"Makanlah sekarang," perintah Arash sambil meletakkan kantong itu ke pangkuan Raisa dengan sedikit kasar. "Jangan sampai aromanya menempel di jok mobilku terlalu lama."

Raisa membuka bungkusan itu dengan jemari gemetar. "Terima kasih ... Pak Arash."

"Jangan mulai lagi dengan panggilan itu," gumam Arash. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke depan seolah aspal di hadapannya adalah musuh yang harus ia taklukkan. "Aku melakukannya bukan karena peduli padamu. Aku melakukannya karena kau adalah aset penting untuk rapat besok. Jika kau sakit, investasiku gagal."

Raisa menggigit burgernya perlahan. Rasa hangat makanan itu menyentuh lidahnya, memberikan kenyamanan yang aneh di tengah tekanan hidup yang menghimpitnya. Sambil mengunyah, pikirannya melayang kembali ke awal semua kegilaan ini.

Flashback.

Tiga bulan yang lalu, di sebuah kantor pengacara yang pengap dan penuh tumpukan berkas.

Raisa duduk bersimpuh di depan ayahnya yang tampak hancur. Pria tua itu menangis tanpa suara, memegang tumpukan surat sita dan utang piutang yang nilainya tak masuk akal. Pinjaman modal untuk usaha furnitur yang gagal, ditambah bunga dari lintah darat yang kejam, telah menjerat leher keluarga mereka.

"Hanya satu orang yang bisa menghentikan ini, Raisa," bisik pengacara keluarga mereka saat itu. "Tuan Muda Arash Dirgantara. Dia mencari wanita yang bersih dari skandal dan memiliki latar belakang pendidikan yang baik untuk sebuah kesepakatan."

Lalu pertemuan itu terjadi. Arash berdiri di ruang tamu rumahnya yang mewah, membelakangi jendela besar. Ia tidak menawarkan cinta, tidak juga keramahan. Ia melemparkan sebuah dokumen setebal tiga puluh halaman ke meja.

"Aku akan melunasi seluruh utang ayahmu dalam satu kali transfer," ucap Arash dengan nada sedingin batu nisan. "Sebagai gantinya, kau akan menjadi istriku selama dua tahun. Keluargaku, terutama Kakek, menuntut seorang ahli waris segera karena kesehatan beliau menurun. Ayahku sudah meninggal, dan paman-pamanku sudah mulai bertindak seolah-olah mereka adalah pemilik tunggal Dirgantara Group. Jika aku tidak punya keturunan dalam waktu dekat, hak suaraku sebagai pewaris utama akan digugat."

Arash melangkah mendekat, matanya menatap Raisa tanpa emosi. "Ini murni bisnis. Aku butuh status pernikahan untuk mengamankan posisi CEO, dan kau butuh uang untuk menyelamatkan ayahmu dari penjara. Kita akan tinggal satu atap, berpura-pura menjadi pasangan sempurna di depan publik, namun tetap asing di balik pintu. Setuju?"

Raisa melihat wajah ayahnya yang penuh kerutan dan rasa putus asa. Dengan tangan gemetar, ia mengambil pulpen dan menandatangani jiwanya pada pria dingin di depannya itu.

Lamunan Raisa buyar saat mobil berhenti mendadak karena lampu merah. Ia menyadari burgernya sudah habis setengah. Ia menoleh ke arah Arash yang sedang menyesap kopinya, profil wajah pria itu tampak sangat lelah di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang.

"Kenapa kau menatapku? Ada saus di hidungmu," cetus Arash tanpa menoleh, namun nada bicaranya sedikit melunak, meski tetap sarkas.

Raisa segera mengusap wajahnya dengan tisu. "Aku hanya berpikir ... paman-pamanmu itu, apakah mereka benar-benar seberbahaya itu?"

Arash meremas kemudinya, otot-otot di lengannya menegang. "Mereka adalah pemakan bangkai. Mereka tidak peduli jika perusahaan hancur, asalkan kantong mereka penuh. Kakek tahu itu, makanya dia mendesakku. Baginya, keturunanku adalah simbol stabilitas perusahaan." Ia melirik Raisa sesaat, tatapannya sulit diartikan. "Dan kau adalah kunci dari stabilitas itu. Jadi, berhentilah bertingkah seperti korban drama dan makanlah kentangmu."

Raisa terdiam. Ia menyadari bahwa di balik sikap angkuh dan mulut tajam Arash, pria ini sedang memikul beban seluruh dinasti bisnis di pundaknya sendirian. Kesepian yang ia rasakan di kantor tadi mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan tekanan yang dialami Arash setiap hari dari keluarganya sendiri.

"Aku akan membantu selesaikan ini, Arash," bisik Raisa pelan, hampir tak terdengar. "Bukan hanya karena utang ayahku, tapi karena aku tidak ingin melihat paman-pamanmu menang."

Arash tertegun sejenak. Ia menghentikan cangkir kopinya di depan bibir. Untuk pertama kalinya malam itu, keheningan di dalam mobil terasa berbeda. Bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh dengan pengertian yang belum terucap.

"Simpan semangat heroisme-mu untuk rapat besok," balas Arash akhirnya, memutar kemudi saat lampu berubah hijau. "Sekarang diam dan habiskan makananmu. Kita hampir sampai di rumah, dan ingat ... mulai malam ini, kau tidur di kamarku. Jangan coba-coba melarikan diri ke sofa jika kau tidak ingin kuseret kembali ke tempat tidur."

Raisa menelan kentang gorengnya dengan susah payah. Ketegangan baru baru saja dimulai, berbagi ranjang dengan pria yang baru saja membelikannya makanan cepat saji di tengah malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!