NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Sinar matahari sore yang berwarna jingga menyiram kompleks perumahan elit itu. Suasana sepi, hanya terdengar suara kicauan burung dan gesekan daun mangga di halaman rumah Papa Johan. Ayra berdiri di teras, masih mengenakan seragam sekolahnya namun sudah melepas sepatunya. Di tangannya, ia meremas pelan tas sekolahnya, tempat kertas ulangan itu tersimpan rapi.

Tak lama kemudian, suara motor sport terdengar menderu pelan dan berhenti di rumah sebelah. Alano baru saja pulang dari latihan basket tambahan. Cowok itu turun dari motor, membuka helmnya, dan mengacak rambutnya yang sedikit basah oleh keringat—pemandangan yang biasanya membuat gadis-gadis di sekolah menjerit, tapi bagi Ayra, itu adalah tanda "bahaya".

Alano menyadari keberadaan Ayra. Ia menyeringai, lalu melompati pagar pembatas setinggi pinggang itu dengan lincah seolah itu bukan hambatan.

"Sore, Ayang. Tumben banget nungguin di teras. Kangen ya?" goda Alano sambil berjalan mendekat dengan gaya santai.

Ayra tidak membalas candaan itu. Ia berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Alano dengan tatapan yang sangat tajam—tatapan penuh selidik yang biasanya ia gunakan saat menginterogasi anggota OSIS yang melanggar aturan.

"Lano, aku mau tanya sesuatu. Dan kamu harus jawab jujur," ucap Ayra serius.

Alano menghentikan langkahnya, sekitar dua meter dari Ayra. Ia menaikkan sebelah alisnya, mencoba tetap terlihat tenang meski jantungnya mulai berdegup tidak karuan. Apa dia nemu tulisan itu? batinnya was-was.

"Waduh, serius amat. Tanya apa? Mau tanya tips gimana caranya jadi ganteng kayak aku?"

"Tadi di sekolah... kelas kamu ya yang ngoreksi ulangan Sejarah kelas 10 IPS 1?"

Pertanyaan itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran. Alano sempat tertegun sejenak. Ia memutar otaknya dengan cepat. Jika ia berbohong, Ayra pasti bisa bertanya pada teman-temannya yang lain. Jika ia jujur, rahasia di balik kertas itu terancam terbongkar.

"Eh... itu... iya, tadi Pak Danu masuk ke kelas gue. Kenapa emang? Nilai lo jelek ya? Makanya, jangan pacaran mulu sama si kacamata itu," Alano mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menyerang balik.

Ayra melangkah maju satu langkah. "Nilai aku bagus. 98. Tapi bukan itu masalahnya."

Ayra membuka tasnya, mengambil lembaran kertas ulangan itu, dan membaliknya. Ia menunjuk ke pojok paling bawah, tepat di tulisan i love you yang samar.

"Ini tulisan siapa?" suara Ayra merendah, menuntut penjelasan.

Alano menatap tulisan itu. Di bawah sinar sore, tinta biru gelap itu terlihat jelas. Ia bisa saja bilang itu tulisan orang lain, tapi Alano tahu Ayra sangat teliti. Ayra sering melihat Alano mengerjakan tugas (atau lebih tepatnya melihat Alano mencoret-coret buku) saat mereka belajar bareng di ruang tamu.

"Ya mana gue tau, Ay. Yang ngoreksi kan sekelas. Bisa aja itu punya Bima, atau si Ucup, atau siapa lah yang lagi iseng," jawab Alano sambil membuang muka, mencoba mencari alasan.

"Tapi kertas ini dapet nilai 98. Dan yang ngoreksi kertas aku ini teliti banget. Semua centangnya rapi. Dan pulpennya... warnanya sama persis sama pulpen yang sering kamu pake," desak Ayra lagi.

Alano terdiam. Ia merasa terpojok. Sisi pengecut dalam dirinya ingin lari dan tertawa, menganggap itu semua hanya lelucon. Tapi sisi lain—sisi yang sudah mencintai Ayra selama sepuluh tahun—merasa lelah bersembunyi.

"Kenapa kamu harus peduli itu tulisan siapa, Ay?" suara Alano tiba-tiba berubah. Tidak ada lagi nada jahil atau ejekan. Suaranya rendah dan serak.

Ayra tersentak mendengar perubahan nada bicara Alano. "Ya... ya peduli lah! Ini kan kertas aku! Dan kalau ini beneran dari orang kelas kamu, berarti ada yang... ada yang..."

"Ada yang suka sama kamu?" potong Alano cepat. Ia menatap mata Ayra dalam-dalam. "Emang aneh kalau ada cowok yang suka sama kamu? Kamu itu pinter, cantik, ramah. Satu sekolah juga tau kalau kamu itu idaman."

Ayra mengerjapkan matanya, wajahnya mulai memanas. "Bukan itu maksudnya, Lano! Maksud aku... kalau ini kamu yang nulis, ini nggak bener. Kita ini keluarga. Kamu itu kakak aku, kamu itu sepupuku!"

Kata-kata "keluarga" dan "sepupu" itu bagaikan tamparan keras bagi Alano. Senyum tipis yang sempat muncul di wajahnya menghilang, digantikan oleh gurat kekecewaan yang nyata.

"Keluarga ya?" Alano tertawa getir. "Iya, gue lupa. Gue kan cuma anak pungut yang beruntung diadopsi sama Om Malik. Gue lupa kalau di mata lo, gue cuma 'kakak' yang tugasnya jagain lo biar nggak dideketin cowok lain."

"Lano, bukan gitu maksud aku—"

"Udah deh, Ay. Anggap aja itu tulisan orang iseng. Gue capek, mau mandi," potong Alano ketus.

Ia berbalik badan, bersiap melompati pagar kembali ke rumahnya. Namun sebelum ia melompat, ia menoleh sedikit tanpa menatap mata Ayra.

"Oiya, buat info aja. Tadi emang gue yang ngoreksi kertas lo. Tapi soal tulisan itu... terserah lo mau percaya itu dari gue atau bukan. Yang jelas, gue nggak pernah main-main kalau soal 'menjaga' apa yang berharga buat gue."

Alano melompat pagar dan berjalan cepat masuk ke rumahnya, meninggalkan Ayra yang berdiri mematung di teras.

Malam itu, Ayra tidak bisa fokus belajar. Ia terus menatap tulisan kecil di kertas ulangannya. I love you. Ia teringat kembali semua kejahilan Alano selama ini. Bagaimana Alano selalu ada saat ia menangis karena jatuh dari sepeda waktu kecil. Bagaimana Alano selalu menjemputnya saat hujan deras meskipun cowok itu harus basah kuyup. Dan bagaimana Alano selalu mengusir cowok-cowok yang mencoba mendekatinya dengan alasan "seleksi ketat".

Apakah selama ini Alano melakukan itu bukan karena tugas sebagai kakak? Apakah panggilan "Ayang" yang selama ini dianggap Ayra sebagai ejekan, sebenarnya adalah ungkapan perasaan yang paling jujur dari Alano?

Di rumah sebelah, Alano berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena menuliskan kalimat itu. Tapi di saat yang sama, ia merasa lega. Setidaknya, satu rahasia kecilnya sudah terendus, meski ia belum punya keberanian untuk mengakuinya secara terang-terangan di depan Papa Johan dan Mama Aura.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!