NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Dua hari perjalanan berlalu dengan cepat.

Han Feng menghabiskan waktunya di punggung elang untuk bermeditasi, menstabilkan fondasi kultivasinya setelah pertarungan di turnamen. Udara di ketinggian jauh lebih murni, membuat Sutra Hati Naga Purba bekerja lebih efisien.

Pada siang hari ketiga, Tetua Zhang menunjuk ke depan.

"Lihatlah. Itu rumah barumu."

Han Feng membuka mata dan melihat ke depan. Napasnya tercekat.

Di kejauhan, menembus lautan awan, menjulang pegunungan raksasa yang bentuknya menyerupai pedang-pedang yang menusuk langit. Ada sembilan puncak utama yang dikelilingi oleh ribuan puncak kecil. Bangunan-bangunan megah bergaya kuno bertengger di lereng-lereng gunung, dihubungkan oleh jembatan gantung dan formasi pelangi yang bercahaya.

Burung-burung bangau putih terbang beriringan di antara puncak gunung. Dan yang paling mengejutkan Han Feng adalah kepadatan Energi Qi di sini. Bahkan dari jarak sekian mil, Han Feng sudah bisa merasakan Qi yang sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan di Kota Awan Terapung.

Ini adalah tanah suci kultivasi. Gunung Pedang Langit.

"Gunung utama di tengah adalah Puncak Pedang Surga, tempat Ketua Sekte dan para Tetua Agung tinggal," jelas Tetua Zhang saat elang mulai menukik turun. "Empat puncak di sekelilingnya adalah wilayah Murid Sejati. Dan di lapisan luar, adalah tempat tinggal Murid Inti dan Murid Dalam."

Elang Roh Angin mendarat di sebuah alun-alun batu putih yang luas di salah satu puncak lapisan luar—Puncak Pedang Bumi.

Begitu kaki Han Feng menyentuh tanah, dia merasakan gravitasi yang sedikit berbeda. Tanah di sini diperkuat oleh formasi sihir kuno, membuatnya sekeras baja.

Beberapa murid yang mengenakan jubah putih sekte lalu lalang di alun-alun. Mereka menatap elang Tetua Zhang dengan hormat, lalu melirik Han Feng dengan rasa ingin tahu.

"Siapa anak baru itu? Dibawa langsung oleh Tetua Zhang?"

"Pakaiannya aneh. Dan pedang apa itu? Jelek sekali."

"Mungkin pelayan baru Tetua?"

Tetua Zhang turun dari elang dan menepuk bahu Han Feng.

"Selamat datang di Sekte Pedang Langit, Han Feng. Mulai saat ini, kau adalah ikan kecil di kolam yang penuh dengan hiu dan naga. Jangan biarkan dirimu dimakan."

Tetua Zhang mengeluarkan sebuah token giok berwarna ungu dan melemparkannya kepada Han Feng.

"Bawa ini ke Aula Urusan Murid. Daftarkan dirimu, ambil seragam dan jatah bulananmu. Aku ada urusan dengan Ketua Sekte. Jika kau butuh sesuatu yang mendesak, kau bisa mencariku di Puncak Herbal. Tapi ingat, aku tidak akan memecahkan masalah sepele murid."

"Terima kasih, Tetua," Han Feng menangkap token itu.

Tetua Zhang mengangguk, lalu menaiki elangnya lagi dan terbang menuju puncak utama, meninggalkan Han Feng sendirian di tengah alun-alun asing yang luas.

Han Feng berdiri tegak, menghirup udara yang kaya akan Qi. Setiap tarikan napas terasa menyegarkan, seolah sel-sel tubuhnya sedang bersorak gembira.

"Sekte Pedang Langit," bisik Han Feng.

Dia menatap ke arah puncak-puncak yang lebih tinggi, tempat di mana Han Ling—calon musuh terbesarnya—mungkin sedang berkultivasi.

"Di sinilah aku akan menempa diriku menjadi pedang terkuat," tekad Han Feng.

Dia membetulkan letak Pedang Meteor Hitam di punggungnya, lalu melangkah maju menuju gedung administrasi dengan langkah mantap. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan.

Petualangan Han Feng di dunia kultivasi yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan langkah pertamanya adalah membuat namanya dikenal di antara puluhan ribu jenius sekte ini.

