Kisah rumit terjalin saat kepergian gadis culun menjadi TKI gelap ke Texas. Memulai dengan cara yang salah. Hingga membawa ia pada sebuah pertemuan dengan seorang Mafia Kejam. Pria yang memberikan kehidupan penuh kerumitan. Ia benci suara tembakan dan aroma alkohol yang ikut memasuki kehidupan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. KECUPAN PENYEMANGAT
Suara di podium terdengar mengalun keras dan lancar. Di bangku para mahasiswa baru mencatat apa yang di katakan oleh pria tampan di depan sana. Dara ikut melakukan apa yang teman-teman satu jurusan nya ini lakukan. Meskipun ia sempat terkejut dengan eksistensi pria bermata sipit di depan sana. Pria itu tampak berbeda dengan balutan kemeja bermotif kotak-kotak berwana biru laut itu.
Sedangkan di samping tempat duduk nya. Niko sesekali melirik Dara. Gadis culun itu tampak sangat biasa saja. Ia terlihat mencatat apa yang di jelaskan oleh Juan Brown. Pria itu entah kenapa bisa mengajar di kampus yang ia masuki.
"Oke sampai di sini dulu pertemuan kita hari ini. Tugas Minggu depan, saya ingin kalian membuat penjelasan dan penyebab dari beberapa penyimpangan seksual yang baru saja saya jelaskan," ujar Juan dengan suara menggelegar dengan jelas.
Orang-orang di dalam ruangan kelas sontak saja melenguh malas. Bagaimana tidak ini adalah kelas di jam pertama mereka tetapi sudah mendapatkan tugas menyusahkan bagi mereka. Sayang sekali dosen tampan itu terlalu enggan untuk di maki oleh lidah mereka. Itu bagi anak perempuan berbeda bagi yang lelaki tentu nya. Mereka memaki dosen mereka karena tugas.
Juan Brown tidak peduli. Pria itu keluar dari kelas setelah sesaat sempat melirik jam di pergelangan tangannya. Pria itu tidak membawa tas untuk menempatkan buku. Pria ini telah banyak menyimpan pelajaran di dalam otaknya. Tanpa harus kembali membuka buku paket tebal untuk mengulang pelajaran.
Niko Wu menoleh ke samping."Kau mau mengerjakan nya bersamaku. Aku terlalu malas untuk mengejarnya sendiri. Kita bisa pergi ke perpustakaan di jantung kota," ujar Niko memberikan usulan.
Senyum ramah dan lugu terus di tampil kan oleh pria ini. Dara membenahi kaca mata tebal yang hampir merosot dari puncak hidung minimal nya. Dara terlihat menimbang-nimbang ajakan Niko.
"Masih suka menimbang-nimbang sesuatu Dar!" ujar Niko pelan. Tak lupa masih mengulas senyum.
Dara mengulas senyum malu."Maaf," serunya,"baiklah. Kita bisa mengejarnya berdua. Seperti nya kalau ada teman memang lebih seru," sambungnya lagi.
Niko mengembangkan senyum lima jari. Memperlihatkan deretan gigi putih berukuran sedang itu. Selalu begitu, benar-benar si manipulasi yang sempurna. Niko Wu adalah pria yang sangat hebat dalam mengendalikan banyak emosi di raut wajahnya. Sangat sulit menembakkan isi hatinya jika melihat raut wajahnya itu.
Dara mengemasi barang nya. Memasukan buku-buku, pena dan alat tulis lainnya ke dalam ransel miliknya. Niko mengikuti jejak Dara.
"Mau makan di kantin?" tanya Niko lagi.
"Ya." Dara mengangguk kepala nya.
Ke duanya berdiri serentak sebelum melangkah keluar dari ruangan kelas. Jam ke dua mereka jatuh pada pukul dua siang nanti. Kira-kira ada tiga jam kosong di jadwal mereka.
"Yang kemarin itu benar-benar calon adik iparmu?" Tanya Niko di sela langkah kaki mereka.
"Ya. Semoga saja."
"Kau terlihat begitu menyukainya. Seperti nya.."
"Heheh... apakah terlalu terlihat?" Tanya Dara menangkup ke dua sisi wajahnya karena malu.
Dari ekor mata Niko. Pria itu melirik raut wajah Dara yang terlihat begitu bahagia.
"Lalu bagaimana dengan nya?"
"Nya siapa?"
"Tentu saja pria itu. Pria yang menjadi kekasihmu."
"Kami saling mencintai dan saling bergantung satu sama lain," dusta Dara.
Gadis culun ini tidak mungkin mengatakan keadaan yang sebenarnya. Ia masih tau bagaimana berbicara pada orang luar. Pria yang di nilai ramah ini baru saja bertemu dan berteman dengan nya. Karena itu. Dara Margaretha harus mawas diri. Namun harus tetap pula bersikap biasa saja. Agar tidak terlalu menarik perhatian.
"Ah... begitu ternyata," ujar Niko. Sebelum mengangguk pelan kepalanya.
Dara ikut mengangguk. Dari kejauhan manik mata hitam itu memperhatikan gerak gerik ke duanya dari kejauhan. Pangkal hidung mancung itu mengerut melihat pria di samping gadis culun itu. Juan merasa pernah melihat pria itu. Pria yang terlihat begitu polos dengan senyum ramah. Tapi kapan ia pernah melihat pria itu?
