"Perpisahan kita bukan salah siapa2. Bukan sepenuhnya salahmu, salah ku , salah dia ataupun salah waktu. Kita adalah dua orang yg tepat, tapi tepat disini bukan sebagai pasangan melainkan sebagai pembelajaran untuk kita menjadi lebih dewasa"
Nada Ageta Putri
"Jika kesalahan ini sebagai pembelajaran. Bisakah aku tetap belajar bersama mu sehingga kita bisa dewasa bersama"
Juna Genio Lin
"Apakah perasaan cinta sebuah kesalahan? Jika memang iya, aku tak ingin perasaan ini. Perasaan ini terus menggerogoti kewarasan ku dan membuat ku menjadi jahat yang menyakiti orang di sekeliling ku"
Senar Anggriani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moms F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Dia sudah bahagia
Sebuah helaan nafas berulang kali terdengar dari Nada. Sedangkan tangannya memegang erat sebuah foto bertumpu di atas pangkuan nya.
Hal ini berulang kali terjadi pada dirinya setahun belakangan ini. Terus menatap benda mati tanpa bergerak. Menghayal masa lalu yang pernah dilakukan dengan tawa dan kebahagiaan. Bohong jika Nada bilang kalau ia tidak merindukan orang-orang yang berada di dalam foto. Apalagi salah satu pria ini pernah bersarang dihatinya.
Sejahat - jahatnya dan se mengecewakan apapun pria ini. Faktanya bahwa pria ini adalah seorang pria yang pernah ia sukai dan pria yang beberapa tahun ini terus bersama nya memberikan pelajaran apa itu cinta. Hal itu sesuatu yang tidak mudah untuk dilupakan begitu saja seperti membalikkan telapak tangan.
Nada mungkin saja menganggap enteng pembicaraan nya pada Melody saat sahabat nya itu membicarakan mantannya. Tapi jauh didalam lubuk hatinya. Tak di pungkiri bahwa ia rindu akan hari-hari bahagia dulu. Bahwa ia sering kali menyayangkan hubungan dengan pria itu kandas karena nafsu sesaat.
Mungkin butuh beberapa tahun lagi untuk bisa menghapus pria itu dalam hatinya. Membuang semua kenangan indah yang pernah mereka ciptakan. Atau dengan datangnya orang yang menggantikan dia yang pernah bertatah di hatinya. Nada berharap waktu itu akan segera datang.
Kata "seandainya" jika hubungan dengan pria itu bisa berjalan lancar. Mungkin Nada bisa membangun rumah tangga penuh cinta hingga saat ini. Rumah tangga penuh kebahagiaan dan mungkin dengan anak di samping mereka. Tapi tentu saja itu mustahil untuk terjadi. Sebab kata seandainya tidak akan ada untuk masa depan.
Hawa nafsu yang tidak bisa mereka tahan merusak semua hubungan baik yang mereka bina.
"Abang,, andai saja kamu lebih jujur. Mungkin saat ini Nada bisa cerita dan menangis di pundak Abang. Dan Nada yakin, pasti Abang akan ngajak Nada pergi kemanapun dan melakukan hal-hal gila supaya Nada bisa menghilangkan dan melupakan kesedihan Nada. Tapi Abang malah lebih memilih berbohong kepada Nada dari pada jujur. Apa Abang tahu hati Nada masih terluka bang" Nada mengelus foto yang ada di pangkuan nya.
Foto itu berisi Dirinya yang tersenyum manis di gandeng oleh Varo dan Juna serta Senar di samping Varo yang memegang bunga di tangannya.
"Bohong kalau ku bilang semua perasaan untuk mu hilang. Ini masih terasa sakit, bertahun-tahun kita bersama. Tawa dan sedih kita lalui bersama. Kita pernah merencanakan masa depan kita yang manis dan bahagia. Tapi kamu merusak semuanya. Jika ada di kehidupan selanjutnya. Kumohon menjauh lah, jangan pernah menjadi kekasihku lagi. Jadilah orang lain yang tidak pernah ku kenal" Suara Nada terdengar getir dan tersenyum pahit menatap foto Juna.
"terimakasih memberiku rasa pengkhianat dan luka. Terimakasih telah menjadi temanku saat aku kecil. Tapi ku pinta, jadilah orang baik dan ajarkan anakmu untuk menjadi lebih baik. Agar ia tidak menyakiti wanita manapun di masa depan. Dan kuharap saat kita bertemu kembali. Tolong anggap kita orang asing"
Nada bercanda sambil mengumpulkan kesadaran nya untuk menghilangkan bayangan-bayangan yang pernah mereka lakukan berempat.
Saat sudah tenang, Nada beranjak dari kursinya dan berjongkok di balkon. Menatap Foto itu lama dan foto yang sedari tadi ia pegang langsung di lalap oleh api yang menyala. Nada memandangi api yang berkobar kecil di bawah kakinya. Foto yang dikit demi sedikit menjadi abu dan menghilangkan gambarnya.
Api yang terus mengecil membakar semua kenangan terakhir mereka. Nada berharap juga dapat membakar semua kenangan dari pikiran dan hatinya menjadi tak tersisa.
Walau ia korban, ia tak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Ia tak ingin mengganggu kehidupan mereka.
Mereka sudah menikah sesuai kehendak Nada dulu. Mereka sudah memiliki anak lelaki dan mereka tampak bahagia.
Walaupun selama setahun ini Nada menutup semua kabar dari keduanya. Tapi Melody yang cerewet menceritakan semuanya tanpa diminta.
Apalagi saat Nada pulang kerja sore tadi. Saat Nada melewati taman bermain. Nada dapat melihat Juna,Senar dan anaknya tampak bahagia. Anaknya yang di gendong oleh Juna tertawa kekeh di ajak main oleh Senar.
Saat melihat itu hati Nada seperti tertusuk. Nada tertawa miris, mengasihani dirinya. Setahun ia berjuang menyembuhkan luka dari penghianatan. Berfokus dengan rasa sakit, tapi mereka yang menyakiti nya sudah bahagia.
Setahun ia berjuang dengan kenang-kenangan bersama Juna. Tapi Juna malah telah benar-benar melupakan nya dan sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.
Benar kata melody. Kalau mau sedih cukup sehari atau seminggu habis itu buang kesedihan mu. Lebih nya bawa happy dengan kegiatan positif. Toh hanya kita yang merasa sedih sedangkan mereka malah tertawa dan bahagia. Kan itu namanya bodoh.
"hehe" Nada terkekeh miris. Baru menyadari arti dari ucapan yang di sampaikan oleh melody beberapa bulan ia meninggalkan rumah. Melody benar, ia bodoh terus berfokus pada rasa sakit.
****************
semangat nada!!!💪💪💪
ini othor nya yang keren nih bisa memainkan emosi para pembaca nya.... good job,Thor ...🫰🫰🫰🫰
lari lah sejauh mungkin.... tinggalkan sumber rasa sakit itu & cari kebahagiaan mu ditempat yang baru...
semoga setelah patah hati karena tiga orang ini, nada bisa bangkit lagi melupakan kesakitannya, bila mungkin jauhkan nada dari orang2 yang kejam ini Thor