Aula Urusan Murid di Puncak Pedang Bumi adalah sebuah bangunan megah yang terbuat dari batu pualam putih, berdiri kokoh di sisi utara alun-alun. Pilar-pilar raksasa yang diukir dengan relief naga melilit pedang menopang atap bangunan yang melengkung indah. Di sinilah denyut nadi administrasi sekte berpusat; tempat pendaftaran, pengambilan misi, dan pembagian sumber daya bulanan dilakukan.

Han Feng berjalan menaiki tangga batu menuju pintu masuk aula. Langkah kaki Han Feng tenang dan stabil, kontras dengan penampilan fisiknya yang berantakan. Jubah abu-abunya yang hangus di beberapa bagian dan berdebu sisa perjalanan, ditambah dengan pedang hitam raksasa yang tampak seperti besi rongsokan di punggungnya, membuat Han Feng terlihat seperti pengemis yang tersesat masuk ke istana kaisar.

Di sekitar Han Feng, para murid Sekte Pedang Langit yang mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman pedang biru atau hijau (tanda Murid Luar dan Dalam) menatapnya dengan pandangan aneh.

"Hei, lihat orang itu. Apa dia kuli bangunan yang baru direkrut?"

"Mungkin dia tukang bersih-bersih baru? Tapi kenapa dia membawa besi tua di punggungnya?"

"Jauhi dia. Baunya seperti hutan liar. Jangan sampai jubah kita kotor."

Bisik-bisik dan tatapan jijik menyertai setiap langkah Han Feng. Namun, mentalitas Han Feng telah ditempa di dua kehidupan. Bagi Han Feng, opini semut tidak pernah penting bagi gajah. Han Feng terus berjalan lurus menuju meja resepsionis utama yang terletak di ujung aula.

Di belakang meja panjang yang terbuat dari kayu cendana merah, duduk beberapa murid senior yang bertugas sebagai staf administrasi. Mereka tampak sibuk mencatat laporan atau membagikan pil kepada antrean murid.

Han Feng memilih antrean yang paling sepi. Di depannya hanya ada seorang murid laki-laki gemuk yang sedang mengeluh tentang jatah Batu Roh-nya yang kurang. Setelah murid itu pergi dengan wajah masam, Han Feng maju ke depan.

"Nama dan tujuan," ucap murid staf yang menjaga meja itu tanpa mengangkat kepala. Dia adalah seorang pemuda kurus dengan wajah penuh jerawat, mengenakan jubah Murid Dalam.

"Han Feng. Pendaftaran murid baru," jawab Han Feng singkat.

Murid staf itu berhenti menulis. Dia mengangkat kepalanya perlahan, matanya menyapu penampilan Han Feng dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi.

"Pendaftaran murid baru?" Murid staf itu mendengus tertawa. "Kau pasti salah tempat, kawan. Pendaftaran ujian masuk untuk pelayan atau pekerja kasar ada di kaki gunung, bukan di sini. Ini adalah Aula Urusan Murid untuk kultivator resmi. Sekarang pergilah sebelum aku memanggil penjaga untuk menyeretmu keluar."

Para murid lain di antrean sebelah tertawa kecil mendengar ucapan itu. Mereka menikmati tontonan "orang desa" yang tidak tahu aturan.

Han Feng tidak marah. Wajah Han Feng tetap datar. Han Feng perlahan merogoh saku jubahnya yang robek, mengeluarkan benda yang diberikan Tetua Zhang tadi, dan meletakkannya di atas meja kayu dengan bunyi tak yang renyah.

"Aku tidak butuh ujian," kata Han Feng.

Murid staf itu hendak membentak Han Feng karena bersikap kurang ajar, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan saat matanya melihat benda di atas meja.

Itu adalah sebuah token giok. Bukan giok putih biasa. Bukan giok hijau. Melainkan giok berwarna ungu pekat yang memancarkan pendar cahaya spiritual yang lembut namun agung. Di tengah token itu, terukir satu kata yang ditulis dengan kaligrafi yang memancarkan aura pedang tajam: [INTI].

Mata murid staf itu membelalak hingga hampir keluar dari rongganya. Wajahnya yang tadinya sombong seketika berubah pucat pasi seputih kertas.

"T-Token... Token Inti Ungu?!" pekiknya dengan suara melengking yang terdengar ke seluruh aula.

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!