"Kapan ya aku melihat nya?" monolog Juan dengan nada berat nya.
...***...
Alex menekan perlahan pisau kecil itu menariknya ke belakang. Darah segar mengalir di dada merah itu. Senyum di wajahnya terlihat. Ke dua tangannya terpasang sarung tangan plastik. Dengan perlahan Alex mengeluarkan jantung pria itu dengan penuh ke hati-hati. Meletakkan nya di kotak yang telah di sediakan.
Wajah Bos Mafia itu tampak begitu puas dengan apa yang ia lakukan. Dua tubuh yang telah kosong di pindahkan keluar untuk di bakar.
"Apakah ini yang terakhir?" tanya Alex pelan.
"Ya, Bos. Ini yang terakhir." Tom menjawab cepat.
"Berapa semua yang telah kita dapatkan?"
"Ada dua puluh organ jantung yang masih sehat, lima pasang bola mata, organ hati yang masih bersih dan sehat hanya dapat satu. Kali ini cukup sedikit yang kita dapatkan Bos," jelas Tom.
Alex berwajah datar. Ia membuang asal sarung tangan karet itu. Sebelum melangkah keluar dari ruangan dengan udara yang mampu membekukan kulit.
Di belakang tubuh nya ada Tom yang setia mengikuti nya.
"Bagaimana dengan kondisi Dara di universitas?"
"Tidak ada hal yang mencurigakan di hari ini. Dara melawati kelasnya dengan aman tanpa gangguan."
"Bagus kalau begitu. Kontrol selalu kondisi Dara. Aku yakin ada banyak yang mengincar nya. Karena mereka tau siapa dia."
"Ya, Bos." Tom menjawab."Dia akan mengikuti kelas khusus untuk terapi penyakit yang Bos alami. Lebih aman jika dia yang menjadi Dokter untuk memberikan terapi. Kita tidak bisa mengambil resiko untuk orang luar." Imbuh Tom lagi.
Langkah kaki Alex berhenti. Membuat langkah kaki Tom ikut berhenti.
"Lakukan saja yang kau mau. Tapi ingat setalah dia bisa melakukan nya. Bunuh Dokter yang memberikan nya pengajaran itu. Tidak ada yang boleh mengatahui jika Dara mempelajari itu!" ujar Alex memberikan perintah.
"Baik, Bos!"
Alex melangkah kembali meninggalkan Tom yang melangkah ke arah lain.
...***...
Dara melirik Alex yang terlihat berbicara serius dengan Emma di depan kolam berenang. Ia ingin mendekati ke duanya. Hanya saja raut wajah yang di tampilkan oleh Alex terasa menakutkan di mata Dara. Membuat gadis culun itu mengurungkan niatnya untuk mendekatkan ke duanya.
"Mereka ngomong apa sih, kenapa terlihat begitu serius?" monolog Dara pelan.
Hanya lima menit saja. Emma terlihat melangkah meninggalkan Alex di sana. Alex menatap permukaan kolom berenang. Air kolam yang tampak berkilau kala di terpa oleh cahaya lampu.
Dara membenahi penampilan nya. Menyisir rambut hitam sebahu nya. Sebelum membebani kaca matanya. Dengan langkah malu-malu Dara mendekati Alex.
Hap!
Ke dua tangan memeluk tubuh Alex dari belakang. Wajahnya di benamkan di punggung belakang Alex. Gadis culun itu menghirup aroma maskulin Alex Felton. Alex mengusap punggung
belakangan telapak tangan Dara.
"Aku merindukanmu!" seru Dara kala wajah nya di kesampingkan. Hingga daun telinga Dara menempel di punggung keras Alex.
Tanpa sadar Alex mengulas senyum tipis. Sangat tipis hingga tidak terlihat. Telapak tangan tebal itu melepaskan pelukan Dara dari belakang. Ia membalikkan tubuhnya. Menghadap ke arah Dara.
"Bagaimana kelasmu hari ini?" ujarnya.
"Lancar," jawab Dara singkat.
Pria ini tidak membalas perkataan Dara. Malah memberikan pertanyaan pada Dara pada hari gadis culun ini. Tanpa Dara jelaskan pun tentu saja Alex tau dengan jelas bagaimana Dara menjalankan kelasnya. Karena pria ini memata-matai Dara Margaretha.
"Baguslah."
"Oh iya, kata Tom aku akan mengikuti kelas khusus mulai besok. Apakah itu kelas untuk itu?" tanya Dara pelan.
Alex Felton mengangguk."Ya. Kau mau mengikuti kelasnya bukan?"
Kepala Dara mengangguk antusias. Senyum miring tercetak di wajah Alex. Pria itu menundukkan tubuh nya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Dara.
Blus...
Wajah Dara merah. Jantung nya berdebat keras. Bibir merah itu memberikan kecupan di permukaan bibir Dara. Hanya kecupan. Sebelum menegakkan tubuhnya.
"Ciuman itu sebagai penyemangat dirimu untuk belajar!" ujar Alex dengan nada serak.
Dara terperosok semakin jauh. Gadis culun ini tidak bisa mengendalikan debaran jantung nya.
romantis banget
untuk karya² kakak
tidak ada dokter psikologi.
S1 psikologi itu mrnjadi psikolog.
sedangkan psikiater, itu sekolah S1 Kedokteran.
setelah lulus, mengambil spesialist/S2 psikiater.